Apakah Anda Berwacana?


Sering kita mendengar istilah wacana (discourse). Semakin seringnya disebut, kadang semakin kurang jelas makna sebenarnya. ”Apakah anda sedang berwacana? Wacana kenaikan BBM selalu disinggung oleh pemerintah”. Tentu kita sering mendengar mengenai kata ”wacana” sesuai kalimat di atas. Nah, apakah wacana itu?

Ada banyak perbedaan dalam mendefinisikan kata ”wacana”, di samping setiap disiplin ilmu mempunyai definisi masing-masing, Kamus, tokoh yang dianggap otoritatifpun dalam mendefinisikan istilah wacana juga saling berbeda-beda. Wacana dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Sedangkan dalam lapangan pilitik wacana lebih cenderung terhadap politik bahasa. Sedangkan wacana  menurut Collins Concise English Dictionary, 1988 adalah 1. komunikasi verbal, ucapan percakapan, 2. sebuah perlakuan formal dari subyek dalam ucapan atau tulisan 3. sebuah teks yang digunakan oleh linguis untuk menganalisis satuan lebih dari kalimat.Begitu beragamnya makna dari wacana sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

 

Meskipun terjadi variasi makna, wacana selalu berhubungan erat dengan bahasa. Dalam analisis wacana bahasa adalah alat yang urgent dalam wacana. Bagaimana subyek bisa menampilkan wacana baik dalam bentuk teks, gambar, musik. Paling tidak ada tiga pandanagan mengenai bahasa dalam analisis wacana.

 

Tiga kelompok dalam mensikapi wacana

Pandangan pertama direpresentasikan oleh kelompok positivisme-empiris. Kelompok ini dalam memandang teks apa adanya (taken for granted). Tidak ada rasa curiga dalam memaknai teks. Kelompok ini selalu positive thinking terhadap tampilan-tampilan teks yang dibuat oleh subyek/wartawan. Misalnya, ”Telah terjadi kerusuhan antara FPI (front pembela islam) dengan polisi di Monas sehingga menyebabkan banyak korban dari kejadian itu. Dalam berita tersebut, kelompok positivisme-empiris dalam memaknainya sesuai dengan kandungan isi. Tidak ada sesuatu yang dipertanyakan dan diklarifikasi lagi

 

Pandangan kedua direpresentasikan oleh konstruktivisme. Kelompok ini sedikit lebih kritis dari kelompok pertama tadi.dalam menganalisa berita kelompok ini menitik beratkan terhadap subyek. Bagaimana subyek bisa mengontrol dalam menyajikan sebuah berita sesuai apa yang diinginkannya. Di sini posisi subyek begitu berpengaruh dalam menentukan tampilan berita/wacana sesuai tujuan yang diharapkannya. Misalnya,” Demonstrasi Mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR membuat kemacetan lalu lintas di sepanjang ruas jalan sehingga mengganggu aktivitas pengguna jalan”. Dalam berita tersebut, kelompok ini menganggap subyek melebih-lebihkan kandungan berita, Dengan cara subyek menggunakan bahasa disfiumisme (bahasa kasar) untuk menampilkan berita tersebut. 

 

Pandangan ketiga disebut pandangan kritis. Kelompok ketiga ini, begitu kritis dalam mensikapi setiap wacana dan berita yang ditampilkan oleh subyek/wartawan. Kelompok ini berpandangan bahasa tidak hanya  sekedar ditinjau dari gramatikal dan fungsinya saja tetapi bagaimana setiap bahasa yang ditampilkan subyek berhubungan erat dengan kekuasaan. Bahasa dibentuk sedemikian rupa untuk mempengaruhi khalayak sesuai apa yang diinginkan subyek dan kekuasaan yang menungganginya. Misalnya ”Pemerintah Daerah Jakarta menertibkan perumahan di daerah kumuh karena mengganggu panorama kota jakarta”. Berita tersebut menurut kelompok ketiga ini, tidak hanya subyek yang mengkonstruk atau menampilkannya tetapi juga kekuasaan setempat ikut andil dalam menampilkanya wacana itu. Dalam berita itu menggunakan kata-kata yang santun sehingga makna sebenarnya tidak ditampilkan.

 

Karakter Wacana

Analisis wacana terjadi tidak dalam ruang yang tertutup tetapi melakukan interaksi satu sama lain. Dalam proses interaksi ada keterkaitan teks dengan kontek yang ada. Teks di sini bisa dalam bentuk tek berita, suara atau gambar yang ditampilkan.Sedangkan kontek sesuatu yang berada di luar tek tetapi ikut mewarnainya. Dari teks dan kontek tersebut menghasilkan sebuah wacana dalam memberikan proses pemaknaan.

 

Dalam wacana (baik melalui percakapan, tindakan, suara) kontek menentukan arah dari maksud sesama pembicara. Misalnya percakapan antara buruh dengan seorang direktur, tentu akan didominasi oleh  salah satu pihak. Dalam kontek ini buruh dalam berkomunikasi juga tidak merasa bebas dalam mengekspresikannya. Kalau sudah begitu, ada kesadaran palsu dari proses komunikasi yang dilakukan antara buruh dengan bosnya itu. menurut Van Dijk kelompok dominan lebih mempunyai akses dari pada kelompok yang tidak dominan. Sehingga kelompok ini bisa mengontrol setiap wacana yang dilontarkan baik itu bernilai positif atau negatif.

 

Dari ketiga kelompok dalam memandang setiap wacana yang ditampilkan. Memberikan sumbangsih  kepada khalayak khususnya dalam mensikapi setiap berita atau wacana. Dan ternyata wawasan kita diperluas lagi dalam berpedoman dan menentukan sikap baik terhadap kekuasaan maupun upaya-upaya manipulasi dalam sebuah berita.

 

Rosit

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s