Politisasi Artis


Belakangan ini panggung politik nasional semakin menghangat. Hal itu disebabkan beberapa artis ibukota satu demi satu berbondong-bondong mulai memasuki gerbong politik yang disetir oleh para politisi nasional. Tidak menutup kemungkinan besar dipicu oleh beberapa artis yang telah sukses melenggang kangkung di dunia politik. Artis-artis yang sudah tidak asing lagi seperti Dede Yusuf, Qomar, Tere, Marisa Haque, Adji Masaid, Angelina Sondakh, Reny Jayusman, Eko Patrio dan lainnya di mata publik menampakkan kesuksesannya sebagai profesi seorang politisi dan wakil rakyat yang acapkali diekpos oleh media. Publik pun memberikan kesan kepada mereka merupakan seorang artis cerdas yang membidangi berbagai macam profesi termasuk politisi.

Di sudut lain, publik menyadari bahwa kapabilitas seorang artis tentu tidak sama dan tak bisa dipukul rata. Tak cukup dengan menyandang popularitas belaka untuk mengantarkan mereka menuju gerbong kekuasaan, namun juga penjiwaan seorang pemimpin muski dimiliki. Publik pun juga tak ragu saat artis memiliki persyaratan di atas, namun yang masih mengganjal bagi para artis yang tidak memiliki sedikitpun jiwa kepemimpinan mencoba memasuki gerbong kekuasaan. Yang lebih mengherankan lagi, para politisi dengan tanpa ragu menyeret mereka menuju gerbong politik. Wajar saja mereka (para artis) merespon dengan antusias.

Sikap para politisi partai yang menyeret para artis ibukota pun perlu dipertanyakan keikhlasannya. Apakah mereka benar-benar sudah mempertimbangkan segala konsekuensinya, atau mereka hanya menjadikan artis sebagai media politik menuju gerbong kekuasaan belaka. Untuk menuju perubahan, tentu tidak semudah membalik kedua telapak tangan, apalagi mengambil cara-cara instan yaitu menarik para artis sensual yang jelas-jelas diragukan kapabilitasnya. Tuduhan ini tentu saja buat mereka terlalu tergesa-gesa dan berlebihan, selain itu juga belum ada bukti.

Citra Artis

Dilihat dari sudut pencitraan, seoarang artis memiliki wajah yang telegenic atau camera face dalam televisi, meskipun tak ada jaminan bahwa wajah camera face kadang dalam kenyataannya tidak seindah tampilan di layar kaca. Oleh karena itu seorang artis selain tampil karena kemampuan dalam bidang tertentu, juga dibesarkan oleh citra yang dibentuk oleh media. Lain lagi di era orde baru, artis hanya dijadikan sebagai gula-gula atau pemanis di dalam kampanye untuk menarik massa belaka, artis dimanfaatkan sebagai media penghibu untuk  para simpatisan dalam acara-acara partai politik (kampanye) yang menghadirkan massa sangat besar.

Belakangan ini pun para politisi memunculkan artis sensual yang tak tanggung-tanggung lagi yaitu, Julia Perez dan Maria Eva. Berbagai sikap pro dan kontra dari masyarakat mulai membanjiri isu-isu politik seiring dengan sikap pencalonan mereka. Bagi mereka yang pro terhadap pencalonan para artis disebabkan oleh beberapa alasan berikut ini. Pertama, publik sudah mengenal mereka. Kedua, kemungkinan besar mereka tak akan korupsi, mengingat mereka sudah berhamburan uang. Ketiga, ada hubungan emosional yang sangat dekat antara artis dengan masyarakat. Keempat, para artis bersedia berkorban baik materi maupun immateri. Kelima, mereka mudah dijadikan alat kekuasaan. Sedangkan bagi mereka yang kontra, artis hanya bermodalkan popularitas semata, tanpa memiliki krebilitas kepemimpinan apalagi menjiwainya. Dan mereka pun yakin para artis tak akan melakukan perubahan apapun bahkan cenderung merusak tatanan yang telah ada.

Gagalnya kaderisasi

Diseretnya artis menuju gerbong kekuasaan pun menurut beberapa pengamat politik karena adanya kegagalan dalam kaderisasi politik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa dari mereka tidak melakukan perubahan dan cenderung malah korup. Dengan menghadirkan para artis maka para politisi tidak begitu susah menggenjot popularitasnya, serta para artis pun bersedia berkorban tak kalah dengan kader politik sesungguhnya.

Selain itu kaderisasi yang jauh-jauh hari dilakukan ternyata kurang begitu mengena di hati rakyat, hal itu bisa dibuktikan beberapa kader terbaiknya gagal dalam pencalonan. Bahkan sebagian publik memberikan labelitas kepada para politisi dengan sangat negatif. Maka alternatif lainnya yaitu menyeret artis untuk dimasukan menuju gerbong politik kekuasaan.

Namun bukan berarti hijrahnya artis menuju gerbong kekuasaan berjalan mulus, Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi begitu keras melontarkan kritik terhadap salah satu artis, yakni syarat utama seorang kandidat mesti terbebas dari penyakit moral dan spiritual. Secara tidak langsung sudah menjegal pencalonan mereka.

Bagaimanapun juga demokrasi tidak pernah membeda-bedakan moralitas, etnisitas, kredibilitas dan integritas seorang kandidat. Semua yang merasa warga Negara Indonesia berhak untuk memilih dan dipilih. Suara rakyat adalah suara Tuhan menurut demokrasi. Dan rakyatlah yang akan menyeleksi kelayakan seorang artis memasuki kekuasaan sesungguhnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s