Gedung Plaza BII Kebakaran


gedung_plaza_biiDi gedung yang berlantai 39, jaraknya 100 kaki orang dewasa dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta. Setiap hari pegawai-pegawai kantor sibuk dengan kerjaanya masing-masing dari lantai paling dasar sampai paling atas, dari Cleaning service sampai Direktur, tentu dengan hilir mudik setiap orang dengan kesibukan aktivitasnya yang bervariasi. Berbagai macam perusahaan berada di gedung itu, tentu juga beraneka aktivitas. Iringan lagu” maju tak gentar, Indonesia raya, berkibarlah benderaku dan 17 Agustus 45 menyapa setiap pegawai dan pendatang di gedung dari lantai dasar sampai lantai 39. Mengingat saat ini adalah bulan menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64.


Di tengah-tengah kesibukan setiap orang di gedung itu, namun lain yang terjadi di gedung lantai 35. Di ruangan EW 2, tiba-tiba datang seorang satpam bertubuh besar, gemuk tapi tak tinggi, kulit hitam, wajah sedikit menyeramkan dan agak berwibawa, datang dengan teriakan“ kebakaran-kebakaran, secepatnya semua penghuni tinggalkan gedung ini”!!! mendengar teriakan satpam yang tiba-tiba datang dengan berlari tergesa-gesa itu, secara otomatis di setiap penghuni di lantai 35 khususnya di EW 2 semua pada panik, aktivitas-aktivitas pegawai segera ditinggalkan, setiap orang mengurusi dirinya masing-masing, bahkan sampai berlari kocar-kacir seakan baru terjadi tsunami, gempa bumi atau bom meledak. Sementara itu bunyi sirene kebakaran menusuk telinga menandakan bahwa sedang terjadi kebakaran.


Bu Novi yang posisinya di ruangan itu sebagai menejer tak menghiraukan pagawainya lagi, pak Indra yang terkenal dengan senyum dan sapanya saat itu tiba-tiba tak tampak lagi, siska yang sedang ngobrol tentang kerjaan barunya tiba-tiba berlari menyelamatkan diri. Semua barang-barang baik milik pribadi maupun kantor segera ditinggalkan untuk mencari keamanan dirinya masing-masing. Di saat itulah, tak terdengar lagi sapa, tawa apalagi memperhatikan orang yang berada di sampingnya. Semua orang tiba-tiba sudah berubah menjadi egoistis, individualistis rasa saling tegur sapa, senyum manis antara pegawai sudah hilang sejak teriakan satpam beberapa menit lalu.


Teriakan-teriakan histeris ketakutan menghiasi di gedung lantai 35 itu, bayang-bayang setiap orang hanya ketakutan, takut akan kebakaran, takut terjebak di lantai setinggi itu, takut tak bisa lihat keluarga lagi, takut tak bisa lihat pacar lagi dan takut akan mati. Ketakutan-ketakutan itulah yang melatarbelakangi teriakan histeris dan lari pontang-panting tanpa arah yang jelas.


Di tengah-tengah orang yang sedang panik untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, Customer service tak henti-hentinya menginformasikan sedang terjadi kebakaran di salah satu lantai gedung ini dan secepatnya seluruh penghuni meninggalkan lantainya masing-masing untuk menyelamatkan diri.


Namun di tengah-tengah hiruk pikuk ketakutan semua orang, Nampak ada seorang laki-laki berusia sekitar 38 sedang asik main golf di ruangannya. Dia adalah Direktur orang-orang yang berlarian ketakutan itu, semua orang memanggilnya Bos. Dengan santainya ia main golf di saat kondisi seakan kiamat, padahal harapan hidup untuk besok belum tentu ada lagi namun pemandangan laki-laki berkulit putih yang bernama Pak Raha itu kelihatan masih santai menikmati permainan golfnya. Entah apa yang ada di dalam benak pak Raha, atau mungkin ia sudah kebal dengan panasnya api atau mungkin ia bisa menyelamatkan diri dengan ilmu terapi dan hipnotisnya yang kadang-kadang ditunjukan pada bawahannya.


Kematian merupakan suatu hal yang sangat misterius, tak ada seorangpun yang bisa meramalkan peristiwa satu itu. Kematian bisa membayangi setiap langkah seseorang, atau mungkin tanpa disadari sekalipun namun kematian pasti akan terjadi baik cepat maupun lambat, baik dalam kondisi baik maupun buruk, Kalau Tuhan sudah mengutus maklaikat maut untuk mencabut nyawa hambanya, maka hal itu tak bisa dihindari lagi apalagi diundur. Kematian tak pandang bulu, kaya dan miskin, baik dan jahat atau bawahan maupun atasan. Tak perlu menunggu datangnya hari kiamat (kiamat kubro) Justru kematian sugro yang harus diwaspadai karena tak tentu jadwalnya.


Mungkin sudah menjadi garis nasibnya para pegawai yang bekerja di gedung itu, penyesalan dalam kehidupannya sudah tak diperlukan lagi, yang ada dibenaknya masing-masing secepatnya mencari keselamatan dirinya masing-masing atau mati dilalap si jago merah. Namun di tengah-tengah ketakutan orang-orang yang takut pada bayangan kematian, dengan jelas terlihat seorang satpam yang beberapa menit yang lalu memberikan kabar “kebakaran” berada di depan lift sambil senyum sendiri dan diikuti oleh tim sekuriti dan tim pemadam kebakaran lainnya. Dengan nafas tersengal-sengal, salah satu dari pegawai yang ketakutan menanyakan kepada sekuriti itu, kenapa malah tersenyum dengan kondisi seburuk ini?. Sekuriti yang berkulit hitam itu menjawab bahwa ini hanyalah simulasi kebakaran pak, maaf ya!!


Rosit

2 thoughts on “Gedung Plaza BII Kebakaran

  1. wah….aku termasuk orang yang beruntung ya.. sebelum orang orang pada lari aku udah tahu kalau itu cuma simulasi,
    jadi aku ya… tetep duduk manis di ruangan
    sambil ngeliatin muka-muka panik
    he….he….

  2. hell shit!
    ini perusahaan investasi yg mau panggil g ya??
    kok di koran di tulisnya lowongan buat adm???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s