KORBAN DEMOKRASI


Perasaan sedih, malu dan kecewa terus menyelimuti hari-harinya setelah pemilu legislatif selesai. Dia sangat terpukul dengan kekalahan itu, padahal berbulan-bulan lamanya, ia berusaha agar namanya dikenal oleh publik. Sikut kanan dan kiri telah berkali-kali dilakukan untuk mendompleng namanya. Kebun, tabungan dan rumah telah menjadi saksi bisu tentang perjuangannya untuk duduk menjadi anggota dewan yang terhormat. Namun kenyataanlah yang membangunkannya dari segala mimpi-mimpi untuk menjadi anggota dewan yang terhormat. Mimpi-mimpi itu telah sirna seiring hasil perolehan suara yang sangat tak diinginkannya. Sekarang tinggalah kenangan, mimpi-mimpi itu sudah pasti tak terwujud. Kekalahan itu telah memukul dan merobek lubuk hati yang paling dalam. Yang ada sekarang hanyalah malu, sedih dan meratapi nasib buruknya. Bahkan sempat terlintas, mengapa harus mendaftarkan diri dari salah satu Caleg dalam pesta demokratisasi di negeri tercinta ini, kalau harus menanggung dosa kekalahan. Kata “kekalahan” itu sebelumnya tak terbayangkan sedikitpun.

Gambaran realitas di atas belakangan ini menghiasi media televisi kita. Dewasa ini, Caleg yang gagal semakin menunjukan jati dirinya sebenarnya. Merekalah yang paling merasakan korban sistem demokratisasi, harta benda yang selama ini dijadikan tameng untuk menaiki posisi wakil rakyat ternyata tak bisa diharapkan lagi. Fenomena caleg gagal telah menjadi perhatian masyarakat luas. Bermacam-macam ekspresi yang ditunjukan oleh para mantan caleg yang terhormat ini kepada masyarakat luas semakin mewarnai kehidupan ini. Bahkan mereka melakukan hal yang tidak rasional sekali pun ditinjau dari berbagai macam sudut manapun. Ada seorang caleg saat melihat hasil perolehan suaranya yang tak mencukupi langsung bereaksi melakukan kebijakan yang tak populer di masyarakat sekitar. Dan tentu masih banyak tingkah laku tak rasional dari mantan caleg gagal tersebut.

Tingkah laku para caleg itu seiring dengan keunikan (kalau tidak mau dikatakan suatu keanehan) saat mereka kampanye sebelum pemilihan diselenggarakan. Berbagai macam gaya dan cara dilakukan oleh para caleg untuk mencoba mengukir namanya di hati rakyat. Keunikan-keunikan tersebut tentu disengaja oleh para caleg meskipun tak rasional. Pastinya, mereka tak membiarkan kesempatan emas ini sia-sia untuk meraih apa yang mereka inginkan. Selain itu tak sedikit harta yang telah mereka habiskan buat dana kampanyenya.

Setelah melihat hasilnya, tak sedikit dari mereka berduyun-duyun mendatangi tempat-tempat yang bisa mengembalikan mereka sehat sedia kala. Tentu tempat buat menampung mereka sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh fasilitator (Rumah Sakit, Padepokan). Selama ini kekalahan masih menjadi aib yang memalukan, bahkan bisa mengakibatkan degradasi moral. Hal itu menandakan para caleg kita belum mempunyai kesiapan mentalitas yang kuat. Padahal kesiapan itulah yang paling penting dimiliki oleh seorang Caleg. Caleg harus berani berkorban baik materi maupun immateri untuk berjuang mengangkat martabat bangsa serta merubah kemiskinan rakyat yang semakin memprihatinkan. Selain itu, seorang caleg tentu mempunyai tanggung jawab moral melebihi rakyat biasa. Seharusnya semua caleg harus sudah memahami betul akibat-akibat baik itu positif maupun negatif yang akan diterimanya. Untuk menjadi orang bermartabat tentu juga tidak semudah membalikan telapak tangan, namun perjuangan berat dan panjang harus ditempuhnya demi cita-cita bersama.

Tak seorangpun melarang mengejar kemenangan, namun kekalahan tentu saja hal yang tak bisa dihindari. Menang dan kalah tentu sudah biasa dalam kompetitor termasuk pemilu legislatif. Kemenangan adalah sebuah kesempatan untuk merealisasikan sesuai janji-janjinya saat dalam kampanye. Bahkan kemenangan juga bisa menjadi ujian yang harus dijalaninya. Sedangkan kekalahan bagi orang bijak adalah wahana untuk melatih diri menghadapi realitas yang sesungguhnya. Ketulusan, keikhlasan dan kesabaran itulah kualitas yang akan meninggikan martabat orang yang kalah. Bahkan kekalahan lebih memuliakan derajatnya dari pada kemenangan. Dengan kekalahan, kita bisa belajar banyak tentang makna kehidupan. Dengan kekalahan kita juga bisa mengetahuhi diri sendiri bahkan kita bisa sadar siapa diri kita sebenarnya. Sedangkan tak sedikit kemenangan justru membuat orang lupa diri, tinggi hati bahkan tak lagi sadar dari mana asalnya.

Baik kemenangan maupun kekalahan seharusnya dimaknai secara positif. Yang menang jangan merasa lebih baik dari yang kalah sedangkan yang kalah jangan terlalu merendahkan dirinya. Karena dari kemenangan dan kekalahan itu akan menunjukan siapa jati diri mereka sebenarnya di mata rakyat.

Jika kita melihat perjuangan founding fathers kita dalam memperjuangkan Indonesia merdeka, tak semudah yang kita bayangkan. Harta benda dan istri ditinggalkan untuk mendapatkan kebebasan dari jajahan negara kolonial. Soekarno, Hatta, Syahrir dan lainnya rela dibuang ke tempat pengasingan yang jauh dari hiruk-pikuk manusia supaya tidak meneriakan kata kemerdekaan. Jika dibandingkan dengan pengorbanan para caleg, tentu founding fathers kita jauh lebih hebat perjuangannya untuk mengangkat derajat bangsa ini. Dan sampai saat ini cita-cita mereka harus diteruskan untuk menyambut Indonesia sejahtera, makmur dan tenteram.

Tentu pemilu tahun ini tak sedikit dana yang telah dihabiskan baik dari pribadi maupun negara. Pesta demokratisasi telah memakan waktu dan biaya yang sangat mahal. Tentu kita tak berharap, pengorbanan waktu dan biaya sangat mahal ini tak menghasilkan apa-apa. biaya pemilu yang mahal akan tidak ada artinya, jika menghasilkan para wakil dan pemimpin yang bertanggung jawab dan merubah bangsa bermartabat dalam kancah pergaulan internasional, namun seandainya sebaliknya, maka pengorban selama ini akan sia-sia saja.

ROSIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s