Presiden SBY dan Global Champion of Disaster Risk Reduction


Pada tanggal 10 Mei 2011, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menerima pengharagaan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon sebagai Tokoh Dunia bidang Pengurangan Risiko Bencana atau “Global Champion for Disaster Risk Reduction”. Penerimaan penghargaan tersebut diwakili oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat menghadiri acara tersebut. Acara itu disaksikan beberapa kepala negara, menteri dan 2.500 undangan dari 160 negara

Arti dari penghargaan itu tidak lain ialah PBB mengakui bahwa Presiden Susilo Bambang Yudoyono berhasil dalam mengurangi kebijakan pencegahan resiko bencana di seluruh tingkatan, mendorong peningkatan investasi di bidang pencegahan resiko bencana, serta wujud nyata penghargaan dunia atas kepeloporan, komitmen dan dedikasi Presiden RI maupun Pemerintah Indonesia dalam mengatasi berbagai bencana alam, maupun berbagai upaya inovatif dalam pengurangan resiko bencana.

Di dalam negeri, berbagai media memberitakannya baik dari media cetak maupun elektronik, misalnya di tempat-tempat strategis di Jakarta khususnya, dipasang spanduk yang bertuliskan “ Selamat kepada Presiden SBY atas penghargaan PBB sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction”. Nah, dari berbagai media massa yang telah memberitakan dan mensosialisasikan keberhasilan SBY dalam penanggulangan resiko bencana itu, mengapa isu pemberitaan di berbagai media massa mengenai keberhasilan SBY tidak banyak diperbincangkan di televisi? Mengapa khalayak/rakyat tidak banyak mengetahui mengenai penghargaan yang diterima SBY?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa penghargaan sepenting itu tidak banyak diperbincangkan. Pertama, ada kegagalan agenda setting media, yakni apa yang dianggap penting oleh media ternyata tidak dianggap penting oleh khalayak. Kedua, ada sebuah knowledge gap sehingga rakyat belum tentu mengetahui bahasa yang digunakan oleh media maupun pemerintah. Ketiga, masyarakat cenderung memaknai penghargaan itu kontras dengan realitas rakyat yang mayoritas masih memprihatinkan. Keempat, rakyat tidak sepakat dengan penghargaan penanggulangan resiko bencana yang diberikan Presiden SBY. Kelima, upaya pemberitaan itu tidak bisa memasuki ranah interpersonal khalayak. Keenam, rakyat mencium ada upaya propaganda dari pemerintah SBY. Ketujuh, rakyat memaknai ada sebuah pencitraan politik di dalam pemberitaan itu.

Apalagi pemerintah yang selama ini diamanati oleh harapan rakyat yang begitu besar belum bisa membuktikan janji-janjinya. Sepertinya menjadi suatu yang tak perlu dilakukan membicarakan penghargaan terhadap Presiden SBY secara berlebihan di tengah kemiskinan yang masih membabi buta. Penghargaan-penghargaan itu tidak ada artinya buat rakyat karena memang tak berpengaruh dalam kehidupan rakyat yang mendambakan kesejahteraan khususnya dalam masalah ekonomi.

Sementara menurut hasil survei yang dilakukan oleh Indo Barometer, rakyat seolah-olah merindukan pemerintahan Orde Baru Soeharto, hal ini dibuktikan bahwa mayoritas publik menganggap Orde Baru lebih baik (40,9%), daripada era Reformasi sekarang ini (22,8%). Temuan ini merupakan pukulan terhadap pemerintahan SBY agar bisa membuktikan janji-janjinya dan lebih bekerja keras, bukan mengkritisi hasil survei atau malah menyangkalnya.

Hemat saya, SBY tidak perlu berbesar hati dalam menerima penghargaan itu, karena secara substantif tidak ada dampak positif terhadap rakyat. Rakyat tidak membutuhkan berbagai macam bidang perhargaan yang selalu dianugerahkan terhadap Presidennya, akan tetapi yang dibutuhkan adalah bukti nyata khususnya berpengaruh dalam perubahan kehidupan yang lebih baik.

Oleh karena itu, penghargaan kepada Presiden SBY atas penghargaan PBB sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction menghasilkan fakta yang tidak sesuai kebutuhan dasar rakyat. Sehingga baik upaya media dan pemerintah dalam mensosialisasikannya tidak menghasilkan informasi yang komunikatif. Kebutuhan yang mendesak bukan sebuah penghargaan dan sanjungan yang bagi rakyat tak bermakna, namun menurunnya harga sembako, keamanan terjaga, kemiskinan berkurang dan terhindar dari bencana akan menjadi jauh lebih bermakna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s