Diskriminasi Islam Minoritas


Sampai kini, kehidupan warga Ahmadiyah masih menjadi bulan-bulanan beberapa organisasi masyarakat Islam yang dengan terang-terangan menentang keberadaan kelompok Islam minoritas itu. Sejak penyerangan terhadap pusat kegiatan Ahmadiyah di Parung Bogor pada tahun 2005 lalu, dan setelah itu MUI memunculkan fatwa sesat dan menyesatkan terhadap ajaran Ahmadiyah, semakin menambah panjang perlakuan semena-mena yang diterima warga Ahmadiyah. Perlakuan kekerasan, teror, penghinaan dan pelecehan secara tidak manusiawi menjadi hal yang biasa diterima kaum minoritas itu beberapa tahun terakhir. Mereka seakan ingin mengirim warga Ahmadiyah ke Neraka segera mungkin. Sementara Islam yang mengajarkan kedamaian, toleransi dan pruralisme, seakan sirna seiring dengan sikap beberapa organisasi masyarakat Islam sendiri yang menampilkan kekerasan dengan membabi buta tanpa memperhatikan etika kemanusiaan sedikitpun.

Kini, kekerasan diterima oleh warga Ahmadiyah Kuningan Jawa Barat. Kelompok-kelompok Islam anti-Ahmadyah ternyata tak bosan-bosannya melakukan kekerasan terhadap kaum intern agama sendiri. Akhirnya, bentrokan antara ormas Islam anti Ahmadiyah dan warga Ahmadiyah yang mempertahankan ajaran dan hidupnya pun tak bisa dihindari lagi, menambah daftar konflik intern agama semakin panjang di negeri ini. Padahal, jika dilihat dari sudut persamaan ajarannya jauh lebih banyak daripada perbedaannya.

Ajaran kontroversial Ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi terakhir setelah Muhammad Rasulullah memang salah, akan tetapi mereka tak sepantasnya diperlakukan secara tidak manusiawi, toh juga selama ini warga Ahmadiyah tidak mengganggu umat Islam yang lain. Perlakuan kekerasan terhadap Ahmadiyah justru akan menodai Islam sebagai agama kedamaian, serta memberikan citra buruk bahwa Islam lebih suka menghakimi kelompok minoritas dengan kekerasan daripada dengan jalan damai. Dengan demikian, pemerintah meski menegaskan untuk menindaklanjuti terhadap pihak-pihak yang melakukan kekerasan agar memperoleh hukuman sesuai tindakan yang tak manusiawi dilakukannya. Kalau hal ini dibiarkan begitu saja, perlakuan kekerasan akan diterima oleh kelompok-kelompok minoritas berikutnya alih-alih berbeda pandangan dengan kelompok mayoritas. Maka negeri yang dibangun dengan fondasi Undang-Undang tidak berguna samasekali, malah berubah menjadi hukum rimba, barang siapa yang kuat maka merekalah yang akan menang.

Kalau memang benar pihak-pihak tertentu ingin menegakkan kebenaran, tentu masih banyak cara yang jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan melakukan kekerasan secara membabi buta. Tidak harus dengan membakar Masjid dan rumah-rumah warga Ahmadiyah tinggal. Apalagi semua itu mengatasnamakan ajaran Islam yang jelas-jelas mengajarkan sikap saling menghargai baik terhadap sesama agama maupun berlainan agama, apalagi warga Ahmadiyah sudah mendiami Indonesia lebih dari seabad.

Nabi Palsu di Zaman Sahabat
Sebenarnya konflik menentang nabi palsu sudah terjadi pada zaman Abu Bakar. Tak lama setelah Nabi SAW wafat, maka bermunculan nabi-nabi palsu yang mengaku dirinya sendiri sebagai utusan Allah SWT. Mereka di antaranya adalah Aswad Al-Ansi, Tulaihah dari Banu Asad dan Musailimah dari Banu Hanifah. Bahkan dalam buku Tarikhnya, Al Ya’qubi menuturkan bahwa Asad bin Inza Al-Ansi sudah mendakwakan dirinya Nabi sejak masa Rasullullah SAW masih hidup, setelah Abu Bakar dilantik ia semakin lantang mendakwakan dirinya sebagai Nabi.

Abu Bakar Assidiq sebagai khalifah pengganti Rasulullah tentu saja tidak tinggal diam. Bahkan ia akan memerangi nabi-nabi palsu itu, meskipun di dalam musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, kelompok yang pro terhadap niat Abu Bakar memperoleh suara minoritas. Akan tetapi Abu Bakar tetap tegas untuk memerangi nabi-nabi palsu yang mengancam keberlangsungan agama Islam.
Kebijakan Abu Bakar dalam memerangi para nabi palsu sungguh tepat. Pasalnya setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, banyak peristiwa-peristiwa yang meresahkan umat Islam, di antaranya banyak kaum murtad, tidak mau zakat, kaum berkhianat dan munculnya nabi-nabi palsu. Kalau Abu Bakar tidak bersikap tegas pada masa-masa itu, maka ancaman dari dalam maupun luar akan semakin berbahaya terhadap keberlangsungan agama Islam ke depan. Nah, setelah berhasil memerangi kaum-kaum yang berkhianat, maka citra Islam semakin berpengaruh dan disegani terhadap bangsa-bangsa lain, sehingga kaum-kaum yang akan melakukan perlawanan atau pengkhianatan terhadap Madinah tidak mempunyai nyali besar.

Anarkhi Bukan Solusi
Di era modern ini, kita tidak dibenarkan melakukan kekerasan meskipun atas nama Agama. Apalagi kita berada di sebuah negeri yang memiliki kearifan dan keanekaragaman agama, etnis, bahasa, kulit, budaya dan lainnya yang berbeda-beda. Kita semestinya menghargai dan menciptakan suasana kedamaian meskipun berbeda-beda antara satu sama lain. Bukan malah memaksakan kehendak terhadap kaum yang berbeda pandangan. Seandainya mereka yang melakukan diskriminasi Ahmadiyah dipihak minoritas, pun mereka melakukan reaksi perlawanan sebagaimana Ahmadiyah lakukan. Dan semestinya berpikir bahwa diintimidasi itu sakit dan siapapun pasti tak menginginkannya.

Sementara perbedaan letak geografis, waktu dan budaya akan menghasilkan konsep dan kebijakan berbeda yang meski diambil demi kemaslahatan bersama. Misalnya, pada masa itu, Abu Bakar sangat tepat memerangi nabi-nabi palsu yang meresahkan keimanan umat Islam, karena Islam agama yang mulai berkembang dan membutuhkan sikap tegas terhadap keberlangsungan Islam sendiri di masa depan, akan tetapi tidak untuk kasus Ahmadiyah, pasalnya Islam sudah menjadi agama yang mapan, dan negeri ini sangat menjunjung tinggi hukum, semua warga sama di mata hukum. Dan barang siapa melakukan kekerasan terhadap kaum minoritas sekalipun harus memperoleh hukuman setimpal sesuai apa yang dilakukannya tanpa melihat atas nama ajaran agama sekalipun, toh negeri ini bukan hanya milik Islam semata, tapi milik beberapa agama yang telah disahkan oleh Undang-undang. Apalagi Ahmadiyah selama ini bisa hidup berdampingan dengan kelompok Islam mayoritas meskipun tak lepas dari penghinaan.

Hemat saya, tindakan anarkhis yang dilakukan ormas-ormas Islam selama ini bukanlah solusi terbaik, malah memunculkan sikap diskriminasi yang semakin kentara. Dan hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam yang damai, seharusnya dijunjung tinggi oleh umat Islam. Warga Ahmadiyah sendiri semestinya juga menyadari bahwa keberadaanya di negeri ini sudah menjelma menjadi sebuah Neraka, diskriminasi sewaktu-waktu sangat berpotensi terjadi kembali. Oleh karena itu, hijrah adalah salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan terutama ke negeri yang menjamin kebebasan beragama secara praktis. Tak ada gunanya membahas SKB menteri atau regulasi-regulasi dari kedua belah pihak, kalau ormas yang anti anti Ahmadiyah tetap melakukan diskriminasi terhadap sesama makhluk Tuhan, bahkan satu bangsa dan satu tanah air sendiri.

M. Rosit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s