SUPARNO


Di warung kecil yang terletak di pinggir jalan diiringi suara keramainan hilir mudik lalu lintas yang menusuk telinga, berbagai macam kendaraan silih berganti membuat suasana kota Ciputat semakin hidup. Di warung kecil itu duduk seorang bapak separuh baya, badannya kurus, wajahnya menandakan kelelahan, pakaiannya agak kumal, terlihat jelas bintil-bintik noda hitam di baju berwarna putih yang dikenakannya, dengan santainya ia duduk di warung kecil itu sambil menikmati sebatang rokok yang dihisapnya berkali-kali. Tak jauh dari warung itu ada gerobak yang dipenuhi dengan kardus, kaleng dan aqua bekas. Rupanya bapak separuh baya itu seorang pemulung. Ia bernama Suparno.

Pekerjaan pemulung sudah digelutinya sejak 5 tahun yang lalu. Saat ini Suparno sudah memiliki 37 anak buah yang dibina setiap harinya. Upah yang diberikan Suparno kepada anak buahnya setiap minggu sebesar 400 ribu rupiah. Sedangkan pendapatan Suparno sendiri per/bulan sebesar 3-4 Juta. Sebelum menjadi seorang pemulung, ia pernah menjadi Satpam di perumahan pondok hijau Ciputat. Namun di balik seragam rapi dan sepatu mengkilat gaji seorang satpam yang harus selalu mengatakan “siap bos” ternyata jauh dibanding dengan pekerjaannya sekarang. Dengan menjadi pemulung, Suparno termasuk bisa dikategorikan keluarga sejahtera. Ia sempat mengirim salah satu anaknya belajar di sebuah perguruan tinggi negeri, namun sebelum menyelesaikannya anaknya itu dilamar seorang pemuda yang sudah bekerja sebagai seorang Satpam.

Meskipun terlihat kumal, kurus dan sederhana, Suparno juga mempunyai beberapa kontrakan di dekat rumahnya, saat pertama kali merantau di Jakarta 16 tahun yang lalu, ia membeli tanah seluas 300 m dengan harga 5 juta. Saat itu harga tanah per meter di Ciputat masih 15 ribu, namun sekarang naik antara 600-700 ribu per meter seiring dengan perkembangan kota semakin pesat.

Menjadi seorang pemulung tak sedikit tantangan yang dihadapi selama ini. Tak jarang martabatnya dilecehkan oleh masyarakat setempat. Berbagai macam hinaan, caci maki diterimanya setiap saat. Bahkan sebagian mesyarakat memandang seorang pemulung tak beda dengan seorang pengemis, serta hidupnya di dunia sampah yang kotor dan menjijikan.

Suatu ketika pernah Suparno setelah kelelahan mendorong gerobaknya yang dipenuhi kardus dan aqua bekas singgah di sebuah warung untuk mengisi perutnya dengan sesuap nasi. Ia memesan nasi dengan lauk ayam yang dilihat di depan matanya. Namun si penjual mengatakan kepada Suparno bahwa lauk ayam itu mahal. Mendengar ungkapan itu, Suparno merasa dilecehkan, ia mengatakan kepada penjual itu bahwa akan membayarnya sebesar apapun. Tak lama kemudian ia menghabiskan nasi dengan lauk ayam goreng di warung itu. Setelah itu Suparno memanggil ibu penjual untuk duduk di sampingnya. Ia menanyakan kira-kira berapa duwit untuk membangun usaha warung ini. Si penjual itu menjawab dengan biaya 10 juta. Tak lama kemudian Suparno mengambil dompet di saku belakang, setelah itu membuka uang sebesar 30 juta diperlihatkan kepada ibu penjual itu. Melihat uang yang baru dikeluarkan Suparno, ibu penjual itu gemeteran tangannya dan segera meminta maaf.

Perkataan kasar tak jarang dilontarkan kepada Suparno, namun dengan hati yang lapang dada ia mencoba tak mempedulikannya, yang penting ia dan keluarga bisa hidup dengan berkecukupan di tengah-tengah krisis global yang tak kunjung reda. Suparno sebenarnya bukanlah orang yang mempunyai pendidikan rendah, meskipun sebagai pemulung ia lulusan SMA di tempat kelahirannya di Wonogiri, Jawa Tengah. Bahkan ia sempat hidup di pesantren selama 5 tahun di Banyuwangi, tak heran setiap sore di rumahnya ia mengajar warga ngaji kitab kuning bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu agama Islam. Kemampuan ilmu agamanya khususnya membaca khazanah literatur klasik tak kalah jika dibanding dengan setingkat mahasiswa IAIN sekalipun.

Sekilas melihat penampilan Suparno dengan baju kumal dan badan kurusnya, tentu masyarakat pada umumnya tak menyangka bahwa pendapatannya setiap bulannya di atas UMR di Jakarta. Beberapa pekerjaan telah ditekuninya termasuk menjadi Satpam yang selalu tampil rapi setiap saat. Namun profesinya itu ditinggalkan setelah berjalan selama 5 tahun. Seandainya Suparno pernah mengenyam bangku kuliah ia pasti akan mengatakan kepada sebagian orang-orang yang bekerja dengan pakaian perlente itu bahwa mereka terjebak oleh lingkaran ekploitasi para kapitalis. Secara luarnya saja terlihat sejahtera namun dibalik itu tak sedikit mereka merasa kekurangan. Namun Suparno seorang pemulung bisa hidup bahagia di tengah persaingan kota besar yang suatu saat mengancam orang yang tinggal di kota itu.

One thought on “SUPARNO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s