MEMBACA KONVENSI CAPRES PARTAI DEMOKRAT (Tangsel Pos, Kamis, 29 Agustus 2013)


Oleh: M. Rosit

Dosen Komunikasi Politik Univ Al Azhar Indonesia dan Peneliti The Political Literacy Institute

Partai Demokrat menggunakan mekanisme konvensi untuk menyeleksi capres yang akan diusungnya pada Pemilu 2014. Mekanisme konvensi untuk memilih capres dari partai politik memang tidak begitu akrab dalam kontek budaya politik di Indonesia. Konvensi capres PD diselenggarakan karena SBY tidak bisa mencapreskan atau dicapreskan dirinya kembali pada Pemilu Presiden 2014.

Dalam sejarah politik di Indonesia, Partai Golkar pada Pemilu 2004 telah menggunakan mekanisme konvensi untuk menyeleksi capres yang diusungnya (saat itu yang terpilih adalah Wiranto).  Setelah itu pada Pemilu 2009 dan 2014 partai yang berlambang beringin itu tidak pernah menyelenggarakan konvensi kembali. Oleh karena itu, konvensi capres PD selayaknya kita apresiasi dan yang nantinya akan menghasilkan sosok capres yang memiliki integritas dan kapasitas yang layak diusung pada Pemilu 2014. Meskipun Partai Demokrat dalam menyelenggarakan konvensi belum bisa dimaknai dalam konteks budaya politik tapi setidaknya konvensi menjadi jawaban dari krisis rekrutmen politik dan menurunnya citra partai.

Konvensi tersebut juga bentuk kesadaran realitas politik yang harus diselenggarakan karena kader internal PD mengalami defisit kepemimpinan menjalang Pemilu 2014. Tahapan rekrutmen politik yang terdiri dari menyelenggarakan kaderisasi, membina para loyalis partai dan kemudian mendistribusikan kader/ loyalis ke dalam posisi strategis sudah bisa dikatakan gagal. Bahkan beberapa kader mudanya terjebak dalam skandal korupsi yang cukup menguras energi internal partai dan menyumbang citra negatif, selain itu juga di PD tak ada satupun kader yang memiliki integritas dan kapasitas seperti sosok SBY. Oleh karena itu, konvensi capres PD menjadi alternatif terbaik di tengah badai politik yang menderanya. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa konvensi tidak hanya untuk kalangan internal partai tapi juga kalangan luar partai pun bisa mengikutinya, bahkan beberapa tokoh memperoleh undangan untuk mengikuti konvensi PD.

Oleh sebab itu, dalam Pemilu legislatif 2014, SBY tidak bisa terlalu bermimpi partainya mengulang kesuksesan pada Pemilu 2009 (perolehan suaranya 20,85%). Rupanya SBY sadar diri bahwa partainya benar-benar terpuruk sehingga ia hanya menargetkan perolehan suara 15 persen. Reputasi yang telah dibangun selama pemerintahan SBY dan Boediono pun tidak cukup menaikan keterpercayaan dari masyarakat Indonesia. Karena bagaimanapun pencapaian kinerja pemerintahan SBY dan Boediono juga berkorelasi terhadap elektabilitas PD  sebagai the rulling party.

Konvensi dan Reality Show

Konvensi capres PD ini sepertinya mirip dengan ajang reality show yang sedang menjadi trending program di media televisi akhir-akhir ini. Reality show adalah ajang pencarian bakat yang menyeleksi berbagai kontestan untuk menunjukkan sesuatu yang unik di depan publik. Misalnya program reality show seperti Indonesian Idol atau X Faktor yang tengah mendapatkan ruang di hati masyarkat Indonesia. Program reality show tersebut banyak sekali diidolakan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai macam latar belakang umur dan profesi. Sehingga program ini bisa menarik perhatian masyarakat untuk selalu mengikuti acara tersebut sampai siapa pemenang dari program reality show itu. Boleh dikatakan bahwa model konvensi capres PD meniru strategi ajang pencarian bakat (reality show)

Konvensi capres PD terbuka diikuti oleh sosok yang memang bisa memenuhi persyaratan. Yang terpenting adalah mereka bisa menunjukkan minat dan bakat menjadi capres PD dengan mekanisme yang telah ditentukan oleh tim konvensi. Dari beberapa kontestan nanti akan diseleksi satu per satu sebagaimana program Indonesian Idol atau X Faktor. Beberapa tokoh yang telah mendaftarkan konvensi capres PD yaitu Marzuki Ali, Ahmad Mubarok, Pramono Edi, Julian Andrian Pasha, Endriarto Sutarto, Gita Wiryawan, Irman Gusman, Dahlan Iskan dan Mahfud MD. Dari nama-nama tersebut merupakan representasi dari berbagai macam profesi yang memiliki dinamika politik yang menarik untuk diperhatikan publik. Berbagai media menjelang Pemilu 2014 akan selalu dihiasi oleh nama-nama kontestan konvensi capres, sehingga semakain lama media menerpa para kontestan maka mereka semakin memperoleh perhatian dari publik.

Jika reality show di televisi ingin menarik perhatian masyarakat untuk menontonnya, dengan tujuan peningkatan rating pada program tersebut sehingga pada akhirnya akan mengkapitalisasi menjadi akumulasi keuntungan. Sementara konvensi capres PD menciptakan opini publik menjalang Pemilu 2014, agar memiliki reputasi yang baik di mata masyarakat Indonesia. Jadi program reality show dan konvensi capres PD memiliki kemiripan, yang jelas bukan memprioritaskan pada hasil tetapi menitikberatkan pada tujuan untuk menyumbang citra.

Target Konvensi

Dalam konvensi capres PD tentu memiliki target yang telah direncanakannya, sehingga menyelenggarakan konvensi akan menghasilkan dampaknya di tengah situasi politik yang kian panas. Target menjadi prioritas utama yang telah direncanakan jauh-jauh hari oleh tim konvensi.  Ada beberapa fenomena yang perlu dicermati dalam konvensi capres PD ini. Pertama, SBY mengharapkan PD memperoleh keterpercayaan dari masyarakat kembali pasca partainya kian menurun citranya. Kedua, dalam konvensi ini sebenarnya SBY tidak terlalu besar harapan bahwa capres yang terpilih nantinya akan memenangkan Pilpres 2014, setidaknya reputasi partai yang selama ini dibangun akan kembali lagi menjadi sesuatu yang lebih diprioritaskan. Ketiga, SBY dan PD ingin menunjukkan komitmen kepada publik bahwa mereka benar-benar all out melakukan perubahan internal yang lebih baik. keempat, konvensi ini akan menciptakan impresi di benak publik bahwa PD adalah partai yang terbuka dan tidak lagi menyandarkan kembali kepada sosok SBY.

Sementara independensi konvensi capres PD tergantung dari mekanisme konvensinya. Sejauh ini tim panitia konvensi terdiri dari internal partai maupun tim dari luar PD. Hal ini menjadi jaminan independensinya bahwa konvensi dilakukan secara transparan dan terbuka, kecuali SBY menunjukkan secara terang-terangan keberpihakannya kepada salah satu kontestan konvensi capres PD. Pada mulanya, misalnya, SBY mengajak secara personal mantan Panglima Jenderal Pramono Edie mengikuti konvensi capres PD, yang sebelumnya banyak kalangan mencurigai bahwa SBY memiliki keberpihakan pada salah satu kontenstan. Tapi alasan itu bisa dibantah melalui mekanismenya dengan cara mengundang tim independen dari luar partai politik yang bertujuan untuk mengedepankan aspek transparan dan terbuka. Jadi Intervensi SBY dalam konvensi malah akan menjadi boomerang bagi citra PD.

Semoga konvensi ini menjadi ajang pencarian minat dan bakat yang memang serius untuk menyeleksi kepemimpinan baru. Untuk mencari seorang pemimpin baru memang dibutuhkan cara-cara extraordinary sehingga mekanisme tersebut mampu mencari sosok pemimpin yang sesuai harapan. Konvensi ini juga menjadi literasi politik masyarakat untuk memahami pemilu dan demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, kita menunggu hasil konvensi capres PD apakah bisa menaikan citranya atau hanya sekedar reality show yang menciptakan gelembung-gelembung politik yang tiada bermakna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s