Srikandi


“pokoknya saya tak rela dijadikan permaisuri raja Jungkungmardeya, emang saya ini barang, dengan mudah dialih pindahkan seenaknya, apalagi untuk seorang raja yang tak tahu tatakrama, saya ndak akan sudi melayani nafsu birahi Jungkungmerdeya, dasar keparat, tak tahu diri!!” Gerutu seorang putri kraton, sambil merajang buah-buahan yang ada di atas meja dapur, lalu irisan buah-buahan itu dimakan mirip macan kelaparan. Begitulah cara ia melampiaskan amarahnya, sementara para Dayang istana di sekitarnya tak ada satu pun yang berani melihat junjungannya yang tengah marah itu, apalagi menegurnya, mereka pura-pura tak mengetahuinya. Ia adalah Srikandi, seorang putri kraton dari negeri Pancala.

Dalam dunia wayang, Srikandi begitu tersohor di pelosok negeri. Bukan hanya ia seorang putri kraton ternama atau seorang perempuan tingkah polahnya mirip laki-laki. Memang semua itu benar. Ia lebih tersohor dalam dunia wayang sebagai seorang prajurit wanita yang sakti mandraguna, pemberani, cerdik, tangkas dan tak segan-segan adu tanding kepada siapapun yang mencoba melanggar batas kesusilaan.

Srikandi dilahirkan dari rahim Dewi Gandawati, seorang permaisuri raja Drupada dari kerajaan Pancala. Sebelumnya Dewi Gandawati sudah memiliki satu anak putri yaitu Drupadi. Namun sang permaisuri masih menginginkan seorang anak lagi yang lahir dari rahimnya. Setelah konsultasi dengan seorang ahli spiritual kerajaan, Dewi Gandawati bisa melahirkan lagi asalkan bisa memenuhi dua syarat, yaitu sang permaisuri meski semedi di sebuah goa, tak boleh terkena sinar matahari sedikitpun selama 40 hari, dan malamnya meski merendam tubuhnya di sungai Gangga. Persyaratan-persyaratan itu pun tak membuat gentar Dewi Gandawati, malah ia senang menjalaninya. Setelah merampungkan semedinya, akhirnya ia pun mengandung lagi dan Sembilan bulan kemudian sang permaisuri pun melahirkan seorang anak perempuan yang dinamakan Srikandi.

Setelah menginjak remaja, Srikandi tumbuh menjadi seorang putri yang tingkah polahnya mirip laki-laki, tomboi, kasar, tak suka bersolek namun tetap cantik jelita. Setiap hari Srikandi rajin berlatih kanuragan, memanah, adu kesaktian mirip apa yang dilakukan seorang ksatria pada umumnya. Dalam dunia wayang tentu hal itu tidak lazim dilakukan sebagai seorang putri kerajaan. Namun Srikandi bukan seorang putri biasa yang selalu bersolek, takut darah, manja dan bertekuk lutut terhadap kejantanan laki-laki. Ia menembus batas tradisi kaum hawa pada umumnya dan tak peduli dengan rumor mengenai dirinya.

Semakin hari nama Srikandi menjadi bahan perbincangan dari berbagai bangsa di dunia wayang. Ia Seorang putri kraton yang lain daripada yang lain. Rupanya, ketersohoran Srikandi mengundang seorang raja Jungkungmardeya dari negeri Paranggubarja, ia adalah seorang raja bangsa Gandarwa yang sangat rupawan. Raja bangsa Gandarwa itu hendak melamar Srikandi, kalau lamarannya ditolak Jungkungmardeya akan membuat geger tanah kerajaan Pancala. Raja bangsa Gandarwa pun tak segan-segan meratakan kerajaan Pancala dengan tanah serta menghabisi seluruh rakyatnya dengan darah. Tentu raja Drupada merasa sedih mendengar ancaman dari raja Jungkungmardeya yang sakti mandraguna, ia tak bisa berbuat apa-apa sebagai seorang raja, dan hanya berharap Srikandi menerima lamarannya, dengan demikian putri kesayangannya itu telah meyelamatkan kerajaan Pancala dan rakyatnya, dari dur angkara murka raja Jungkungmardeya.

Menerima ancaman itu pun Srikandi tak gentar, keputusan pernikahan tentu ada ditangannya. Ia bukan wanita yang mudah dialih tangankan apalagi dijamah seorang raja yang tak mengenal susila dan tatakrama, Namun ia pun tetap sedih, tiap hari merenung, memikirkan cara yang terbaik untuk membebaskan lamaran dan ancaman dari raja angkara murka Jungkungmardeya. Saat itu raja bangsa Gandarwa itu sedang menginap di Pancala menunggu keputusan Srikandi bersedia dijadikan permaisurinya dan siap diboyong menjadi ratu para Gandarwa di negeri Paranggubarja.

Secara diam-diam, Srikandi keluar dari kerajaan di malam hari melintasi hutan angker nan bahaya, banyak binatang buas dan bangsa raksasa yang siap memakan korban manusia, namun dengan ketangkasannya, Srikandi membunuh binatang buas dan bangsa raksasa yang menghalangi jalannya satu demi satu, akhirnya tiba di Madukara tempat tujuannya dengan tubuh berlumuran darah. Tentu saja Ia bukan hendak melarikan diri dari masalah, namun ia mundur sementara untuk menyusun kekuatan, lalu maju untuk mengusir kesewenang-wenangan raja bengis Jungkungmerdeya.

Di Madukara, Srikandi meminta kepada Arjuna (kakak iparnya) untuk mengajarinya memanah dan mantra-mantra sakti. Srikandi pun berlatih olah kanuragan dengan sungguh-sungguh, begitu juga dengan Arjuna mengajarinya dengan senang hati. Nah, saat mereka berlatih olah kanuragan, timbul benih-benih katresnan (asmara) di antara keduanya. Yang kelak Srikandi menjadi salah satu istri Arjuna.

Setelah cukup ilmu kanuragan, Srikandi kembali ke negerinya, ia pun dengan sangat mudah melenyapkan para Gandarwa dengan jemparing panahnya, para musuhnya mati mengenaskan satu demi satu dan raja Jungkungmerdeya terbunuh atas bantuan dari Arjuna.

Tak lama kemudian, benih-benih cinta yang timbul saat berlatih kanuragan di Madukara, akhirnya akan menjadi nyata. Arjuna melamar Srikandi untuk dijadikan istrinya, tentu Srikandi merasa gembira tiada tara, seorang kesatria rupawan yang selama ini dirindukan siang dan malam, akhirnya datang melamar juga. Meskipun demikian, ia tak langsung menerima begitu saja, Srikandi mengajukan syarat kepada Arjuna sebelum memiliki dirinya sepenuhnya, yaitu Arjuna meski mencarikan seorang wanita pilih tanding untuk mengalahkannya. Srikandi ingin membuktikan bahwa di atas langit masih ada langit, serta ingin mengalahkan dirinya sendiri sebagai seorang ksatria wanita. Benar saja, Arjuna membawa seorang wanita pilih tanding yang bernama larasati untuk mengalahkan kedigdayaan Srikandi, dengan begitu, Srikandi menyerahkan jiwa raga sepenuhnya kepada Arjuna.

Dalam dunia wayang, terjadi sebuah peristiwa besar yaitu perang Bharatayuda. Perang ini terjadi antara Pandawa melawan Kurawa di mana keduanya sama-sama keturunan Bharata. Peperangan ini tak bisa dihindarkan lagi sejak Duryudana menolak perdamaian dari Pandawa dan menaboh genderang perang terhadap kerabatnya sendiri. Dalam perang besar itu, Srikandi berada dipihak Pandawa, bahkan ia dijadikan senapati perang Pandawa yang mempunyai tugas kusus membunuh Bisma, seorang kesatria Hastina yang tak terkalahkan kecuali dengan kedigdayaan Srikandi. Perang Bharatayuda juga bisa dinamakan perang karma, yaitu peperangan besar yang mengakibatkan banyak kematian sesuai ganjaran perbuatan yang dilakukan selama di dunia. Beberapa kesatria tewas mengenaskan sesuai dengan perbuatan tercela yang pernah dilakukannya. Hakekat perang Bharatayuda adalah menegakkan “Darma”, seorang kesatria ditugaskan untuk membrantas perbuatan angkara murka. Dan Perang ini pun dimenangkan oleh pihak Pandawa.

Cermin Kehidupan

Di dunia wayang layak dijadikan sebagai cermin kehidupan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pun mirip dengan kehidupan nyata. Berbagai macam pelajaran kehidupan seperti keserakahan, kekuasaan, kesetiaan, kebijaksaan, percintaan menjadi cermin diri agar kita bertindak lebih bijaksana. Keberadaan Srikandi misalnya, menjadi sebuah suri tauladan khususnya bagi kaum Hawa. Di mana kaum yang meski mewujudkan eksistensi sebagai manusia yang memiliki kedudukan yang sama terhadap kaum Adam, di tengah budaya patriarkhi dan feodal yang masih tersisa. seorang perempuan tak selalu berurusan dengan dapur, sumur dan kasur. Ia juga memiliki tanggung jawab dalam membangun dan membela bangsa dan negara.

Apalagi dalam era modern, semua ruang gerak semakin terbuka tergantung kapabilitas sebagai seorang manusia. Masa jahiliyah telah berlalu, masa kolonialisasi telah menjadi kenangan, dan zaman Siti Nurbaya pun sudah ditinggalkan. Tak ada alasan kuat untuk melakukan diskriminasi terhadap perbedaan jenis kelamin, warna kulit, ras, etnis dan bangsa. Semua sama kedudukan sebagai seorang manusia. Namun, kualitas manusia yang akan mewujudkan eksistensi tanpa pandang bulu baik dari kaum Adam maupun Hawa.

Konon, di negeri tetangga, seorang Srikandi (kaum hawa) pernah menduduki sebagai seorang presiden. Dan juga pernah ada seorang menteri yang berasal dari kaum Srikandi, memiliki kapabilitas yang diakui di seluruh dunia. Serta kuota parlemen berasal dari kaum Srikandi pula telah mencapai 30 persen. Nah, hal ini merupakan gejala positif yang tak hanya dipertahankan, namun juga ditingkatkan sebagai wujud kepedulian terhadap masa depan bangsa dan negara. Sebagaimana eksistensi Srikandi dalam dunia wayang sebagai suri tauladan kehidupan. Dengan begitu, kita berharap muncul Srikandi-Srikandi yang mampu membebaskan kegelisahan rakyat siang dan malam, menuju sebuah negeri gemah ripah lohjinawi, tenteram kertaraharja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s