Emak, Seorang Perempuan Perkasa


Emak, begitulah Daoed Joesoef dan kakak-kakaknya memanggil ibunya setiap harinya. Mereka begitu bangga dengan emak yang selalu memberikan kasih sayang, motivasi, filosofi kehidupan dan suri tauladan kepada anak-anaknya. Di tengah-tengah suasana kolonialisasi pemerintahan Hindia Belanda mayoritas penduduk pada umumnya pada terbakar kebencian tehadap imperialis, mengakibatkan penduduk pribumi tadak mau bersekolah milik orang-orang Belanda bahkan meniru-niru kebiasaan kaum imperialis pun diharamkan oleh mayoritas penduduk pribumi pada umumnya.

Meskipun demikian, emak tidak terjebak ke dalam gerbong fanatisme buta yang dialami oleh yang lainnya. Emak, sosok ibu yang sangat dinamis, dan mengerti apa yang harus diperbuat di tengah-tengah kesulitan imperialisasi terutama dalam memberikan petunjuk pada anak-anaknya. Hal itu terbukti misalnya emak dengan percaya diri mau belajar menaiki “kereta angin” di mana pada saat itu kendaraan yang beroda dua itu diharamkan oleh penduduk pribumi pada umumnya. Mengingat kereta angin merupakan kendaraan untuk nona-nona Belanda. Meskipun emak mendapat gunjingan dan gosip di sekitar warga kampung, namun usaha agar bisa menaiki kereta angin tetap dijalankan dengan tekun tanpa peduli sedikitpun segala gunjingan warga sekitar rumah,  alhasil emak adalah orang pertama kali yang bisa menaiki kereta angin di kampung itu.

Di lain kasus, emak juga sosok perempuan yang sangat peduli terhadap pendidikan khususnya buat anak-anaknya. Emak berpendapat bahwa kalau ingin keluar dari imperialisasi maka penddikan harus dicapai setinggi tingginya tanpa membedakan warna kulit bahkan kita harus belajar dari mereka. Bahkan emak dengan tegas membantah persepsi masyarakat pada umumnya yang mengharamkan melanjutkan pendidikannya ke sekolah Belanda. Kata emak, “ bukankah saat Rosullullah mau membebaskan para tawanan perang badar dengan syarat mereka harus mengajari baca tulis kepada kaum muslimin pada saat itu. Padahal pembebasan tawanan yang berlaku ketika itu di antara kelompok-kelompok yang berperang adalah tebusan berupa 100 ekor Unta atau uang sebanyak 400 Dirham, yaitu sepadan untuk biaya makan seorang selama 30 tahun.” Begitulah argumen emak.

Tak hanya seorang ibu yang keras usaha dan menjunjung pendidikan. Daeod Joesoef juga memaparkan bahwa emak ternyata memahami ide-ede kemerdekaan dan kenegaraan di tengah-tengah kebodohan masyarakat. Hal itu dibuktikan dalam sebuah diskusi dengan sosok pemuda yang indekos di rumahnya yang akrab dipanggil dengan mas Singgih. Mas Singgih merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan Jawa yang berpetualang di pulau Sumatera untuk berjuang menyebarkan ide-ide kemerdekaan di tengah-tengah ketidaksadaran dan ketidakberdayaan masyarakat pribumi. Di setiap diskusi bersama dengan mas singgih, emak selalu memperhatikan baik-baik dan tak mau ketinggalan dengan yang lainnya dari setiap gagasan perjuangan yang dipaparkan oleh mas singgih. Emak begitu larut dalam suasana diskusi dan ia sesekali bertanya kritis gagasan-gagasan kebangsaan dan kemerdekaan baik dari mas singgih sendiri maupun dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan lainnya melalui penjelasannya. Misalnya dalam sebuah diskusi tentang peran agama dalam perjuangan. Emak berpendapat bahwa semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan yang serba baik bagi kehiduan ini. Bahkan tidak hanya terbatas pada hubungan antara sesama manusia, tetapi meliputi perlakuan khalifah Tuhan ini terhadap makhluk binatang  dan sikapnya terhadap alam sebagai keseluruhan. Maka alih-alih saling berebut menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masing, saling menyombongkan kelebihan agama masing-masing, saling memamerkan bentuk-bentuk keimanan  masing-masing, para penganut agama lebh baik membuat agamanya seperti garam saja, lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan manfaatnya  serta ketepatan pemerataannya tanpa kelihatan sedikitpun kehadirannya. Bukankah setiap agama seharusnya menjadi rahmat bagi kita semua. Jadi kalau Islam mau dibuat maslahat bagi manusia, janganlah ia disendirikan bagai garam dalam botol Arab yang pantang disentuh, namun dibiarkan lebur menyatu dengan semua bahan yang membuat makanan sempurna lezat. Begitulah gagasan emak tentang peran agama memaknai sebuah perjuangan.

Perempuan mewarnai rumah tangga

Sekali lagi, Daoed Joesoef mengangkat keperkasaan seorang perempuan (emaknya) yang digambarkannya. Begitu ikut andil khususnya dalam mewarnai kehidupan keluarga. Apalagi untuk kontek kekinian, dalam kehidupan rumah tangga sosok ibu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan rumah tangga. Realitas mengatakan, bahwa seorang ibu jauh lebih dekat dengan anak-anaknya, dari lahir anak diasuh, dididik dan dibesarkan di atas pangkuan ibu. Oleh karena itu, ibulah yang membentuk kepribadian seorang anak.  Ibu juga mempunyai peran yang besar untuk mengarahkan anaknya sesuai dengan kehendaknya. Maka untuk sepanjang zaman, dibutuhkan seorang ibu yang cerdas, dinamis, dan komunikatif dalam mewarnai kehidupan sebuah keluarga khususnya membentuk anaknya menjadi generasi yang unggul. Salah besar kalau menjadi ibu rumah tangga mudah dan tak harus berpendidikan.

Untuk kontek kekinian, nyatanya mayoritas seorang perempuan mengabaikan nilai-nilai yang harus dipenuhi sebagai seorang ibu rumah tangga. Bahkan ibu rumah tangga itu identik kurang cerdas, tak bisa bersaing di luar rumah dan malas bekerja.  Sedangkan mereka lebih dominan untuk berkarir di luar rumah tanpa peduli kehidupan rumah tangganya.

Meskipun tampak terdengar sederhana menjadi seorang ibu rumah tangga yang siaga,  namun untuk mencapai tingkat kepuasan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik diperlukan pengalaman, kecerdasan, dan bertanggung jawab. Saya begitu kagum saat membaca tulisan-tulisan Ade (seorang mahasiswi) yang penuh imajinasi dan hikmah dari setiap coretan di blog pribadinya (www.rinduku.wordpress.com) bahkan setiap tulisan yang dimuat di blog pribadinya berbagai kalangan merespon dan berkomentar tak kurang dari ratusan komentar. Lantas apa keterkaitannya dengan Ade, seorang perempuan yang lihai menulis itu? Ternyata impiannya bukan menjadi wanita karir atau artis ngetop namun ia menginginkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan melahirkan anak-anak yang cerdas, tangkas dan unggul.

Begitu juga dengan emak, ia telah sukses mendidik anak-anaknya “Daoed Joesoef telah berhasil meraih gelar doktor di Sorbonne dan menjadi seorang menteri pendidikan di era pembangunan VIII di pemerintahan Orde Baru. Ia pun selalu mengingat nasehat-nasehat maupun petuah petuah bijak emak dalam setiap langkahnya.  Karena didikan emaklah ia menjadi orang yang sukses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s