CALEG ARTIS DAN PEMILIH PEMULA (Tangsel Pos, Selasa 7 Mei 2013


Oleh M. Rosit

Dosen Komunikasi Politik Univ Al Azhar Indonesia dan Peneliti The Political Literacy Institute

 

Pemilih Pemula merupakan golongan yang ikut menentukan dalam perhelatan pemilihan umum. Mereka menjadi basis suara yang sangat potensial bagi para caleg artis.

            Saat ini, artis menjadi sorotan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Selebriti beramai-ramai mencalonkan atau dicalonkan partai politik menjadi wakil rakyat. Mereka dianggap mampu sebagai pendulang suara (vote getter) yang cukup signifikan di setiap pemilu. Karena faktor popularitas dan publisitas itulah, media melakukan perangkingan terhadap caleg yang berasal dari selebriti.

            Eksistensi artis di panggung kekuasaan politik sangat berhubungan dengan dunia informasi yang dialami di suatu negara. Termasuk sistem politik yang memberikan peluang besar pada partisipasi politik warga untuk memilih dan dipilih dalam setiap pemilihan umum. Bagi negara-negara yang sistem demokrasinya sudah berjalan, hal ini sudah tentu merupakan hal biasa. Di negara yang mengaku paling domokratis seperti di Amerika Serikat sekalipun. Politisi selebritis sudah menghiasi panggung politik Amerika. Misalnya Artis Ronald Reagen pernah mengukir sejarah sebagai presiden Amerika Serikat, kemudian disusul oleh Arnold Schwarzeneger sebagai Gubernur California.

            Di Indonesia, beberapa artis dianggap sukses bermetamorfosis menjadi wakil rakyat yang memiliki kapasitas dan rekam jejak. Misalnya Dedi Gumilar (Miing), Rike Diah Pitaloka, Dede Yusuf, Rano Karno dan Tantowi Yahya adalah sederetan artis yang dianggap tak hanya mewarnai tapi juga memiliki rekam jejak di panggung politik. Mereka adalah politisi yang sangat vokal di parlemen, dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat melalui partainya masing-masing. Namun, kenapa kita masih meragukan kompetensi artis di panggung politik?

            Dalam bahasa komunikator politik, artis dikategorikan sebagai politisi wakil yaitu politikus atau komunikator politik yang tidak dilahirkan melalui proses kaderisasi yang berjenjang. Karena tidak melalui kaderisasi, politisi artis biasanya dipersepsikan tak memiliki kapasitas dan kapabilitas menjadi wakil rakyat atau pejabat publik. Sejatinya, seorang politisi harus menempuh jenjang kaderisasi politik secara baik dan memadai. Kemudian politisi tersebut menjadi loyalis di partainya dan pada akhirnya didistribusikan ke dalam jabatan-jabatan strategis, salah satunya sebagai calon anggota legislatif. Karena caleg artis tak menempuh tahapan penting ini, bahkan waktu mereka dihabiskan di dunia hiburan, maka mereka menjadi caleg yang sering diasumsikan tak memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai wakil rakyat.

            Menjelang Pemilu 2014, sudah terdaftar sebagai daftar calon sementara yang berlatarbelakang artis antara lain Irwansyah, Krisdayanti, Mandra, Ikang Fauzi, Sonny Tulung, Marisahaque dan lainnya. Dengan modal popularits mereka sangat tergantung terhadap publisitas televisi yang akrab di mata khalayak. Rakyatlah yang akan menyeleksi apakah mereka layak atau tidak untuk menjadi wakilnya di Senayan. Namun ada golongan pemilih yang sangat berpotensi menjadi basis suara para caleg artis ini, mereka adalah para pemilih pemula.

Selebritisasi Pemilih Pemula

            Hadirnya selebriti di panggung politik memperoleh ruang dari pemilih pemula. Mereka biasanya masih labil dan masih dalam proses belajar politik. Pemilih pemula mayoritas memiliki rentang usia 17-21 tahun, kecuali karena telah menikah. Dan mayoritas pemilih pemula adalah pelajar (SMA), mahasiswa dan perkerja muda. Pemilih pemula merupakan pemilih yang sangat potensial dalam perolehan suara pada Pemilu. Suara potensial tersebut setidaknya bisa dilacak dari data dalam dua pemilu terakhir yakni pada Pemilu 2004 dan Pemilu 2009.

            Pada Pemilu 2004, ada 50.054.460 juta pemilih pemula dari jumlah 147.219 juta jiwa pemilih dalam pemilu. Jumlah itu mencapai 34% dari keseluruhan pemilih dalam pemilu. Jumlah tersebut lebih besar dari pada jumlah perolehan suara partai politik terbesar pada waktu itu, yaitu Partai Golkar yang memperoleh suara 24.461.104 (21,62%) dari suara sah. Sementara pada Pemilu 2009 lalu, potensi suara pemilih pemula tetap signifikan. Besarnya pemilih pemula diperkirakan mencapai 19% atau 36 jutaan dari 189 juta penduduk yang memiliki hak pilih. Potensi suara pemilih pemula tersebut tetap lebih besar dibandingkan perolehan suara partai politik terbesar saat itu, yakni Partai Demokrat yang memperoleh 21.655.295 suara. Perolehan suara Partai Demokrat tersebut, jika dihitung berdasarkan suara yang sah dalam pemilu besarnya mencapai 20,81% (Bakti, 2012:128).

            Suara pemilih pemula yang sangat signifikan ini merupakan basis suara yang perlu dicermati kemana larinya mereka dalam menjatuhkan pilihan politiknya. Tidak menutupkemungkinan, caleg artis berpotensi besar memperoleh raihan suara dari pemilih pemula.

 

Potensi Caleg Artis

            Caleg selebriti memperoleh perhatian dari pemilih pemula. Pemilih tipe ini biasanya belum memiliki wawasan dan pengalaman pemilu sebelumnya, sehingga preferensi dalam memilih kandidat sangat dipengaruhi oleh daya tarik emosional yang ada di sekelilingnya. Kemungkinan besar pemilih pemula akan memutuskan pilihan politiknya terhadap caleg yang memiliki popularitas, dalam hal ini adalah para artis.

            Ada beberapa alasan pemilih pemula cenderung memilih caleg artis. Pertama, pemilih pemula dalam memutuskan pilihan politiknya masih didominasi faktor emosional terhadap caleg artis, mereka bisa jadi memang mengagumi salah satu artis yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Kedua, pemilih pemula memiliki kedekatan terhadap caleg artis dibandingkan dengan caleg non artis. Karena faktor kedekatan ini mereka akan menjatuhkan pilihan politiknya kepada caleg yang dirasa merasa akrab dan dekat.

            Ketiga, pemilih pemula tidak bepikir panjang dalam menentukan pilihan politiknya. Rekam jejak, pengalaman birokrasi dan program kerja biasanya tak diperhatikan secara seksama. Sehingga mereka lebih memperhatikan terhadap performace atau penampilan kandidat. Keempat, pemilih pemula dalam menentukan pilihan politiknya sangat dipengaruhi oleh media yang kerapkali mengekspos caleg artis secara berlebihan, potensi inilah yang sangat mempengaruhi perilaku pemilih pemula.

            Hadirnya caleg artis ini dipastikan menjadi pendulang suara bagi para pemilih pemula khususnya. Caleg artis memiliki camera face yang pasti dikenali dan diingat oleh para pemilih pemula. Maka kecenderungan mereka akan menjatuhkan pilihan politiknya sangat berpotensi besar terhadap caleg artis dibandingkan dengan caleg non artis.

            Sehingga perilaku pemilih pemula ini mesti memperoleh literasi politik yang memadai supaya dalam menjatuhkan pilihan poitiknya tidak hanya faktor popularitas saja, tetapi diiringi dengan faktor rekam jejak dan program kerja yang nantinya diimplementasikan dalam bentuk kebijakan untuk  kesejahteraan rakyat. Jika memang caleg artis sebagai pilihannya, maka sosok caleg artis yang memiliki kompetensi dan rekam jejak yang dipertanggungjawabkan.

One thought on “CALEG ARTIS DAN PEMILIH PEMULA (Tangsel Pos, Selasa 7 Mei 2013

  1. data (Bakti, 2012:128) itu anda dapat dari sumber apa ya? boleh saya tau referensi buku sumbernya ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s