Makalah

I. RANGKUMAN
New Media & Mass Communication
New media dianggap telah membawa banyak perubahan bagi masyrakat. Masih terlalu dini untuk memprediksi bagaimana perubahan ini akan berjalan, namun penting untuk melihat fenomena ini dari awal guna mengantisipasi perubahan dan melihat implikasi yang ada. New media sebagai sebuah medium komunikasi juga dianggap membawa nilai sosial yang mampu berinteraksi dengan perkembangan ini.

What is new about new media?
New media berawal dari perkembangan information & communication technology (ICT) yang bermula dari proses digitalisasi. Proses ini tak hanya berpengaruh pada proses kreasi, namun pada penyimpanan dan distribusi pesan.

Berbicara mengenai fitur sebuah media, internet—sebagai sebuah media—telah menyimpang dalam beberapa hal, diantaranya, internet bukan hanya alat produksi dan distribusi pesan, namun juga penyimpanan. Kedua, dengan berkembangnya internet maka proses pengaturan informasi melalui media massa tak lagi melalui proses hirarki sebagaimana terjadi pada traditional media. New media juga dianggap, oleh beberapa pihak, mampu membuat sebuah perbincangan umum menjadi sebuah perbincangan personal dengan aturan-aturan yang personal juga.

Tak terpaku pada proses, perbedaan ini juga terjadi dalam hubungannya dengan audience, publisher, dan authors. Di dunia maya, saat ini audience memiliki kemampuan sebagai editor, sementara bagi publisher, new media membuka peluang untuk adanya alternatif dalam proses publishing ini. Untuk para authors, new media membuka peluang untuk meningkatkan “kredit” bagi para authors. Saat ini semua orang dapat menjadi authors, semua orang dapat menulis blog dan mengunggah hasil karyanya.

Livingstone (1999) mengisyaratkan bahwa new media adalah perkembangan dari old media bukan pengganti. Lievrouw (2004) juga berpendapat bahwa lama kelamaan new media ini akan menjadi hal yang biasa (Technology Determinism, McLuhan, 1962). Senada dengan Lievrouw, Herning (2004) juga menyatakan, “computer-mediated communication is slouching towards ordinary”.

The Main Themes of New Media Theory
Media massa menitikberatkan pada 4 fokus utama, yakni: 1) keuasaaan dan ketidaksetaraan, 2) integrasi sosial dan identitas. 3) perubahan sosial dan perkembangan. Serta 4) jarak dan waktu. Dari keempat concern utama tersebut, teori lama yang sudah ada tidak cocok lagi untuk digunakan.

Rasmussen (2000) menyatakan bahwa new media mempunyai efek yang berbeda—secara kualitatif—dalam integrasi sosial di masyrakat modern. Dalam hubungannya dengan potensial untul perubahan sosial, potensi new media sebagai sarana perubahan sosial dan ekonomi masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Awalnya ada sebuah perbedaan besar antara media massa yang mampu diaplikasikan pada perkembangan sosial dengan new media yang open-ended dan non purposive.

Teknologi baru meliberalkan kita dari banyak halangan walaupun masih menghadapi tantangan pada konteks sosial dan budaya. Hal ini dikarenakan jenis komunikasi konvensional tetap dibutuhkan karena kita perlu komunikasi dengan tempat yang pasti. Media internet walaupun dapat menyampingkan halangan yang ada, namun tetap mempunyai batasan dalam konteks teritorial, khususnya dikarenakan faktor batas negara dan bahasa.

Applying Medium theory to New Media
Menurut Rice (1999) tidaklah terlalu menguntungkan jika kita mencoba mengkarakterisasai setiap media sesuai dengan atributnya. Namun sebaliknya kita seharusnya mempelajari bagaimana atribut sebuah media secara umum dan melihat bagaimana sebuah new media “beraksi” di dalamnya.

Beberapa kategori pendekatan dari media baru berdasarkan tipe, kegunaan, context dan content a.l. adalah 1. media komunikasi interpersonal, 2. media permainan interaktif, 3. media pencari informasi (Google) dan 4. media partisipasi kolektif.

The Meaning & Measurement of Interactivity
Kiousis (2002) mengatakan bahwa interaktivitas adalah sesuatu yang sering kali disebut saat kita berbicara mengenai bentuk-bentuk media baru, karena itu bisa memiliki arti yang berbeda tergantung dari konteks-nya. Untuk menentukan interaktivitas, Kiousis membaginya menjadi 4 indikator: (1) proximity; (2) sensory activation; (3) perceived speed; (4) telepresence.

Dalam kaitannya dengan teknologi, kita mengenal komputer dan kemudian internet. Menurut Perse & Dunn (1998) komputer bukanlah saluran atau media utama untuk memenuhi semua saluran komunikasi terkait. Beberapa ahli berpendapat bahwa komputer hanya digunakan sebagai alat bekerja dan belum melihatnya sebagai bentuk media baru.

Sementara Lindlof dan Schatzer (1998) menawarkan pandangan baru yang melihat internet dari sudut pandang etnografi pemakainya, yaitu dengan seringnya berkomentar atau berkata-kata dalam berbagai bentuk di internet seperti milis, website, dsb. Dalam pandangan mereka, komunikasi menggunakan internet merupakan bentuk yang berbeda dari bentuk media lainnya karena sifatnya yang tidak permanen, multimodal dan dengan beberapa aturan yang mengikat serta memungkinkan terjadinya manipulasi pengguna dan isinya.

New Patterns of Information Traffic
Borderwijk & Van Kaam mengembangkan sebuah model untuk menjelaskan pola arus informasi dengan mendeskripsikan empat pola dasar komunikasi, yaitu 1) Alokasi infomasi, 2) Percakapan, 3) Konsultasi, 4) pendaftaran.

Pencetus dari model pola komunikasi telah menunjukkan bahwa ada 2 variabel yang berperan: pusat versus individu dalam hal pengontrolan informasi dan pusat versus individu dalam hal pengontrolan waktu dan subjek informasi.

Dengan adanya teknologi video dan perekaman suara, pola alokasi di media lama mulai berkembang menjadi konsultasi. Media baru pun dengan cara yang berbeda, berpotensi menggeser pola alokasi menjadi conversation melalui komunikasi interaktif. Secara umum hal ini sebagai implikasi dari pergeseran keseimbangan kekuatan komunikasi dari pengirim kepada penerima informasi. Kesimpulan dari gambaran tersebut menunjukkan bahwa pola-pola arus informasi tidak berbeda secara nyata seperti yang terlihat, dikarenakan subjek overlap dan saling bertemu, baik secara teknologi ataupun alasan sosial.

Computer Mediated Community Formation
Dalam pemikiran lampau, komunitas didefinisikan sebagai sekelompok orang yang berbagi tempat (atau ruang gerak lainnya), memiliki satu identitas dan norma tertentu, melakukan praktek-praktek nilai dan budaya yang sama, dan pada umumnya dalam jumlah yang relative kecil sehingga interaksi antar anggotanya dapat terjadi.
Media massa tradisional dipandang memiliki hubungan yang bertentangan dengan komunitas lokal. Di satu sisi, lingkup mereka yang besar dan dimasukkannya nilai-nilai dan budaya luar dianggap dapat merusak interaksi personal dalam komunitas lokal. Di sisi yang lain, dalam mengadaptasi kondisi lokal, media harus mampu memperkuat komunitas tersebut.

Virtual Community
Lindlof dan Schatzcr mendefinisikan komunitas virtual sebagai “penemuan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan yang serupa, terutama seputar teks yang diadaptas dari hal-hal non-CMC, seperti opera sabun dll.’

Pendukung ide online community umumnya lebih mengakui termin metaphor (Watson, 1997) ketimbang hal yang nyata. Di sisi lain, hal nyata itu sendiri umumnya, ilusif dan bahkan terkadang mistis. Jones (1997:17) mengutip pernyataan Benedict Anderson (1983) bahwa “komunitas dibedakan bukan dari kesalahan atau keasliannya, namun dari cara mereka berimajinasi. Mediasi oleh mesin cenderung untuk mengurangi kesadaran akan keterhubungan dengan orang lain. Bahkan pakar komunitas virtual, seperti Rheingold (1994) menyadari bahwa identitas online terkadang tidak asli. Mereka menciptakan “figur” untuk menutup beberapa aspek identitas, seperti usia atau jender. Partisipasi dalam diskusi-diskusi online dan interaksi terkadang dibuat tanpa nama dan hal ini terkadang justru menjadi ketertarikan tersendiri.

Political participation, new media & democracy
Ranah publik (public sphere) adalah tempat berkembangnya wacana-wacana politik, atau dengan kata lain, merupakan tempat rakyat berhubungan dengan pelaku-pelaku politik untuk berdiskusi tentang kepentingan-kepentingan politik.
Pada era media tradisional, ranah publik diisi oleh informasi dari media-media tradisional (koran, televisi, radio). Kelemahannya ada tiga: 1) dominasi media oleh pihak-pihak tertentu 2) dominasi arah penyampaian pesan secara vertikal 3) komersialisasi media kadang membuat proses demokratisasi jadi bias. Tiga masalah itu dipercaya mengganggu proses demokratisasi.
Namun, kehadiran media baru membuat perubahan dalam proses demokratisasi. Ada 6 poin utama peran media baru dalam proses demokratisasi:
1. Mendorong interaktivitas sebagai pengganti one way flow (komunikasi satu arah).
2. Keberadaan pola komunikasi yang tidak hanya vertikal tapi juga horizontal.
3. Disintermediasi.
4. Mengurangi “biaya” yang harus dikeluarkan dalam proses penyampaian pesan-pesan politik.
5. Lebih cepat dibandingkan dengan media tradisional.
6. Ketiadaan penghalang-penghalang dalam penyampaian pesan politik.

Technologies of Freedom?
Fakta bahwa pengguna internet dapat berasal dari negara dan belahan dunia manapun menimbulkan kesulitan dalam pemberian sanksi dan penerapan yuridiksi pada konten yang bermasalah. Salah satu solusi untuk permasalahan ini sehingga dapat diminimalisir adalah dengan memberikan ‘tekanan’ kepada penyedia layanan (service providers) untuk bertanggung jawab terhadap konten yang muncul dalam layanan mereka, walaupun hal tersebut muncul diluar kontrol mereka.

Situasi “kebebasan” dalam internet mulai berubah saat deklarasi ‘perang terhadap terorisme’ di tahun 2001 dimulai setelah terjadi aksi terorisme di bulan September tahun tersebut. Pemerintah dan pihak yang memiliki otoritas mulai memberlakukan larangan “kebebasan” dalam dunia maya. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan besar, yang sebenarnya merupakan sebuah ‘normalisasi’ yang juga pernah terjadi pada media komunikasi massa lain sebelumnya.
Hal positif yang sebenarnya perlu diangkat dari konteks ‘kebebasan’ dalam internet adalah arti dari “kebebasan” itu sendiri. Kebebasan dari pengawasan dan ‘hak atas privasi’ merupakan jenis “kebebasan” yang berbeda, serta perlindungan atas anonimitas dan bukan publikasi. Kedua jenis kebebasan ini memiliki arti yang penting, tetapi potensi dan kondisi aktual dari penggunaan internet telah menerjemahkan berbagai macam bentuk “kebebasan” sebagai “kebebasan” yang sesungguhnya.

Menurut Winston (1986), Teknologi terbaru memiliki potensi untuk inovasi, tetapi implementasi aktualnya selalu bergantung kepada dua faktor, yaitu: The operation of ‘supervening social necessity’ dan The ‘law of the suppression of radical pontential’.

New Equalizer or Divider
Manfaat yang sangat besar dari new media adalah siap sedia kapan saja bagi mereka yang ingin “bersuara”. Publik tak harus jadi penguasa yang kaya untuk muncul di laman world wide web. Dengan lahirnya new media, kesenjangan sosial dan transaksi informasi bisa teratasi. Lahirnya new media bagi beberapa kalangan dianggap sebagai bagian dari proses penyebaran informasi tanpa batas dan menyentuh seluruh kalangan sosial.

Beberapa kontroversi bermunculan berkenaan dengan lahirnya teknologi new media (computer technology). Salah satu isunya dihubungkan dengan permasalahan gender. Menurut teori feminis yang dikemukakan oleh Ang dan Hermes, 1991, bahwa komputer itu “diperuntukkan” bagi laki-laki dan bukan untuk wanita. Namun menurut Van Zoonen (2002) dalam risetnya mengatakan bahwa antara gender dan teknologi itu sifatnya terlalu multidimensional.

Saat ini media masa (radio dan televisi) masih dianggap mampu menjembatani kesenjangan dalam bidang sosial dan pengembangan dunia ekonomi. Kelahiran world wide web disebut sebagai komunikasi gaya baru yang mampu mengakomodir kebebasan berpendapat. Dan mampu menjadi suatu kekuatan sosial yang bersifat solid dan militan.

II.CONTOH KASUS

Kampanye “Boikot bayar pajak” oleh Alexander Spinoza
Pada Maret 2010, bertepatan dengan tenggat waktu pelaporan SPPT (pajak) tahun 2010, merebak kasus korupsi Gayus Tambunan, seorang karyawan Depkeu. Ketika itu, Depkeu adalah proyek percontohan kebijakan kenaikan renumerasi PNS sebagai bentuk reformasi birokrasi. Sebagai bentuk kekecewaan, seorang warga biasa (bukan aktivis LSM/partai) menggalang gerakan pembangkangan sosial (social disobidience) untuk memboikot pembayaran pajak.

Ia membuat grup di Facebook yang bernama “Gerakan Facebookers Boikot Pajak Demi Keadilan”. Anggota grup tersebut semakin lama semakin banyak, hingga mencapai ratusan ribu. Wacana boikot bayar pajak pun menjadi populer. Dirjen Pajak, M. Tjiptardjo berkali-kali mengatakan di media massa bahwa boikot bayar pajak adalah tindakan kontraproduktif. Ini membuktikan bahwa seorang rakyat biasa dapat memanfaatkan peran new media sebagai alat demokratisasi.

Meskipun tidak dapat diukur seberapa banyak orang yang benar-benar memboikot bayar pajak, namun pesan dari rakyat biasa tersebut sudah masuk menjadi wacana publik. Hal ini dibuktikan seiring dengan munculnya topik boikot bayar pajak dalam acara debat di televisi maupun menjadi berita.

Kampanye “Gerakan Sejuta Facebookers Dukung Bibit-Chandra”
Kampanye ini digalang oleh seorang dosen di Riau. Dia membuat grup Facebook yang berisi dukungan terhadap Bibit-Chandra. Grup Facebook ini mengakomodasi opini banyak orang, terbukti dari banyaknya dukungan terhadap grup ini. Media kemudian tertarik memberitakan grup ini dan pesan yang dibawanya, sehingga kemudian dukungan mengalir ke Bibit-Chandra.

III. IMPLIKASI TEORITIS
New media sebagai perwujudan public sphere Habermas
O’Baoill (2000) seperti dikutip Theo Rohle (2005) menyatakan bahwa terdapat tiga karakteristik public sphere Habermas, yaitu: universal access, rational debate, dan a disregard of rank. Ketiga hal ini sudah ditunjukkan dalam contoh kasus mengenai Grup Facebook Boikot Bayar Pajak.

Hal ini menunjukkan bahwa new media, dengan berbagai bentuknya (sosial media, blog, media online, milis dan sebagainya), sudah bisa menjadi perwujudan dari public sphere yang dikatakan oleh Habermas.
Disusun dan dipresentasikan oleh Andi Nadia RadinkaArdha Renzulli, Dicky Septriadi, Didin Dimas,Narista Pramandhani, Reney Lendy Mosal, Rizky Rachdian S, Yustian Fadji M (Universitas Indonesia)


Kenaikan BBM, Pasar dan Runtuhnya Negara

Kenaikan Harga BBM, Murni Kebijakan Pro-Pasar. Taruhannya, Rakyat Rapuh, Negara Runtuh.

Oleh Ufi Ulfiah, aktivis LS eRSOUS

Mercedes Benz, BMW berbagai seri, Lexuz adalah sederet mobil super mewah yang gampang dijumpai di negeri ini, karena pasti jumlahnya yang tidak sedikit. Satu keluarga di negeri ini bisa memarkir hingga 5 mobil di pekarangan rumahnya. Fasilitas mewah itu bebas malang melintang di jalanan. Tahukah pemerintah menggelontorkan 82% subsidi untuk fasilitas bonafid itu.

Bahwa selama ini, BBM yang digunakan barang mahal itu diberikan hampir mendekati gratis oleh negara. Ternyata duit negara yang dialokasikan untuk BBM itu setelah dipikir-pikir, ditimbang, dihitung ternyata dinikmati oleh kelompok borju negeri ini. Kemudian faktanya, orang miskin negeri ini hanya menikmati 18% dari subsidi itu. Itu tidak adil menurut pemerintah. Tentu saja dipikir melalui otak manapun akan terasa tidak adil. Sudah pasti. Maka menurut pemerintah, subsidi itu harus diatur, diperketat karena tidak tepat sasaran dan tujuan.

Ketika harga minyak dunia melompat, dan jika subsidi BBM masih menggunakan logika klasik, duit negara akan kebobolan. Persisnya dibobol hanya untuk menghidupi kalangan the have. Agar tidak salah kaprah, agar kas negara aman maka situasi gawat darurat ini harus segera diselesaikan. Tidak ada cara lain kecuali menaikan BBM. Bukan sembarang menaikan.

Dari semua penjelasan diatas, pemerintah mengatakan memiliki dasar yang sangat kuat dalam menaikan harga BBM. Dasarnya adalah mengelola keadilan. Jadi berhenti mengatakan pemerintah tidak memikirkan rakyat. Stop tuduhan bahwa negara tidak memihak rakyat kecil.

Intinya, pemerintah bukan kumpulan dari orang-orang yang tidak tahu soal mengatur keuangan negara, bukan jenis manusia-manusia yang berpikir dangkal. Sejak presidennya terpilih sudah pasti memikirkan siapa yang jagoan menangani soal keuangan negara. Sederet orang handalpun berjejer menduduki kursi, mengelola keuangan, mengelola aset penting negara seperti migas dan lain-lain. Jadi BBM diumumkan naik, terlebih dahulu melewati omong-omong soal moral-etik.

Jauh sebelum BBM naik, rakyat miskin Indonesia pusing tujuh keliling memikirkan kebutuhan pangan yang selain mahal, juga langka. BBM naik, bahan kebutuhan pokok itu tak terjangkau, rakyat rontok. Kebingungan, emosi, melampaui ubun-ubun. Protes ribuan orang tak didengar pemerintah, tulisan para pintar-cendekia yang menolak logika keadilan pemerintah tak dicerna. Memilih emosi anarki dengan merusak simbol-simbol penguasa berakhir dengan penangkapan. Jelas mengingatkan kembali pada cara-cara pemerintah lama yang banyak dilaknat oleh rakyat negeri ini, bahkan oleh pemerintah sekarang.

Syahdan, seorang bapak paruh baya tukang mie ayam. Ketika sesiang saya makan mie ayam dan bertanya tentang jumlah anaknya. ”Saya punya tiga orang anak,” jawabnya. ”Paling besar usia berapa pak?” ”Lulus SMP.” lanjutnya ”Dilanjut?” ”Lah, anak saya tidak usah sekolah, suruh bikin bom saja, bukan ngebom Amerika tapi ngebom pemerintah, ngatur minyak saja tidak becus.” Saya terdiam, karena tidak tahu menanggapi apa. Cuma tanya ”Kok mienya naiknya jauh pak?” Bapak yang hanya punya aset gerobak hijau itu menjawab, ”Akibat BBM itu yang naik bukan cuman minyak, mienya naik, ayamnya naik, sausmya naik, telornya naik.”

Kalau demikian, apa dampak pengelolaan keadilan dibalik kenaikan BBM itu? Adil dengan logika pasar (finansial) itu verbalnya saja adil, praktiknya memberangus banyak sektor. Adil yang mana? Sendari dulu rakyat kecil banyak membaca dan mendengar kata adil di negara ini. Tapi tidak pernah mendapatkanya. Karena definisi adil pun, sudah bukan menjadi milik rakyat. Perumusnya adalah birokrat, para ekonom. Sejak lama rakyat sudah kehilangan tahu-menahu (pengetahuan) soal adil. Disebabkan aset untuk mencapai ”tahu” saja tidak bisa dinikmati. Pendidikan yang mengajarkan apa itu ”tahu-mengetahui” tak mampu dicapai rakyat kecil.

Tentu saja omongan tukang mie itu adalah omongan orang kecil, bukan kaum ekspert atau pejabat pemerintah. Bapak itu tidak tahu soal siklus finansial atau harga minyak dunia. Mereka adalah kelompok yang tidak tahu, yang lebih tahu adalah pemerintah. Demikian isi kepala pemerintah, demikian landasan epistimologis kebijakan BBM itu naik. Yang paling tahu persoalannya adalah pemerintah. Titik.

Kebijakan itu adalah tindakan politis-menurut Hannah Arendt, berubah menjadi tindakan birokratis-lanjut Max Weber. Tujuannya adalah eksekusi segera. Dasarnya adalah teknis-pragmatis. Seolah-olah kebijakan itu berdasarkan moral. Model kebijakan yang meminggirkan diskursus publik ini disebut teknokratis. Omong-omongnya hanya melibatkan para teknokrat dan ekonom. Karena merekalah yang paling tahu mekanisme pasar.

Omong-omong dengan publik hanya akan memperlambat penyelesaian masalah. Di samping itu publik adalah hal yang paling absurd, terlalu plural dan sangat relatif. Sudah tentu kebijakan semacam ini yang dipikirkan adalah sektor finansial. Pihak yang diuntungkan adalah pasar. Dan itulah tujuannya, mengundang investor berkenan menamam modal. Dan negara menuai berkah. That’s liberalisasi. Hasilnya, kelompok menengah atas adalah pemenangnya, dan seketika mengontrol perekonomian.

Bahayanya, logika pasar hanya tahu soal uang, kompleksitas nilai-nilai dalam masyarakat selain survival ekonomis disingkirkan. Hasilnya, ekonomi dikuasi kalangan the have, nilai-nilai non ekonomis seperti solidaritas (persahabatan warga) dalam masyarakat runtuh, yang terjadi kemudian krisis. Korbannya, lagi-lagi kelompok kecil yang tidak mengerti mekanisme pasar global. Seperti tukang mie, pengrajin dan masih banyak lagi.

Negara sejawat dengan para ekonom besar. Kebijakannya mengikuti logika pasar. Mampuslah kau orang miskin. Coorporate Social Responsibility (CSR) untuk kesejahteraan adalah omong kosong. CSR berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), bukan jawaban bagi solusi perbaikan ekonomi jangka panjang. Mustahil keduanya membuat ekonomi Indonesia membaik. Sederhana, setiap orang akan sangat ketat dengan kepentinganya, apalagi menyangkut pengeluaran uang. Selain itu keduanya memperlihatkan cara pandang negara terhadap rakyatnya, ada rakyat miskin dan kaya. Binerisme ini tidak melulu salah, walaupun menyakitkan. Karena jelas definisi rakyat terbelah.

Hal yang paling menyesakan adalah binerisme itu juga membedakan hak, status perlakuan negara, hingga fasilitas publik. Ada kereta kelas bisnis dan ekonomis penjemput maut. Sekaligus mengantarkan pada setiap jawaban pasti, yang akan menang dan yang pasti kalah dalam berbagai pentas pertarungan.

Sebenarnya, liberalisasi itu dilihatnya saja liberal, mengandaikan siapa saja bisa menjadi pemenang, mendorong ghirah menjadi sejahtera. Dalam praktiknya dalam sistem liberal itu kebebasan yang dimaksud itu adalah kebebasan politikus dan para pelaku ekonomi besar.

Hasilnya, tidak mungkin pengendara Mercedes Benz akan mengganti kendaraanya dengan Avanza karena kewalahan dengan kenaikan BBM. Tapi lihat, tukang gorengan, tukang mie, gulung tikar. Karena yang kena bukan saja BBM, tapi semua kebutuhan pokok. Kenaikan BBM itu sebenarnya mengantarkan negara pada kebangkrutan. Persis inilah yang akan terjadi jika liberalisme pasar dibiarkan terus liar. Jika diperhatikan, kenaikan harga BBM ada kaitanya dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas. UU ini adalah akar dari kebijakan yang pro pasar.

Kenaikan BBM juga mengikuti logika yang sama. UU Nomor 22 tahun 2001 itu sendiri adalah jalan menuju bunuh diri negara. Kenaikan BBM sebenarnya adalah salah satu caranya.

Kenaikan BBM sebagai penyesuaian harga minyak pasar, mengalihkan subsidi barang kepada orang mengantarkan Indonesia pada kematian. Karena harga minyak dunia akan terus menanjak, negara dan masyarakat terlanjur dipaksa mengikuti arus pasar. Di tengah krisis multidimensi seperti sekarang ini, mengikuti logika pasar adalah sebuah kekonyolan. Rakyat Indonesia belum siap bertempur di pasar. Tingkat kemiskinan terlalu tinggi, hukum lemah, pemerintahan korup dan para ekonom nakal.

Dengan bertumpu pada logika pasar, lambat laun nilai-nilai survival ekonomis menjadi satu-satunya modal sosial masyarakat. Dan tetap tidak terjangkau karena pasar global dimainkan oleh para broker. Tak terjangkau karena tingkat rakyat miskin tinggi, kesenjangannya terlalu lebar. Ibarat lomba cepat, yang satu menggunakan sepeda yang lainnya menggunakan mobil. Ini melahirkan krisis, karena reduksi ekonomi, nilai-nilai solidaritas ”persahabatan warga dalam masyarakat.” punah.

Di sisi lain negara yang mempercayakan sistem ekonomi pada pasar bebas kehilangan alat vital dan pengaruhnya. Negara menjadi non sense, tidak punya apa-apa.

Menolak kenaikan BBM berarti menolak cara berfikir yang bertumpu pada pasar. Mengamandemen UU No. 22 Tahun 2001 adalah upaya mengembalikan negara pada kedaulatanya. Menasionalisasi aset, mengoptimalkan pengelolaan sumber-sumber penting bagi kesehatan negara. Berikut mengembalikan kekuatan dan pengaruh dari negara. Juga menyingkirkan mafia-mafia pasar yang merecoki negara dan telah merebut negara yang sebenarnya dimiliki oleh bangsa-bangsa yang bermukim didalamnya.

Kenaikan BBM sendiri sebenarnya bukan sifat dari sebuah negara jika memperhatikan logika dan dampaknya. Menolak kenaikan BBM berarti menolak hal yang bukan ruh dari sebuah negara. Negara-bangsa Indonesia.[]

Ufi Ufiah, Alumni UIN Jakarta dan UMJ, Sekarang Ia aktif di Lakspedam NU, Ia Penulis Buku Ada Apa dengan Nikah Beda Agama? Ia berdomisili di Ciputat.

Sentuhan Kekerasan

Dorongan melakukan kekerasan ada dalam setiap individu. Kehadirannya sulit untuk dimusnahkan, namun bisa dikendalikan.

Oleh: Abi S. Nugroho

SUARA JANGKRIK terlibat dalam perbincangan malam itu. Cahaya bulan meremang menembus kaca jendela kontrakan. Hembusan angin malam mengelus tubuh kami, menambah mesra untuk saling bercerita. Kukira, sayup-sayup samar suara kami terdengar tetangga, kadang berbumbu gelak canda-tawa. Kami berkumpul seperti biasa, menceritakan pengalaman masing-masing.

Semuanya berawal dari keinginan temanku untuk menguasai ilmu kanuragan membuatnya harus berguru pada perguruan silat terlebih dahulu, sebut saja ilmu seni bela diri. Tepatnya, perguruan silat beraliran putih berdasarkan tirakat batin. Beragam rintangan, pantangan dan ujian harus dilewati dengan kesabaran dan penuh ikhlas.

Di luar dugaan, ia bercerita hampir dua jam sendiri. Telak, bagi yang menyukai kisahnya mendengarkan penuh hikmat. Tetapi bagi yang tidak, mereka terhempas dalam rayuan tubuh yang juga butuh istirahat.

Di tengah-tengah redupan mata melihat, ia spontan memeragakan kemampuan menggerakkan benda-benda di sekitar. Tiba-tiba saja, tanpa disentuh, teko’ berisi air terangkat dan menuangkan isinya ke cangkir. Dan, cangkir itu bergerak perlahan seolah memperkenankanku untuk minum. Kami, benar-benar terkejut.

“Aku bersyukur kalau ada kebaikan datang tanpa harus menggoda atau tergoda perempuan,” tegasnya sembari menjelaskan kalau menggoda ataupun tergoda perempuan merupakan pantangan pokok baginya.

Bukan ilustrasi itu yang hendak kupaparkan di sini. Ia hanya dijadikan contoh untuk melihat bagaimana pengalaman mempelajari seni ilmu bela diri, tidak harus dengan kekerasan.

***

IKHWAL PERILAKU kekerasan yang terjadi belakangan ini, boleh jadi melahirkan pertanyaan berantai dalam pikiran kita. Adakah hubungannya antara kekerasan dengan mempertahankan diri, agresifitas atau kekerasan sebagai modus pengamanan terhadap kelangsungan hidup? Apakah pengalaman teman di atas bisa dikategorikan sebagai cara mempertahankan diri dengan cara yang berbeda untuk menjaga kelangsungan diri? Lantas, kenapa bela diri dan apa hubunganya dengan kekerasan?

Tindak kekerasan yang tampil secara langsung maupun tidak, setidaknya telah membuka mata kita, apa yang sebenarnya terjadi? apa penyebabnya? Ruwet memang. Namun bukan berarti berhenti dan hanya membuka mata, tanpa bertindak apa-apa. Tulisan ini akan berupaya membongkar, kekerasan sebagai modus eksistensi manusia yang tampil menunjukkan dirinya pada yang lain. Kalau dicari dan ditarik akarnya, semoga bisa mengidentifikasi potensi dan penanggulangannya. Apakah bisa? Mudah-mudahan.

Kekerasan Menyentuh Siapa Saja dan di Mana Saja

KEKERASAN BISA menyerang siapa saja, hadir di manapun. Tak terkecuali yang dianggap paling aman sekalipun. Bahkan, dalam kegembiraan dan kesenangan, kekerasan biasa dan senantiasa hadir. Individu maupun kelompok, dalam segala kegiatannya, terbuka untuk kekerasan.

Laki, perempuan, anak atau orang dewasa, tokoh atau orang biasa, sama saja. Ketika kekerasan terjadi, ada subjek dan ada objek yang dikenakan kekerasan. Lantas, bagaimana memahaminya? Apa yang menjadi sasarannya? Melalui pendekatan psikologi, dapat dimengerti bahwa kekerasan bisa timbul dari dalam diri manusia, atau bisa saja berada di luar, menyentuh kita. Menyentuh luar dalam kita.

Kekerasan berakar pada dorongan agresif, yang sadar atau tidak sadar, tersimpan dalam diri kita sebagai manusia yang harus bertahan hidup dalam lingkungan yang sepenuhnya tidak mungkin bebas dari ancaman. Demikian Fuad Hassan menjelaskan: Bagi manusia, kesungguhan bertahan hidup merupakan awal perkembangannya untuk mendewasakan diri. Mempertahankan (survival) adalah prasyarat yang mendahului eksistensi manusiawi.

Perjuangan mempertahankan diri dalam pengertian teori evolusi, bukan sekadar berlangsung untuk bertahan hidup. Perjuangan manusia, tidak sepenuhnya terjerat pada kondisi alamiah dan tuntutan biologis semata, namun juga berlaku bagi tiap mahluk hidup lain.

Dalam keterjeratan, reaksi yang terjadi masih sangat berpola sederhana, terhadap kenyataan di sekitar yang umumnya berupa mendekati atau menghindari. Kedua pola reaksi tersebut, bisa berupa pengalaman senang atau sakit (pleasure or pain). Tentu dengan tingkat intensitas yang beragam.

Kenyataan yang terjadi, bisa dilihat sebagai bentuk mengancam dan terhadap sesuatu ancaman reaksi mahluk hidup berupa berkelahi atau melarikan diri; keduanya terjadi untuk bertahan hidup. Berkelahi, dianggap sebagai sumber ancaman, dapat ditumpas dan dilumpuhkan dengan melarikan diri, maka ancaman berupa tindak kekerasan dapat dihindari.

Yang membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lain adalah karena ia tidak selamanya berada dalam jeratan kenyataan dan ketidaknyataan seperti ingatan-ingatan atau khayalan. Dalam perkembangan menuju penyempurnaan, manusia melampaui tahapan kehidupan yang serba naluri. Dan nurani mengarahkan manusia pada pelestarikan keberlangsungan hidup. Ini sejalan dengan kesanggupan untuk memerdekakan diri dari ikatan-ikatan.

Kemampuan mentransendenkan diri manusia sebagai bentuk pengendalian dorongan agresif adalah penjelmaan nalurinya untuk meyalurkan agresifitasnya lewat beragam cara serta dalam batas-batas yang masih ditolerir oleh citarasa masyarakat.

Naluri terejawantah dalam perilaku agresif tidak begitu saja dapat dihilangkan, namun bisa dikendalikan. Oleh karena itu, perilaku agresif tidak bisa ditindas sepenuhnya. Manusia tidak saja tumbuh secara fisiologis, tapi juga berkembang di tingkat kejiwaan. Yang diamati, tidak hanya pertumbuhan fisiologisnya saja, melainkan juga perkembangan yang terjadi pada jiwa.

Perkembangan jiwa akan mendukung manusia dalam kesiapannya menjadi pribadi yang khas dan unik. Untuk menjadi dewasa, manusia mengaktualisikan dirinya sebagai pribadi di masyarakat, berwujud ikhtiar untuk tetap maju dan bertahan sebagai pribadi dengan identitasnya sendiri. Ciri pribadi dewasa, adalah kesungguhannya untuk senantiasa berkembang mekar hingga sanggup menunjukkan isyarat kemandiriannya.

Dorongan agresif menjelma menjadi tindakan kekerasan, tetapi tidak semua penjelmaan dorongan agresif tampil sebagai tindakan berciri kekerasan. Berbeda dengan penjelmaan naluri hewani, manusia dewasa sanggup meyalurkan dorongan nalurinya melalui perilaku dan tindakan di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, kehadiran naluri diupayakan tersalur melalui perilaku dan tindakan yang bagi diriya sendiri dapat diterima. Dalam menyalurkan nalurinya, manusia dibatasi oleh rambu-rambu.

Rambu-rambu tersebut bisa berupa hubungan antara manusia dengan kenyataan eksternalnya, maupun manusia dengan keberadaan diri dengan kenyataan internalnya seperti nurani sebagai suara batin diri sendiri.

***

MANUSIA YANG DILANDA kehampaan spiritual, sungguh memprihatinkan. Kemajuan positivisme ilmu pengetahuan dan teknologi sejak abad Pencerahan di Eropa, belum sanggup memenuhi kebutuhan fundamental manusia dalam aspek nilai transendental, suatu kebutuhan vital yang hanya bisa didapat dan bersumber dari nilai-nilai mutlak yang harus diamalkan.

Sedangkan, apa yang bisa diperoleh manusia tanpa mentransendenkan dirinya? Hanya berupa jurang-jurang dan batas-batas nisbi. Mungkin, salah satu penyebab kedangkalan manusia mentransendenkan dirinya adalah ilmu pengetahuan yang kehilangan visi sesungguhnya, yakni visi memanusiakan manusia. Jelas, caranya bukan dengan jalan agresi kekerasan, menegasikan yang lain, penjajahan atau sejenisnya.

Perhatian yang utama baik terhadap lingkungan maupun diri sendiri dalam relasinya membuka jalan bagi kelangsungan kehidupan bersama. Manusia sebagai mahluk pembawa obor pengetahuan, namun justru tampak sebagai pencipta kerusakan.

Jaman yang dianggap maju, modern dan menghargai peradaban justru tampil sebagai sangkar besi terhadap indahnya kehidupan yang rukun dan damai. Kesadaran pribadi; bahwa pentingnya keterbukaan dan pengendalian diri merupakan cara menjaga keharmonisan kehidupan. Keberlangsungan kehidupan, tergantung bagaimana manusianya. Memang, banyak faktor yang menyebabkan tindakan kekerasan hadir dalam kehidupan, tapi banyak juga cara menyelesaikan persoalan tersebut.

Dominasi kekerasan yang kerap dialami manusia menyebabkan hilangnya kepekaan terhadap kekerasan. Sungguh mencemaskan sekaligus menggemaskan, ketika media massa, baik cetak maupun elektronik mempertontonkan adegan kekerasan. Social learning terjadi. Bagaimana dampak psikologi penonton yang belum cukup siap baik mental maupun usia? Seperti anak-anak, apakah harus didampingi terus menerus ketika asyik menonton TV?

Dengan dalih kebebasan pers bisa dijadikan legitimasi untuk mengulang-ulang bahasa kekerasan. Tentu media massa juga dilihat sebagai industri yang juga harus menghidupi pekerja-pekerjanya. Sebagaimana industri pada umumnya, juga dilihat mencari keuntungan dan kehormatan sebesar-besarnya; hingga mungkin lupa bahwa telah melakukan eksploitasi publik dengan bahasa kekerasan yang lain. Maaf kalau penulis keliru menilai (salah membongkar).

Lantas, bagaimana cara praktis untuk mengidentifikasi kekerasan, kemudian memperkirakan potensi-potensi yang diakibatkannya. Kepentingan dunia bukanlah kepentingan individu atau kelompok tertentu saja. Individu dalam kepentingan ruang publik yang kita alami sebagai warga dan yang hanya bisa diperoleh dengan berbuat melebihi kepentingan kita.

Sebagai warga, kita memiliki ruang publik, tetapi, kepentingan adalah milik ruang publik, milik ruang yang kita huni bersama “tanpa memilikinya,” milik ruang yang melebihi batasan jangka hidup dan tujuan pribadi kita yang terbatas.

Hannah Arendt mengilustrasikan kepentingan publik, ia melihat kegiatan manusia sebagai warga sebagai juri. Sebagai juri, kita berpegang pada kepentingan kebenaran permainan serta kejujuran publik. Itu bukanlah kepentingan pribadi kita, maupun kepentingan pribadi yang merasa tercerahkan, melainkan kepentingan komunitas politik yang mengatur beragam persoalan dengan dasar aturan dan prosedur konstitusional.

Kepentingan publik berwujud berupa konstitusi untuk mengatasi kepentingan pribadi kita sebagai individu. Secara etis, kejujuran dan imparsialitas adalah tuntutan warga harus ditegakkan.

Kembali untuk Kembali

TIDAK BIASA, ada juga kekhawatiran tidak bisa-tapi memang perlu mencoba. Begitulah pengalaman temanku ketika mempelajari ilmu bela diri. Sepuluh tahun melawan hasrat membunuh apapun, mengendalikan diri dan tidak makan dalam tiga hari hanya untuk mengukuhkan kesaktiannya. Makan saja tidak, apalagi merokok atau ngopi yang manjadi kegemarannya. Tampak menyedihkan rasanya.

Namun alhasil, sekarang ia sanggup menguasai apa yang menjadi mimpinya dulu. Kini bukan lagi angan, tapi pertanyaan-pertanyaan telah terjawab. Prasangka tidak sanggup atau cemas pada kegagalan, terbukti dikalahkan oleh kekuatan tekad.

Bukankah, menjaga diri berarti menjaga kehidupan? Spirit pembebasan, bukan untuk meniadakan yang lain, dimulai dengan melawan kuasa diri yang meracuni diri lain dan kehidupan. Walau tindakan yang dilakukan sekadar berupa amalan, menyebut kata-kata Agung nan Suci, sekadar kata, bukan Wujud sebenarnya, kini mengisi dada.

Namun merasakan dampaknya seakan hadir sebagai pusaka. Kata temanku, “kata-kata telah mengendalikan kita.” Bersemayam menguasai diri. Seni ilmu bela diri hanya upaya membela diri untuk melawan diri. Benda pusaka yang dulu menjadi bagian dari mimpi, kini menjadi miliknya di hati sahaja. Tidak untuk melawan mahluk hidup lain. Bahkan nyamuk, semut, kecoa sekalipun, pantang dilenyapkan.

Sesuatu yang besar, harus dari yang kecil-kecil. Mulanya, kita hanya membayangkan betapa hebatnya kakak bisa membaca, kemudian kita belajar melafal huruf demi huruf, kata demi kata, kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat dirangkai menjadi paragraf, antarparagraf disatupadukan berupa pengertian khusus. Hingga membawa pesan dan makna. Sampai-sampai kita bisa membaca dan menggoreskan arti dan makna, berupa makna kehidupan, melalui lembaran kitab kenyataan. Wallahu a’lam.

Kenapa aku tidak

Temanku kaya, kenapa aku tidak

Temanku miskin, kenapa aku tidak

Temanku sederhana, kenapa aku tidak

Temanku iya, kenapa aku tidak

Temanku.. temanku.. maafkan aku tidak

Temanku.. temanku.. jangan marah, aku tidak

Biar Temanku, kita tidak harus selalu sama teman

Temanku sakit, kenapa aku tidak

Temanku dinamis, kenapa aku tidak

Temanku atheis, kenapa aku tidak

Temanku puitis, kenapa aku tidak

Temanku komunis, kenapa aku tidak

Temanku liberal, kenapa aku tidak

Temanku.. temanku.. maafkan, aku tidak

Temanku, kenapa aku tidak

Temanku, kita tidak harus selalu sama bukan?

Biar Temanku, kita selalu bersama-sama

(the panas dalam++)

Aby Setya Nugroho, Ia Aktif di FS Makar Institute, aktif di Cab PMII Ciputat. Ia investigator makam Tan malaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s