Rofiq Seorang Student


Sosok remaja berumur sekitar 19 tahun, warna kulit sawo matang tak beda dengan teman-temannya kebanyakan,tinggi badan 165 M serta berat sekitar 55 Kg. Wajahnya berapi-api menunjukan rasa penasaran layaknya macan kehausan, rambutnya bergelombang sedikit kriting tapi bukan rambut model orang Papua atau Afrika, hidungnya juga sedikit bangir, tentu model hidung seperti itu khas milik orang jawa. Selain itu hidung macam begitu sangat sensitif, bau tak sedap di kejauhan bisa tercium setajam silet, persis ketajaman penciuman Kucing kelaparan saat mencium bau ikan goreng di Pasar. kedua alisnya hitam dan tebal namun dia tak sedikitpun terlihat garang. Ukuran mulutnya sedikit lebar menandakan bahwa ia hobi tersenyum. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun, ia langsung mengambil buku kecil yang berisi kumpulan kata-kata dalam bahasa inggris atau yang lebih akrab disebut dengan buku vocabulary. Kemanapun ia pergi, buku kecil itu selalu dibawa untuk dihafalkannya. Remaja yang baru lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) itu bernama Rofiq. Ia datang ke Pare atau sering orang menyebut dengan kampung inggris untuk belajar bahasa itu. Sebenarnya kurang tepat juga disebut dengan kampung inggris, pasalnya tidak semua orang yang tinggal di sana berbicara inggris, namun tak sedikit orang khususnya para pendatang yang kursus inggris sering kali berkomunikasi melalui bahasa itu. Rofiq adalah satu dari ribuan orang yang menimba ilmu di kampung itu.

Pare terletak di kabupaten Kediri, Jawa Timur tak jauh dari kota Malang. Desa itu menjadi solusi terbaik bagi mereka yang ingin mendalami bahasa inggris dalam waktu yang relatif singkat. Suasananya sangat mendukung, pasalnya Pare bukanlah kota besar namun juga bukan kampung tertinggal. Infrastruktur dan fasilitasnya kota tak kalah dibandingkan kota besar manapun. Pare merupakan salah satu kecamatan termaju di kabupaten Kediri. Rumah-rumah penduduk yang berjejer rapi hampir menampakan ketiadaan kesenjangan sosial. Pekerjaan mayoritas penduduknya adalah Petani selain itu Pedagang dan Guru. Nampak terhampar luas lahan pertanian penduduk yang ditanami beraneka ragam tanaman palawija. Tanaman-tanaman palawija itu menambah kesejukan dan keindahan suasana kampung yang terlihat tampak ijo royo-royo. Udara segar saat pagi hari tak terlewatkan dinikmatinya oleh setiap pendatang dari luar kampung itu. Selain pertanian banyak warga yang mengelola peternakan lele sebagai income tambahan selain mengandalkan dari hasil pertanian. Ditambah lagi dengan keramahan penduduk untuk menghargai dan menghormati setiap pendatang baru yang belajar di kampung mereka. Di sisi lain hadirnya pendatang baru juga menambah income bagi masyarakat melalui jasa kos-kosan maupun asrama yang disediakan oleh warga setempat. Suasana seperti itulah yang membuat kerasan setiap pendatang untuk tetap tinggal dalam jangka relatif panjang bahkan bagi pendatang yang sudah cocok dengan kondisinya suatu saat bisa datang kembali. Setiap pendatang baru baik dari Desa maupun kota sebesar Jakarta pun merasa heran dengan suasana yang terlihat di kampung itu.

Setiap waktu menunjukan jam 7 pagi, Rofiq sudah siap untuk belajar di salah satu tempat kursus yang dipilihnya. Dengan menaiki sepeda tua yang dibelinya seharga 80 ribu, ia dengan penuh semangat mengayun roda sepeda tua itu ke tempat ia belajar sehari-hari. Di dalam kelas ia sangat fokus menerima pelajaran yang diterima dari gurunya, dan tak segan-segan menanyakan pelajaran yang menurutnya dianggap sulit ia tanyakan kepada sang guru. Suasana kelas Rofiq sangat kondusif untuk belajar, gurunya sangat komunikatif dan terbuka untuk Tanya jawab mengenai pelajaran yang telah disampaikannya. Kesempatan emas itu tak dilewatkan Rofiq untuk menggali ilmu sedalam-dalamya.
Ia tak menghiraukan panasnya terik matahari dan dinginnya malam di kampung itu yang setiap saat menyerang. Dari bangun tidur sampai tidur lagi ia gunakan untuk terus mengkaji berulang kali sampai pelajaran itu berhenti di otaknya. Rupanya ia dikasih kesempatan orang tuanya selama 2 bulan untuk belajar bahasa inggris di Pare. Waktu 2 bulan bukanlah waktu yang panjang untuk belajar bahasa itu, ia dengan tekun mencoba merubah waktu sependek itu menjadi waktu yang lamanya 1 tahun, dengan cara terus dan terus menekuninya sampai ia tak sengaja tertidur dengan genggaman buku yang dipelajarinya setiap hari.

Kampung Pare menyediakan lebih dari 50 tempat kursus. Letak tempat kursus satu dengan yang lainnya tidak terlalu jauh, bahkan berjejer seperti barisan siswa yang siap melaksananakan upacara bendera setiap hari senin. Berbagai macam program disediakan sesuai dengan keinginan orang yang ingin mendalaminya. Setiap tempat kursus juga menampilkan karakteristik dan kelebihannya sendiri-sendiri sehingga memudahkan siswa memilih atau menekuni program sesuai kebutuhannya.

Rofiq bukanlah murid yang mempunyai kecerdasan di atas teman-temannya. Ia manusia biasa, terkadang salah dan lupa. Namun ia mempunyai semangat belajar melebihi siapapun yang belajar di sana. Bahkan bukti semangatnya, saat ia berada di kamar mandi pun saat membersihkan tubuhnya, tak henti-hentinya ia mempraktekan ilmu speaking yang diperolehnya ditempat kursus dengan cara berteriak-teriak sendiri dengan menggunakan bahasa inggris mirip seperti orang baru kemasukan. Padahal celotehan teman-teman satu asrama di luar kamar mandi yang mendengar teriakan Rofiq saat mandi mengeklaim bahwa Rofiq baru gila. Namun semua itu tak dihiraukannya, yang penting bagaimana bisa komunikasi melalui bahasa inggris dalam waktu 2 bulan. Rupanya Rofiq tak sudi menghabiskan waktu dengan sia-sia. Ilmu yang diperoleh dari sang guru dipraktekannya di manapun ia berada termasuk ditempat yang kita anggap ekstrim sekalipun.Ternyata kesungguhan Rofiq belajar bahasa inggris membuahkan hasil yang memuaskan meskipun dalam jangka relatf sangat singkat. Bahkan saat bicara dengan bahasa inggris, terdengar pronunciationnya lebih inggris daripada orang inggris itu sendiri.

5 thoughts on “Rofiq Seorang Student

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s