Era Gombalisasi


Membaca judul di atas kita perlu menggaris bawahi kata gombalisasi, yang berasal dari kata gombal. Di masyarakat jawa khususnya, gombal merupakan semacam pakaian bekas yang tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, gombal memiliki fungsi sebagai media untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel di kaca atau lantai. Saya tidak akan panjang-lebar mengulas makna gombal sebenarnya, akan tetapi memahami kata gombal yang sudah mendapat tambahan akhiran sasi, yaitu gombalisasi di masa ini. Nah, kata gombalisasi memiliki makna yang begitu luas. Yaitu terdiri dari beberapa makna yang secara tidak disadari sudah membujuk, merayu, mempengaruhi dan membius khalayak. Nah, kita sekarang di era gombalisasi.

Seiring dengan perkembangan media informasi yang revolusioner, era gombalisasi memperoleh ruang yang begitu luas dalam melakukan upaya-upaya gombal terhadap khalayak. Tujuan gombalisasi tak lain adalah mempengaruhi khalayak melakukan apa yang diinginkan oleh para kapitalis. Mereka melakukan aksinya melalui media televisi, internet, radio, Koran dan media lainnya dengan menciptakan sebuah umpan kepada khalayak. Misalnya berapa banyak kita dipengaruhi oleh iklan-iklan di televisi yang membujuk untuk membeli produk-produk tertentu. Sehingga kita tak kuasa untuk menolaknya tanpa adanya sikap kritis sedikitpun. Kita sadar bahwa dari sejak Nabi Adam sampai Adam Malik, tidak pernah menggunakan handphone untuk berkomunikasi, akan tetapi tetap saja mereka hidup dan bisa bersosialisasi, sebaliknya kini handphone sudah menjadi sebuah kebutuhan yang setara dengan nasi. Sederhananya handphone telah menjadi sebuah kebutuhan (need) setiap insan yang meski dikonsumsi. Nah, melalui gombalisasi media, ada sebuah perubahan makna yang dari keinginan (want) berubah menjadi kebutuhan (need).

Di kasus lain, misalnya mobil adalah barang sekunder, namun karena gombalisasi media tiada henti, mobil yang sebelumnya dalam wilayah want (keinginan) berubah wilayah need (kebutuhan). Hal ini sesuai dengan penjelasan Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw dalam tulisan mereka “The Agenda Setting Function of Mass Media” (1972) yang mengatakan jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Di kasus yang hamper sama, misalnya media mengangkat isu bencana gunung merapi, piknik DPR, kasus Gayus dan isu lainnya, maka khalayak juga akan menganggap penting peristiwa-peristiwa yang diangkat media tersebut.

Politik Gombalisasi
Wilayah gombalisasi tidak terbatas pada produk-produk yang diiklankan melalui media televisi, akan tetapi dalam dunia politik sangat berpotensi besar menggombalisasi khalayak melalui retorika politik, propaganda politik dan kampanye politik. Fenomena politik gombalisasi tercermin dalam pemilu 2009 dan sebelumnya pemilu 2004 dan 1999 masih diwarnai janji-janji politik kepada masyarakat, namun realisasinya setelah berkuasa tidak kunjung tiba. Sebagai contoh, pemilu 1999 terdapat parpol yang akan mengedepankan wong cilik dalam janji kampanye politik, tetapi setelah memegang tumpuk kekuasaan, justru penggusuran rumah wong cilik semakin gencar dilakukan, harga-harga semakin melambung tinggi, dan lapangan kerja pun tak kunjung tiba. Begitu juga yang terjadi pada pemilu 2004 maupun 2009 lalu, janji-jani hanya sebatas gombalisasi dari para elit politik yang tengah memegang tumpuk kekuasaan pun belum bisa terpenuhi.

Hemat saya, ada tiga representasi fase era gombalisasi, pertama yaitu gombalisasi merupakan cermin sebuah realitas, misalnya produk sampo yang diiklankan televisi memang mampu membersihkan kotoran rambut. Kedua, era gombalisasi merupakan wilayah ideologi yang menyembunyikan realitas, misalnya imbuhan mencontreng partai tertentu dengan umpan janji-janji politik. Ketiga, gombalisasi menyembunyikan bahwa tidak ada realitas sama sekali, misalnya janji menciptakan lapangan kerja, harga sembako turun, namun tidak terealisasi.

Oleh karena itu, kita meski waspada terhadap upaya gombalisasi yang setiap waktu menerpa melalui media televisi khususnya. Hal itu bisa dicegah sebelum membeli produk tertentu meski melakukan pengecekan apakah khasiatnya sesuai dengan yang diiklankan di media. Sementara dalam dunia politik, kaum elit perlu dilihat realisasi kerja periode sebelumnya, sebelum menelan mentah-mentah seluruh upaya gombalisasi yang dijanjikan.

Rosit

One thought on “Era Gombalisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s