Siapa sebenarnya komunikator politik itu?


Sering kita mendengar kata komunikator politik atau lebih familiar memberikan lebelitas sebagai politikus. Bahkan selama ini publik menganggap bahwa komunikator politik adalah bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia politik saja. Seandainya saya mengajukan beberapa nama seperti SBY, Amin Rais dan Megawati, tentu anda yakin bahwa mereka adalah komunikator politik. Berbeda ketika saya menyebut nama seperti tukang ojek, tukang sayur, tukang es cendol dll, dari sekian nama tersebut apakah anda akan memberikan lebel kepada mereka sebagai komunikator politik ?

Menurut buku komunikasi politik yang ditulis oleh Dan Nimo, ternyata kita semua termasuk komunikator politik baik suara keluhan tukang ojek terhadap kenaikan harga BBM, obrolan mahasiswa diruang kelas maupun seorang presiden membuat kebijakan publik. Komonikator politik tidak hanya disandang oleh mereka yang mempunyai nama yang besar saja tetapi juga mereka yang tidak mempunyai nama sekalipun. Tapi bagaimanapun juga mereka mempunyai wilayah masing-masing sebagaimana peran mereka dengan jangkaunya. Ada beberapa indikasi yang dianggap bisa mempengaruhi publik. Pertama, politikus sebagai komunikator politik, politikus bisa dipastikan sebagai pemegang pemerintahan strategis. Bagi mereka pemerintah wajib dicapai bahkan mereka bisa melakukan segala cara untuk memenuhi tersebut. Kedua, profesional sebagai komunikator politik, kelompok ini bisa dikatakan manipulator dan makelar simbol yang menghubungkan pemimpin satu sama lainnya. Adapun mereka masuk kedalam katagori ini adalah Jurnalis, Promotor. Jurnalis secara khas adalah karyawan organisasi berita (mass media) yang menghubungkan segala berita kepada khalayak. Menurut hemat saya, Jurnalis mempunyai urgent role dalam mempengaruhi opini publik. Selain jurnalis termasuk dalam katagori ini adalah tokoh masyarakat, pejabat informasi publik, personal periklanan, sekertaris kepresidenan, yang disebut promotor politik. Ketiga aktivis sebagai komunikator politik, kelompok ini mempunyai peran penting mempengaruhi opini publik, seperti juru bicara, walaupun tidak mempunyai cita-cita politik yang real seperti politikus, tetapi mereka cukup terlibat dalam politik maupun komunikasi, sehingga bisa disebut aktivis politik.

Kekuatan komunikator politik
Komunikator politik mempunyai daya tarik tersendiri dalam mengkonstruksi opini publik. Menurut hemat saya, ada ikatan emosional dari komunikator politik tersebut jika dibandingkan dengan orang pada umumnya (termasuk komunikator politik) misalnya dikampus anda ada seminar nasional yang mendatangkan pembicara Gus Dus atau Akbar Tanjung, dan di tempat tidak jauh dari seminar itu juga ada seminar nasional yang pembicara dosen anda yang tidak begitu familiar, maka apa yang akan terjadi? Tentu masa akan menuju seminar yang pembicaranya Gus Dur atau Akbar Tanjung, sehingga dapat dipastikan komunikator lebih berperan dari pada sekedar tema. Dalam komunikator politik, jangan pernah bicara substansi ataupun kualitas tetapi kita perlu tahu, siapa yang menjadi komunikator.

Dalam Kontek Indonesia
Dalam kehiduan di negara berkembang seperti Indonesia. Komunikator politik mempengaruhi konsep dan pilihan masyarakat, disebabkan political level yang ada di negara ini hanya sebatas cultural politic, hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (educational level) warga negara Indonesia masih rendah, dan juga belum merata. Masyarakat kita sepertinya belum bisa lepas dari lingkaran cultural. Menurut Gungun Heryanto (Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta) perjalanan politik di Indonesia belum bisa dilepaskan dari ketergantungan dua organ masyarakat NU dan Muhamadiyah. Bagi komunikator politik berasal dari background manapun harus memperhatikan suara dari kedua organ tersebut. Apalagi dewasa ini, media massa kita dihiasi dengan berbagai pemberitaan mengenai statement Gusdur (tokoh NU & Komunikator politik) yang menyatakan memilih golput pada pemilu 2009, seandainya PKB versi muktamar Parung tidak diikut sertakan mengikuti pemilu mendatang. Tentu statement ini kalau benar-benar terjadi akan mengurangi legitimasi pemilu di wilayah prosedural, menimbang Gusdur adalah komunikator politik yang berpengaruh.

Tingkatan di wilayah rasional politic bisa diaplikasikan di negara-negara maju. Bahkan di Amerika yang bisa dikategorikan negara yang bisa menjalankan rasional politic masih saja ada unsur-unsur primordialisme, rasisme yang seharusnya sudah bebas dari isu-isu semacam itu. Hal itu bisa dibuktikan ketika obama sebagai salah satu kandidat dari kulit hitam mencalonkan diri sebagai presiden AS sempat juga tersebar isu masalah rasisme bahkan sampai terhadap keyakinan (faith) obama.

Apalagi dalam kontek indonesia sepertinya masih sulit bagi kandidat yang belum cukup familiar untuk mendobrak jendela kepresidenan bahkan politikus muda pun masih dipertanyakan meskipun secara realitas tidak kalah dengan kaum tua. Sempat juga terlontar isu politik jawa masih membayang-bayangi perjalanan politik Indonesia.

Ternyata pengaruh komunikator poitik di negeri ini begitu kuatnya, seakan-akan suara satu juta orang pun belum bisa menandingi suara satu komunikator politik. Maka, kita Jangan sekali-kali bertanya isi dari pembicarannya tetapi tanya siapa yang berbicara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s