Agenda Setting SBY


Beberapa waktu lalu, Presiden SBY melempar bola panas kepada publik mengenai sistem pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. SBY mempertanyakan kembali konsistensi demokrasi Yogyakarta sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia. Padahal, sistem pemerintahan yang digunakan Yogyakarta sudah berlangsung ratusan tahun lamanya, kalau benar ada perombakan atau pemilukada di Yogyakarta, sama saja merobohkan sendi-sendi sistem pemerintahan di Yogyakarta yang sudah terbentuk selama ratusan tahun. Gubernur DIY harus dari Kasultanan dan Wakil Gubernur dari Pakualaman.

Yang perlu dicurigai tentang pernyataan SBY ialah kenapa bola panas itu dilemparkan pada saat berbagai macam masalah bangsa selalu menghiasi media dan opini di masyarakat. Apakah benar SBY sengaja mengalihkan isu-isu yang selama ini mencoreng nama baik bangsa dan kinerja pemerintahannya, atau memang ia benar-benar menggugat konsistensi Yogyakarta sebagai bagian dari bangsa ini. Mengingat, berbagai masalah bangsa mulai dari bencana alam seperti banjir bandang mentawai, letusan gunung Merapi, gunung Bromo serta kasus Gayus yang mencoreng nama baik bangsa, dan masih banyak masalah-masalah lainnya.

Di dalam kajian media, ada sebuah agenda yang dimediasi oleh media massa sengaja menonjolkan berita tertentu untuk merubah atau menggiring opini publik, dengan maksud bisa menutupi berita-berita penting sebelumnya. Sebagaimana diperkerkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw dalam tulisan mereka yang berjudul “The Agenda Setting Function of Mass Media” yang telah diterbitkan dalam Public Opinion Quarterly pada tahun 1972. Menurut kedua pakar ini jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Pokok pemikiran teori ini berkaitan dengan fungsi belajar dari media massa. Diasumsikan bahwa publik tidak hanya mempelajari isu-isu pemberitaan, tapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberitakan pada suatu isu atau topik berdasarkan cara media massa memberikan penekanan isu atau topik tersebut. Yang mesti digaris bawahi ialah hal-hal yang dipandang penting oleh media, kemudian dipandang penting juga oleh khalayak/publik.

Hemat saya, pernyataan SBY mengenai Yogyakarta tidak menutup kemungkinan adalah sebuah agenda setting pemerintah yang sengaja dilontarkan ke publik agar menjadi fokus perhatian seluruh masyarakat di tengah keburaman masalah bangsa. Di sinilah kita perlu berbicara tentang agenda setting. Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan.

Di samping itu, media mampu mengemas sebuah isu yang tidak penting menjadi sangat penting, atau yang sangat penting menjadi tidak penting. Dan kini, isu Yogyakarta terus saja menggelinding menjadi sebuah tema yang sangat menarik dibicarakan, bahkan diperdebatkan oleh seluruh lapisan masyarakat negeri ini khususnya warga Yogyakarta. Tak heran para pakar komunikasi sampai menyatakan, “jika kita bisa menggenggam media, maka kita sudah bisa mengendalikan dunia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s