Panggung Sandiwara Politik


Berbicara politik, tak bisa dipisahkan dengan para komunikator politik yang mempunyai peran penting untuk merancang dunia satu ini. Berbagai macam lobi dilakukan untuk menghidupkan dan meramaikan panggung politik. Setiap komunkator politik mempunyai peran dan bagian masing-masing tak beda dengan sandiwara yang dimainkan oleh aktor film untuk menghibur para penonton. Momentum adalah kesempatan emas bagi mereka untuk merancang strategi kekuatan politik dalam memerankan sesuai dengan bagiannya masing-masing. Pasalnya, selincah apapun seorang politisi, ia akan menggunakan momentum dengan baik-baik kalau tidak mau tidak mendapatkan peran dalam dunia itu. Setiap komunikator politik ulung mempunyai momentum masing-masing. Soekarno bisa menjadi politisi ulung karena bisa memainkan momentum dengan baik pada zamannya, meskipun pada akhirnya juga terkubur oleh momentum itu sendiri. Soeharto bisa memainkan peran politiknya begitu lihai seolah-olah aktor politik tanpa dibatasi ruang dan waktu, namun akhirnya jatuh ke lubang hitam politik yang selama ini dirancangnya sendiri.

Tak heran sebagian orang menyimpulkan bahwa politik itu warnanya abu-abu. Politik tidak mengenal lawan maupun kawan namun yang ada adalah kepentingan. Tak ada keabadian di dunia satu ini namun kekinian yang selalu diutamakan. Hadirnya partai sengaja diciptakan untuk mengantar mereka menuju posisi penting di negari ini. Tak peduli berbagai warna partai yang ditampilkan untuk mencitrakan mesin politiknya. Yang pasti, kebijakan-kebijakan partai dijalankan oleh pengemudi yang ada di dalamnya demi kue kekuasaan.

Mengamati perjalanan politik di negeri ini, rupanya tak jauh beda dengan permainan-permainan yang sengaja dirancang mirip dengan sebuah permainan di panggung sandiwara. Apalagi dewasa ini baru hangat-hangat tai ayam tentang dunia yang penuh permainan ini. Televisi dan media cetak menjadi alternatif terbaik untuk menampilkan peran yang mereka mainkan. Tak ketinggalan para penonton baik yang mengatasnamakan sebagai pengamat politik maupun rakyat jelata pun ikut berkomentar tentang permainan panggung politik mereka.

Tingkah laku politisi
Beberapa bulan yang lalu setelah pemilu legislatif menjawab perolehan suara partai yang ikut mencebur pesta demokratisasi di negeri ini, partai yang memperoleh peringkat 10 besar seperti PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra dan Hanura merapatkan barisan untuk mempersatukan visi dan misi mereka dalam rangka melawan partai Demokrat dan sekutunya dengan membentuk koalisi besar. Namun tak lama beberapa hari kemudian, koalisi yang sudah disepakati partai-partai itu ternyata hanya “omong besar”. Pasalnya kesepakatan koalisi yang dibangun mengatasnamakan rakyat tiba-tiba tumbang seiring dengan rancangan kepentingan para elit politik masing-masing berputar arah. Skenario politik yang paling mengejutkan adalah wacana koalisi antara partai Demokrat dengan PDI Perjuangan. Padahal kedua partai tersebut jauh-jauh hari saling melontarkan kritik. Sedangkan Partai Demokrat yang pemilu legislatif 9 April yang lalu memperoleh peringkat pertama di antara partai-partai peserta pemilu kebingungan mencari pendamping SBY. Setiap partai yang menjadi sekutu partai Demokrat mengharapkan posisi wapres yang diusung oleh koalisi mereka. Namun tak terprediksikan sebelumnya, SBY meminang Boediono untuk menjadi pendampingnya menuju kursi Capres dan cawapresnya. Melihat keputusan SBY dengan partai demokrat dalam meminang mantan gubernur BI itu, para politisi partai yang telah sepakat mengusung SBY sebagai capresnya merajut bahkan mengancam keluar dari kesepakatan yang telah dibangun sebelumnya. Tokoh seperti Amin Rais dan Anis Matta pun mengecam tindakan ngawur SBY dengan keputusanya, bahkan mengangkat isu Boediono sebagai agen Neo liberalisme. Namun tak lama kemudian barisan partai yang merajut, menyepakati keputusan SBY meminang Boediono. Mengingat politik dagang sapi belum berakhir, kue-kue kekuasaan akan dibagi setelah kemenangan capres dan cawapres yang diusungnya.

Setelah ketiga pasangan capres dan cawapresnya memperoleh nomer urutnya masing-masing, berbagai macam slogan dan janji-jani politik terus dijual ke telinga rakyat. Masing-masing capres dan pasangannya menjustifikasi bahwa pasangannya yang lebih pantas menduduk RI 1. Bahkan setiap pasangan saling melontarkan kritik terhadap pasangan lainnya. Padahal sebelum setiap calon sepakat dengan pasangannya masing-masing, mereka saling melontarkan kritik terhadap lawan politiknya yang saat ini menjadi pasangan capres dan cawapres.

Entah permainan politik macam apa yang akan dirancang oleh para aktor politik kita untuk meraih posisi RI 1. Berbagai macam intrik serta sikut kanan dan kiri dilakukan untuk memenangkan dari setiap pasangan yang diusung oleh partainya masing-masing. Tak heran ketua KPU pemilu tahun ini mengakui ada banyak kecurangan dalam pemillu legislatif yang baru saja diselenggarakan. Perjuangan para elit politik kita ternyata tak jauh dari persoalan kepentingan mereka masing-masing. Rakyat hanya dijadikan objek demi kemenangan politik mereka. Semua itu terbukti ketika salah satu dari pasangan capres dan cawapresnya tidak bisa menepati seluruh janji-janii manis yang telah tebarkan secara apik ternyata hanya omong kosong belaka. Di sudut lain, janji-jani manis itu sengaja dijadikan umpan supaya rakyat memilihnya. Yang jadi pertanyaan adalah apakah dunia politik selamanya terus akan bersandiwara? Mengingat rakyat selama ini masih berharap akan suatu perubahan di segala bidang. Bukan sandiwara politik yang dibutuhkannya, namun ketulusan dan keikhlasan para elit politik untuk memperjuangkan nasib rakyat menuju negeri baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Wallahu a’lam bissowab

M. Rosit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s