Demokrasi Itu Mahal


Demokrasi merupakan suatu sistem yang sampai kini masih diidolakan oleh mayoritas negara-negara di pelosok dunia. Kata “demokrasi”pun menjadi mantra sakti bagi siapapun dari politisi, negarawan, kandidat sampai orang biasa. Bahkan bagi seorang kepala negara pantang menghindari kata demokrasi, meskipun dalam setiap kebijakan yang diambil cenderung totaliter

Tak hanya diidolakan, ternyata harga sebuah demokrasi itu tak murah. Hal itu terbukti dalam setiap penyelenggarakan pemilu di suatu negara menghabiskan milyaran bahkan triliunan rupiah, hanya untuk menjalankan demokrasi secara prosedural semata.

Menurut prof Dr. Hafied Cangara, MSc dalam bukunya Komunkasi Politik, bahwa di Amerika Serikat untuk menjadi anggota kongres (DPR) pada tahun 1984, seorang kandidat yang menang rata-rata telah membelanjakan uangnya sebesar US$ 325.000 atau setara dengan Rp. 3.055. 000.000.00 (kurs Rp 9.400 th 2008) bahkan ada 10 anggota kongres pernah mengaku menghabiskan uang lebih dari US$ 1.075.495 atau setara dengan Rp 10.109.653.000,00 akan tetapi Senator Jesse Helms nominasi partai Republik dari North Carolina misalnya mengeluarkan uang sebanyak US$ 7,5 juta atau setara dengan Rp 75.500.000.000,00 dan Senator John Tower dari Texas menghabiskan US$ 4,3 juta atau setara dengan Rp. 40.420.000.000,00, untuk menjadi Gubernur, Jay Rockefeller, salah satu anggota terkaya di Amerika yang memiliki minyak standar oil menghabiskan US$ 12 juta atau setara Rp 112.800.000.000,00 sedangkan pemilu presiden AS tahun 2008, dana kampanye yang digunakan mencapai US$ 1,2 milliar setara dengan Rp 12,6 triliun.

Di Indonesia, pada pemilu 2004, PDI perjuangan di bawah kepemimpinanya Megawati yang saat itu menjabat sebagai Presiden, menyiapkan dana untuk kampanye sebesar Rp. 100 Miliar. Jika biaya kampanye yang dikeluarkan dikalkulasi dengan jumlah kursi yang diperoleh, PDI Perjuangan yang mengeluarkan dana sebesar Rp 89,2 miliar dengan perolehan 109 kursi, berarti nilai tiap kursi adalah Rp 477 juta. Partai Golkar dengan dana Rp 56 miliar memperoleh 128 kursi, nilai satu kursi ialah Rp 281 juta, sementara Partai Demokrat dengan dana sebesar Rp 9,5 miliar berhasil memperoleh 57 kursi, dengan demikian nilai satu kursi ialah Rp 140 juta. Dari gambaran ini bisa dianalisis bahwa PDI Perjuangan telah membelanjakan uang dengan sangat besar untuk satu buah kursi legislatif sementara Partai Demokrat membelanjakan harga yang lebih murah. Akan tetapi, strategi untuk mendapat kursi tidak selamanya dengan pengeluaran uang yang banyak meskipun rata-rata pengeluaran memang sangat fantastis.

Dana kampanye di atas, sebagian besar digunakan untuk sosialisasi partai politik khususnya untuk media televisi yang paling membutuhkan dana yang sangat fantastis. Mengingat jangkauan media itu sangat luas dan efektif dalam meyampaikan pesan-pesan politik kandidat. Selain itu juga melalui media radio, Koran, spanduk dan lainnya.

Nyaris tak bisa diterima logika, manakala seorang kandidat untuk menduduki anggota dewan tidak membutuhkan uang sepeserpun. Hemat saya, minimal ada dua syarat bagi seorang kandidat untuk menduduki kursi kekuasaan dalam sebuah Negara demokrasi, yaitu, uang dan popularitas. Ada uang tanpa punya popularitas akan sulit begitu juga sebaliknya. Tentu saja uang dan popularitas tak bisa menjamin 100% sukses menjadi anggota dewan, mengingat jumlah kandidat dibanding kursi yang disediakan tak sebanding.

Ternyata demokrasi yang diidolakan di seluruh pelosok dunia, cenderung elitis. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi kandidat. Padahal demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat serta dalam demokrasi menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) termasuk mencalonlan diri sebagai kandidat. Lantas bagaimana dengan orang yang punya potensi dan kapabilitas kepemimpinan namun mereka tak punya uang dan popularitas? Oleh karena itu, demokrasi belum tentu menghasilkan pemimpin yang mempunyai kapabilitas daripada yang lain, akan tetapi, hanya sebuah jabatan politis. Meskipun demikian, kita tetap bertanggung jawab untuk memilih seorang pemimpin yang terbaik. Bagaimanapun juga, demokrasi masih menjadi sistem yang terbaik daripada sistem lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s