Survei Politik dan Elektabilitas Calon


Oleh: M. Rosit

Dinamika politik menjelang Pilkada DKI Jakarta saat mendekati hari pemilihan kian semarak. Hingar-bingar pilkada semakin muncul di permukaan, dengan ditandai berbagai macam manuver politik yang dilakukan oleh setiap pasangan calon. Ini menjadi magnet yang cukup menarik perhatian publik terhadap para pasangan calon yang kian menebar janji-janji plus solusi terhadap keruwetan problem ibukota. Siapa yang bisa memberikan solusi terbaik, maka dialah yang tepat menduduki Jakarta 1. Dan oleh karena itulah, Pilkada DKI Jakarta 2012 ini jauh lebih menarik dan menantang dibandingkan Pilkada DKI Jakarta 2007 lalu, baik di mata warga DKI Jakarta maupun para kontestan.

Hasil survei yang diselenggarakan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bersama anak perusahaannya Citra Komunikasi (Cikom) LSI menunjukkan elektabilitas calon incumbent masih di atas calon-calon lainnya pada Pilkada DKI 2012. Hasil ini didapatkan berdasarkan survei Cikom LSI selama sepekan, 26 Maret 2012 hingga 1 April 2012, terhadap 440 responden yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta, dengan menghasilkan perolehan suara yaitu, pasangan Foke-Nara mendapat dukungan 49,1% suara, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama 14,4%, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 8,3%, Faisal Basri-Biem Benjamin 5,8%, Alex Noerdin-Nono Sampono 3,9%, dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria 1,2%.

Jika dilihat dari hasil survei di atas, pasangan Foke-Nara sangat berpotensi memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2012. Bahkan pasangan ini berpotensi bisa memenangkan Pilkada DKI hanya dalam satu putaran pemilihan saja. Tentu ini terkait dengan posisi Foke sebagai calon Incumbent yang secara terang memiliki kelebihan di atas para calon lainnya. Kelebihan itu antara lain, Pertama, calon Incumbent memiliki tingkat popularitas di atas calon lainnya, informasi calon incumbent merupakan informasi yang sudah diketahui pemilih dengan baik jauh-jauh hari, sehingga publisitas calon menjadi popular seiring dengan kinerja dan tugas keseharian. Kedua, calon incumbent memiliki data-data yang menunjukkan bahwa dirinya sudah melakukan kinerja selama menjabat sebagai Gubernur. Data-data ini yang akan berbicara kepada masyarakat DKI Jakarta bahwa dirinya sudah terbukti melakukan kinerja nyata, bukan hanya sebuah visi-misi atau sebuah janji yang belum dibuktikan realitasnya. Namun hal ini juga tergantung kiprahnya selama calon Incumbent memerintah daerahnya, apakah kebijakan selama dalam kepemimpinannya memberikan solusi-solusi yang dibutuhkan daerahnya atau sama saja bahkan malah sebaliknya.

Ketiga, masa kampanye calon incumbent tak terbatas karena bisa menggunakan waktu dinasnya untuk melakukan sosialisasi politik kepada masyarakat, hal ini tidak akan terlacak oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Sosialisasi politik salah satunya bisa dalam bentuk publisitas politik yang tak akan diketahui oleh masyarakat awam bahwa hal itu merupakan investasi politik jangka panjang menuju pilkada.

Dari kelebihan-kelebihan calon incumbent di atas, tentu tak heran jika sebuah lembaga survey yaitu Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menghasilkan pasangan Foke-Nara memperoleh 49,1% suara. Ini menjadi modal politik yang cukup memuaskan dari pasangan ini. Namun, pasangan calon lainya tentu masih memiliki waktu dan ruang yang cukup untuk mengejar ketertinggalannya yakni dengan menggunakan waktu sebaik-baiknya sebelum pemilihan sebelum pemilihan terjadi.

Survei Politik

            Survei politik merupakan sebuah media yang bisa menunjukkan elektabilitas suatu kandidat atau partai politik pada saat menjelang pilkada. Di dalam negara demokrasi, survei menjadi instrument demokrasi dan biasanya dilakukan oleh lembaga yang otoritatif baik dari lembaga survei independen maupun lembaga survei partai politik/kandidat tertentu. Namun, terkait survei LSI yang menunjukkan tingkat elektabilitas suatu pasangan calon tertentu. Tentu hasil survei tersebut sangat dinamis dan debetable. Sah-sah saja dari pasangan calon tertentu menyikapi pro maupun kontra pada hasil survei ini.

Ada beberapa variabel yang bisa mempengaruhi hasil survei terutama terkait dengan elektabilitas kandidat di mata masyarakat. Pertama, metodologi yang dipergunakan dalam survei sangat mempengaruhi hasil dari survei tersebut, seberapa akurat maupun kesalahan dalam penelitian tersebut. Dan ini persoalan yang mendasar apakah survei itu bisa diakui kesohihannya atau diragukan. Kedua, waktu survei menentukan hasil yang diperolehnya. Perbedaan waktu ini sangat berpotensi akan merubah hasil dari survei sebelumnya. Pada bulan ini hasil survei LSI menghasilkan pasangan Foke-Nara peringkat pertama, namun ada kemungkinan berbeda hasilnya ketika LSI mengadakan satu atau dua bulan berikutnya. Ketiga, pengetahuan dan tempat lokasi responden juga akan menentukan hasil survei. Pengetahuan masyarakat sangat dinamis, apalagi untuk konteks Jakarta yang notabene sebagai ibukota negara di mana informasi begitu cepat dan massif, akan merubah persepsi warga masyarakatnya dalam melihat realitas sosial.

 

Perilaku Pemilih

Mengamati perilaku pemilih Jakarta pada saat ini tentu lebih variatif dan dinamis. Karena berbagai macam etnis, budaya, bahasa dan keyakinan ada di sini. Jakarta menjadi miniatur Indonesia, berarti Jakarta menjadi representasi suara dari berbagai daerah di negeri ini. Warga penduduk Jakarta mayoritas berpendidikan menengah-atas yang cenderung rational voters. Tipe semacam ini agak susah dikasih janji-janji politik, karena mereka lebih cenderung melihat dari isu, program dan rekam jejak pasangan calon di Pilkada DKI Jakarta. Meskipun demikian, suara irrational voters masih tetap ada di Jakarta, karakteristik suara ini meskipun kian turun tapi masih saja ada di setiap pemilu atau pilkada diselenggarakan.

Oleh karena itu, hasil survei saat ini dijadikan dasar merupkan wajar adanya. Namun sampai saat ini, semua pasangan kcalon masih memiliki potensi untuk menang. Apalagi Jakarta merindukan seorang pemimpin yang bisa menyelesaikan carut-marut permasalahan ibukota yang kalau diibaratkan orang sakit sudah sangat parah dan kritis. Diperlukan pemimpin yang tegas dan memiliki kebijakan ekstraordinary serta orientasi yang jelas. Survei bisa menghasilkan calon yang memiliki popularitas tinggi, namun tingkat popularitas tidaklah cukup untuk memberikan solusi terhadap permasalahan ibukota. Maka, warga Jakarta harus bersikap kritis terhadap calon dan siapapun yang akan mempengaruhi perilaku pemilih dalam Pilkada nanti.

 

M. Rosit

Peneliti di The Political Literacy Institute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s