Sudahkah Kita Merdeka?


benderaTak ada lagi kata teriakan serang, Allahu Akbar, hidup atau mati dan teriakan-teriakan perjuangan yang menggelora lainnya seperti saat masa kolonialisme mencengkeram negeri tercinta ini selama 350 an tahun. Tentara Belanda, Portugis dan Jepang sudah tak lagi menjajah Indonesia. Berkat para pahlawan kita yang gigih memperjuangkan Indonesia merdeka dengan ikhlas dan rela mati layak kita apresiasi seluruh pengabdiannya untuk negeri ini. Mereka menanggalkan egosentrisme golongan mengedepankan kepentingan bangsa untuk berdaulat tanpa keterkekangan dari bangsa lain.

Sekali lagi, Kemerdekaan itu telah diperjuangkan dengan pengorbanan harta, darah dan nyawa. Bukan hasil dari pemberian belas kasih sang penjajajah, tapi dari usaha para pahlawan kita dengan memohon keridhaan Allah SWT untuk bisa membebaskan negeri dari angkara murka kaum imperialis. Sungguh sebuah pengorbanan yang tiada terkira dari para pahlawan kita untuk membebaskan negeri ini dari tangan penjajah, tentu kita tak akan melupakan budi baik para pahlawan kita sampai kapanpun masanya.

Simbol kemerdekaan berupa teks proklamasi yang telah dibacakan oleh bung Karno pada tahun 1945, mulai saat itu sang bendera merah-putih berkibar setinggi-tingginya seiring dengan harga diri bangsa yang telah lama diinjak-injak oleh para imperialis.

Sudah 64 tahun negeri tercinta ini merdeka dari Belanda, Portugis dan Jepang, seluruh negeri kini telah dikuasai oleh bangsa kita baik secara de jure maupun de facto, seluruh negara didunia ini telah mengakui kemerdekaan kita serta Bendera merah-putih telah berkibar dari Sabang sampai Merauke. Namun sudahkah Indonesia benar-benar merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari korupsi, merdeka dari ketidakadilan, merdeka dari westernisasi dan merdeka dari ketergantungan terhadap bangsa asing.

Sungguh sangat ironis memang kalau melihat realitas yang terjadi di negeri yang telah lama menikmati nafas kemerdekaan. Kata “merdeka” pun perlu dikritisi dan ditanyakan kembali. Ternyata merdeka tidak untuk seluruh rakyat Indonesia, merdeka bagi mereka yang bergelimang harta di tengah-tengah terjangan ekonomi global yang menyengsarakan rakyat. Kesenjangan sosial antara si kaya dengan si miskin semakin tampak seiring dengan revolusi industrialisasi dan teknologi yang semakin pesat. Dan sampai kapan kata “merdeka” ini menjadi milik seluruh warga negara Indonesia bukan hanya segelintir orang saja.

Harus diakui bahwa mengisi kemerdekaan dengan menjadikan sejajar bersama negara-negara maju lainnya tentu tak semudah membalik telapak tangan. Namun realitas korupsi yang semakin merajalela dan ketergantungan dari negara lain tanpa bisa dibendung menandakan bahwa kemerdekaan belum bisa dijalankan secara baik. Dan yang bisa menjawab hanyalah kita sebagai warga negara khususnya pemerintah kita untuk secara terus-menerus berupaya dengan serius untuk memperjuangkan lahir dan batin untuk ibu pertiwi.

Tak hanya seremonial belaka yang selalu tampak dari permukaan namun kemerdekaan penuh sesuai dengan kata “merdeka” yang selalu kita dengung-dengungkan. Tetapi sayang seribu kali sayang kemerdekaan ini cenderung hanya semu belaka, apalagi kalau melihat bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini. Setelah komunisme runtuh , imperialisme berubah wajah dan cara untuk menaklukkan negeri-negeri lemah. Melalui politik, sosial, ekonomi dan budaya kini mereka menguasai, ini jauh lebih berbahaya dan merusak, karena kebanyakan kita tidak tersadar bahwa kita sedang dalam cengkeraman penjajah gaya baru (neo-imperialisme). Ternyata kolonialisasi masih mencengkeram negeri ini.

Mengisi hari kemerdekaan dengan upacara bendera, balap karung, balap sepeda, panjat pinang dan goyang erotis yang disertai aroma minuman keras tentu sangat mudah dan menyenangkan. Dan hal itu sebenarnya tak dibutuhkan oleh rakyat miskin, namun yang dibutuhkan adalah merdeka lahir-batin 100% tanpa terkecuali, karena seluruh warga berhak menikmati kemerdekaan. Merdeka Bung!!!!

Rosit

6 thoughts on “Sudahkah Kita Merdeka?

  1. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s