VARIAN SALURAN KOMUNIKASI POLITIK


dot_clear

PENDAHULUAN
Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Pesan di sini bisa dalam bentuk lambang-lambang pembicaraan seperti kata, gambar, maupun tindakan. Atau bisa pula dengan melakukan kombinasi lambang hingga menghasilkan cerita, foto (still picture atau motion picture), juga pementasan drama. Alat yang dimaksud di sini tidak hanya berbicara sebatas pada media mekanis, teknik, dan sarana untuk saling bertukar lambang, namun manusia pun sesungguhnya bisa dijadikan sebagai saluran komunikasi. Jadi, lebih tepatnya saluran komunikasi itu adalah pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam keadaan bagaimana, sejauh mana dapat dipercaya.
Komunikator politik, siapapun ia dan apapun jabatannya, menjalani proses komunikasinya dengan mengalirkan pesan dari struktur formal dan non-formal menuju sasaran (komunikan) yang berada dalam berbagai lapisan masyarakat. Saluran komunikasi politik ada 3 (tiga) jenisnya, (1) Media komunikasi massa, di mana saluran ini menekankan adanya komunikasi satu-kepada-banyak; bisa dalam bentuk komunikasi tatap muka yang dijalankan komunikator pada saat berbicara di hadapan khalayak, seperti pidato kepresidenan yang disiarkan melalui media televisi, rapat umum atau berbicara pada saat konferensi pers, (2) Komunikasi yang memiliki hubungan satu-kepada-satu atau biasa disebut komunikasi interpersonal; bisa dalam bentuk tatap muka maupun berperantara, (3) Komunikasi Organisasi, yakni menggabungkan penyampaian satu-kepada-satu dan satu-kepada-banyak.
Pembahasan saluran komunikasi politik tidak hanya sebatas pada bentuk proses penyampaian politik ketika komunikator sudah duduk di kursi pemerintahan. Namun, akan lebih menarik lagi jika pembahasan saluran komunikasi politik terhadap persuasi politik pada saat kampanye pemilihan diikutsertakan, dengan menganalisa kasus kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 di Indonesia yang telah lalu serta Pilkada Banten yang tampaknya masih hangat untuk dibicarakan sebagai studi kasusnya. Mengapa Pilpres 2004? Berbagai pihak beranggapan bahwa Pilpres inilah yang dinilai cukup demokratis dibanding pemilihan-pemilihan presiden sebelumnya. Proses pemilihan presiden yang untuk pertama kalinya dilakukan dengan memilih pasangan presiden beserta wakilnya secara langsung. Walaupun harus diakui memang masih saja terdapat kekurangan di sana-sini. Semisal, mencuatnya kasus korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang hingga kini masih dalam proses hukum. Namun, hal tersebut tidaklah mengurangi substansi dari nilai-nilai demokratis dari terselenggaranya Pilpres itu sendiri. Yang menjadi perhatian adalah, seperti apakah proses kampanye yang telah dilakukan oleh masing-masing kandidat pada masa itu sehingga Pilpres 2004 ini disebut-sebut sebagai bagian dari proses politik yang demokratis; jujur dan adil.
Adapun Pilkada Banten, meskipun cakupan wilayah pemilihannya tidak seluas pemilihan presiden, namun proses politik yang terdapat di dalamnya menarik untuk dicermati. Selain Pilkada ini merupakan pemilihan gubernur yang pertama kalinya dilakukan secara langsung di daerah Banten (daerah yang baru saja memiliki hak otonomi daerah dengan memisahkan diri dari wilayah Jawa Barat), Pilkada ini pun banyak mengundang minat elite politik yang duduk di kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) untuk kembali ke daerahnya menjadi salah satu kandidat dari partai yang bukan mengangkatnya menjadi anggota dewan. Disertai persaingan yang ketat dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten sementaranya yang turut pula mencalonkan diri. Kampanye yang dilakukannya pun terbilang cukup unik, hingga kerap menggunakan media infotainment untuk saling “menjatuhkan” disertai dengan mobilisasi artis untuk bergabung dalam sebuah paguyuban yang masih harus dipertanyakan lagi masa depannya.

VARIAN SALURAN KOMUNIKASI POLITIK
Sebagaimana yang sudah diketahui, varian dari saluran komunikasi politik terbagi menjadi 3 (tiga), yakni :

1. Komunikasi Massa
Dalam sistem pemerintahan yang bagaimana pun, media komunikasi (dalam hal ini media massa) selalu tidak luput dari perhatian. Dikarenakan sifatnya yang memang sanggup menjangkau komunikan dalam skala besar di wilayah mana pun dan kapan pun.
Media massa merupakan alat komunikasi politik yang berdimensi dua, yaitu bagi pemerintah dan bagi masyarakat. Dalam dimensi pemerintah, maka media massa berfungsi sebagai :
(1) Untuk menyebarluaskan informasi-informasi seputar:
a. Kebijaksanaan pemerintah.
b. Program-program untuk mensejahterakan rakyat.
c. Kondisi politik dalam negeri.
d. Aktivitas jalinan komunikasi dengan Negara-negara lain sebagai kebijaksanaan politik luar negeri.
(2) Untuk membentuk karakter bangsa melalui fungsi pendidikan.
(3) Untuk melakukan fungsi sosialisasi dalam kaitan pelestarian sistem politik (sekaligus sistem nilai).
(4) Menumbuhkan kepercayaan Negara lain melalui sajian-sajian berita yang direncanakan dan ditata secara baik, (sebagai alat promosi atau propaganda).
Sedang dimensi bagi masyarakat, media massa berfungsi sebagai sarana kontrol sosial terhadap kebijaksanaan yang dilakukan pemerintah.

Teori Perseptual
Bagi McLuhan, setiap media komunikasi mempunyai gramatika. Gramatika adalah aturan kerja yang erat hubungannya dengan gabungan indera (penglihatan, sentuhan, suara, penciuman, dan lain sebagainya) yang berkaitan dengan penggunaan media oleh seseorang. Atau bisa dikatakan media merupakan perpanjangan dari indera manusia: bicara sebagai panjangan indera untuk suara, cetakan merupakan perpanjangan dari indera untuk penglihatan, dan media elektronik tertentu –terutama televisi– adalah perpanjangan indera peraba (perasaan, sentuhan, sistem saraf).
McLuhan berargumentasi, dikarenakan setiap media dibiaskan terhadap indera tertentu dan penggunaannya menghasilkan pengandalan yang berlebihan dalam keseluruhan pola indera manusia, maka hal ini akan mengakibatkan media mempunyai akibat yang sangat kuat terhadap masing-masing penggunanya. Dalam budaya lisan, medianya adalah bicara dan bias terhadap suara. Hasilnya adalah budaya keakraban sosial. Kemudian datang budaya cetak yang memaksa tatanan konseptual-perseptual yang berbeda; dalam tatanan itu orang-orang datang mengharapkan, mencari, dan menuntut linearitas, yaitu keteraturan, koordinasi, dan ketertiban. Sebuah budaya yang sangat mengindividualkan; membaca dan menulis serta menerbitkan. Akibat politiknya adalah suatu sistem demokrasi individual yang menekankan kemampuan pribadi dan titik pandang warga Negara perseorangan yang mengambil bagian dalam proses yang tampaknya dapat dipengaruhi dengan cara yang tertib.
Sedangkan media televisi dalam pandangan McLuhan berkaitan dengan demokrasi kolektif. Ia beralasan, bahwa orang tidak hanya menonton televisi, akan tetapi turut pula terlibat di dalamnya. Televisi merupakan media yang informasinya rendah: hanya menayangkan implus elektronik kepada penontonnya; penonton dibebaskan untuk menafsirkan, menentukan pola, dan membuat implus-implus itu bermakna. Sedangkan media lisan dan tulisan (radio dan media cetak) memaksakan makna terhadap pembaca dan pendengarnya.

Teori Fungsional
Fokus dari teori fungsional ini adalah mengamati berbagai jenis fungsi media bagi pembaca, pendengar, dan penonton. Teori inilah yang nantinya akan menyadarkan kita, bahwasanya media massa turut pula berperan dalam berbagai dampak politik, semisal mengubah pemberian suara, tingkat dukungan publik terhadap kebijakan, dan mampu menambah informasi yang dimiliki rakyat tentang politik. Untuk lebih jelasnya, mari kita cermati varian dari teori fungsional yang diantaranya adalah:
a. Teori Persuasi dan Informasi/Penyebaran
Teori ini mengungkap berbagai kemungkinan tentang keinginan orang yang menggunakan media massa untuk menambah khazanah pengetahuannya (informasi) dan atau mendapatkan bimbingan (opini). Dipandang dari fungsi ini, media massa mendifusikan informasi dan mempersuasi.
Dalam teori informasi, komunikasi massa terdiri atas serangkaian sistem yang menyampaikan informasi dengan cara bersambung dan berurutan (1) dari sebuah sumber, (2) melalui penyandi yang menerjemahkan unsur-unsur pesan ke dalam serangkaian tanda ke dalam implus elektronik, (3) melalui sebuah saluran, (4) melalui penyandi balik, dan (5) kepada penerima. Teori ini menetapkan informasi menurut kemampuannya mengurangi ketakpastian atau keteraturan situasi pada penerima.
Ada gagasan-gagasan lain yang penting dalam teori informasi, yakni: entropi adalah tingkat ketakpastian atau ketakteraturan dalam peristiwa; redudansi adalah kepastian relatif dalam situasi; gangguan adalah segala sesuatu yang mengganggu informasi.

b. Teori Permainan
Teori permainan seperti yang dirumuskan oleh psikolog William Stephenson, berargumentasi bahwa kita berkomunikasi hanyalah demi kesenangan yang kita peroleh dari tindakan itu sendiri. Permainan adalah kegiatan yang dilakukan orang untuk kesenangan, bukan untuk menyelesaikan sesuatu seperti bererja. Teori ini diturunkan dari gagasan kesenangan berkomunikasi, kegembiraan yang diperoleh orang dari mengobrol tanpa tujuan, atau kepuasan dalam membaca komik atau kolom tulisan Ann Landers. Berbeda dengan teori informasi yang dilukiskan Stephenson sebagai derita berkomunikasi, berkomunikasi agar lebih berpengetahuan, berpendidikan, untuk memecahkan masalah, dan lain sebagainya.
Lebih jauh lagi Stephenson menjelaskan, bahwasanya politik dari titik pandang publik dilihatnya sebagai permainan. Dengan mengeksploitasi sifat-sifat estetik komunikasi politik yang mirip dengan permainan, para pemimpin politik menggunakan saluran massa untuk membangkitkan gerakan rakyat dan diam-diam menerima keputusan pemerintah, yaitu penggunaan simbolisme politik sebagai penolong.

c. Teori Parasosial
Kelompok lain perumus teori berargumentasi bahwa komunikasi massa berfungsi memenuhi kebutuhan manusia akan interaksi sosial. Hal ini tercapai jika media massa memberi peluang bagi hubungan tatap muka tanpa terjadinya hubungan langsung. Secara khas para anggota khalayak radio, televisi, atau film berhubungan dengan tokoh di dalam media massa itu seakan-akan tokoh tersebut hadir di dalam lingkungan sosial mereka.
Banyak dari format ini yang digunakan oleh para komunikator politik untuk membangun jembatan parasosial yang menghubungkan pemimpin dan pengikutnya. Banyak usaha hubungan masyarakat dari kepentingan terorganisasi yang menempatkan juru bicara mereka dalam pertunjukan bicara yang popular dengan harapan mengidentifikasi pemimpin acara pertunjukkan dengan tujuan-tujuan seperti pelestarian lingkungan, reformasi penjara, boikot konsumen, penghentian pembangunan pembangkit tenaga nuklir, dan lain sebagainya.

d. Teori Guna dan Kepuasan
Pendekatan guna dan kepuasan dimulai dari anggapan bahwa anggota khalayak media adalah peserta aktif dan selektif dalam keseluruhan proses komunikasi. Mereka bukan hanya penerima pesan yang pasif, melainkan dengan bertujuan memasuki pengalaman komunikasi sebagai makhluk yang berarahkan tujuan. Media massa hanyalah suatu cara yang digunakan orang untuk mencapai pemuas kebutuhannya.

2. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal merupakan bentukan hubungan satu-kepada-satu; terdiri atas saling tukar kata lisan di antara dua orang atau lebih. Saluran ini bisa berbentuk tatap muka maupun berperantara.
Beberapa teoritisi dan ilmuwan komunikasi seperti: Joseph Klapper, Elihu Katz, Paul Lazarfeld, dan Ithil de La Solapool telah mencatat, betapa efektifnya komunikasi interpersonal, terutama bagi Negara-negara berkembang yang lebih tinggi tingkat frekuensinya dalam menggunakan tenaga manusia dibanding menggunakan produk teknologi canggih.
Walaupun komunikasi interpersonal terdapat kelemahan, seperti jangkauan sasaran (komunikan) terlalu luas atau karena dibatasi geo nature (letak geografis) yang sulit dijangkau, namun di sisi lain memiliki nilai lebih yaitu:
1) Pengaruh Pribadi dalam Politik
Kita telah mengenal varian dari komunikator politik, yakni politikus, profesional, dan aktivis. Dalam kategori aktivis kita berbicara tentang pemuka pendapat (opinion leader), yakni orang yang menaruh perhatian terhadap media massa, memilih pesan, dan menyampaikan informasi serta opini baik kepada teman, tetangga, maupun kawan bekerja dan lain-lain melalui percakapan tatap muka. Melalui pengaruh pribadi, para pemuka pendapat merupakan saluran yang menghubungkan jaringan massa dan komunikasi interpersonal.
Terlepas dari perannya dalam memimpin pendapat dan dalam menyebarkan informasi, sebenarnya banyak sekali pembicaraan politik yang dilakukan oleh komunikator politik mengalir terutama melalui saluran interpersonal. Inilah gelanggang terpenting bagi pembicaraan kekuasaan, pengaruh, dan otoritas, tempat pembicaraan dilakukan dari mulut ke mulut, bukan kepada khalayak massa. Argumentasi para pengamat benar, bahwa pembicaraan di belakang layar di antara para pejabat memberikan gambaran yang lebih tepat tentang apa yang terjadi dalam pemerintahan ketimbang yang dikatakan oleh para pejabat kepada khalayak massa: “Lamabang politik beredar di antara para pemegang kekuasaan,” tulis Lasswell dan Kaplan, “Lebih sesuai dengan kenyataan kekuasaan daripada lambang-lambang yang disajikan bagi bidang itu.”

2) Karakteristik Percakapan Politik
Komunikasi interpersonal mengenai politik, atau komunikasi apa pun mengenai maslaah itu, adalah pertemuan terpusat. Artinya, sangat sedikit orang yang mengambil bagian, pihak-pihak saling memberi hak untuk mengakui dan menjawab dalam pertukaran itu, dan percakapan berlangsung dengan cara orang-orang bergiliran mengatakan segala sesuatu. Sifat terpusat ini menghasilkan kemampuan koorientasi, seperti pada pertandingan, dan negosiasi.
a. Koorientasi.
Penyebutan ini hanya menunjukkan bahwa orang saling bertukar pandangan tentang masalah; pertukaran itu menimbulkan serangkaian pesan dan tindakan, dan melalui urutannya para peserta serempak mengorientasikan diri terhadap obyek yang dibahas dan terhadap satu sama lain.
Orientasi gabungan terhadap pesan dan peserta komunikasi interpersonal mengandung arti bahwa pesan yang dipertukarkan itu memiliki dimensi isi maupun dimensi hubungan. Isi pesan itu terdiri atas informasi tentang pokok masalah yang sedang dibahas. Dimensi hubungan membawa informasi tentang bagaimana pandangan para peserta dalam percakapan itu terhadap satu sama lain. Senyuman, kerutan dahi, nada suara, pertemuan pandangan, bahasa tubuh –semuanya merupakan tanda yang dibaca orang untuk mengetahui kesan apa yang dimiliki mereka tentang orang lain dalam percakapan itu.
Bahkan diam pun bisa menjadi sebuah strategi komunikasi. Di mana mantan Presiden Megawati adalah “pelopor’-nya. Mantan Presiden Megawati yang mempelajari komunikasi presiden-presiden sebelumnya menganggap bahwa komunikasi kepresidenan Soekarno dan Abdurrahman Wahid tidak sesuai dengan iklim Indonesia yang sedang menjalani proses demokratisasi. Maka, jadilah diam itu sebagai strategi komunikasinya. Walaupun strateginya tersebut menjadikan dirinya sebagai presiden paling tidak komunikatif sepanjang sejarah kepresidenan Republik Indonesia.
Koorientasi menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal melibatkan percakapan tentang masalah-masalah –pajak, kebijakan energi, biaya penghidupan, dan sebagainya– dan pesan-pesan yang rawan seperti bagaimana perasaan orang terhadap satu sama lain. Setiap komunikator menunjukkan apakah ia menerima, menolak, atau begitu saja mengabaikan yang lain; lebih dari itu, seseorang menyingkapkan apakah ia menerima, menolak, atau merasa apatis terhadap keterlibatan dirinya ke dalam wacana itu.
b. Percakapan sebagai Permainan
Maksud percakapan sebagai permainan di sini adalah transaksi yang di dalamnya para peserta komunikasi (1) mempunyai motif yang terbuka dan tersembunyi dan (2) dalam proses itu memperoleh imbalan atau menderita kerugian.
Lyman dan Scott mengemukakan empat tipologi permainan yang sesuai untuk menjelaskan sifat-sifat yang menyerupai permainan dalam komunikasi politik interpersonal. Permainan dibedakan menurut tujuan yang dikerjar-nya. Permainan wajah, misalnya, merefleksikan upaya peserta untuk menetapkan indentifikasi masing-masing dengan cara-cara yang dihargai. Suatu permainan wajah bisa defensive; dalam permainan ini pemain berusaha melindungi suatu identitas dari ancaman.
c. Kontur saling tukar interpersonal
Beberapa hal memengaruhi makna yang diberikan orang kepada pesan-pesan yang mengalir melalui saluran-saluran interpersonal. Kita akan mengemukakan tiga dari yang terpenting, yakni:
– Prinsip Homofili
Riset mengemukakan tiga dalil yang jika digabungkan membentuk prinsip homofili dalam komunikasi; (1) Orang-orang yang mirip dan sesuai satu sama lain lebih sering berkomunikasi daripada orang-orang yang tidak serupa sifat dan pandangannya. (2) Komunikasi yang lebih efektif terjadi bila sumber dan penerima homofilitik; orang-orang yang mirip cenderung menemukan makna yang sama dan diakui bersama dalam pesan-pesan yang dipertukarkan oleh mereka. (3) Homofili dan komunikasi saling memelihara; makin banyak komunikasi di antara orang-orang, mereka makin cenderung berbagi pandangan dan melanjutkan komunikasi. Prinsip homofili terlalu menyederhanakan. (!)
– Empati
Kemampuan memproyeksikan diri sendiri ke dalam titik pandang dan empati orang lain memberikan peluang kepada komunikator untuk berhasil dalam bercakap-cakap. Empati adalah suatu sifat yang sangat dekat asosiasinya dengan citra seseorang tentang diri dan tentang orang lain, dan karena itu bisa dinegosiasikan melalui media interpersonal.
– Menyingkap Diri
Penyingkapan diri terjadi bila seseorang memberitahukan kepada orang lain apa yang dipikirkan, dirasakan, atau diinginkannya, itulah cara yang paling langsung untuk memperlihatkan citra diri dan identifikasi dihargai. Kondisi ini terbilang cukup langka dalam arena politik. Yang terjadi justru malah sebaliknya, yakni ajang menutup diri; strategi komunikasi yang digunakan seseorang untuk mencegah diketahui oleh orang lain, adalah kekhasan komunikasi politik interpersonal.

3. Komunikasi Organisasi
Jaringan komunikasi dari organisasi menggabungkan sifat-sifat saluran massa dan saluran interpersonal. Tentu saja ada jenis-jenis organisasi yang sangat berbeda dalam politik, baik formal maupun informal. Yang dimaksud kelompok informal adalah keluarga seseorang, kelompok sebaya, dan rekan kerja yang kesemuanya memainkan peran penting dalam mengembangkan opini politik orang itu. Sedangkan kelompok formal meliputi partai politik dan berbagai organisasi kepentingan khusus, seperti serikat buruh, asosiasi perusahaan, pembela konsumen, organisasi hak sipil, dan koalisi kebebasan wanita. Akhirnya, pada ujung yang paling formal dari kontinuum ini terdapat organisasi birokratik.
Birokrasi adalah organisasi besar yang terdiri atas pekerja purnawaktu (full-time) yang terikat dan bergantung pada organisasi itu dengan mengandalkan kriteria prestasi dalam menilai pekerja dan memiliki relatif sedikit penilaian eksternal atas produk yang dihasilkannya secara sinambung dan dengan alat-alat yang teliti.
Agar pelaksanaan upaya ini berhasil, pada gilirannya diperlukan komunikasi yang terorganisasi. Dalam komunikasi organisasi terdapat dua tipe umum saluran komunikasi, yakni saluran internal dan saluran eksternal. Proses saluran komunikasi birokratik internal memiliki tiga aspek. Pertama, orang-orang harus memiliki informasi sebagai dasar untuk membuat keputusan. Kedua, putusan dan dasar alasannya harus disebarkan agar anggota-anggota organisasi itu melaksanakannya. Ketiga, ada saluran-saluran untuk “pembicaraan keorganisasi-an”, percakapan sehari-hari yang biasa dalam menjalankan pekerjaan; hal ini akan menciptakan keanggotaan yang bermakna dalam tatanan sosial yang sedang berlangsung.
Selain itu, ada pula saluran komunikasi eksternal, misalnya media ini mencakup saluran untuk berkomunikasi kepada warga Negara pada umumnya serta jawatan-jawatan organisasi pemerintahan lainnya.
SALURAN PERSUASI POLITIK:
Analisa Kasus Kampanye Pilpres 2004 serta Pilkada Banten 2006

Sifat Persuasif Kampanye Politik
Kekuatan media massa (powerful media) sebagai saluran untuk mempengaruhi khalayak, telah banyak memberikan andil dalam pembentukan opini publik. Kemampuan melipatgandakan pesan-pesan politik di media massa mempunyai dampak terhadap berubahnya perilaku pemilih. Maka dari itu, bagi para elite politik yang ingin bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, akan berusaha memanfaatkan media massa untuk tujuan publikasi dan pembentukan citra.
Media massa sebagai saluran atau channel komunikasi politik telah lama menjadi perhatian pengamat dan pemerintah. Terpilihnya Soesilo Bambang Yudhoyo (SBY) menjadi presiden sangat dibantu oleh media massa dalam mempengaruhi sikap pemilih. Ditopang dengan wajah yang simpatik dan pintar nyanyi, merupakan modal untuk ditayangkan membuat SBY semakin populer. Hal ini dibuktikan hasil poling yang dilakukan kepada mahasiswa sebelum Pemilu, ada yang menjawab khususnya mahasiswa memilih SBY karena dia ganteng (Ardial, 2005).
Guna mencapai tujuan-tujuan tersebut, penguasa politik tentu saja menghadapi banyak hambatan. Dalam kaitan ini propaganda dapat dilakukan untuk menguasai berbagai hambatan tersebut. (Sumarno, 1989:144). Dengan alasan ini, maka calon Pilkada tidak ragu mengeluarkan dana cukup besar memasang iklan dirinya sebagai kandidat, untuk mempengaruhi para calon pemilih.
Jacques Ellul berargumentasi bahwa, jangka waktu yang terbatas untuk kampanye politik hampir tidak cukup untuk upaya propaganda yang penuh. “Tidak mengherankan bahwa propaganda seperti itu hanya sedikit pengaruhnya,” tulisnya, “Sebab tidak ada teknik besar propaganda yang dapat efektif” dalam kampanye yang terbatas.
Pelaksanaan kampanye politik memerlukan rencana kampanye dan konsep kampanye total. Yang terpenting dalam persiapan rencana kampanye yang saksama ialah perumusan idea kampanye. Idea adalah tema organisasi kampanye; semua slogan ditujukan kea rah perwujudan idea itu.
Rencana kampanye mencakup berbagai segi guna melaksanakan maksud idea yang melandasinya. Adanya formasi awal dari organisasi kampanye, terdiri atas para politikus berpengalaman (baik pejabat pemerintah maupun pemimpin partai), juru kampanye professional (termasuk di dalamnya: manajer kampanye, dan konsultan sampai spesialis dalam polling opini publik, merencanakan pesan iklan, mengumpulkan dana, membuat iklan televisi, menulis pidato, dan melatih kandidat dalam penampilan di depan umum), dan sukarelawan dari kalangan warga Negara.
Selain mendirikan organisasi kampanye, rencana kampanye merinci bagaimana dana harus dikumpulkan dan dipergunakan, bagaimana melakukan riset untuk mendapat informasi yang diperlukan mengenai masalah yang dikemukakan, pemilih, oposisi, dan bagaimana menyampaikan pesan kandidat. Pemaduan segi-segi kampanye yang menangani idea, organisasi, penganggaran, riset, dan unsur-unsur komunikasi ini tidak selalu merupakan hasil perencanaan awal yang rasional dan komprehensif.
Perencanaan kampanye awal yang sudah rampung turut pula menghantarkan berjalannya konsep kampanye total. Kampanye total yang komprehensif ialah kampanye yang menggunakan berbagai varian dari saluran komunikasi yang ada. Media yang satu mungkin akan lebih unggul daripada media yang lainnya. Maka, alternatif yang mungkin digunakan adalah dengan menggunakan berbagai varian media yang ada sebagai aktivitas kampanye total.

1. Kampanye Massa
Imbauan kepada massa dilakukan baik melalui hubungan tatap muka ataupun melalui jenis media berperantara, yaitu media elektronik, media cetak, atau poster.
1) Kampanye Tatap Muka
Rapat umum politik memberikan peluang utama kepada kandidat untuk melakukan komunikasi tatap muka di depan khalayak massa. Keberhasilan rapat umum sangat bergantung dari persiapan. Inilah tanggung jawab utama pelopor, yaitu anggota organisasi kampanye yang datang ke kota itu jauh sebelum penampilan kandidat untuk memastikan bahwa peristiwa itu diatur dengan baik –untuk menjamin fasilitas yang memadai, mempersiapkan tempat, menghadirkan pers, menyediakan poster kandidat dan lencana bagi pengunjung, dan bahkan menyediakan sejenis pengejek yang dapat didiamkan dengan mudah oleh kandidat sambil memperlihatkan ketangguhan dan daya tariknya.
Tidak hanya rapat umum saja yang mendapat tempat di sini. Kampanye dengan memobilisasi khalayak massa dalam jumlah besar (kampanye terbuka) pun merupakan bagian dari kampanye tatap muka. Biasanya kampanye inilah yang dijadikan sebagai ajang tebar janji, pemaparan visi dan misi, serta –tradisi yang sepertinya sulit untuk ditinggalkan– yakni, beraksinya para artis ibukota guna memeriahkan acara.
Tradisi ini tidak hanya terjadi pada Pilpres 2004, pada Pilkada Banten kemarin pun hal serupa kerap dilakukan dengan mengundang artis/selebritas sebagai “pemeriah” acara. Selain dijadikan sebagai “pemeriah” acara, artis pun dianggap mampu untuk mendulang suara pemilih. Hal inilah yang kemudian membuat Pasangan Atut Chosiyah-Masduki mengundang seluruh wartawan infotainment –yang dipelopori Gugun Gondrong selaku perwakilan dari Pusat Berita Infotainment Jakarta (PBIJ) yang kebetulan juga kader PDI-P merangkap artis– mencanangkan sebuah paguyuban yang bernama Paguyuban Artis-artis Banten (PASIBAN) pada 19 November 2006 di wilayah Bintaro.
Acara yang diadakan di rumah salah seorang “tim sukses” itu, tidak mau disebut sebagai kampanye. Dikarenakan tidak adanya pemaparan visi-misi dari Atut Chosiyah selaku kandidat yang kebetulan pada malam itu datang sebagai pengasuh PASIBAN guna memberikan sambutan sekaligus “mohon doa restu” untuk menjadi gubernur Banten. Hadir pula tokoh masyarakat yang berpengaruh, anggota DPRD Banten, dan segenap artis ibukota yang kebetulan bertempat tinggal di kawasan Bintaro guna menjadi “pemeriah” dalam acara itu. Setiap orang yang dipersilakan memberikan sambutan, lebih banyak memberikan arahan kepada khalayak massa yang hadir untuk memilih pasangan Atut Chosiyah-Masduki ketimbang substansi dari sambutan dicanangkannya PASIBAN.
Di lingkungan sekitar tempat acara, spanduk pasangan Atut Chosiyah-Masduki terbentang lengkap dengan posternya yang meriah. Tidak seperti biasanya, wartawan-wartawan infotainment pun kini mendapatkan tempat yang agak istimewa di sana. Bahkan di dalam rumah sudah disediakan ruang untuk mengadakan konferensi pers yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam dan ramah-tamah.
Bukankah ini sebuah aktivitas kampanye tatap muka seperti yang dipaparkan oleh Dan Nimmo? Dalam hal ini, Atut Chosiyah akan merasa diuntungkan dengan mendapatkan liputan berita secara gratis dari acara ini, meskipun berita yang ditayangkan oleh media infotainment tersebut kerap hanya menjadikannya sebagai tampilan dalam bentuk slide show yang muncul sesekali. Namun, tetap saja ia akan mendapatkan sebuah pencitraan diri dari masyarakat yang mau tidak mau akan sedikit terangkat dengan adanya liputan berita PASIBAN tersebut

2) Kampanye Melalui Media Elektronik
(a.) Media Telepon
Media telepon merupakan alat komunikasi lisan satu-kepada-satu yang memiliki beberapa kegunaan bagi kampanye kontemporer. Media ini kerap digunakan bagi hubungan pribadi jika organisasi kampanye ingin mengumpulkan dana, mengarahkan pemilih untuk datang ke tempat kampanye. Atau terkadang media telepon juga biasa digunakan untuk memperkenalkan kandidat melalui rekaman suara yang dapat diputar berulang kali. Telepon pun hingga saat ini masih digunakan sebagai media survey tentang opini para pemilih; polling telepon, dengan menggunakan sistem pemutaran nomor secara acak disertai kuesioner pendek yang mudah dipahami; prosedur utama survey.

(b.) Media Radio
Menurut McLuhan, terdapat resonansi antara radio dan telinga serta pikiran manusia, resonansi yang menyajikan peluang besar bagi kampanye radio. Di samping itu, radio juga merupakan saluran massa bagi kaum minoritas walaupun dalam perkembangannya kaum mayoritas pun masih belum bisa meninggalkannya.
Pada masa Pilpres 2004 lalu, iklan radio pasangan kandidat dari tiap-tiap kandidat hampir luput dari perhatian. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah ketika PDI-P mampu membuat iklan politik yang terbilang “cerdas” dan bagus dari segi persuasif. Iklan itu membuat sebuah percakapan antara pelaku yang bernama Emon (Mon), dan Acong (Cong), yang jika digabungkan menjadi Mon-Cong (putih); sebuah jargon PDI-P.

(c.) Media Televisi
Di Amerika, penggunaan televisi sebagai media kampanye sudah sejak dasawarsa 1950-an dan 1960-an dimulai. Penekanan dalam kampanyenya pun beragam, mulai dari pembuatan citra; di mana penggunaan media ini untuk memproyeksikan atribut-atribut terpilih dari kandidat. Hingga penekanan berkembang pada tahun 1970-an menjadi pengaturan dan pembahasan pokok masalah kampanye.
Teknik untuk membangun citra sang kandidat pun beragam, mulai dari melalui publisitas gratis (mengatur peristiwa kampanye untuk liputan berita, turut dalam debat televisi, dan lain sebagainya) hingga pada periklanan televisi yang mesti dibayar.
Sebenarnya sudah ada pengaturan tentang tata cara beriklan di media massa, terutama di televisi. Namun tetap saja banyak terjadi kecurangan di sana-sini, hingga terjadi ketidakadilan dalam peliputan berita kampanye pada Pilpres 2004 yang lalu. Peliputan berita kampanye pasangan kandidat tertentu mendapat durasi yang relative lebih panjang dibanding pasangan kandidat yang lainnya. Hal ini dikarenakan pemilik stasiun televisi tersebut adalah “orang dekat” dari pasangan tersebut. Atau bisa juga karena pasangan kandidat tersebut memiliki dana kampanye yang cukup banyak untuk dapat memasang iklan berlebih pada media tersebut.

(d.) Media Inovasi
Media inovasi di sini banyak ragamnya, disesuaikan dengan perkembangan jaman yang melingkupi Negara tersebut. Kampanye bisa dilakukan melalui media internet, handphone (SMS), Video/ Digital Compact Disc yang dapat diputar di mana saja dan kapan saja, serta media inovasi lainnya yang senantiasa akan terus berkembang.

3) Kampanye Melalui Media Cetak
Meskipun media elektronik ditambah dengan media inovasi sudah semakin maju, tetap saja media cetak belum akan ditinggalkan khalayak massa. Terdapat dua tipe media cetak yang kerap dijadikan sebagai media kampanye, yakni melalui surat langsung dan surat kabar atau majalah.
Surat Langsung. Pada tahun 1974, Robin dan Miller memeriksa pengaruh pengiriman surat umum kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa, surat langsung tidak memiliki cukup pengaruh terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memberikan suara dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat.
Surat Kabar. Tiga tipe isi surat kabar yang bertindak sebagai sarana bagi komunikasi kampanye, yakni ihwal berita, editorial, dan iklan. Semuanya membantu pembinaan citra dan penyajian masalah. Namun, pembuatan citra adalah yang paling utama. Setelah dilakukan penelitian terhadap ketiga tipe isi surat kabar dalam hal kampanye politik, maka didapatkan sebuah kesimpulan bahwa materi yang disajikan lebih kepada citra sang kandidat ketimbang masalah yang dihadapinya.
Kampanye di media cetak pada Pilpres 2004 lalu tidak kalah maraknya dibanding dengan kampanye pada media televisi. Bagi surat kabar yang partisan, tentu saja ia akan melakukan pencitraan diri sang kandidat dengan cara yang “halus”. Mulai dari pembuatan judul, penempatan nama di hampir setiap berita yang mengundang perhatian bahkan dalam editorial/tajuk rencananya, serta iklan yang terpampang memenuhi tiap halamannya.

2. Kampanye Interpersonal
Hubungan tatap muka terdiri atas tiga jenis. Yang pertama ialah penampilan pribadi yang dilakukan oleh kandidat (atau istrinya, kerabat dekat, dan juru bicara utama) dalam setting yang relatif informal. Kedua, kandidat membina itikad baik dengan tokoh-tokoh lokal, Negara bagian, dan yang mempunyai nama nasional. Ketiga, adanya orang-orang yang dengan sukarela melakukan anjangsono selama kampanye; mereka mengunjungi setiap rumah di setiap distrik untuk kepentingan kandidat.
Hal ini biasa dilakukan oleh kandidat manapun. Pada Pilpres 2004 lalu, kerap kita dengar bahwa pasangan kandidat tertentu mendatangi pesantren-pesantren, ulama-ulama guna memohon doa restunya. Padahal, setelah kampanye itu berakhir kunjungan ke sana pun urung untuk dilakukan.

3. Kampanye Organisasi
Dalam aktivitas kampanye, banyak organisasi turut serta. Mulai dari (1) organisasi kampanye, (2) ragam organisasi kepentingan khusus yang menduduki posisi, membantu dana dan sumber daya lainnya, mengarahkan anggota, dan memberikan tekanan kepada calon pejabat: serikat buruh, asosiasi perusahaan, kelompok agrikultur, organisasi hak sipil. Lobby konsumen, pecinta lingkungan, dan lain sebagainya, (3) kelompok penyokong yang digunakan untuk memberikan kesan mendapat dukungan rakyat yang luas melebihi barisan partisan, pegawai, dan etnik, serta para juru kampanye politik, hingga yang terakhir (4) organisasi utama yakni partai politik itu sendiri. Saluran komunikasi partai terdiri atas kantor partai khusus dan hubungan partai dengan para pemilih.
Meskipun Pilpres 2004 dan Pilkada Banten disebut-sebut sebagai pemilihan secara langsung, namun tetap saja partai politik sebagai wadah organisasi yang menampung aspirasi masyarakat pemilih turut serta. Saling berkoalisi dan berbagi kekuasaan dalam pemerintahan nantinya. Kelompok ketiga yang disebut di atas pun kerap muncul dan mengaku akan memberikan hak suaranya pada kandidat tertentu. Padahal setelah pemilihan berakhir, organisasi itu pun lenyap ditelan bumi. Bisa saja PASIBAN yang dicanangkan oleh pasangan Atut Chosiyah-Masduki hanya dijadikan sebagai “pemanis” agar para artis tertarik pada program yang ditawarkan. Namun setelah itu, apakah PASIBAN itu akan tetap ada mengingat masing-masing daerah telah memiliki Dewan Kesenian yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan PASIBAN itu sendiri. Kita tunggu saja tanggal mainnya!

KESIMPULAN
Apa pun salurannya (atau teknologinya, apakah lisan, cetakan, atau elektronik), makna mengalir bukan dari saluran, melainkan tercipta dalam pikiran penerima. Apa pun yang disampaikan melalui saluran (bahkan keheningan) adalah pesan potensial jika orang menemukan makna di dalamnya. Ini tidak berarti bahwa maksud pesan komunikator dan pemilihan saluran itu tidak penting, tetapi bahwa pesan yang diterima itulah yang penting, dan bahwa maksud komunikator itu penting jika memengaruhi cara orang menyusun makna dari pesan yang disampaikan. Dengan demikian maka proses penyusunan makna berhubungan dengan makna yang dimaksudkan dan makna yang diterima. Hal ini mempunyai akibat yang menonjol pada bentuk organisasi social, persepsi individu, citra yang kita rumuskan, bagaimana kita saling menghendaki, mengidentifikasi citra diri kita, dan menemukan kepuasan dalam hubungan kemanusiaan, dan bagaimana organisasi pemerintah membuat keputusan dan memberlakukannya.

DAFTAR BACAAN
AP, Soemarsono, Drs, SH. Komunikasi Politik. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2001.

Dhani, Rendro. Manajemen Komunikasi Kepresidenan. Jakarta: LP3ES, 2004.

Mashad, Dhurorudin. Korupsi Politik, Pemilu dan Legitimasi Pasca Orde Baru. Jakarta: Cides, 1999.

Nimmo, Dan. Alih bahasa oleh Tjun Surjaman. Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.

Rubrik “Pilkada Banten”. Kompas, November 2006

—-, Sang Kandidat: Analisis Psikologi Politik Lima Kandidat Presiden dan Wakil Presiden RI Pemilu 2004. Jakarta: Kompas, 2004.

—-, Siapa Mau Jadi Presiden? Debat Publik Seputar Program dan Partai Politik pada Pemilu 2004. Jakarta: Kompas, 2004.

Ditulis oleh Rosit, Junaidi, Jirjis dkk sebagai tugas presentasi mata kuliah Komunikasi Politik (2003)

One thought on “VARIAN SALURAN KOMUNIKASI POLITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s