Golput Juga Sebuah Pilihan


Negeri yang sudah merdeka sejak tahun 1945 ini mengadakan pemilu untuk memilih presiden dan wakilnya. Di setiap Desa sampai Kota menyibukan diri untuk merayakan pesta demokratisasi yang jauh-jauh hari dipersiapkan. Namun ada berbagai perbedaan (dan itu wajar untuk sebuah negara yang menganut sistem demokrasi) dalam memaknai arti demokrasi khususnya yang berkaitan dengan pemilu kali ini. Dari tokoh masyarakat sampai MUI pun membujuk agar setiap warga ikut berpartisipasi atau mencontreng di pemilu pilpres kali ini, gunakan hak warga sebaik-baiknya. Sebaliknya ada segelintir tokoh nasional membujuk untuk Golput saja dalam pemilu kali ini, tentunya dengan berbagai macam alasan.

Di pagi hari saat para warga mencontreng jagoan presidennya masing-masing, saya mengoperasikan facebook, serta menulis di wall “ kita harus tanamkan di mindset kita masing-masing bahwa golput juga pilihan, orang yang menghina dan menghardik golput justru mereka yang tak demokratis dan tentu ada konskuensinya masing-masing.” Tak lama kemudian ada seorang teman memberikan komentar di wall saya bahwa “bagaimana nasib negeri ini jika pemudanya tak ada rasa kepedulian tentang kondisi negeri ini.” Melihat ada komentar saya bereaksi dengan menulis “ kita harus menghargai apapun pilihan seseorang termasuk golput, jika anda golput silahkan dan jika memilih silahkan saja dan tentu ada konskuensinya masing-masing, jangan memksakan untuk memilih karena itu bisa mengembalikan era mbah Soeharto.” tak lama kemudian saya logout dari facebook.

Di malam harinya, saya mengoperasikan facebook lagi, ternyata di komentar wall di waktu pagi, sudah ada puluhan komentar yang ternyata mayoritas sepakat dengan golput. Tentunya dengan gaya dan alasan masing-masing dalam menyuarakan golput.

Sampai saat ini golput masih menjadi wacana yang kontroversi di setiap pemilu diselenggarakan. Padahal negeri ini sudah terlanjur dan sudah mantap dengan pilihan sistem demokrasinya. Demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat dan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat bukan para politisi. Penghormatan dalam menghadapi segala perbedaan harus diutamakan karena itu konskuensi demokrasi. Demokrasi sebenarnya tak menjamin negeri ini menjadi lebih baik namun sampai saat ini masih dianggap menjadi sistem terbaik di negeri ini. Banyak negara-negara yang anti demokrasi justru mereka lebih baik dari negeri ini. Namun kita sudah menyepakati sistem ini dan siap mengimplementasikan meskipun berbagai macam tafsir dan itulah konskuensinya.

Golput dalam pemilu kali ini sudah menjadi mode dan tentu berbagai macam alasan. Golputnya wong cilik dengan tokoh nasional berbeda-beda. Tendensi golput karena sembako semakin mahal, kurang tersedianya lapangan pekerjaan, kehidupan makin sulit merupakan golput yang harus diperhatikan bagi presiden terpilih dalam pemilu kali ini. Sedangkan tendensi golput karena tak mendapat tempat atau tersingkir dalam dunia politik merupakan golput tak dibenarkan dari sudut manapun.

Keputusan golput belum tentu tak peduli kondisi negeri ini. Namun golput adalah sebuah cara untuk menyadarkan pemerintah untuk lebih serius menepati janji-janjinya saat kampanye berlangsung. Justru banyaknya golput menampilkan warga ini semakin bervariasi dan semakin cerdas dalam menghadapi realitas di depan mata. Di Amerika, negara yang dijadikan kiblat demokrasi pun tak luput dari golput. Pilihan golput bukanlah pilihan yang tak dipikir sebelumnya. Jika presiden terpilih tak bisa mengimplementasikan janji-janjinya maka suara golput akan semakin membesar pemilu berikutnya, dan itu harus kita hargai sebagaimana kita menghargai setiap pilihan warga memilih partai dan presidennya.

Pemilu yang sudah beberapa kali diselenggarakan sejak pemilu pertama 1955 sampai 2009 harus menjadi cermin untuk melakukan yang lebih baik ke depan. Disadari maupun tidak, pemilu tahun 1955 dan Reformasi saja yang dianggap demokratis. Meskipun pemilu era Reformasi suara golput semakin membesar namun itu lebih baik dibandingkan dengan pemilu era Soeharto. Tentu tak diharapkan, banyak warga berpartisipasi dan mengecilnya suara golput namun warga dipaksakan harus mencontreng. Biarkan warga merespon pemilu dengan berbagai macam variasi yang penting tak mengganggu kepentingan publik. Karena dalam kamus manapun demokrasi selamanya tak ada paksaan, menjunjung tinggi perbedaan harus diutamakan sebagai seorang yang demokratis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s