MUDIK


Berbagai macam makna mudik di sekeliling kita, ada yang memaknai mudik sebatas pulang ke kampung halaman, silaturahmi kepada sanak famili, bertemu teman-teman lama, bahkan ada yang memberikan makna mudik adalah pemborosan uang, energi, waktu dan hal-hal yang tidak berguna lainnya, itu belum termasuk berdesak-desakan, bermacet-macetan di jalanan yang sangat berpotensi terjadi kecelakaan, mudik tak sampai kampung halaman akan tetapi malah nyawa menghilang. Bagi saya mudik adalah rasa malu, iya malu kepada masyarakat sudah sekian lama merantau belum memberikan sesuatu yang berharga.

Mudik lebaran memang sebuah fenomena tahunan yang menarik di Indonesia. Semangat mudik sebenarnya ada di setiap bangsa karena bersumber dari fitrah manusia berupa kerinduan akan tempat asal.Mudik memang sudah membudaya di negeri ini, berbagai orang dari pusat kota mencari kehidupan pulang ke kampung halaman masing-masing secara serentak atau dalam waktu yang bersamaan. Ada sebuah kerinduan terhadap kampung halaman yang mesti dicurahkan setelah selama satu bulan menjalankan ibadah puasa dan sekian lama meninggalkan kampung halaman. Yaitu merayakan kemenangan bersama sanak famili dan masyarakat kampung yang telah menanti-nantikan kedatangannya.

Setidaknya ada 2 makna penting mudik, pertama makna biologis, yaitu sebuah perjalanan fisik dari kota menuju kampung halaman, bertemu kerabat, saudara dan teman. Berbagai macam materi pun berpidah tempat dari kota ke kampung halaman, di sana pun memicu roda perekonomian desa semakin berputar lebih kencang dibandingkan dengan hari-hari biasa. Kedua, makna spiritual, yaitu sebuah perjalanan spiritual menuju ke fitrah, kembali kepada ampunan Tuhan. Bagaimanapun juga, setiap orang suatu saat akan mudik menuju ke alam sesungguhnya, yaitu menuju kehadirat illahi mempertanggung jawabkan perjalanan hidupnya selama di dunia. Kata orang Jawa, ”urip ini koyo dene mampir ngombe” maksudnya hidup di dunia ini diibaratkan sebuah perjalanan yang melelahkan dan saat kehausan kita mampir atau singgah ke warung untuk minum segelas air, untuk meredakan keringnya tenggorokan, setelah itu melakukan perjalanan kembali menuju tempat persinggahan terakhir. Yang perlu digaris bawahi adalah kata “mampir atau singgah”, yakni tiada lain adalah sebuah proses, bukan tujuan akhir.

Oleh karena itu, mudik tak hanya sebuah perjalanan biologis atau materi, di sana kita bertemu sanak sekuarga, tetangga dan teman bermain waktu kecil. Namun mudik meski dilihat atau dimaknai secara rohaniah, sebuah perjalanan spiritual menuju fitrah, menuju ampunan Illahi dari macam lumpur kotor kehidupan kota. Serta meski menghindari Segala macam pemborosan ekonomi, berfoya-foya, berpamer ria di dalam kampung halaman, karena itu semua akan mengotori makna spiritual mudik.

M. Rosit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s