Perjalanan Politik NU Dan Tantangan Pemilu 2009


Sejak pemilu 1955 diselenggarakan pertama kali di negeri ini, kiprah NU dari golongan Islam tradisionalis tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja dalam mewarnai tegaknya demokratisasi di negeri tercinta ini. Pemilu 1955 bisa dikatakan cukup demokratis, diwujudkan dengan hadirnya multi partai, baik dari nasionalis, Islam maupun komunis. Ada 4 partai besar seperti PNI (22,3%), Masyumi (20,9), NU (18,4%), dan PKI (16,4%). Dilihat dari hasil perolehan suara pemilu 1955, NU sebagai partai Islam memperoleh suara yang memuaskan serta mendapat peringkat ke-3 dari seluruh partai peserta pemilu. Mengingat NU saat itu baru saja keluar dari Masyumi dan tidak punya banyak waktu untuk mensosialisasikan partainya seperti partai-partai lainnya. Perolehan suara NU yang signifikan tidak terprediksikan baik dari politiisi NU sendiri maupun di luar NU. Bahkan perolehan hasil suara NU dan Masyumi selisih tipis. Pemilu-pemilu selanjutnya NU juga masih membuktikan eksistensinya.

nu1

Setelah orde lama tumbang digantikan dengan orde baru, seluruh partai islam dijadikan satu partai yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP). NU sebelumnya memisahkan dari Masyumi, ternyata orde baru menyatukan kedua partai dari kaum modernis (masyumi) dan NU (tradisionalis) lagi dengan satu partai (PPP), penyatuan partai-partai Islam menjadi satu partai (PPP) tak bisa dilepaskan dari intervensi Soeharto. Keharmonisan dari kedua kalangan Islam ini tercipta lagi. Meskipun begitu, tidak lama kemudian NU dalam PPP merasa selalu tidak diuntungkan. Maka dalam muktamar NU ke 27 tahun 1984 di situbondo, NU kembali ke khitah 1926 serta keluar dari PPP. Setelah NU berkecimpung dalam dunia politik ternyata agenda utama organisasi terbengkalai. Sudah saatnya NU mengkonsentrasikan diri dalam wilayah sosial-keagamaan sesuai tujuan utama organisasi.

Keputusan NU kembali ke khittah 1926 dan melepaskan politik praktis, dilatarbelakangi dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai ketua umum PBNU. Dengan begitu, NU bisa memberikan kontribusi lebih kepada masyarakat yang membutuhkan. Bahkan NU tegas terhadap anggotanya yang masih aktif dalam PPP atau partai lain, tidak boleh merangkap menjabat di NU atau sebaliknya.

NU Di Era Reformasi

Jatuhnya pemerintahan otoriter soeharto menandai munculnya Reformasi. Di era ini, suasana keterkekangan selama 32 tahun berakhir, beralih dengan suasana demokratis di segala bidang. Maka setiap warga Indonesia mempunyai hak untuk memeriahkan lagi pesta demokratisasi yang sempat berhenti. Perwujudan dari era Reformasi menyebabkan munculnya partai-partai politik baik dari nasionalis maupun Islam. Partai-parta baru bermunculan bak jamur di musim hujan. Peristiwa seperti ini sebelumnya pernah dialami di era soekarno.

Gus Dur sebagai tokoh NU melihat era Reformasi sangat kondusif untuk mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang terbuka untuk berbagai kalangan tanpa dibatasi. Namun suara PKB mayoritas dari kalangan NU, bahkan bisa disebut partai yang merepresentasikan kaum yang sering disebut tradisionalis ini, meskipun ada beberapa ulama dari NU yang mendirikan partai atas nama mewakili kalangan ini juga.

PKB basis suara pemilihnya mayoritas dari NU, telah membuktikan eksistesi partainya memperoleh peringkat 5 besar dari pemilu 1999 dan 2004. besarnya PKB mengingatkan kita terhadap kejayaan NU dalam pemilu 1955. Partai yang basis suaranya dari kaum tradisionalis ini tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata dari partai-partai lainnya. Bahkan PKB mempunyai peran besar mengantarkan Gus Dur menduduki orang nomor satu di negeri ini setelah pemerintahan Habibie.

PKB Tanpa Gus Dur

Tak diragukan lagi, Gus Dus segai tokoh NU yang dianggap membesarkan nama PKB. Sejak berdirinya awal Reformasi sampai saat ini Gus Dur sepertinya sulit dipisahkan dari PKB. Tidak menutup kemungkinan masyarakat khususnya kalangan NU menganggap bahwa PKB itu Gus Dur atau Gus Dur itu PKB. Namun pasca konflik dua kubu antara PKB Gus Dur dengan PKB Muhaimin Iskandar menyebabkan munculnya realitas tak terprediksikan sebelumnya. Hasil dari konflik dua kubu itu, Gus Dur secara konstitusi tidak mempunyai otoritas lagi terhadap PKB. Kekalahan Gus Dur bisa mengurangi harga tawar PKB di mata masyarakat dan partai-partai lainnya. Bahkan PKB dianalogikan sebagai seekor Rajawali yang mempunyai sebelah sayap.

Pemilu tahun ini akan menentukan eksistensi PKB sebagai partai politik representasi dari kaum tradisionalis ini. Apakah PKB masih mendapatkan simpati masyarakat, setelah partai ini menguras tenaganya untuk menyelesaikan konfliknya baik konflik belakangan ini (Gus Dur dengan Muhaimin) maupun konflik-konflik internal sebelumnya. Hidup matinya PKB akan ditentukan hasil pemilu tahun ini. seandainya hasil suara PKB pemilu tahun ini merosot tajam, tidak menutup kemungkinan Gus Dur akan kembali ke Partai ini.

ROSIT

4 thoughts on “Perjalanan Politik NU Dan Tantangan Pemilu 2009

  1. Deden Syarif H. Ponpes Al-Hikmah Kmp. Lembursawah Rt. 01/04 Neglasari Cipongkor KBB says:

    Sudah saatnya generasi muda PKB tampil memimpin partai wong NU ini, sudah seyogyanya generasi tua hidup mendito ke luar dari arena politik praktis

  2. saya kira dengan ideologi nu yang seperti ini tidak cukup layak untuk ikut berkiprah dalam dunia politik. nu lebih relevan bila bergulat dan berdakwah pada konteks masyarakat awam di pedesaan yang notabenya masih lekat dengan budaya hindu seperti di jawa, cuman permasalahannya apakah nu ini sebagai bervisi organisasi pembaharu islam ataukah melegitimasi budaya jahiliyah? karena realitas yang saya lihat adalah bahwa nu sebagai organisasi islam itu para warganya sangatlah lekat dan identik dengan budaya non islam (hindu jawa).

    • saya kira dengan ideologi nu yang seperti ini tidak cukup layak untuk ikut berkiprah dalam dunia politik. nu lebih relevan bila bergulat dan berdakwah pada konteks masyarakat awam di pedesaan yang notabenya masih lekat dengan budaya hindu seperti di jawa, cuman permasalahannya apakah nu ini bervisi organisasi pembaharu islam ataukah melegitimasi budaya jahiliyah? karena realitas yang saya lihat adalah bahwa nu sebagai organisasi islam itu para warganya sangatlah lekat dan identik dengan budaya non islam (hindu jawa).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s