Sugiono


Terlihat jelas raut wajah yang kesepian, kesunyian dan ketersendirian. Wajah itu nampakanya tak bisa disembunyikan dari tatapan mata siapapun. Pemilik wajah yang penuh kesepian itu bernama Sugiono. Umurnya masih relatif muda yaitu 25 tahun. Ia seorang sopir taksi yang beraksi di sekitar Jabotabek, dengan profesinya itu ia bertahan hidup dan sesekali mengirim uang kepada anaknya yang ada di Cirebon. Anaknya sengaja dititipkan kepada neneknya di samping itu ibunya juga merantau ke negeri orang. Kehadiran anaknya itulah yang membuat ia bertahan dan bertanggung jawab baik secara materil maupun spirituil.

Sugiono merupakan salah satu suami yang ditinggal istrinya merantau ke negeri orang. Ia sudah satu setengah tahun berpisah dengan istri tercinta, karena alasan ekonomi. Padahal Sugiono sanggup dan mampu menghidupi segala kebutuhan keluarga dengan membanting tulang sepanjang hari bahkan hidupnya hampir dihabiskan di jalan untuk mencari sesuap nasi, namun istri tercinta tetap nekat untuk menjadi tenaga kerja wanita demi rupiah. Padahal suaminya telah melarang keras, selain mempertimbangkan nasib para TKW di negeri orang lain di mana tidak sedikit yang mengalami korban kekerasan, penyiksaan bahkan pembunuhan.

Namun segiono tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan penghasilannya menjadi sopir taksi, tentu istrinya tidak bisa berharap banyak, bisa makan tanpa hutang saja sudah syukur, jangan berharap bermimpi jadi orang kaya. Sugiono menyadari betul dengan profesinya itu tidak akan menghasilkan uang yang melimpah seperti gaji para Direktor perusahaan dan pejabat negara. Namun ia setidaknya sudah bertangging jawab kepada keluarganya meskipun istrinya tidak puas dengan hasil keringatnya.

Pekerjaan Sugiono bukanlah pekerjaan yang enak seperti duduk di kantor yang ber AC sambil mengoperasikan komputer atau profesi anggota dewan yang duduk di kursi empuk. Profesi seorang taksi tentu tidak sedikit tantangannya. Ia harus selalu waspada di saat kantuk menyerang dalam mengendarai taksinya di tengah-tengah hilir mudik kemacetan lalu lintas kota Megapolitan. Di sisi lain ia juga memberikan perlindungan dan kenyamanan terhadap penumpangnya serta waspada dari gangguan di tengah jalan seperti perampokan, kejahilan preman dan kejahatan lainnya.

Sebagai seorang yang sudah beristri tentu ia juga berhak mendapatkan pelayanan dari seorang istri yang dicintainya, sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya. Kenyataanya, ia telah membanting tulang, mengucurkan keringat namun tidak ada satupun orang yang ada di sisinya, sentuhan, belaian serta pijitan dari seorang istri yang seharusnya menemaninya di sisinya yang akan mengembailikan sisa-sisa tenaganya yang terkuras seharian tidak ia dapatkan.

Kadang ia merasa bosan, jenuh dengan situasi dan kondisi yang selalu sunyi meskipun istrinya kadang memberikan kabar melalui telephon. Di sela-sela kebosanan dan kesendirian itu, ia melampiaskan dengan minum-minuman keras dan menghabiskan uang di meja judi. Sebenarnya ia sudah bosan dengan gaya hidup seperti itu, namun ia butuh pelampiasan, ia butuh kepuasan. Seandainya istri tercinta di sisinya tentu ia tidak akan berbuat tindakan yang justru merugikan dirinya.

Kebiasaan buruk sugiono sudah di mulai sebelum ia mempunyai seorang istri. Setelah berumah tangga sebenarnya ia bisa mnenghilangkan kebiasaan buruk itu. Namun keterpisahan dengan istri tercinta yang seharusnya di sisinya membuat ia kembali berbuat sebodoh itu.

Sebenarnya ada beberapa wanita dan janda meminta dirinya untuk kawin kontrak selama ia ditinggal istrinya. Namun ia menolaknya, ia menyadari kehidupan seperti itu bukanlah menyelesaikan masalah bahkan menimbulkan masalah baru. Ia tetap berpikir positif terhadap istrinya yang kerja di negeri orang dengan baik, serta percaya kepada istrinya kerja dengan giat dan menjaga kehormatannya.

Sugiono merupakan salah satu di antara suami suami yang ditinggalkan oleh istrinya menjadi TKW, mengingat banyak suami di kampungnya yang juga bernasib seperti dirinya, lebih memprihatinkan lagi mereka hanya menunggu istrinya yang bekerja di negeri orang lain tanpa melakukan aktivitas yang bermanfaat, bahkan hanya menghabiskan uang kiriman istrinya di meja judi.

Harta tidak menjamin kehidupan menjadi bahagia, namun tanpa harta hidup akan sulit bahagia, apalagi di tengah-tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan. Harga bahan bakar, sembako dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya semakin naik saja. Tak heran bagi mereka yang sudah pesimis hidup di negeri seperti ini akan meninggalkan tanah airnya demi sesuap nasi bahkan kadang harga dirinya dikorbankan,

Setangguh apapun sigiono, tetaplah manusia biasa. Saat lapar ia makan, ketika disakiti ia membalas dan tentu kesabaran menunggu istri tercinta juga ada batasan waktunya. Ia berjanji selama tiga tahun akan setia menunggu tetapi setelah kepulangan istrinya dari negeri orang tapi ia masih meneruskan kontraknya selama tiga tahun kemudian, maka ia akan mengambil keputusan untuk berpisah dengannya, meskipun ia masih mencintainya .Keputusan seperti ini tentunya berat dan meninggalkan rasa tanggung jawab terhadap anak dan keluarganya. Namun seandainya diteruskan hidup seperti ini maka letak harga diri seorang suami sudah dilecehkan.


ROSIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s