Mengenal lebih Dekat Dengan ”Cinta”


images9Kata orang cinta itu buta, tidak pandang kedudukan, harta, etnis, umur bahkan menembus batas religi sekalipun. Tak menjadi rahasia lagi, cinta mempunyai power yang luar biasa, Bahkan sudah menjadi kodrat manusia untuk mencintai lawan jenis atau kepada makhluk yang lain. Cinta bisa mejadikan sesuatu yang tidak mungkin, dan membuka kemungkinan, semua itu tentunya bukan sulap juga bukan sihir.

Keterpisahan manusia menjadi suatu alasan untuk melahirkan cinta. Pengalaman akan keterpisahan ini menimbulkan kecemasan yang luar biasa dalam jiwa manusia. Bahkan keterpisahan inilah yang merupakan pusat sumber dari segala kecemasan yang di derita oleh manusia. Meninggalkan egosentrisme jiwa dan derita kesendirian menuju kesatuan jiwa manusia yang akan membebaskan penderitaannya.

Adam sebagai manusia yang tercipta pertama kali hidup sebatang kara di surga, walaupun begitu, rasa keterpisahan, kesendirian akhirnya melatarbelakangi munculnya Hawa yang akan menemani perjalanan sampai akhir hayatNya. Cinta itu kesatuan jiwa manusia yang belum sempurna. Cinta mengatasi kesedihan dari dari derita ketersendirian. Hasrat peleburan interpersonal adalah motivator yang kuat yang ada dalam jiwa manusia. Ia menjadi kebutuhan yang paling dasar manusia untuk tidak menolaknya dan bersemayam di dalam jiwa manusia, kebutuhan melestarikan keturunan, etnis, ras, keluarga dan masyarakat menjadikan manusia untuk selalu menghidupkan penyatuan dan menghindari keterpisahan.

Seni Cinta
Cinta adalah memberi, yaitu memberikan sesuatu yang paling berharga, memberikan kepasrahan, memberikan rasa tanggung jawab, memberikan perlindungan, memberikan pengetahuannya, memberikan pemahamannya bahkan juga memberikan kesedihannya. Dalam proses memberi itulah menjadikan kepuasan cinta dan tidak harus mendapatkan sebuah imbalan. Dalam tindakan memberi seseorang akan menemukan realita dimana setiap pemberiannya akan menghasilkan dan akan kembali kepadanya, sehingga bisa mengubah seseorang yang semula penerima justru dia akan memberi pula. Memberikan telah menjadikan tindakan kepuasan (mencintai) dari pada penerima (dicintai), juga lebih penting dari pada dicintai. Lebih dari pada itu, dia akan merasakan suatu kemampuan yang akan menghasilkan cinta lewat tindakan mencintai dari pada dicintai.

Cinta sejati tidak pernah tersirat untuk mengharapkan imbalannya. Walaupun suatu saat akan dan pasti kembali. Cinta seorang ibu terhadap bayinya, karena dia lucu, cantik dan menggemaskan. Maka cinta ibu adalah kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan sebuah cinta. Ketika ibu mengharapkan imbalan jasa-jasanya saat anak sudah dewasa, maka cinta sudah mengalami ketidaksempurnaannya. Dan ketika anak sudah menginjak dewasa, maka ibu harus rela melepaskan anaknya. Sedangkan keterpisahan itu dilakukan karena sang anak harus membentuk kehidupannya, membebaskannya untuk mencari penyatuan seperti dirinya (ibunya).

Cinta yang matang akan mengatakan, aku dicintai karena aku mencintainya, bukan aku mencintainya karena aku dicintainya. Aku membutuhkan karena aku mencintainya, bukan aku dibutuhkan maka aku mencintainya. Cinta abadi tidak disebabkan karena kecerdasan, keuletan, ketampanan, kecantikan, karena semua itu akan hilang ketika seiring dengan hilangnya karakter-karakter itu juga. Cinta adalah perasaan, keputusan, kepasrahan dan tanggung jawab. Cinta tidak hanya perasaan, kalau itu terjadi maka suatu saat pasti akan mengalami keterpisahan. Jika kita benar-benar mencintai seseorang, maka kita harus mencintai semua orang, mencintai dunia ini dan kehidupannya. Jika kita mampu mengatakan “I love you” maka kita juga bisa mengatakan, di dalam dirimu aku mencintai semua orang, melalui dirimu aku mencintai dunia, melalui dirimu aku mencintai diriku sendiri.

Bagi Freud, cinta adalah sexsualitas, persenggamaan antara jenis lain kelamin, bahkan cinta terhadap saudarapun dianggap ketertarikan hubungan sexsualitas, karena terlarang maka tertahankan. Cinta dalam pandangan Freud mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis. Mencintai seseorang berarti mengaktualisasikan dan mengkonsentrasikan kekuatan untuk mencintai. kekuatan untuk melindungi, mengayomi dan bertanggung jawab menjadi prasyarat mutlak untuk mencintai.

Cinta ibu kepada bayinya karena ketakberdayaan, cinta persaudaraan karena cinta antar orang-orang yang setara sedangkan cinta erotis mendambakan suatu peleburan secara total, penyatuan dengan pribadi lain. Cinta inilah merupakan bentuk cinta yang paling tidak bisa dipercaya. Karena begitu mudah untuk mengalami keterpisahan.

Ketulusan cinta bisa dilihat dari kepasrahan, keputusan dan keabadian untuk selalu menyatu. Kita bisa melihat keikhlasan cinta Rabi’ah Al Adawiyah dan Layla dan Majnun, mereka adalah simbol dari cinta sejati yang selalu menyatu dengan yang dicintaiNya. Keikhlasan selalu mengiringi langkahnya. Baik itu cinta kepada Tuhan, manusia dan lainnya. Cinta yang tidak sampai kepada seseorang yang dicintainya berarti cintanya impotent (tidak berdaya). Tetapi apakah cinta harus memiliki? Bukankah kebahagiaan, kedamaian dari apa yang dicintainya menjadikan kita juga mengalami kebahagiaan? Untuk mendapatkan seni cinta kita juga perlu berkosentrasi dan menguatkan diri terhadap apa dan siapa yang kita cintai. Karena cinta itu bukan “omong kosong” belaka.

Rosit
This writing reflected The art of loving by Erich Fromm.

 

One thought on “Mengenal lebih Dekat Dengan ”Cinta”

  1. wah setuju banget sama tulisan lo sit,memang cinta itu keputusan yang harus bener-bener difikirkan dengan matang sampai busuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s