Anas Urbaningrum


Tak disangka seorang yang masih sangat muda, Anas Urbaningrum, karir politiknya meluncur dengan cepat. Dalam kongres Partai Demokrat kedua, Ia mampu mengalahkan kedua rivalnya, Marzuki Ali dan Andi Malarangeng, dengan persaingan yang tak terlalu mengkawatirkan terhadap suaranya baik dalam pencoblosan putaran pertama maupun putaran kedua. Langkah politiknya kalem tapi pasti, kalau dalam dunia wayang ia seperti Arjuna. Kekalemannya ibarat air diam, tapi menenggelamkan.

Berbeda dengan rival satunya, Andi Malarangeng, ia begitu menampakkan ambisinya dalam memenangkan kongres Partai Demokrat kedua itu, dibuktikannya jauh-jauh hari sebelum pemilihan berlangsung, iklan-iklan di media mengenai pencalonannya menyerang bagai peluru yang ditembakkan ke semua rakyat, padahal kita tahu, bahwa kongres Partai Demokrat bukan untuk seluruh rakyat Indonesia, tapi hanya sekitar 500an kader Partai Demokrat, bukan yang lain lagi. Ia pun mengeksploitasi kebesaran SBY, seorang presiden yang kharismanya semakin meredup seiring dengan gejolak pelik permasalahan di Republik ini. Ibas, putra bungsu SBY mendukungnya, dengan kata lain SBY berada di pihaknya. Ternyata politik citra tak selamanya membawa keberuntungan. Walhasil, Dr Ilmu politik itu tersingkir pada putaran pertama. Rival berikutnya adalah Marzuki Ali, mantan Sekjen Partai Demokrat yang kini menjabat sebagai ketua DPR RI, gerakan politiknya sopan, kalem tapi jauh-jauh hari ia justru bukan seorang kandidat yang diunggulkan pada kongres meskipun saat itu memiliki potensi besar seperti kandidat lainnya. Dan saya kira bukan momentumnya lagi untuknya. Apalagi setelah mengamati gaya kepemimpinannya pada sidang DPR/MPR yang tengah membahas penyelesaian kasus skandal Bank Century berakhir dengan ricuh.

Terpilihnya Kaum Muda
Terpilihnya Anas berarti memberikan makna penting terhadap politisi muda. Apalagi selama beberapa periode dominasi politisi tua begitu kuatnya seakan-akan tak memberi kesempatan terhadap kaum muda. Tapi kongres partai demokrat memecahkan kebekuan itu semua. Terpilihnya Anas bisa memberikan angin kehidupan terhadap kaum muda lainnya, bahwa politisi muda sangat berpotensi menduduki posisi strategis tanpa harus menunggu berusia tua. Apalagi Partai Demokrat sebagai sebuah partai yang cukup baru terjun dalam panggung politik di Republik ini, tentu menjadi ikon buat partai-partai yang lainnya.

Anas meski membuktikan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin muda yang diperhitungkan oleh kalangan manapun, tanpa harus bersembunyi di balik kebesaran ketokohan seorang SBY. Dan SBY pun selama masa pemerintahan Indonesia bersatu jilid 2 masih mendominasi Partai Demokrat, bagaimanapun ia adalah founding father tak mudah dipisahkan dengan partai ini. Sederhananya SBY adalah Partai Demokrat atau Partai Demokrat adalah SBY.

Anggapan selama ini politisi muda cenderung gegabah dalam bersikap tak akan selamanya benar. Anas pun saya kira sangat berpotensi memberikan tauladan politik lain dari kebiasaan persepsi para politisi tua. Justru politisi muda seperti Anas, memiliki energi dan waktu yang lebih dan panjang dalam membangun karir pilitik baik untuk individual maupun bangsa ke depan. Faktor usia muda pun meski akan menunjang gagasan-gagasan yang lebih segar demi terciptanya perubahan secara radikal terhadap kesemrawutan yang dialami Republik ini.

Pemilu 2014
Meskipun terdengar begitu pagi membahas mengenai pemilu 2014, tapi terpilihnya Anas sangat berpotensi menuju ke sana. Apalagi dalam pemilu 2014 SBY tidak bisa mencalonkan kembali, maka kongres Partai Demokrat yang kedua ini selain menentukan seorang ketua umum partai juga seorang calon presiden dari Partai Demokrat yang harus diusung bersama-sama. Dan Anas sangat berpotensi menuju ke sana.

Selama periode kepemimpinannya, Anas meski mensejajarkan diri bersama kandidat-kandidat berpotensi dari partai besar lainnya seperti Aburizal Bakrie, Megawati, Hata Rajasa dan tokoh-tokoh potensial lainnya. Memang Anas sebagai yunior tapi ia meski menampilkan diri seorang politisi yang setidaknya setingkat khususnya dipandang dari kapabilitas dan intregritas seorang pemimpin.

Dalam situasi demikian, Anas meski menyumbangkan gagasan-gagasan berbeda, kalau tidak maka tak ada perubahan dengan kongres sebelumnya. Ia pun juga perlu membuktikan representasi politisi muda selain energinya masih kuat dan juga gagasan-gagasannya segar dan memecahkan kebekuan di Republik ini. Gerbang pemilu 2014 telah dibuka lebar-lebar untuk Anas Urbaningrum, tergantung sikap politisi muda itu, apakah ia akan memasukinya atau malah menutupnya kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s