Kurawa


Dalam dunia wayang, Kurawa selalu diidentikan dengan tingkah polah jahat, tidak sopan, licik, kejam dan pendendam, sebaliknya Pandawa selalu diidentikan dengan baik, sopan santun, ramah dan baik budi pekertinya. Memang semua itu tidak salah, namun setidaknya dari beberapa kurawa ada yang memiliki karakter yang mulia misalnya Duryudana adalah seorang anak sulung yang bertanggung jawab terhadap adik-adiknya, Citraksa dan Citraksi mempunyai sifat yang sopan santun dan mau belajar.

Karakter buruk yang dimiliki oleh kurawa, tentu ada yang melatarbelakanginya alias tidak datang begitu saja dari langit (takdir). Pada mulanya, Destarastra sebagai anak sulung sangat kecewa terhadap keputusan Abiyasa (bapaknya), karena tahta kerajaan diserahkan kepada Pandu (adiknya). Memang keputusan Abiyasa tidak bisa disalahkan mengingat Destarastra adalah seorang buta, kurus dan lemah. Sementara Pandu adalah sosok yang tampan, gagah, cerdas dan sakti mandraguna. Dilihat dari masa depan kerajaan Hastina(pura), kebijakan Abiyasa sangat tepat namun sebaliknya dilihat dari silsilah keturunan tentu mengecewakan Destarastra, sebagai putra sulung mahkota kerajaan Hastinapura, semestinya ia berhak menggantikan ayahnya yang sudah melepaskan tahtanya.  Dimana Abiyasa juga tidak mempunyai gairah menjadi seorang raja, ia lebih senang hidup menyepi dan semedi jauh dari keramaian. Maka ia pun mewariskan kedudukannya kepada salah satu anaknya. Nah, menurut Abiyasa, masa depan Hastinapura diserahkan kepada Pandu merupakan solusi terbaik.

Kekecewaan Destarastra berujung saat istrinya, Dewi Gendari sudah sekian lama mengandung tidak juga segera melahirkan. Nah, pada saat usia kandungannya sudah 2 tahun, Dewi Gendari sudah merasakan ada gejala-gejala akan melahirkan, dengan dibantu dua orang dukun beranak dan para dayang istana, setelah Dewi Gendari berjuang setengah mati untuk mengeluarkan isi di dalam perutnya, ternyata yang keluar bukan seorang bayi, akan tetapi daging besar warna merah yang masih basah. Melihat kenyataan itu, Destarastra dan semua yang ada di kamar persalinan terkejut bukan alang kepalang, ia seakan tidak menerimanya, kemudian mencoba menyentuh daging besar merah itu, tiba-tiba daging itu lebur menjadi berkeping-keping, puluhan keping jumlahnya, sebagian berserak di lantai, sebagian sampai terlempar menempel di dinding kamar itu dan sebagian lagi menempel di meja dan tempat tidur Dewi Gendari. Ajian luar biasa lebursaketi ternyata telah membuat onggokan daging itu luluh lantak menjadi serpihan-serpihan yang berjumlah seratus dengan sekali sentuhan. Kemudian atas saran dari Bisma (pamannya), semua untuk meninggalkan kamar persalinan itu.

Selama tujuh hari kamar tempat Dewi Gendari melahirkan dibiarkan begitu saja tanpa seorang pun berani memasukinya apalagi membersihkan serpihan-serpihan daging yang berserakan di kamar itu. Nah, ternyata hari ke tujuh serpihan-serpihan daging yang berserak di kamar itu menjadi bayi yang berjumlah seratus. Tentu semua terkejut dan tak mengira, atas perintah Bisma agar bayi-bayi itu dimandikan dan dirawat sesuai bayi pada umumnya. Semua bayi yang berjumlah seratus itu adalah Kurawa.

Tak lama kemudian Destarastra memutuskan untuk hijrah bersama bayi-bayinya menuju padepokan bekas Begawan Palasra di Gajahoya, kemungkinan besar alasan malu atau Destarastra sudah tak tahan lagi berada di Hastinapura. Di tempat pengasingan itu Destarastra dan Dewi Gendari membesarkan seratus bayi yang terdiri dari 99 bayi laki-laki dan 1 bayi perempuan. Duryudana adalah anak sulung dan Dursilawati adalah satu-satunya anak perempuan. Mereka dibesarkan dalam kondisi yang kurang bersahabat, tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya dan lingkungan yang bebas. Destarastra sebagai seorang ayah hanya menghabiskan hidupnya dengan melamun dan termenung, kurang peduli terhadap pertumbuhan anak-anaknya. Sementara Dewi Gendari hanya bersolek sesuka hatinya, ia pun tanpa peduli terhadap anak-anaknya termasuk putri satu-satunya, Dursilawati, yang membutuhkan belaian kasih sayang ibunya di tengah-tengah saudaranya yang berjenis kelamin laki-laki.

Duryudana adalah anak pertama yang diberikan wewenang untuk bertanggung jawab terhadap seluruh adik-adiknya dalam pendidikan, moral, mental dan tingkah laku adik-adiknya. Oleh karena itu ia begitu dihormati oleh adik-adiknya.

Di tengah-tengah lingkungan yang serba bebas tak terkendali, para Kurawa tinggal. Mereka ketika menginjak dewasa menjadi orang yang kurang beretika, bertindak semaunya, suka menggoda perempuan dan mencuri barang milik orang lain. Satu-satunya yang bisa mengendalikan kebringasan mereka (Kurawa) adalah Duryudana. Namun ia seorang kakak yang terlalu memanjakan adik-adiknya bahkan saat adik-adiknya jelas-jelas melakukan kejahatan pun ia bela mati-matian.

Sebelum bergabungnya Sengkuni, yang posisinya sebagai seorang paman para Kurawa. Duryudana masih mengajarkan adik-adiknya secara benar. Namun setelah Sengkuni bergabung dan selalu membisikkan kelicikan, kejahatan dan dendam, maka seluruh Kurawa menjadi brutal dan jahat. Bahkan dari bisikan jahat sengkuni yang selalu ditiupkan ke telinga Duryudana, salah satu dari sekian penyebab yang melatarbelakangi terjadinya perang Baratayudha.

Oleh karena itu, sifat buruk yang dimiliki Kurawa tak datang begitu saja dari langit, akan tetapi dipengaruhi lingkungan dan pergaulan mereka. Seandainya Pandawa mengalami seperti apa yang terjadi pada Kurawa, tidak menutup kemungkinan mereka bisa berpotensi lebih brutal daripada Kurawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s