Membaca Bahasa Politik Anas


Oleh : M. Rosit

Setelah mangkir dua kali, akhirnya Anas mendatangi KPK tanpa didampingi oleh pengacaranya. Kedatangan Anas ini membuktikan bahwa Anas seorang orang politikus yang gentelman dan kooperatif terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena sebelumnya diberitakan oleh berbagai media bahwa Anas menantang KPK.

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat ini membuktikan kelihaiannya dalam berpolitik. Dalam kondisi tersudut-pun, seorang Anas masih bisa mengontrol  diri, bersikap tenang seperti orang yang tidak dalam kondisi krisis.

Bila kita bandingkan dengan ketiga politisi yang sebelumnya ditangkap KPK, Angelina Sondak, Andi Malarangeng dan Ratu Atut Chosiyah, Anas menunjukkan kelebihannya sebagai seorang politisi yang piawai, hal ini diuktikan oleh berbagai terpaan politik dan rekam jejaknya sebagai seorang politisi secara berjenjang, baik pada saat menjadi aktivis mahasiswa, ketua PB HMI maupun saat menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Fondasi bangunan politik Anas begitu kuat dan tahan terhadap terjangan badai politik yang hebat.

Gaya Komunikasi

Anas menjadi tersangka selama satu tahun. Sebenarnya yang menarik bukan seberapa lama ia jadi tersangka, namun ciutan politik Anas menarik diamati. Dimulai dari mundurnya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, Anas mengatakan pengunduran dirinya itu merupakan awal lembaran pertama, dan masih banyak halaman berikutnya yang akan dibaca untuk kebaikan bersama.

Kemudian ketika mendatangi KPK, Anas melontarkan pernyataan yang barangkali tidak pernah diprediksi publik, yaitu ucapan terima kasih kepada berbagai pihak, termasuk kepada ketua KPK Abraham Samad dan SBY yang dianggapnya sebagai kado Tahun Baru 2014. Ucapan-ucapan terima kasih ini adalah gaya komunikasi politik mesti ditafsirkan secara utuh. 

Ada dua gaya komunikasi yang seringkali digunakan oleh seorang politisi. Pertama, menggunakan gaya komunikasi high contex culture, gaya bahasa yang tersirat, tidak basa-basi, tidak sebenarnya dan mengandung multi tafsir. Gaya komunikasi ini juga seringkali digunakan para politisi Jawa dalam kondisi-kondisi tertentu. Anas menggunakan gaya komunikasi yang mengundang penafsiran oleh berbagai pihak. Gaya ini merupakan sesuai dengan struktur bahasa jawa yang lebih dominan mengandung makna tersirat dibandingkan makna tersurat.

Kedua, mengunakan gaya komunikasi low contex culture, yaitu kebalikan dari gaya komunikasi sebelumnya, gaya ini lebih memprioritaskan goal (tujuan), tidak suka basa-basi dan langsung pada pokok persoalan. Gaya ini sering dipraktikkan oleh Ruhut Sitompul ketika dalam kondisi tertentu, politisi PD ini tidak segan-segan menunjuk dan melontarkan pernyataan secara langsung kepada rival politiknya.

 

Makna Bahasa Anas

Dari beberapa pernyataan Anas mengundang berbagai kalangan merasa tertarik mengomentari pernyataan-pernyataannya yang dianggap piawai dalam menyusun retorika politik. Anas masih memiliki kesempatan untuk melemparkan bahasa politiknya karena masih dalam ranah politik, berbeda ketika sudah masuk domain hukum maka yang ada hanya legal/formal dan hitam putih.

Anas sebenarnya ingin mengundang simpati publik terhadap kasus yang sedang menimpanya. Paling tidak, Anas ingin mengungkapkan bahwa kasus ini sebenarnya sangat bernuansa politis, khususnya ditujukan kepada ketua KPK, Abraham Samad yang dianggapnya sudah diintervensi oleh Ketua Umum PD, Susilo Bambang Yudoyono. Jelas sekali bahwa ucapan terimakasih tidak bisa ditafsirkan secara literal saja, namun harus ditafsirkan secara kontekstual sesuai dengan kondisi dan situasi peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Domain politik “abu-abu” ini dimanfaatkan oleh Anas untuk mengkonstruksi opini publik. Bahasa politik didisain untuk menarik perhatian publik supaya melakukan dukungan terhadap ketidakadilan yang tengah dialaminya. Anas mengidentikkan dirinya sebagai orang yang dizolimi oleh otoritas kekuasaan, oleh karena itu ia menggunakan “ teknik propaganda card stacking” yang menimbulkan efek domino. Bagi loyalis Anas maupun publik tertentu bisa terberpengaruh. Karena penangkapan terhadap Anas adalah bentuk ketidakadilan.

Oleh karena itu, KPK ditantang untuk membuktikan bahwa Anas terbukti melakukan tindakan-tindakan sesuai yang disangkakannya. Secara otomatis, retotika dan bahasa politik Anas akan terdelegitimasi  di saat domain hukum mengambil otoritas. Jika itu yang terjadi, Anas diharapkan bisa melanjutkan membuka lembaran-lembaran berikutnya. Kita berharap tidak hanya sekedar narasi politik yang mengembang dalam pengungkapan siapa saja dibalik skandal korupsi Hambalang ini, namun substansi hukum lebih mengambil peran untuk menentukan kebenaran di tengah narasi politik yang sangat kompleks.

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik Univ Al Azhar Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s