KULTUR, KOMUNIKASI, KONTEKS DAN KEKUASAAN


Sejarah studi komunikasi interkultural melalui tiga pendekatan, dan menguraikan pendekatan dialektikal yang terintegrasi terhadap komunikasi interkultural. Akan dibahas pendekatan dialektikal dan mengidentifikasi empat komponen yang saling berhubungan atau blok-blok image dalam memahami komunikasi interkultural yaitu kultur, budaya, konteks, dan kekuasaan. Kultur dan komunikasi merupakan latardepan, sedangkan konteks dan kekuasaan membentuk latarbelakang untuk mengerti komunikasi interkultural. Pertama, kita defisinikan dan gambarkan budaya dan komunikasi, kemudian pelajari bagaimana dua komponen ini berinteraksi dengan isu-isu tentang konteks dan kekuasaan untuk menambah pengertian kita tentang komunikasi interkultural.

Apakah Budaya Itu :
Kultur sering dianggap sebagai konsep inti dalam komunikasi interkultural. Studi komunikasi interkultural sering fokus pada bagaimana perbedaan antara kelompok satu dengan lainnya : Muslim berbeda dengan Nasrani, orang Jepang berbeda dengan Amerika, Pria berbeda dengan wanita, environmentalis dengan konservatifis, pro-lifers dengan pro-choicers, tua dengan muda, dsb (Gudykunst, 2002).

Harus dipikirkan persamaan dan perbedaan dialektik untuk memahami komunikasi interkultural yaitu dengan mencari persamaan dan perbedaannya secara simultan. Tanpa memperhatikan latarbelakang budayanya, manusia terikat aktifitas harian dan memiliki banyak keinginan dan hasrat yang sama, seperti makan, tidur, cinta, persahabatan, dan hubungan romantic, dan ingin dihormati dan disayangi dari mereka yang penting untuk kita.

Ada beberapa perbedaan dalam kelompok-kelompok kultural yaitu bermacam aktifitas dari kultur ke kultur. Pria dan wanita seringkali tidak sama dalam melihat dunia. Tua dan muda memiliki tujuan dan cita-cita yang berbeda. Muslim dan nasrani memiliki keyakinan yang berbeda, seperti kata pepatah “ When in Rome do as the Romans do” ini menyiratkan bahwa mudah saja untuk beradaptasi dalam perbedaan, cara berpikir maupun kebiasaan, walaupun telah beradaptasi ke kultur yang baru tetapi tetap saja “Only Romans are Romans dan hanya mereka (Romans) yang tahu caranya menjadi orang Roma sebenarnya. Tantangannya adalah menegosiasikan perbedaan dan kesamaannya dengan pengertian dan ketrampilan. Pertama, kita harus ketahui apa yang disebut dengan kultur.

Kultur didefinisikan secara beragam, dari persepsi-persepsi yang pengaruhi komunikasi sampai kepada kontestasi dan konflik. Banyak definisi tentang kultur, dan karena ini konsep yang kompleks, menjadi penting untuk refleksikannya kepada sentralitas kultur dalam interaksi kita sendiri. Menurut Raymond Williams (1993) kultur merupakan satu dari , dua atau , tiga kata yang paling rumit dalam bahasa inggris. Dan kompleksitas ini mengindikasikan banyak cara kultur mempengaruhi komunikasi interkultural (William, 1981). Kultur bukan hanya satu aspek dari praktek komunikasi interkultural. Bagaimana kita berpikir tentang kultur yang membingkai ide dan persepsi kita. Misalnya, Jika kultur didefisinikan sebagai sebuah Negara, kemudian komunikasi antara orang Jepang dan Itali akan menjadi komunikasi interkultural karena Jepang dan Italia merupakan dua Negara yang berbeda. Jadi sesuai definisi ini, pertemuan antara seorang Asia Amerika dari North Carolina dan Afrika Amerika dari California bukan suatu interkultural karena North Caroline dan California masih dalam satu Negara.

Kita tidak dapat menentukan definisi tunggal dari kultur karena beberapa definisi terlalu terbatas (Baldwin & Lindsey, 1994). Suatu pendekatan dialektikal mengatakan bahwa perbedaan definisi lebih fleksibel melalui pendekatan topik. Pendekatan terbaik untuk mengerti kompleksitas interkultural adalah melihat konsep kultur dari perspektif yang berbeda.
J.N Martin dan T.K. Nakayama (1999)

Periset ilmu sosial tidak berfokus ke kultur saja tetapi pengaruh kultur terhadap komunikasi. Dengan kata lain, periset berkonsentrasi kepada perbedaan komunikasi sebagai efek dari kultur. Mereka memberikan sedikit perhatian kepada bagaimana kultur secara konsep atau bagaimana kita melihat fungsi dari kultur. Jelasnya adalah periset interpretif lebih fokus kepada bagaimana konteks kultural pengaruhi komunikasi. Periset kritikal sering memandang komunikasi dan kekuasaan untuk berkomunikasi sebagai instrument untuk membentuk kembali kultur. Mereka melihat kultur sebagaimana masyarakat berpartisipasi atau menolak struktur sosialnya.

Walaupun riset dan studi telah membantu kita dalam memahami aspek yang berbeda dari komunikasi interkultural,` penting untuk menginvestigasi bagaiamana kita berpikir soal kultur, tidak sebagai periset tetapi sebagai praktisi. Karena itu kita broaden our scope untuk pertimbangkan sudut pandang yang berbeda tentang kultur, khususnya dalam hal bagaimana kultur mempengaruhi komunikasi interkultural.

Definisi Ilmu Sosial : Kultur seperti yang dipelajari, Kelompok – Persepsi yang berkait
Ahli komunikasi dari paradigma ilmu sosial yang dipengaruhi riset di psikologi melihat kultur sebagai sesuatu yang dipelajari, persepsi kelompok yang berkaitan (B.Hall, 1992), Geert Hofstede (1984), sebuah catatan psikologi sosial, mendefinisikan kultur sebagai “Pikiran yang diprogram” dan menjelaskan bahwa kultur seperti program komputer :

Setiap orang membawa pola pikiran, perasaan, dan potensi aksi masing-masing yang dipelajari selama hidupnya. Kebanyakan pola ini didapat saat masa kanak-kanak, karena pada masa itu merupakan masa belajar dan berasimilasi

Hofstade kemudian menggambarkan bagaimana pola ini terbangun melalui interaksi di lingkungan sosial dan dengan bermacam kelompok dan individu, pertama adalah di keluarga, kemudian tetangga, sekolah dan kelompok anak-anak, kuliah, dan seterusnya. kultur menjadi suatu pengalaman yang kolektif karena berbagi dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan sosial yang sama.

Untuk memahami tentang program pikiran yang kolektif, Holfstede dan ilmuwan lainnya mempelajari behavior organisasi di berbagai lokasi perusahaan multinasional (didiskusikan kemudian). Ilmuwan sosial juga telah menentukan aturan tentang persepsi pada pola kultural. Mereka menganggap pola kultural dari pikiran dan pengaruh proses persepsi kita yang berpengaruh kepada kebiasaan kita :

Kultur didefinisikan sebagai pola-pola yang dipelajari, persepsi kelompok yang berkaitan, termasuk bahasa verbal dan nonverbal, nilai-nilai, sistem keyakinan dan ketidakyakinan, dan kebiasaan (Singer, 1987)
Definisi Interpretif : Kultural sebagai simbolik kontekstual pola-pola yang bermakna

Ilmuwan interpretif yang dipengaruhi oleh studi antropologi juga melihat kultur sebagai suatu yang dipelajari dan dibagi. Mereka cenderung focus ke pola-pola kontekstual dari kebiasaan komunikasi daripada kelompok yang persepsinya berkaitan. Banyak ilmuwan interpretif meminjam definisi antropolog Clifford Geertz yaitu :

Suatu pola makna historis yang ditransmisikan dan diwujudkan dalam bentuk simbol, sebuah sistem konsep yang diwariskan yang diekspresikan dengan bentuk simbol yang bermakna dengan komunikasi, menterjemahkan dan mengembangkan pengetahuan mereka dan sikap terhadap kehidupan.

Salah satu contoh yang paling umum adalah komunikasi etnografi; para ilmuwan ini mencari makna simbol tentang aktifitas verbal dan nonverbal untuk mengetahui pola dan aturan komunikasi. Studi tentang ini mendefinisikan kelompok kultural bukan yang lebih luas, misalnya peserta talkshow atau veteran perang Vietnam.

Ahli komunikasi etnografi Donal Carbaugh (1988) mengusulkan lebih baik mencadangkan konsep kultur untuk pola-pola aksi simbolik yang bermakna dalam, jelas secara umum dan diterima secara luas. Pola tentang perasaan yang dalam secara kolektif dirasakan oleh anggota kelompok kultural. Berkumpul di sekitar mesin pembuat kopi di kantor setiap pagi, dapat menjadi pola kultural, tetapi hanya jika aktifitasnya memiliki simbol yang signifikan atau yang membangkitkan perasaan yang berkembang terus. Kemudian aktifitas lebih lengkap mencontohkan suatu pola kultura. Misalnya berkumpul di sekitar mesin pembuat kopi setiap pagi merupakan simbol dari teamwork atau keinginan untuk berinteraksi dengan kolega. Agar dikatakan sebagai pola kultural, aktivitasnya harus memiliki simbol yang signifikan untuk semua anggota kelompok; mereka semua harus menemukan aktivitas yang bermakna kurang lebih dengan cara yang sama. Lalu semua yang hadir harus mempunyai akses ke pola-pola aksi. Ini bukan berarti mereka semua harus menggunakan pola tetapi memang sudah tersedia untuk mereka.

Gerry Philipsen (1992) menambahkan pendapat Carbaugh’s tentang kultur dengan menekankan bahwa pola-pola ini bertahan dari waktu ke waktu, dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain.
Kultur…mengacu pada pola konstruksi sosial dan historis transmisikan simbol, makna, premis, dan aturan…Sebuah kultur berbicara kemudian mengandung konstruksi dan histori sosial yang mentransmisikan simbol dan makna yang berkaitan dengan komunikasi. Misalnya simbol “Lithuanian” atau “Komunikasi” dan definisi-definisi yang ada, percaya tentang aksi bicara (dimana seorang pria yang mencoba mendisiplinkan seorang anak bukan pria sesungguhnya), dan aturan untuk berbicara (seorang ayah tidak menginterupsi anak perempuannya saat makan malam di meja)

Definisi Philipsen ini dipengaruhi kerangka kerja etnografer komunikasi Dell Hymes’s (1972) dalam mempelajari berbicara yang muncul secara indepth dan konteks. Kerangka kerjanya terdiri dari delapan elemen : adegan, partisipan, akhir, rangkaian acting, kunci, instrumental, norma dan genre. Dalam sekuens ini diakronimkan sebagai SPEAKING (Scene, Participants, End, Act, Key, Instrumentally, Norm, and Genre). Scene adalah susunan event komunikasi. Partisipan adalah orang yang tampil atau beraksi pada event. End adalah tujuan pembicaraan partisipan. Rangkaian Acting adalah urutan frase selama adegan. Key adalah tone selama berbicara. Saluran komunikasi adalah Instrumental. Norma adalah aturan yang harus diikuti. Sedangkan Genre adalah tipe atau kategori berbicara. Dengan menganalisa bicara pada framework ini, kita dapat memperoleh pengertian yang komprehensif tentang aturan dan pola yang dilakukan oleh komunitas yang berbicara.

Walaupun gagasan kultur seperti sharing, learning pola kelompok sebagai persepsi atau kebiasaan simbolik sepanjang masih standar dalam berbagai disiplin, semakin banyak orang yang mempertanyakan manfaatnya. Pertanyaan berapa banyak kultur betul-betul di-sharing. Misalnya, seorang kolega melaporkan dalam sebuah diskusi kelas tentang defenisi kultur dimana student memberikan defenisi yang biasa, seorang student jengkel dan ikut dalam diskusi sambil mengatakan “apakah kita benar-benar mempunyai arti kultur yang umum ?” lalu bertanya :”Versi dan kultur umum apa yang sedang dibicarakan ?” (Collier, Hegde, Lee, Nakayama, & Yap, 2002). Memang ini pertanyaan yang penting, bagian berikut akan menjelaskan sebuah pendekatan alternative untuk mendefenisikan kultur.

Sudut Pandang Lain
Ahli komunikasi Wen Shu Lee mengidentifikasi penggunaan tentang kultur yang berbeda kemudian ia menjelaskan bagaiaman setiap definisi digunakan dalam hal-hal yang khusus. Ia mendefinisikan ke dalam 6 defenisi, yaitu
1. Kultur : Upaya manusia yang unik (berbeda dengan alam dan biologi). Misalnya, Kultur merupakan benteng dari kerusakan alam
2. Kultur : perbaikan, perangai. Misalnya, cara seseorang mengunyah makanan, seperti tidak berbudaya sama sekali.
3. Kultur : Civilisasi, contoh : di suatu negeri pada jaman kegelapan dan rakyat menginginkan kultur, menjadi kewajiban kita untuk men-civilize jiwa-jiwa tersebut.
4. Kultur : Bahasa untuk berbagi, keyakinan, nilai-nilai. Misalnya, “Kita dating dari kultur yang sama, kita berbicara dengan bahasa yang sama, dan kita berbagi tradisi yang sama.
5. Kultur : dominasi atau hegemoni (berbeda dengan budaya marginal). Contoh : Ini budaya mereka yang berkuasa yang menentukan yang mana moral dan mana yang menyimpang.
6. Kultur : pemindahan ketegangan antara berbagai dan tidak berbagi. Mlsalnya, Budaya Amerika telah berubah dari Majikan/Budak, ke Kulit putih saja/Kulit hitam saja, ke antiperang dan black power, ke aksi afirmatif/multikultur dan perbaikan politik, ke aksi capital transnational dan kampanye anti-sweatshop.

Definisi diatas mempunyai interes masing-masing. Definis ke-2 mengistimewakan budaya tinggi dan mengabaikan budaya popular. Definisi ke-3 mengistimewakan Negara yang imperialis dan colonial. Definisi ke-4, mengistimewakan suatu pandangan universal dan representative, tetapi hanya representasikan kelompok kekuatan tertentu saja dan mendiamkan kelompok lain yang tidak siap untuk menerima pandangan ini. Definisi 5, mengistimewakan interaksi budaya yang di otorisasi oleh kelompok yang dominan (sector/Negara), secara politik lebih eksplisit dibanding definisi 2, 3, 4. Definisi 6 adalah yang paling disukai (oleh Wen). Lebih kepada meta view tentang kultur. Fokus kepada “link” antara “yang dibagi” dan “yang sedikit dibagi.(th)

Defenisi Kritis: Budaya itu beraneka ragam, dinamis, dan ajang persaingan.
Pendekatan kebudayaan saat ini, yang dipengaruhi oleh studi kebudayaan, menekankan pada keberagaman kelompok budaya dan konflik yang muncul dari batasan-batasan kebudayaan. contohnya, apa itu “kebudayaan Amerika Serikat”? Apakah Amerika memiliki budaya? Berapa banyak persepsi, sikap, dan kepercayaan juga tingkah laku yang berkembang di AS? Pendekatan kritis mengusulkan agar hanya melakukan penekanan pada aspek “shared culture”, dari banyaknya perbedaan kepentingan di AS. Kedepan, mereka menekankan bahwa batas budaya sering diperlombakan atau dijadikan ajang persaingan dan tidak gampang untuk diterima. Contohnya, meningkatnya pertumbuhan orang-orang seperti Tiger Woods yang memiliki banyak identitas budaya. Dia menyatakan dirinya Cablinasian- Caucasian, Kulit hitam, orang Indian, dan asia karena macam-macam latar belakang rasialnya. Dia menyatakan, bahwa banyak orang berusaha untuk mempermasalahkan latar belakang budayanya, daripada pencapaiannya dalam permainan golf.

Gagasan pemikiran budaya sebagai sesuatu yang beragam dan konflik, sering muncul berasal dari studi kebudayaan British pada tahun 1960-an. Pendidikan tentang budaya merupakan ilmu interdisipliner dan berdedikasi untuk memahami kekayaan, kompleksitas,dan relevansi fenomena budaya dalam kehidupan masyarakat biasa. Keinginan ini untuk membuat kinerja akademika berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Faktanya, kebanyakan orang ingin menemukan hubungan antara apa yang mereka pelajari di dalam kelas dan apa yang terjadi dalam masyarakat saat ini. Pada beberapa kasus, pergerakan ini menimbulkan konfigurasi ulang pada peraturan universitas dalam masyarakat.
Studi kebudayaan cepat berkembang dari Inggris ke Australia, Amerika Latin, juga dunia bagian lain. Dikarenakan perbedaan situasi politik dan budaya, konstruksi spesifik dari studi kebudayaan berbeda-beda. Di Amerika contohnya, studi kebudayaan dikembangkan bersama dengan bidang komunikasi (Grossberg, 1993).

Anda mungkin mengira bahwa konsep budaya timbul dari penyelidikan yang berbeda secara nyata dari konsep yang disajikan dalam ilmu sosial atau bahkan penelitian interpretatif. Bagaimanapun, ini adalah kesepakatan dengan konsep yang ditemukan pada kinerja antropologi saat ini. banyak antropolog mengkritisi penelitian yang mengkategorikan orang dan karakteristik susunan budaya sebagaimana diatur, tidak berubah, dan tidak berhubungan dengan isu gender, kelas, juga sejarah (Keesing, 1994). Penelitian antropolog saat ini melihat proses budaya sebagai suatu yang dinamis dan berubah “organization of diversity” yang secara luas lintas Negara dan batas regional dalam konteks sejarah dan kekuasaan (Hannerz, 1996).

Pandangan yang menyatakan budaya merupakan ajang persaingan membantu kita untuk memahami perjuangan dari berbagai macam kelompok- orang Amerika asli, Asia-Amerika, penduduk Kepulauan Pasifik, Afrika-Amerika, latin, perempuan. Kaum homoseksual, pekerja, dan banyak lainnya sebagai sebuah usaha untuk mengatasi hubungan mereka dan menaikkan kesejahteraan sebagai warga Amerika. Dengan mempelajari komunikasi sebagai sumber atas perjuangan terus-menerus, kita dapat memahami secara lebih baik beberapa permasalahan antar budaya.

Memandang budaya dari sisi pertandingan membuka pemikiran baru tentang komunikasi antar budaya. Bagaimanapun, individu dalam budaya dasar tidaklah identik, dimana ditunjukkan bahwa banyak budaya dipenuhi dengan perjuangan budaya. Juga, saat kita menggunakan terminology seperti kebudayaan cina dan kebudayaan peransi, kita melihat bahwa keberagaman, perbedaan, yang ada dikebudayaan tersebut.

Pendekatan dialek kita, pemikiran, memungkinkan kita untuk menerima dan melihat keterkaitan perbedaan pandangan ini. budaya pada suatu saat dibagi dan dipelajari atas keyakinan dan persepsi yang dapat dimengerti dan bisa diterima secara luas. Ini juga merupakan sisi dari perjuangan dalam pengertian “contested”. Perspektif dialektif dapat membantu memfasilitasi diskusi dalam konflik budaya dalam sebuah Negara. Tugas kita adalah mengambil pendekatan dialektif bukan untuk mengatakan siapa benar siapa yang salah, tapi untutk mengetahui kebenaran dari semua sisi atas sebuah konflik dan memahami jalan atas banyaknya realita yang ada dari kebingungan akan kebudayaan (Cargile, 2005)

Apa Itu Komunikasi?
Komponen lain untuk memahami komunikasi antar budaya adalah komunikasi itu sendiri, yang juga sama kompleksnya seperti budaya. Yang bisa menggambarkan karakter dari komunikasi adalah “meaning”. Komunikasi terjadi pada saat seseorang memberikan pemahaman kepada orang lain lewat kata atau perbuatan. Komunikasi bisa dimengerti sebagai “symbolic process whereby reality is produced, maintained, repaired, and transformed” (Carey, 1989). Penjelasan sederhana ini melibatkan beberapa ide.

Pertama, komunikasi itu simbolik. Maksudnya bahwa kata yang kita gunakan lewat lisan maupun gesture tidak mempunyai makna yang jelas tapi menambah signifikansinya dari ”agreed-upon meaning”. Saat menggunakan simbol untuk berkomunikasi, kita menganggap orang lain mengerti. Juga, pemahaman simbolik ini disampaikan secara verbal dan nonverbal. Ribuan dari perilaku nonverbal- gesture, postur, gerakan mata, ekspresi muka, dan lainnya,-melibatkan “shared meanings”. Simbol kekuatan social seperti bendera, simbol Negara, juga logo Disney, juga mempunyai makna nonverbal.

Untuk membuat hal ini lebih kompleks, setiap pesan harus mempunyai satu makna, dan mungkin banyak makna. Contohnya, kata saya cinta kamu, bisa bermakna “saya ingin menghabiskan malam denganmu”, atau “saya merasa bersalah atas apa yang saya lakukan kemarin malam”, atau “saya ingin menghabiskan seluruh hidup denganmu.” Saat kita berkomunikasi, kita beranggapan orang lain mengerti maksud yang ingin kita sampaikan. Permasalahan akan timbul, ketika komunikasi berlangsung antar individu yang berbeda latar belakang budaya.

Kedua, proses dimana kita membicarakan makna yang dinamis. Komunikasi bukanlah tunggal, tapi proses berjalan terus-menerus- ini tergantung pada proses komunikasi orang lain untuk membuatnya dapat dimengerti. Saat kita berkomunikasi dengan orang lain, kita juga akan masuk kedalam pesan yan ingin kita sampaikan. Pesan ini tidak mempunyai ciri dan bersifat linear, dia muncul tiba-tiba, dengan batasan yang kabur antara awal dan akhir. Saat kita menyampaikan makna, kita menciptakan, mengatur, memperbaiki, dan menyampaikan realitas. Secara tidak lansung orang akan melakukan proses komunikasi. Orang tidak bisa berkomunikasi sendirian.

Hubungan Antara Budaya dan Komunikasi
Hubungan antara komunikasi dan budaya bersifat kompleks. Pandangan dialektis beranggapan bahwa budaya dan komunikasi saling berhubungan dan resiprokal. Oleh sebab itu, budaya mempengaruhi komunikasi, juga sebaliknya. Kelompok budaya mempengaruhi proses pembentukan persepsi atas realitas dan mengaturnya: “semua komunitas dimanapun dan kapanpun merujuk pada pandangan mereka atas realitas dalam tindakan mereka. Seluruh kebudayaan merefleksikan model kontemporer atas realitas” (Burke, 1985). Bagaimanapun, kita juga harus mengatakan bahwa komunikasi membantu membentuk budaya realitas atas komunitas.

Bagaimana Budaya Mempengaruhi Kebudayaan
Ilmu Komunikasi antar budaya menggunakan sudut pandang yang luas dari antropologi dan psikologi untuk menerangkan dan mempelajari perbedaan budaya dalam komunikasi. Dua diantaranya adalah antropolog Kluckhohn dan Strodtbeck serta seorang psikolog social Hofstede (1984).

Kluckhohn dan Strodtbeck Value Orientation
Mereka menekankan pada inti dari nilai budaya untuk memahami kelompok-kelompok budaya. Nilai adalah keyakinan yang paling dalam yang disampaikan dalam kelompok budaya, mereka menggambarkan penyampaian persepsi atas apa yang seharusnya ada, dan apa yang tidak. Keseimbangan, adalah contoh nilai yang disampaikan oleh banyak orang di Amerika. Ini mengacu pada keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, walaupun kita harus mengakui pada kenyataanya banyak ditemukan perbedaan, seperti bakat, kepintaran, atau akses pada barang materi tertentu.

Konflik antar budaya biasanya disebabkan perbedaan pada orientasi nilai. Contohnya beberapa orang merasa hebat dengan sangat menganggap penting apa yang telah mereka capai di masa lalu. Bagi mereka, sejarah dan tradisi merupakan petunjuk. Nilai sering menimbulkan konflik, konflik juga bisa diperburuk oleh perbedaan tingkat kekuasaan (power), dimana seseorang bisa merendahkan orang lain. Kluckholn dan Strodtbeck menyarankan agar semua anggota kelompok kebudayaan harus menjawab beberapa pertanyaan penting dibawah ini:
1. Apa itu “human nature”
2. Apa itu hubungan antara manusia dan alamnya
3. Apa itu hubungan antar manusia
4. Personality apa yang lebih disukai?
5. Apa itu orientasi pada waktu?

Pertanyaan dan jawaban yang diberikan dapat dijadikan kerangka berpikir untuk memahami perbedaan nilai antara kelompok-kelompok budaya.
Menurut Kluckhohn dan Strodtbeck, ada tiga respon yang mungkin untuk setiap pertanyaan yang berkaitan dengan nilai-nilai bersama. (Lihat Tabel 3.2.) Kluckhohn dan Strodtbeck percaya bahwa, meskipun semua respon yang mungkin dalam semua masyarakat, masyarakat masing-masing memiliki satu, atau mungkin dua, respon yang lebih disukai dari setiap pertanyaan yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat yang dominan. Keyakinan Agama, misalnya, dapat memperkuat nilai-nilai budaya tertentu. Pertanyaan dan tanggapan mereka menjadi kerangka untuk memahami secara luas perbedaan dalam nilai-nilai di antara berbagai kelompok budaya. Meskipun kerangka awalnya diterapkan untuk kelompok etnis, kita dapat memperluas untuk kelompok budaya berdasarkan jenis kelamin, kelas, kebangsaan, dan sebagainya.

Sifat Human Nature yang ditunjukkan tabel, ada tiga respon yang mungkin, atau solusi, untuk pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai sifat manusia. Salah satu solusinya adalah kepercayaan pada kebaikan dasar sifat manusia. Praktek-praktek hukum dalam sebuah masyarakat yang memiliki orientasi ini akan menekankan rehabilitasi pelanggar hukum; penjara dan penjara akan dilihat sebagai tempat untuk melatih pelanggar untuk bergabung kembali dengan masyarakat sebagai kontribusi warga negara. Agama seperti Buddha dan Konghucu cenderung ke arah orientasi ini, berfokus pada peningkatan kebaikan alami manusia.

Solusi kedua mencerminkan persepsi dari kombinasi kebaikan dan kejahatan dalam sifat manusia. Banyak kelompok di Amerika Serikat terus menggunakan orientasi nilai ini, walaupun sudah ada pergeseran dalam pandangan banyak orang Amerika AS dalam 50 tahun terakhir. Berkenaan dengan keyakinan agama, adanya kurang penekanan pada kejahatan kemanusiaan fundamental, yang banyak pemukim Eropa tradisi Puritan anut/percaya (Kohls, 1996). Namun, saat ini lebih menekankan pada penahanan dan hukuman bagi pelanggar hukum. Sebagai contoh, perhatikan peningkatan undang-undang “tiga serangan” (three strikes) dan kurangnya minat dalam rehabilitasi dan reformasi. Mengingat orientasi ini, tidak mengherankan, Amerika Serikat saat ini memiliki proporsi tahanan (warga-dipenjara) yang lebih tinggi daripada negara industri lainnya.

Menurut orientasi ketiga, sifat manusia pada dasarnya jahat. Masyarakat yang memegang keyakinan ini akan kurang tertarik pada rehabilitasi penjahat daripada hukuman. Kita sering memiliki pemahaman masalah penyiksaan atau praktek memotong tangan dan anggota badan lainnya – praktek lazim di banyak masyarakat di masa lalu-tanpa memahami orientasi mereka pada sifat manusia. Saat ia tinggal di Belgia, Tom terutama terkesan dengan tampilan dari hukuman dan penyiksaan di Persidangan (Counts) Flanders Castle di Ghent. Mungkin kunci untuk memahami praktek-praktek budaya adalah pemahaman tentang pandangan Kristen, bahwa manusia pada dasarnya jahat dan lahir dalam dosa.

POINT OF VIEW
Sarjana komunikasi Korea Tae-Seop Lim dan Soo-Hyang Choi menggambarkan nilai kolektivisme Korea, seperti yang diungkapkan dalam hubungan interpersonal dan komunikasi.

Secara tradisional, Korea memiliki hubungan sosial yang dihargai lebih dari apapun jua. Korea sering melupakan kepentingan sendiri pribadi dan kesejahteraan kelompok mereka milik demi hubungan interpersonal mereka. Karena Korea menekankan hubungan sosial, kemampuan untuk menjaga hubungan interpersonal yang baik juga dihargai. Orang dinilai berdasarkan kemampuan mereka untuk mempertahankan hubungan yang sukses. Memiliki hubungan baik dengan orang lain adalah yang dipertimbangkan untuk mencerminkan karakter seseorang serta kompetensi.
Che-myon adalah apa yang memungkinkan seseorang untuk menghadapi orang lain dengan martabat. Bagian dari che-myon, seperti “konsep wajah” di Barat, merupakan pribadi dan dinegosiasikan tanpa interaksi. Aspek che-myon orang Korea benar-benar sensitif, bagaimanapun, che-myon adalah sosiologis dan normatif. Ini diperluas hingga satu dalam hubungannya dengan posisi sosial seseorang.

Noon-chi adalah apa yang membuat komunikasi diam-diam (tacit) terjadi. Ini adalah strategi yang memungkinkan seseorang untuk mengetahui niat, keinginan, suasana hati, dan sikap yang lainnya tanpa bertukar pesan verbal eksplisit. Hal ini mirip dengan gagasan Barat “membaca yang tersirat,” tetapi jauh lebih rumit daripada gagasan Barat. Noon-chi kadang-kadang membaca sesuatu tidak ada, artinya, membaca pikiran orang lain bahkan sebelum yang oraang lain tersebut mengetahui pikirannya sendiri. Noon-chi sering digunakan untuk melindungi masing-masing che-myon mereka. Ketika seseorang perlu melakukan tindakan wajah tertentu yang mengancam, jika orang lain memahami kebutuhan seseorang sebelum seseorang tersebut mengungkapkannya dan bereaksi dengan tepat, maka kedua belah pihak tidak perlu membahayakan che-myon mereka….

Hubungan yang saling membutuhkan Jung harus solid. Jung adalah jenis ikatan emosional yang tumbuh dari waktu ke waktu sebagai orang dalam suatu hubungan yang membuat kontak berulang satu sama lain. Ini berfungsi untuk membuat suatu hubungan ikatan kuat. Sebagai hubungan yang tumbuh tua (grows-old), cinta yang sering lenyap, tapi jung biasanya tumbuh makin dalam.
Sumber: Dari T.-S. Lim dan S.-H. Choi, “Hubungan interpersonal di Korea.” Dalam WB Gudykunst et Al. (Eds.) Komunikasi dalam Hubungan Pribadi Antar Budaya (Thousand Oaks, CA Sage,. 1996), hal 122-136.
Hubungan Antara Manusia dan Alam

Pada sebagian besar masyarakat AS, manusia mendominasi alam. Sebagai contoh, para ilmuwan benih awan saat kita membutuhkan hujan, dan insinyur rute sungai dan membangun bendungan untuk memenuhi kebutuhan air, rekreasi, dan power. Kami kontrol kelahiran dengan obat-obatan dan alat kesehatan, dan kami membuat salju dan es untuk hiburan rekreasi ski dan skating. Tentu saja, tidak semua orang di Amerika Serikat setuju bahwa manusia harus selalu mendominasi alam. Konflik antara enviromentalis dan pengembang lahan sering berpusat pada perbedaan pendapat dalam orientasi nilai ini. Dan, tentu saja, ada variasi dalam cara nilai-nilai ini bermain dalam masyarakat yang berbeda. Sebagai contoh, negara seperti Kanada, yang umumnya mengemban suatu orientasi “manusia di atas alam”, tampaknya masih lebih peduli dengan masalah lingkungan daripada Amerika Serikat. Seperti dijelaskan oleh pelajar,

Kanada sangat konsen melindungi lingkungan mereka, dan ini sangat jelas bahkan jika Anda hanya melakukan perjalanan melalui Kanada. Mereka konsen tentang air bersih, udara bersih dan tidak melakukan terlalu banyak penebangan pohon mereka, menjaga aliran bebas dari polusi, dll.
Dalam masyarakat yang percaya terutama di dominasi alam di atas manusia, keputusan dibuat berbeda. Keluarga mungkin lebih menerima jumlah anak yang lahir secara alami. Ada intervensi kurang dalam proses-proses alam, dan ada sedikit upaya untuk mengontrol apa yang orang lihat sebagai tatanan alam.
Banyak penduduk asli Amerika dan Jepang percaya pada nilai manusia hidup harmonis dengan alam, bukan dari satu kekuatan mendominasi yang lain. Dalam orientasi nilai, alam dihormati dan memainkan bagian yang tidak terpisahkan dalam spiritual dan kehidupan keagamaan masyarakat. Sebagian masyarakat misalnya, kelompok Arab banyak menekankan aspek, baik harmoni maupun dominasi dengan alam. Hal ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai dimainkan dengan cara yang sangat kompleks dalam setiap kelompok budaya.

Hubungan Antara Manusia
Beberapa kelompok budaya menganut nilai individualisme, sedangkan yang lain lebih berorientasi kelompok. Perbedaan budaya yang berkaitan dengan nilai-nilai ini membedakan dua jenis masyarakat. Individualisme, sering dikutip sebagai nilai yang dimiliki oleh Eropa Amerika, tempat-tempat penting pada individu bukan pada keluarga, kelompok kerja, atau kelompok lain (Bellah, Madsen, Sullivan, Swidler, & Tipton, 1985). Karakteristik ini sering disebut sebagai nilai budaya Eropa Amerika yang paling penting. Sebaliknya, orang-orang dari masyarakat yang lebih collectivistic, seperti di Amerika Tengah dan Selatan, Asia, dan banyak masyarakat Arab, tempat penting ada pada keluarga besar dan loyalitas kelompok. Di Amerika Serikat, ini adalah kasus di komunitas Amish dan di beberapa Latino/a dan masyarakat penduduk asli Amerika. Seorang pengunjung ke Meksiko menjelaskan salah satu contoh dari kolektivisme dalam budaya, bahwa:

Aku ingat bahwa di depan umum anak-anak sepertinya selalu disertai oleh seorang yang lebih tua, biasanya anggota keluarga. Orang-orang yang pergi bersama di dalam kelompok keluarga ̶ anak dengan saudara yang lebih tua, kakek, bibi ̶ hampir tidak dengan yang se-usia, di sini di Amerika Serikat.
Orientasi kolateral menekankan koneksi kolektif untuk orang lain (kebanyakan anggota keluarga) bahkan setelah kematian. Orientasi ini ditemukan dalam budaya di mana nenek moyang dilihat sebagai bagian dari keluarga dan berpengaruh dalam keputusan meskipun mereka tidak hidup. Contoh ini termasuk praktek Asia mempertahankan meja di rumah untuk menghormati nenek moyang mereka atau orang Meksiko mempraktekkan “Hari Mati” (Day of the Dead) memiliki piknik dekat makam anggota keluarga dan meninggalkan makanan untuk mereka. (Lihat Gambar 3.2.)

Liburan adalah cara yang signifikan memberlakukan dan mentransmisikan budaya, dan nilai-nilai budaya di seluruh generasi. Sebagai contoh, Kwanzaa merupakan hari libur penting bagi Amerika Afrika. Ini didirikan tahun 1966 oleh Ron Karenga dan berlangsung tujuh hari – 26Desember hingga 1 Januari – untuk menandai tujuh nilai-nilai budaya yang penting: kesatuan, penentuan nasib sendiri, kerja kolektif dan tanggung jawab, ekonomi koperasi, tujuan, kreativitas, dan iman. Liburan apa yang keluarga Anda rayakan? Apa nilai-nilai budaya yang sedang ditransmisikan dalam perayaan tersebut? (© Lawrence Migdale / Getty)

Nilai juga mungkin terkait dengan status ekonomi atau perbedaan desa-kota. Di Amerika Serikat, misalnya, orang kelas pekerja cenderung lebih kolektif daripada orang menengah atau kelas atas. (Pada orang kelas-pekerja dilaporkan menyumbang persentase yang lebih tinggi dari waktu dan uang untuk membantu orang lain.) Sejarawan Roxanne A. Dunbar (1997), yang tumbuh miskin di Oklahoma, menggambarkan perjumpaan dia dengan individualisme kelas-menengah saat di perjalanan mobilnya bersama suami barunya, Jimmy. Mereka melewati beberapa pengendara yang terdampar, para perempuan yang duduk di tempat teduh sementara laki-laki bekerja pada mobil. Dia terkejut ketika suaminya tidak berhenti untuk membantu:
“Mengapa kita tidak berhenti?” Aku bertanya. Tak seorang pun di keluarga saya akan pernah melewati sebuah pengendara mobil yang terdampar …
“Mereka preman, merampok Anda dengan membabi buta, bandit jalan raya,” kata Jimmy.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku tahu, mereka menggunakan anak-anak dan orang tua untuk umpan, untuk membuat Anda berhenti, kemudian merampok Anda, mereka transien, pemetik buah, sampah putih.”
Aku menatap wajah-wajah sedih ketika kami melewati dan mencoba untuk melihat penipu dan kriminal di balik topeng. Tapi mereka hanya tampak akrab, seperti saudara saya sendiri. (Hal.83)
Nilai-nilai budaya dapat mempengaruhi pola komunikasi. Misalnya, orang yang menganut nilai individualisme juga cenderung untuk mendukung bentuk komunikasi langsung dan mendukung bentuk-bentuk yang jelas dari resolusi konflik. Orang-orang di masyarakat kolektif dapat menggunakan komunikasi yang kurang langsung dan lebih menghindari gaya resolusi konflik. Tentu saja, kadang-kadang orang pada kelompok budaya memegang nilai-nilai yang bertentangan. Sebagai contoh, sebagian besar konteks pekerja AS memerlukan komunikasi yang sangat individualistik, yang mungkin berkonflik dengan beberapa pekerja dari keluarga collectivistic atau latar belakang etnis. Pekerja mungkin merasa sulit untuk damai dan hidup dengan nilai-nilai bersaing. Pertimbangkan pengalaman Lucia, seorang mahasiswa penduduk asli Amerika. Ketika salah satu pamannya meninggal dunia pada minggu pertama sekolah, ia diharapkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keluarga. Dia bepergian keluar dari negara bersama keluarganya ke rumahnya, membantu memasak dan memberi makan anggota keluarga lainnya, dan menghadiri (bangun dan) pemakaman. Lalu ibunya jatuh sakit, dan ia harus merawatnya. Dengan demikian, ia melewatkan dua minggu pertama sekolah. Beberapa dosen wanita itu simpatik, sedangkan yang lainnya tidak. Lucia menjelaskan, ia merasa hampir terus-menerus terpecah antara tuntutan keluarga yang collectivistic dan tuntutan dosen yang individualistis dan administrasi.

POINT OF VIEW
Dua berita di koran Belgia, Le Soir menampilkan nilai-nilai budaya yang tampaknya bertentangan. Pertama, Yves Berger, seorang penulis dan spesialis AS, diminta untuk menjelaskan urusan seksual Presiden Bill Clinton.
Dalam kasus apapun, itu menunjukkan puritanisme sejauh mana tertanam dalam mentalitas Amerika. Hal ini mungkin tampak luar biasa sebagai orang Amerika, dalam keseharian kami, memberikan tampilan yang berlawanan.
Artikel lain di koran yang sama menggambarkan pertumbuhan dramatis industri pornografi AS.

Pasar video dewasa sedang booming dan tokoh-tokoh bisnis penyewaan dan penjualan video dewasa meningkat pada 1997 sebesar 4.200.000.000 dolar, sesuai dengan panduan tahunan Berita Adult Video
Sumber: Dari Y. Berger, “A bout portant,” Le Soir, 7 Januari 1998, hal 2; dari “Marche porno en ekspansi aux Etats-Unis,” Le Soir, 7 Januari 1999, hal 11.
Bentuk Kegiatan yang dipilih

“Nilai aktivitas” yang paling umum di Amerika Serikat adalah orientasi “melakukan”, yang menekankan produktivitas. (Ingat ungkapan “Tangan yang diam adalah workshopnya iblis” (Idle hands are the devil’s workshop)?)
Pekerjaan sistem reward mencerminkan nilai ini dalam: bahwa para pekerja seringkali harus mendokumentasikan kemajuan mereka (misalnya, dalam jumlah penjualan atau jumlah klien terlihat). Secara umum, status tertinggi diberikan pada mereka yang “melakukan” (tokoh olahraga, dokter, pengacara), bukan pada mereka yang “berpikir” (filsuf, profesor, imam) (Stewart & Bennett, 1991).

orientasi “tumbuh” menekankan aspek-aspek spiritual kehidupan. Orientasi ini tampaknya kurang lazim dibandingkan dengan dua lainnya, mungkin dilakukan hanya dalam Buddhisme Zen dan sebagai motif budaya di Amerika Serikat pada 1960-an (Stewart & Bennett, 1991). Beberapa masyarakat, seperti di Jepang, menggabungkan kedua orientasinya “melakukan” dan “tumbuh”, menekankan pada tindakan (action) dan pertumbuhan rohani (spiritual). Solusi ketiga adalah untuk menekankan “menjadi”, semacam aktualisasi diri di mana individu tersebut menyatu dengan pengalaman. Beberapa masyarakat di Amerika Tengah dan Selatan, serta Yunani dan Spanyol, menunjukkan orientasi ini.

POINT OF VIEW

Dalam sebuah wawancara yang muncul di Le Nouvel Observateur, Francois Mas diminta untuk menjelaskan popularitas obat Viagra (obat untuk impotensi seksual) di Amerika Serikat. Dia berhubungan popularitas ke nilai “dapat melakukan” (“can do”) rakyat Amerika Serikat.

Mungkin yang paling mengungkapkan ini adalah sikap “dapat melakukan” (can do attitude). Sikap ini, diwarisi dari para pionir, adalah bagaimana masyarakat Amerika, pada umumnya, berkaitan dengan permasalahan yang ada.
Berpusat pada aplikasi yang kongkrit dan praktis, dan sering dipandang naif dalam pandangan budaya yang lebih tua, pendekatan ini memiliki keunggulan dari menyebarkan semacam energi, dan menolak oposisi untuk maju.
Sumber: Dari F. Mas, ‘vers Sexuel Renouveau un, “Le Nouvel Observateur, Mei 1998, hlm 21-27.

Orientasi ke Waktu
Kebanyakan komunitas budaya AS ̶ khususnya Amerika dan Eropa kelas menengah ̶ tampaknya menekankan masa depan. Mempertimbangkan praktek menyimpan uang dalam rekening pensiun atau menyimpan buku janji (buku agenda) yang mencapai tahun ke depan. Masyarakat lainnya ̶ misalnya, di Spanyol atau Yunani ̶ tampaknya menekankan pentingnya saat ini, pengakuan dari nilai hidup sepenuhnya dan mewujudkan potensi saat ini. Salah satu teman kita menggambarkan kesan perbedaan nilai setelah kunjungan ke Meksiko:
Saya punya pengalaman indah di Meksiko. Aku suka energinya ̶ SELALU ada begitu banyak yang terjadi di jalanan, dan di Zocalo, tiap jam dalam siang dan malam.

Dan ketika aku kembali ke AS, jalan-jalan terasa begitu mati ̶ semua orang secara individual sendirian di rumah kecil mereka sendiri di sini. Aku tiba-tiba merasa begitu kekurangan indera! Kurasa sebagian aku juga suka itu, karena begitu berbeda secara budaya, dari cara saya dibesarkan. Penekanan untuk mengekspresikan dan berfokus pada kehidupan di masa sekarang. Saya tidak ingin menyiratkan kehidupan itu konstan dipikirkan fiesta di Meksiko, karena itu tidak. Tapi ada semacam joie de vivre dan kenikmatan hidup SEKARANG yang pasti tidak hadir pada keluarga-ku yang sangat dibatasi, gaya hidup terkendali, serius! Dan tampak sangat kontras dengan Meksiko!

Masyarakat Eropa dan Asia Banyak sangat menekankan masa lalu, percaya bahwa pengetahuan dan kesadaran sejarah memiliki sesuatu untuk berkontribusi pada pemahaman kehidupan kontemporer. Misalnya, Menara Miring Pisa ditutup selama 10 tahun sementara pekerja Italia memperbaiki kerusakan struktural pada bangunan bersejarah tersebut.

Hofstede Nilai Orientasi
Psikolog sosial Geert Hofstede (1984) memperpanjang kerja Kluckhohn dan Strodtbeck, berdasarkan penelitian lintas-budaya yang luas pada personil yang bekerja di anak perusahaan IBM di 53 negara. Sedangkan Kluckhohn dan Strodbeck (1961) berdasarkan kerangka kerja mereka pada pola budaya masyarakat etnis di Amerika Serikat, Hofstede dan koleganya menguji perbedaan nilai di antara masyarakat nasional. Hofstede mengidentifikasikan lima bidang masalah umum. Satu masalah jenis, individualisme versus kolektivisme, muncul dalam kerangka Kluckhohn dan Strodbeck. Meskipun masalah tersebut dibagi oleh kelompok-kelompok budaya yang berbeda, solusi bervariasi dari budaya ke budaya (Hofstede & Hofstede Seperti terlihat pada Tabel 3.3, jenis masalah diidentifikasi sebagai berikut:
– Jarak Kekuasaan: ketimpangan sosial, termasuk hubungan dengan otoritas
– Feminitas versus maskulinitas: implikasi sosial telah lahir laki-laki atau perempuan
– Cara menghadapi ketidakpastian, mengendalikan agresi, dan mengekspresikan emosi
– Jangka panjang versus jangka pendek orientasi hidup
Hofstede kemudian diteliti bagaimana berbagai nilai-nilai budaya mempengaruhi perilaku perusahaan di berbagai negara. Mari kita periksa jenis masalah lain yang lebih dekat. (Lihat Tabel 3.3.)

Jarak Kekuasaan
Jarak Kekuasaan adalah sebuah dimensi variabilitas budaya yang menyangkut sejauh mana orang menerima ketimpangan distribusi kekuasaan.
Jarak kekuasaan mengacu pada sejauh mana anggota lembaga yang tidak kuat (tidak berkuasa) dan organisasi dalam suatu negara harapkan dan menerima ketimpangan distribusi kekuasaan. Denmark, Israel, dan Selandia Baru, misalnya, nilai jarak kekuasaan yang kecil. Kebanyakan orang percaya bahwa ada kurangnya hirarki adalah lebih baik dan kekuasaan yang harus digunakan hanya untuk tujuan yang sah. Oleh karena itu, para pemimpin terbaik perusahaan di negara-negara adalah mereka yang meminimalkan perbedaan-perbedaan kekuasaan. Dalam masyarakat bahwa nilai jarak kekuasaan yang besar ̶ misalnya, Meksiko, Filipina, dan India ̶ yang proses pengambilan keputusan dan hubungan antara manajer dan bawahan yang lebih formal. Selain itu, orang mungkin tidak nyaman di tempat di mana hirarki tidak jelas atau ambigu.

Nilai maskulinitas dan feminitas merujuk pada dua dimensi. Pertama, pada tingkatan dimana peranan berbasis spesifik gender dinilai, dan kedua dpada nilai kelompok. Nilai maskulin biasanya didakukan pada pencapaian pribadi, ambisi, penumpukan barang konsumsi. Sementara nilai feminin lebih pada kualitas hidup, melayani orang lain, mengasuh, dan memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Sebagai contoh pegawai IBM di Jepang, Austria, dan Meksiko mempunyai nilai tinggi pada orientasi maskulin terhadap pekerjaan. Pegawai gaji, misalnya, lebih baik dipegang kaum pria sementara untuk perempuan lebih cocok sebagai guru. Di sisi lain, di bagian Eropa Utara seperti Denmark, Norwegia, Swedia, dan Belanda cenderung mempunyai skor tingi dalam orientasi feminin yang ditunjukkan keinsyafan tinggi terhadap kesetaraan gender dan lebi mementingkan kualitas hidup.

Penghindaran ketidakpastian menelaah pada sejauh mana tingkatan respon individu ketika terancam oleh situasi tidak pasti. Apakah menghindar atau mencoba membentuk struktur baru untuk mengkompensasi ketidakpastian. Masyarakat Swedia, Hongkong, Inggris, dan Amerika Serikat yang berorientasi penghindaran resiko rendah cenderung membatasi aturan, menerima perbedaan pendapat dan berani mengambil resiko. Sementara di ujung lain masyarakat dengan orientasi penghindaran ketidakpastian tinggi seperti Yunani, Portugal dan Jepang biasanya mempunyai peraturan dalam organisasi dengan cakupan luas serta cenderung mencari konsensus dalam rangka pencapaian tujuan.
Penelitian Hofstede sejatinya hanya memuat 4 kategori dan dikritik karena terlalu menganut pandangan peradaban Barat. Sekelompok peneliti China lalu mengembangkan penelitian serupa di 22 negara. Kuesioner mereka juga memuat pandangan mengenai Konfusionisme yang dianut sebagian besar perantauan China. Hasilnya, 3 kategori seperti individualism-kolektivisme, jarak kekuasan, dan feminine-maskulin berlaku umum. Sementara penghindaran ketidakpastian condong pada kebudayaan Barat. Dimensi kelima yang muncul dan berlaku universal adalah orientasi jangka panjang vs orientasi jangka pendek yang merefleksikan pencarian masyarakat akan kebajikan atau kebenaran.

Orienasi jangka pendek berhubungan dengan kebeneran seketika (direfleksikan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam) yang terfokus pada hasil yang bisa segera dinikmati dan menyadari mengenai pentingnya tekanan sosial untuk kompromi. Sementara orientasi jangka panjang lebih berhubungan dengan kebijaksanaan (ter-refleksi dalam Konfusianisme, Hindu, Buddha, dan Sinto) yang terfokus pada pola hidup sederhana, ketekunan, dan keuletan serta kesediaan untuk mengorbankan diri sendiri untuk tujuan kelompok yang lebih besar.

Keterbatasan kerangka nilai
Perlu dicamkan bahwa tidak setiap orang dalam suatu masyarakat akan berperan sesuai dengan nilai dominan yang berlaku. Hal itu membuat kita tidak terjerembab mensterotipkan individu berdasarkan suatu orientasi nilai tertentu. Contohnya, tidak setiap orang Jepang berorientasi pada nilai kolektif. Perlu diingat bahwa budaya bersifat dinamis dan heterogen. Heterogenitas nilai lazim dijumpai dalam masyarakat yang mengalami perubahan sosial yang cepat seperti Jepang yang 50 tahun lampu luluh lantak akibat serangan militer dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat. Hasil penelitian menunjukkan preferensi mahasiswa Jepang terhadap individualisme tidak berbeda nyata dengan mahasiswa Amerika yang diidentikkan mengagungkan nilia tersebut.
Kelemahan lain pendekatan ini mengkerdilkan/mereduksi seseorang dengan jalan memberikan label yang melekat terus menerus. Artinya, individu akan dianggap mempunyai karakteristik sifat suatu nilai kelompok sepanjang waktu dan di setiap konteks. Hal ini yang dikritik Tim Ambler dan Morgen Witzel yang mengajukan perpektif dialektis untuk memahami hal ini. Menurut keduanya, orientasi nilai selalu hadir dalam setiap kebudayaan dalam bentuk rentangan, lebih sedikit atau lebih banyak.

Berdasarkan prinisp ini walaupun individu mempunyai pandangan orientasi nilai tertentu yang berbeda, mereka juga bisa memegang orientasi nilai lain yang secara umum berlaku di tengah suatu masyarakat. Misalnya, seseorang mempunyai perbedaan mengenai nilai individualias atau kolektivitas, namun uga percaya mengenai kebaikan manusia dan menjalankan praktek keberagamaan yang sama dengan mayoritas anggota kelompok. Dialektika statis-dinamis juga mengingatkan walau nilai suatu kelompok relatif konsisten, manusia adalah makhluk dinamis dan berperilaku sesuai konteks.

Bagaimana komunikasi meneguhkan budaya

Budaya tidak hanya mempengaruhi komunikasi, namun disalurkan dan turut dipengaruhi oleh komunikasi. Walhasil para ilmuwan komunikasi berusaha memahami pola komunikasi yang bersifat khusus dan memberi warna terhadap identitas kultural. Terutama dalam hal bagaimana bentuk dan kerangka kultural seperti ritual, mitos dan drama sosial terpancar lewat norma percakapan yang terstruktur dan proses interaksi sosial.

Tamar Katrile, sebagai contoh, menelaah “griping” sebuah ritual komunikasi yang berlaku di kalangan kelas menengah Israel. Menggunakan kerangka SPEAKING (scene, participant, end, act, sequence, key, instrumentality, norms dan genre). Hasilnya: topik griping (bergosip) biasanya berhubungan dengan wilayah kehidupan public. Tujuannya bukan menyelesaikan masalah namun sarana meredakan ketegangan dan berbagi realitas dan nilai sebagai orang Israel. Instrumentalitas atau saluran menggunakan komunikasi tatap muka dan scene atau setting waktu biasanya setiap Jumat malam di rumah anggota perkumpulan. Pesertanya terbuka bagi siapa saja, bukan hanya teman namun biasanya sudah dikenal anggota kelompok. Kunci atau tekanan perbicaraan biasanya bernada frustasi. Urutannya biasanya dimulai dengan obrolan pembuka tentang keluhan mengenai sesuatu hal, dilanjutkan komentar dari anggota lain dan mulai menukik pada masalah yang lebih spesifik. Sebelum penutupan peserta biasanya menyetujui bahwa masalah itu serius dan bukan main-main.

Menurut Katrile, ada perbedaan antara griping warga Isareal dengan ritual komunikasi yang kerap dilakukan warga kelas menengah Amerika. Ritual komunikasi sendiri sebentuk cara untuk mendekatkan diri dan kerap dimanfaatkan sebagai sarana menyemangati orang lain, dengan percapaan bebas untuk memevahkan masalah pribadi dan meneguhkan identitas kelompok. Dimulai dari duduk bersama, membahas permasalaha, dan mendiskusikan pemecahan. Kesamaan keduanya berfungsi mendramatisir masalah kebudayaan secara umum, menyediakan sebuah konteks sosial untuk meredakan ketegangan dan frustasi, serta mempromosikan identitas komunitas.

Pendekatan lain dari studi komunikasi budaya memandang budaya sebagai sebuah perfomatig atau pertunjukan. Pendekatan ini membahas bagaimaan orang menyalurkan dan merepresentasikan pandangan dunia budaya yang dianutnya. Contohnya kaum pria Teamsville untuk meneguhkan status gendernya hanya berbicara pada sesame pria dan tidak pada wanita atau anak-anak. Pendekatan interpretatif seperti ini biasanya memanfaatkan nilai budaya sebagai sebuah pandangan untuk menjelaskan bentuk pola budaya.
Contohnya penelitian sosiolinguistik Kristine Fith mengenai perintah. Penduduk Boulder, Colorado, Amerika Serikat ketika hendak memerintah seseorang dilakukan secara hati-hati supaya tidak menyerang atau dianggap mengganggu otonomi individu karena kuat mengaut faham individualisme. Sementara di Bogota, Kolombia, dimana nilai kelompok berperan, perintah dinegosiasikan dalam hubungan, seseorang yang hendak memerintah harus mempunyai confianza (pengakuan) dan status sosial lebih tinggi sehingga dapat memerintah seseorang. Penting diingat nilai budaya bisa digunakan untuk menunjukkan tidak hanya bagaimana budaya berpengaruh terhadap komunikasi, namun juga menjelaskan bagaimana komunikasi meneguhkan nilai suatu budaya.

Komunikasi sebagai sebentuk perlawanan terhadap nilai dominan
Perlawanan adalah metaphor atau kiasan dalam studi budaya untuk menkonseptualiasikan hubungan antara budaya dan komunikasi. Dalam hal ini bagaimana individu memanfaatkan konteks sosial yang ada untuk melawan terhadap kekuatan dominan. Contohnya protes imigran di Perancis terhadap diskriminasi rasial yang terjadi.

Hubungan antara komunikasi dan konteks
Konteks merujuk pada aspek fisik atau sosial situasi dimana komunikasi terjadi. Cara orang berkomunikasi berbeda bergantung terhadap konteks. Konteks ini berwujud secara sosial, politis dan struktur historis dimana peristiwa komunikasi terjadi.

Konteks sosial biasanya dipengaruhi oleh tingkatan oleh lingkungan dimana suatu masyarakat berada. Contohnya iklan Calvin klein yagn memanfaatkan model remaja putri dianggap mengarah pada kecenderungan pedofilia. Mafhum konteks masyarakat dimana iklan itu beredar menganggap hal itu sebagai perilaku bejat atau buruk. Walaupun dalam konteks sejarah dan masyarakat lain hal itu tidak sepenuhnya dianggap buruk.

Konteks politis biasanya merujuk komunikasi sebagai sebentuk kekuatan yang berusaha untuk mengubah atau mempertahankan struktur atau hubungan sosial yang sudah ada atau mapan. Contohnya, demonstran yang melempari cat merah pada orang yang mengenakan pakaian dair bulu binatang sebagai wujud pembelaan terhadap hak-hak kesejahteraan hewan. Bisa pula merujuk konteks historis. Misalnya, lulusan Universitas Harvard dianggap lebih mumpuni dan dihargai karena berhubungan dengan sejarah panjang universitas tersebut dan rekam jejak lulusannya yang menempati posisi penting dalam pemerintahan.(fy)

HUBUNGAN KOMUNIKASI DENGAN KEKUASAAN

Power bisa menembus dalam interaksi komunikasi kita, meskipun tidak selalu nyata bagaimana power mempengaruhi proses komunikasi atau berbagai macam makna yang dikonstruksikan melalui komunikasi yang kita bangun. Kita kerapkali berfikir mengenai komunikasi antar individu sebagaimana terjadi komunikasi antar satu sama lain, namun hal ini jarang ada kasus yang terjadi (Allen, 2004), sebagaimana cendekiawan komunikasi, Mark Orbe menggambarkan sebagai berikut;

Di setiap masyarakat sebuah hirarki sosial hidup yang memiliki hak istimewa di atas golongan masyarakat lainnya. Golongan golongan yang memiliki fungsi hirarki sosial tinggi menentukan keleluasaan terhadap sistem komunikasi di masyarakat luas.
Orbe menggambarkan bagaimana golongan-golongan memiliki power. Secara sadar maupun tidak, menciptakan dan mempertahankan sistem komunikasi yang merefleksikan, memperkuat dan menganjurkan cara berfikir dan berkomunikasi menurut mereka. Ada dua tingkat pada group-related power yaitu;
1. The primary dimension yaitu mencakup aspek umur, etnisitas, jender, kemampuan fisik, ras dan orientasi seksual. Yang mana semua itu lebih permanen dan alami.
2. The secondary dimension yaitu mencakup latarbelakang pendidikan, lokasi geografis, status perkawinan, status ekonomi. Yang mana semua itu lebih mudah berubah (Loden & Rosener, 1991)
Kedua dimensi poin di atas adalah sistem komunikasi yang dominan akhirnya merintangi siapa saja yang tidak berbagi sistem. Misalnya gaya komunikasi yang paling dihargai di ruang kelas (college) menekankan public speaking dan kompetisi (karena orang pertama yang mengangkat tangannya akan berbicara). Namun tidak semua mahasiswa cocok dengan gaya komunikasi seperti di atas, namun mereka yang berbicara secara alami kemungkinan akan berhasil.
Power juga berasal dari institusi sosial dan peran individual menempati institusi tersebut. Misalnya di ruangan kelas ada ketidaksamaan secara temporer, dengan instruktur yang lebih kuat dan berpengaruh. Setelah itu, mereka menetapkan syarat kursus, memberikan level, menentukan siapa yang berbicara dan lainnya. Pada kasus ini, power tidak meletakkan melalui instruktur individu namun melalui peran mereka yang menjadikan.

POINT OF VIEW
Rose wiitz seorang cendekiawan komunikasi menggambarkan pentingnya rambut wanita untuk menarik kaum pria. Meskipun beberapa penulis mengatakan bahwa seorang wanita yang menggunakan cara “hair flip” dalam menarik kaum pria sebenarnya mereka juga tidak menyadari hanya sebuah usaha dalam mengikuti tradisi, hasil wawancara dengan para perempuan menyatakan bahwa banyak yang benar-benar sadar terhadap tradisi dan kekuatan “flip” itu. Maka yang tidak bisa berpartisipasi merasa termarjinalkan.
Power itu dinamis. Tidak juga sebuah cara yang sederhana. Misalnya, para mahasiswa mungkin meninggalkan ruang kelas saat masih kelas berjalan, atau mereka mungkin berbicara satu sama lain saat professor menerangkan maka hal itu merupakan kelemahan professor terhadap mahasiswa itu. Mereka mungkin juga menolak menerima nilai dan mengajukan sebuah keluhan terhadap administrasi kampus yang mengatur seluruh perubahan nilai. Lebih jelasnya tipical power relationship antara instruktur dengan mahasiswa sering tidak kuat di luar kelas. Meskipun beberapa isu power memainkan kontek sosial yang lebih luas (Johnson 2001). misalnya, dalam masyarakat kontemporer, perusahaan kosmetik memiliki ketertarikan pribadi dalam sebagian image kecantikan wanita yang mencakup belanja dan memakai make up. Iklan merangsang wanita dan mereka merasa dipaksa berpartisipasi terhadap consensus budaya. Daya tahan bisa diekspresikan melalui penolakan bersama terhadap standar budaya kecantikan. Angela, seorang mahasiswa dari rural Michigan, menggambarkan bagaimana ia menolak budaya kecantikan di Metropolitan University :

“Saya pergi ke sekolah, saat saya melihat di sekeliling saya merasa tidak cocok. Saya tak memiliki satu dari dua pilihan untuk mencocokkan diri seperti para wanita yang nampak di sini atau saya menyamakan saja dengan mereka. Atau saya pilih sebagaimana persepsi saya. Saya merasa lebih percaya diri dengan cara ini. Saya masih ingat betul saat melihat gadis berambut pirang dengan fake boob dan celana panjang warna hitam yang dipakai di kampus. Empat tahun setelah itu, saya memiliki sikap yang dewasa dan menyadari bahwa budaya ini tidak cocok untuk saya.”
Apa yang terjadi ketika seseorang sebagaimana Angela tidak memutuskan menggunakan ketentuan ini? Tanpa memperhatikan alasan individu setiap wanita untuk tidak ikut serta, orang lain mungkin memaknai tingkah lakunya melalui cara dengan tidak memadukan beserta alasannya.
Kelompok kultur dominan berusaha menghidupkan posisi istimewa dengan berbagai cara. Meskipun kelompok subordinat bisa bertahan dari dominasi ini melalui banyak cara juga. Golongan kultural bisa menggunakan maksud legal dan politik dalam mempertahankan dominasinya. Namun tidak hanya melibatkan relasi kekuasaan. Kelompok bisa bernegosiasi beraneka relasi terhadap kultur misalnya dengan memboikot ekonomi. Individu dapat menganut (atau tidak menganut) spesifik majalah, surat kabar, program TV, menulis surat kepada instansi pemerintahan atau beraksi dengan cara lain dalam merubah atau mempengaruhi power.

Power itu komplek, khususnya terkait dengan institusi atau struktur sosial. Beberapa ketidakadilan seperti dalam jender, kelas, atau ras mungkin lebih kaku daripada hal yang dibuat bersifat temporer seperti antara murid dengan guru. Relasi keduanya lebih komplek jika gurunya seorang wanita mendapat chalenge dari murid laki-laki. Benar-benar kita tak bisa memahami komunikasi antar budaya tanpa mengamati dinamika power dalam interaksi. Sebuah perspektif dialektika menampakan cara dinamika dan saling berkaitan dimana budaya, komunikasi, kontek dan tumpang tindih kekuatan dalam interaksi komunikasi antar budaya.

Dari perspektif komunikasi, mungkin tidak sama sekali jelas bahwa sebuah perjuangn antarbudaya telah mengambil alih. Sinyal konflik tradisional yang ada: tak ada suara dinaikan, tak ada kata-kata kasar, tak ada kekerasan, tentu, akan berubah menjadi sopan santun.

Dari perpektif kultural, bagaimanapun melalui berbagai macam kontek dan perbedaan pandangan munculnya interaksi antar budaya. Misalnya Belgia adalah sebuah Negara yang besar dibagi dua budaya, Flemish dan Walloon meskipun ada sebuah kelompok minoritas Jerman di bagian timur. Secara resmi Belgium menggunakan tiga bahasa (Dutch, France, German) setiap bahasa memiliki wilayahnya masing-masing. Bahasa Belanda secara resmi digunakan di Flanders. Dan bahasa prancis digunakan di Wallonia, kecuali di bagian timur dimana bahasa resminya adalah Jerman. Hanya bagian Belgia yang secara resmi memiliki dua bahasa yakni Brusel dan Capital region.
Ada banyak kontek sejarah yang perlu dilihat, misalnya Brussel menurut historis adalah sebuah kota Flemish, yang terletak di Flanders (namun dekat dan lebih luas dengan Wallonia) dan juga bahasa Prancis didominasi di Belgia sejak hari kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1830 samapi awal abad 20. Ada kontek sosial dan ekonomi, sejak tahun 1960an Flander lebih kuat secara ekonomi daripada Wallonia. Di bagian ibukota Brussel

Oleh karena itu, kita harus memahami kontek dan tegangan dialektika yang muncul dalam pengalaman komunikasi antar budaya. Dengan cara ini, kita akan lebih memahami ketidakleluasaan dalam interaksi komunikasi. Kita juga akan lebih memahami budaya pada diri kita masing-masing. Meskipun perspektif dialektika membuat investigasi budaya dan komunikasi lebih komplek, dan juga membuat lebih menyenangkan dan menarik dan mendorong pemahaman yang lebih kaya.

Summary
 Ada empat aspek dalam memahami komunikasi antar budaya, yakni budaya, komunikasi, kontek dan power.
 Budaya bisa dilihat pada:
 belajar pola pada grup-related perceptions.
 pola makna simbol yang kontektual
 heterogen, dinamis, dan tempat kontestasi
 komunikasi adalah sebuah proses simbol yang mana realitas diproduksi, dipertahankan, diperbaiki dan ditransformasikan
 hubungan antara komunikasi dan budaya sangat komplek: budaya mempengaruhi komunikasi dan diperkuat melalui komunikasi.
 Komunikasi mungkin juga cara kontestasi dan melawan kultur dominan.
 Kontek juga mempengaruhi komunikasi: baik seting secara fisik maupun sosial yang mana terjadi komunikasi atau lingkungan politik, sosial dan sejarah.
 Power dapat menembus dan memainkan peranan sangat besar meskipun sering tak terlihat, peran dalam interaksi litas budaya.

Disusun oleh: Titin, Tony, Faiz, Yanyan dan Rosit Ska.

Leave a comment