Maafkan Aku Memutuskanmu Sayang, Karena Kamu Telah Kentut Di Depan Ibuku


Malam minggu lalu, saya melihat pertunjukkan teater di Bulungan, Jakarta Selatan bersama dengan teman-teman. Saya duduk di barisan kursi paling belakang dari seluruh penonton. Di samping saya adalah seorang pelukis, kira-kira saya sudah setengah tahun mengenalnya, berbagai macam lukisan hasil karyanya terpampang di sudut teater Bulungan. Saya memanggilnya mas Sis, karena ia jauh lebih tua daripada saya. Di sebelah kiri mas Sis, duduk seorang bapak setengah tua yang baru saja mas Sis memperkenalkannya kepada saya, ia pernah tinggal lama di Yogyakarta dan alumnus Sosiologi UGM di kota setempat, namanya Pak Argo.

Saat kami tengah menikmati pertunjukkan teater, secara tiba-tiba bapak setengah tua yang baru saja kenalan dengan saya, mencoba mendekatkan kepala kearah saya, kemudian berkata, “maafkan aku memutuskanmu sayang, karena kamu telah kentut di depan ibukku”, mendengar pernyataan agak aneh itu, saya terkejut, saya mulai berpikir kira-kira apa yang dimaksud Pak Argo barusan. Namun setelah itu, ia melanjutkan kata-katanya. Mas Rosit, yang saya maksud dari kata-kata saya tadi yaitu SBY sekarang sudah berani-beraninya mengutak-atik Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah berjasa besar buat bangsa ini. Saya ibaratkan dengan pernyataan saya tadi, nah dari kata-kata saya tadi yang perlu digaris bawahi yaitu kata memutuskanmu dan kentut. Pertama, SBY sudah mengeluarkan pernyataan yang membahayakan NKRI yang telah dijaga dari awal kemerdekaan sampai saat ini oleh seluruh lapisan warga bangsa ini, saya kawatir perdebatan mengenai sistem pemerintahan Yogyakarta menjadi membesar dan alhasil warga Yogyakarta diberikan hak Referendum, dan bagaimana kalau cara memaknai kata Referendum berbeda dengan maksud para kaum elit di negeri ini. Setelah itu Yogya merdeka dari NKRI, dan yang lebih membahayakan lagi, provinsi-provinsi yang lain berniat mengikuti jejak Yogyakarta.” Kata bapak Argo yang memperlihatkan wajah kecewanya”. Saya pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.

“Kedua, SBY telah berani membuang kentut, bagaimana mungkin sebagai seorang Presiden yang dijadikan suri tauladan oleh rakyatnya malah mengumbar pernyataan yang tidak etis di tengah warga Yogyakarta pasca dilanda bencana gunung Merapi. Katanya binatang ternak milik para korban akan dibeli mahal oleh pemerintah, kenyataannya itu hanya omongan kentut belaka, malah ternak milik warga dijual dengan harga yang sangat murah kepada para tengkulak. Rupanya SBY ingin memperlihatkan bahwa ia adalah orang nomer satu di negeri ini di tengah warga Yogya, dengan cara memberikan janji-janji pemerintah, namun kenyataannya warga Yogyakarta semakin tidak nggubris (acuh tak acuh) terhadap SBY.” Kata Pak Argo, Sementara saya dan Mas Sis hanya menganggukkan kepala di tengah tanggapan Pak Argo yang menunjukkan perasaan sinis dan kecewa berat terhadap SBY, ibarat sepasang kekasih, ia sudah terlalu banyak dikecewakan oleh pacarnya dan berniat memutuskannya.

Survei dan Kepentingan
Menurut Bestian Nainggolan (Dosen FISIP UI), dan saya kira menjadi rujukan SBY mengeluarkan pernyataan polemik itu, dilatarbelakangi oleh hasil survei yang menunjukkan bahwa sebagian besar warga provinsi Yogyakarta 71 % menghendaki pemilihan gubernur secara langsung (Kompas, 5/12). Di sisi lain, data survei seperti yang dilakukan harian ini terhadap responden di DIY sepanjang tahun 2008-2010 menunjukkan sebaliknya. Masyarakat menginginkan penetapan dibandingkan pemilihan langsung. Proporsi kelompok responden yang memilih penetapan berkisar antara 53,5 persen hingga 79,9 persen. Survei terbaru, 1-3 Desember 2010, di saat polemik kian menghangat, responden di DIY yang mendukung penetapan melonjak hingga 88,6 persen. Sementara, Dua Paguyuban Lurah dan Perangkat Desa di DIY, yang terusik dengan survei pemerintah, menyelenggarakan survei dengan target responden lebih dari satu juta orang! Hasil sementaranya, 92,6 persen memilih penetapan (Kompas, 10/12).

Lagi-lagi menurut Bestian Nainggalon, bahwa survei-survei yang diselenggarakan baik oleh lembaga survei maupun pemerintah sendiri, tidak terlepas dari berbagai macam kepentingan dengan maksud menunjukkan legitimasinya. Meskipun demikian, yang paling membahayakan lagi ialah ketika survei-survei yang belum tentu independen itu sangat dipercayai oleh khalayak luas, bahkan dijadikan rujukan dalam menentukan sikap. Kalau hal itu sudah terjadi, maka opini publik pun sudah digiring oleh hasil survei yang sarat dengan kepentingan, manipulasi data dan politis.

2 thoughts on “Maafkan Aku Memutuskanmu Sayang, Karena Kamu Telah Kentut Di Depan Ibuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s