Kerbau SiBuYa


Hidup di tengah-tengah sistem demokrasi memang semestinya dibutuhkan sikap yang berjiwa besar. Saran dan kritik akan selalu menghiasi warna-warni demokratisasi yang selalu dikedepankan serta menjadi sebuah legitimasi mutlak dalam penyampaian pesan. Berbagai macam kritik memalui simbol-simbol yang diangkat dari panggung demonstrasi massa, dan demokrasi pun menuntut hal itu. Perbedaan cara memaknai hal yang sangat wajar meskipun ada muatan politik yang menungganginya.

Hadirnya kerbau SiBuYa di tengah-tengah demonstrasi massa yang menuntut pertanggungjawaban kinerja 100 hari pemerintahan SBY-Budiono─mengundang simbol yang bisa dimaknai berbagai multi tafsir. SBY mengeluh dan kecewa terhadap para demonstran kenapa kerbau dibawa-bawa ke arena unjuk rasa. Tersinggung keberadaan kerbau yang bernama SiBuYa memberikan makna khusus untuknya─ bahwa SBY disimbolkan seperti kerbau, SBY bodoh, SBY lamban dan citra-citra negatif yang kontras dengan citra yang membuat ia jadi seorang Presiden. Sederhananya, SBY menuntut moral mereka.

Seandainya hal itu terjadi di era sebelumnya, tentu tak akan diekspos media, serta dituntut pelakunya dijerat pasal yang menyatakan tindakan makar bahkan pelakunya tak akan bisa menghirup udara segar di pagi hari lagi.

Namun sekarang bukan era sebelumnya, Era Reformasi yang dikumandanglan oleh para Reformis 12 tahun yang lalu begitu merubah konsep dan cara memaknai demokrasi di negeri ini. Binatang kerbau pun ikut terlibat memeriahkan demokratisasi, menuntut kegagalan kinerja 100 hari pemerintahan SBY-Budiono.

Tak hanya itu saja, setelah SiBuYa sukses mengundang perhatian publik, unjuk rasa berikutnya melibatkan 2 ekor kambing bertopeng pejabat negara yang dituntut dan dicurigai bertanggung jawab terhadap skandal Bank Century. Nampaknya 2 ekor kambing itu juga tak mendengarkan keluhan Presiden sebelumnya. Unjuk rasa tetap berjalan.

SiBuYa dan 2 ekor kambing itu ikut menyuarakan jeritan rakyat kelaparan, kemiskinan, kesenjangan yang sampai saat ini masih terjadi. Mereka seolah tidak bisa menerima keadaan carut-marut di negerinya yang penuh dengan kebohongan para maling uang rakyat. Nah, di sinilah demokrasi menghadirkan warna-warni simbol pesan yang selama era sebelumnya dikubur dalam-dalam.

Rakyat begitu berharap akan adanya perubahan yang selalu dijanjikan oleh SBY saat pemilu-pemilu yang lalu. Mereka mengeluhkan SBY kenapa selalu memamerkan angka-angka keberhasilannya, padahal realitas masih berbicara tak ada perubahan sama sekali, rakyat masih menjerit, anak jalanan semakin bertambah, pengemis tak lelah-lelahnya meminta, BBM semakin lama semakin naik saja dan kesenjangan sosial semakin kentara.

Sedangkan keberhasilan angka-angka yang selalu dipamerkan hanya sebuah artifisial belaka, dan itu untuk apa? Kalau SBY saja sering mengeluh, lantas kita mengeluh pada siapa?

Keluhan-keluhan itu akan selalu disuarakan selagi masih belum ada perubahan sampai ke akar-akarnya. Dan mungkin sepanjang sejarah unjuk rasa di negeri ini, baru kali ini seekor kerbau mengeluh dan terlibat menuntut kinerja pemerintahan. SiBuYa menjadi pemicu dan bisa mengundang teman-temannya yang lain turun ke arena panggung demokrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s