Perempuan


Sering perempuan disimbolkan sebagai seorang yang manja, pemalu, ingin diperhatikan lebih, konsumtif, bahkan perempuan diidentikan dengan dapur, sumur dan kasur. tidak sedikit perempuan dijadikan objek oleh laki-laki yang bersembunyi dibalik ayat-ayat yang diintrepretasikan sekehendak mereka.
Perempuan dalam kehidupan rumah tangga ditempatkan di bawah level suami (inferior level). Pernahkah anda mendengar istri sebagai kepala keluarga? Tentu belum pernah, tetapi perempuan ditempatkan sebagai kepala negara, pasti kita sering melihatnya, walaupun begitu, kontek kehidupan rumah tangga, perempuan selalu berada di bawah suami meskipun berbeda posisi dalam dunia luar.
Dalam kontek zaman Jahiliyah, perempuan tidak mempunyai harga sama sekali. Harga dirinya dilecehkan, dihina, bahkan bagi mereka yang melahirkan anak perempuan menjadi aib keluarga. Dan segera dibunuh agar tidak merepotkan. Sebegitu hinakah perempuan pada zaman itu? Bagaimana dengan perempuan sekarang?
Beruntunglah saat ini perempuan sudah menempati posisinya yang seseuai dengan harga dirinya. Kartini salah satu sosok perempuan yang merubah pandangan masyarakat pada umumnya, Kartini berjuang menjunjung harga diri perempauan dengan kekuatan dan kecerdasannya ikut bertanggung jawab pada generasi bangsa ini. Saat ini juga kita dihadirkan sosok Megawati maupun Hilary Clinton yang mencoba memperjuangkan hak-hak perempuan melalui mencalonkan diri sebagai kandidat presiden. mulai sekarang kita harus berpikir ulang mempersepsikan perempuan sebagai wanita manja, ingin selalu diperhatikan, centil, konsumtif, suka gosip dan kriteria yang lainnya. Bahkan perempuan tidak sedikit ikut berpartisipasi dalam memperbaiki bangsa ini, dibuktikan dengan adanya perempuan dalam lembaga legislatif walaupun tidak sebanyak laki-laki.

Perempuan Mewarnai Keluarga
Kita sering melupakan bahwa perempuan mewarnai dalam kehidupan keluarga, bahkan perempuan mendominasinaya. tidak salah jika perempauan sebagai tiang agama, jika rusak perempuan maka hancurlah negara, jika perempuan baik, maka kokohlah suatu negara.
banyak kasus, perempuanlah/istri yang selalu dekat dengan anak-anak mereka. kita bisa mencermati, berapa lama anak-anak di dekat ibunya dibandingkan dengan ayah. Tentunya ibu-lah yang setia menemani,bermain, mengajar dari sejak kecil bahkan sampai dewasa. Dari keterdekatan terhadap anak-anaknya itulah, maka perempuan memberi warna kepada keluarga justru bukan ayah.
Seorang ayah memberikan perhatian pada anak-anaknya. menurut hemat saya, ayah kurang mempedulikan kondisi anak-anaknya, seorang ayah tentunya sudah sibuk dengan pekerjaanya diluar sana, bahkan tidak sempat untuk berkumpul hanya sekedar makan malam dengan keluarga.
Bagaimana dengan perempuan/ibu di Indonesia? Kita berharap para perempuan di negeri ini bisa memberikan kontribusi pada bangsa ini, tidak harus dengan ikut berpartisipasi politik tetapi setidaknya perempuan bisa memberikan karakter baik pada anak-anaknya dari kecil hingga dewasa. Pasalnya bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya berintelektual semata tetapi juga berbudi luhur. Mulai saat ini perempuan di Indonesia stop gosip, manja, suka dipuji dan kriteria yang meninabobokan mereka sendiri.

ROSIT

One thought on “Perempuan

  1. TULISANNYA BAGUS TAPI SEPERTINYA AGAK KURANG ENAK DI BACA, MASIH BANYAK YANG BELUM DI SINGGUNG TENTANG PEREMPUNNYA. HE3, SEMOGA SUKSES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s