Memaknai Tahun Baru


Di sepanjang tahun lalu, tentunya kita masih terkenang peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2007, baik itu mengembirakan maupun menyedihkan. Kadang kita sedikit tersenyum dengan datangnya suka cita, kadang juga kita merasa sedih ketika ingat peristiwa yang mengiringi tahun lalu seperti banjir, tanah longsor dan bencana ala yang lain sepanjang tahun lalu itu. Dengan datangnya tahun 2008 ini, banyak di antara kita memberikan berbagai macam makna. Dari sekian makna itu kita mencoba memberikan sebuah coretan-coretan sebagai simbolisasi datangnya tahun baru, yang berarti juga harapan baru pula.

Setiap Tahun Baru identik dengan harapan baru, sehingga masyarakat pada umumnya mencoba untuk mewarnai bahkan mereka seperti para competitor yang siap memnangkan sebuah perlombaan, dengan semangat barunya mereka merayakan dengan penuh keunikan-keunikan, ini terjadi tidak hanya di perkotaan saja tetapi juga di pedesaan juga tidak kalah ramainya.Dari sekian makna yang di berikan untuk tahun baru dari masyarakat pada umumnya, sebenarnya tidak merubah lajunya sang waktu yang tidak mengenal baru atau lama.
Tahun baru di negeri ini dijadikan sebuah momentum menjemput perubahan. Tentunya perubahan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Apalagi negeri ini sudah lama mengharapkan adanya perubahan. Sampai sampai saat ini ternyata masih jauh dari harapan. Seluruh masyarakat tanpa kecuali sangat berharap dengan perubahan, mungkin mereka teringat para simbol politisi yang selalu mengangkat wacana perubahan pada saat mereka berkampanye atau dalam benak masyarakat pada umumnya tahun baru sama dengan posisi ketika pemilihan umum, sama condong kepada perubahan.

Di sadari atau tidak, tahun baru hanyalah sebuah momentum yang sengaja di ciptakan oleh manusia, kalau kita menggunakan sedikit saja logika ,bahwa tiada hari, minggu, bulan dan tahun yang baru. Tetapi bagaimanapun juga tahun baru sudah common di masyarakat pada umumnya tanpa di koreksi atau di kritisi lagi. Sebenarnya hal itu tidak terlalu menjadi persoalan bagi kita, tetapi yang menjadi masalah ketika harapan baru dengan segala yang baru termasuk perubahan di negeri ini apakah itu akan menjadi fakta? Sekedar bercermin terhadap diri kita sendiri, tahun baru tidak harus berarak-arakan, meniup terompet, terjaga sampai pagi atau tertawa riang. Tetapi mari kita maknai dengan refleksi diri, apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun lalu? Tentunya dengan cara koreksi diri kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan tahun lalu. Pastinya kita masih optimis dengan harapan-harapan semoga tahun baru ini tidak hanya sekedar momentum semata, karena cara kita mewarnai tahun baru dengan tahun lalu tidak beda, saya kawatir sama juga hasilnya dengan tahun lalu. Semoga saja itu jauh dari tahun baru saat ini.

ROSIT

\

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s