Dari Inul sampai Ulil


Dalam kehidupan ini, kadang kita dikejutkan oleh suatu yang baru, sesuatu itu bisa aneh atau belum ada kejadian sebelumnya. Mungkin saja di tempat lain sudah terjadi, bahkan mungkin sudah basi. Tetapi sesuatu yang baru alias aneh itu, membuat lebih semarak di tengah kehidupan. Satu sisi membuat kreatifitas bagi mereka yang mengapresiasinya, di sisi lain membuat kebakaran jenggot bagi yang tidak mengapresiasinya.

Sekitar tahun 2002, Indonesia dikejutkan oleh goyangan ngebor Inul Daratista dan juga goyangan kemapanan tradisi keislaman oleh Ulil Absar Abdalla. Kedua figur ini, layaknya menggoyang bangunan yang sudah mapan, Inul dengan goyangan ngebornya sudah membukakan pintu kepada teman-temanya untuk mengikuti jejak langkahnya. Mulai saat itu, para musisi yang mempertahankan tradisi ketimuran, juga sedikit dibumbui religi mulai bangun untuk meneriakkan kata ”stop goyangan ngebor” Inul dan sekaligus menutup pintunya. Ada beberapa musisi yang anti goyangan Inul, musisi yang dijuluki sebagai raja dangdut Roma Irama tidak henti-hentinya untuk menghentikannya goyangan erotis Inul. Mulai saat itu, Inul tidak hanya populer dengan goyanganya tetapi juga ia telah menggoyang kemapanan seni yang telah dipertahankan berpuluh-puluh tahun lamanya. Ternyata ketidaksepakatan dan ancaman yang diterima Inul, justru membuat namanya semakin melejit. Berkat inul, muncul Trio Macan, Dewi Persik dan teman-temannya, yang tentu saja mewarisi perjuangan Inul.

Jika Inul dengan goyangan mautnya, rasanya tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Ulil. Ia sekitar 2002, melalui tulisannya berjudul ”menyegarkan pemahaman Islam kembali” yang dimuat di kompas, ulil menggoyang tatanan keislaman yang sudah mapan, ia mencoba menerobos kesakralan yang selama ini dipertahankan dan disucikan oleh umat Islam, lagi-lagi ada yang kebakaran jenggot. Ulil menyatakan, kemapanan doktrin saat ini adalah akar dari ketidakmajuan umat, maka tidak ada jalan, selain menggoyangnya. Berbagai macam ancaman dari berbagai pihak, bahkan sampai isu pembunuhan, penyesatan, pemurtadan, nyatanya ulil tetap berpendirian dengan goyangannya. Mulai saat itu, ulil bak artis terkenal yang siap menghiasi media gosip di televisi kita. Dari seminar ke seminar ulil terus menggoyang kemapanan, kesakralan dan kesucian. Bendera kebebasan pemikiran mulai berkibarkan. Dan nama ulil melejit setinggi-tingginya.

Inul tidak hanya mewarisi kreatifitas bergoyang pada teman-temannya, tetapi Ulil juga menularkan kepada berbagai kalangan bahkan dengan ide kebebasannya Ulil dan teman-temannya di JIL mendapatkan legitimasi perjuangan menegakkan panji-panji kebebasan.

Kebebasan sudah menjadi sesuatu yang sangat penting di negeri ini, mengingat keterkekangan selama 350 tahun sudah dirasakan bahkan negeri ini sudah bosan dan sudah lama ingin memuntahkan kata ”keterkekangan”. Kebebasan juga sudah menjadi impian panjang negeri ini, bahkan dalam merelakan harta, nyawa, darah dan air mata. Tidak sedikit pahlawan yang gugur disebabkan membela kebebasan bahkan sampai perang saudara demi terciptanya kebebasan.

Baik Inul dan Ulil sama-sama mencoba menembus batas tradisi yang selama ini dipertahankan, entah dengan alasan moralitas, budaya ketimuran sampai menyentuh kesucian doktrin. Kemunculan kedua figur itu, rasanya membangunkan kembali inovasi tanpa batas, bagi Inul goyangan ngebornya itu adalah sebuah seni, sedangkan bagi ulil goyangan kemapananya adalah kebebasan berpikir, dan tidak menutup kemungkinan mereka telah membuka pintu keresahan untuk goyangan-goyangan berikutnya.

Saat Inul maupun Ulil dalam kondisi terdesak, disebabkan kondisi yang tidak seimbang, saat yang tepat sosok Gus Dur dengan segala kebijaksanaanya menjadi pahlawan tanpa jasa buat keduanya. Meskipun kepahlawanan Gus Dur, satu sisi menetralkan suasana, tetapi disisi lain membuat kebimbangan dan kebingungan khalayak. Figur satu ini selalu berkata maju tak gentar membela yang lemah, Gus Dur adalah pahlawan pembela kaum tak berdaya, pembela minoritas tanpa mempedulikan ras, agama dan segala perbedaan.

Tak heran Gus Dur sebagai pahlawannya, kyai yang juga multistatus dari tokoh budayawan, agamawan, negarawan, politikus, jauh-jauh hari dirinya dikenal sebagai eksentrik yang tidak habis dibicarakan dari santri sampai kyai. Ia terkenal teguh pendirian, tak gentar dengan gertakan bahkan mengorbankan dirinya sebagai taruhan pembelaanya.

Apakah goyangan Inul itu memang benar-benar sebuah ekspresi seni penuh gejolak keindahan? Lantas bagaimana dengan ulil, benarkah ia tulus untuk membangun wacana pemikiran islam yang menyegarkan, kemudian menjadi faktor perubahan peradaban yang lebih tinggi? Atau mereka teguh pendirian, maju tak gentar hanya karena demi memenuhi kebutuhan yang paling pokok, yakni urusan perut alias sesuap nasi. Wallahu a’lam bi sowab

ROSIT

One thought on “Dari Inul sampai Ulil

  1. Suatu sensasi selalu melahirkan reaksi dan respon yang besar baik itu respon positif maupun negatif, fenomena Inul dan Ulil pun demikian. Pada dasarnya keduanya mempunyai titik tolak yang sama yaitu kebebasan, Inul melenggang dengan alasan kebebasan berekspresi sedang Ulil mengatasnamakan kebebasan berpikir, pada dasarnya tida kebebasan mutlak dalam diri estiap individu, yang ada kebebasan yang dibatasi oleh kebesasan orang lain, norma, agama dan lingkungannya. Tatkala kebebebasan itu melampaui kesemuanya maka yang ada adalah sebuah reaksi yang dapat merusak tatanan nilai, norma dan moral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s