Perselisihan Pasca Wafatnya Nabi


Sepeninggal Rasulullah SAW, kaum muslimin mengalami goncangan yang luar biasa. Nabi Muhammad yang selama hidupnya dijadikan sandaran baik saat suka maupun duka oleh para sahabat ternyata telah dipanggil oleh kekasihnya, Allah SWT. Peran Nabi untuk umatnya tak akan pernah tergantikan sampai akhir kehidupan.

Saat berita wafatnya Nabi menyebar di tengah-tengah kaum muslimin, Umar Bin Khattab salah seorang sahabat dekat Nabi merasa tergunjang jiwanya dan bahkan tak mengakui kebenaran berita itu. Namun setelah melihat realitas, akhirnya Ia pun mempercayai bahwa Nabi telah wafat untuk menghadap kekasihnya Allah SWT.

Wafatnya Nabi menjadikan kaum Muhajirin dan Anshor dengan segera untuk menentukan khalifah sebagai pemimpin kaum muslimin pasca Nabi. Sebelum jenazah Nabi disemayamkan. kaum muhajirin dan Anshor sudah mulai berselisih untuk menunjuk jabatan khalifah dari kaumnya masing-masing. Bahkan mereka hampir terjerumus kedalam pertumpahan darah sesama kaum muslimin. Melihat kondisi yang sudah mulai carut-marut, maka Umar Bin Khattab membicarakan masalah ini di tengah-tengah kaum muslimin dan meminta Abu Ubaidah membentangkan tangannya untuk dibaiat sebagai khalifah. Namun Abu Ubaidah tak menyetujuinya.

Setelah mendengar berita bahwa kaum Anshor dan Muhajirin sudah tak terkontrol lagi, Umar mengutus orang untuk memanggil Abu Bakar yang saat itu sedang sibuk mengurus jenasah Nabi untuk segera datang di tengah-tengah kaum muslimin yang sedang berselisih. Sementara itu, kaum Anshor sudah sepakat menentukan khalifah dari kaumnya, dan seandainya tidak disetujui dari kaum Muhajirin maka mereka harus keluar dari kota Madinah. Tentu saja hal itu tak disetujui oleh kaum Muhajirin, mereka mengatakan bahwa Nabi berasal dari kaum Muhajirin maka selayaknya yang jadi khalifah penggantinya juga harus dari kaumnya.

Melihat perselisihan yang semakin memanas, Abu Bakar segera mengambil kebijakan dengan menunjuk Umar Bin Khatab dan Abu Ubaidah untuk membentangkan tangannya dan kaum muslimin diminta untuk memilih dari kedua orang ini menjadi khalifah. Namun Umar Bin Khatab justru meminta balik kepada Abu Bakar segera membentangkan tangannya untuk dibaiat sebagai khalifah dan akhirnya seluruh kaum Muhajirin dan Anshor yang terlibat perselisihan itu sepakat untuk membaiat Abu Bakar Asssidiq menjadi khalifah pengganti Rosulullah.

Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah disebabkan karena ia salah satu sahabat terdekat Nabi, selain jujur, amanah dan cerdas, Abu Bakar lah yang memimpin sembahyang saat Nabi berhalangan.

Dari peristiwa di atas memperlihatkan bahwa perselisihan bisa terjadi kapanpun dan di manapun termasuk dialami oleh para sahabat. Selain sifat egoisme kelompok dan kepentingan, mereka secara tak sadar sudah terjebak kedalam dunia politik dan tentu cenderung akan mementingkan kelompok atau golongannya masing-masing. Sedangkan Nabi merupakan sosok pemimpin kharismatik yang tak tertandingi. Oleh karena itu, pasca wafatnya Nabi kita tidak menemukan pemimpin yang bisa menyatukan seluruh kaum muslimin. Bahkan sampai kini umat sudah terpecah menjadi berbagai macam golongan.

Di Era para sahabat saja sudah berselisih dalam urusan politik dan nyaris terjadi pertumpahan darah, padahal Nabi pernah mengatakan bahwa di masa sahabatmerupakan umat terbaik setelah massanya, bagaimana dengan masa umat yang sudah jauh meninggalkan masa Nabi. Wallahu a’lam bissowab

2 thoughts on “Perselisihan Pasca Wafatnya Nabi

  1. kenabian itu yang berhak memilih adalah Alloh,bukan manusia’.. nah! yang pantas memilih holifah pun seharusnya Alloh, bukan para sahabat,karena kekalifahan adalah penerus risalah nabi,untuk memelihara agama Alloh dari tangan tangan kotor yang tidak menghendaki agama islam mewarnai bumi ini.. anda harus memahami?? bahwasanya kenabian kerasullan kekhalifahan adalah mutlak urusan Alloh tida ada yang berhak campur tangan didalam pemilihannya termasuk nabi sekalipun,nabi hanya skedar menyampaikan risalah yang di bebankan Alloh kepadanya. jika sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya,maka tunggu keruksakannya… sekarang islam itu cuma nama doang, wujud nyatanya tida ada, mengaku ahlusunah tetapi hukum hukum ALLAH tida di jalankan sebagaimana mestinya,saya heran/ apakah orang orang yang mengaku umat nabi muhamad itu merasa yakin, bahwa mereka akan mendapat syapa’at nabinya di yaumil ahir? saya tida yakin,bagai mana mungkin orang yang telah mematahkan tulang iga fatimah akan terbebas dari murka Allah dan rosulnya.. apakah pantas orang orang yang telah menyakiti fatimah- menjadi amirul mukminin.? apakah pantas orang orang yang telah meninggalkan nabi waktu perang uhud dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh oleh musuh..lalu dia enek enekan menggantikan nabi sebagai kholifah. apakah pantas orang orang yang telah merencanakan makar dimuka bumi, membunuh hasan memebunuh husain dan keturunannya mendapat gelar rodiayalloh hu anhum… assalam…

    • sahabatku, kebijakan, kemurahan dan Kebaikan Nabi itu tidak bisa disamakan oleh manusia biasa seperti kita. ketika Nabi disakiti, diludahi dan dihina oleh kaum kafir, Beliau pun tiada dendam bahkan mendoakan anak cucunya agar tidak mengikuti jejak keturunanya.
      janganlah berburuk sangka, Para sahabat itu juga cinta Nabi dan begitu sebaliknya,serta para khalifah pengganti Nabi sudah dipilih Allah SWT.karena semua kehendakNya. Insyaallah, seluruh umat muslim akan memperoleh syafaat di yaumil akhir. amien….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s