Lubang Hitam Agama


Islam itu seperti sebuah hutan. Kalau dilihat dari jauh tampak satu, tetapi kalau didekati akan ada banyak pohon. Fundamentalisme hanyalah salah satu dari sekian banyak pohon keislaman itu, bukan Islam itu sendiri.”

K.H. Abdurrahman Wahid


Agama, selain jadi sumber makna bagi etos sebuah masyarakat, bisa jadi sebagai sumber konflik. Agama mempunyai peran yang luar biasa dalam membina behavior masyarakat, selain itu agama melalui teks-teks scripturalnya bisa menjadi inspirator lahirnya sebuah konflik di masyarakat. Sebab dengan melaui teks-teks keagamaansecara ekplisit menanamkan nilai-nilai eklusifisme, fanatisme, keunggulan doktrin, truth claim dan semangat “nasionalisme religious”(Jihad), ajaran yang tertuang dalam teks-teks keagamaan itu secara langsung atau tidak bisa menimbulkan konflik sosial (konflik etnis,rasisme,kekerasan sosial,etc) tetapi di satu sisi, agama juga mempunyai teks-teks keagamaan yang mempunyai nilai-nilai sosial yang tinggi, seperti perdamaian, kasih sayang dan pluralisme.


Di India, Eropa,Timur Tengah, Indonesia di manapun pemandangan tragis ini terjadi. Berlarut-larutnya persoalan Palestina dan Israil di samping disebabkan faktor politik juga masing-masing pihak yang bertikai (Muslim dan Yahudi) sama-sama manganggap pewaris sah atas tanah Palestina berdasarkan kitab sucinya masing-masing. Yahudi dan Palestina misalnya berkilah perebutan tanah Palestina itu karena telah diamanatkan dalam kitab suci Bible (perjanjian pertama terutama yehkezekiel 11:17-13). Dalam kitab itu dinyatakan, Palestina merupakan tanah yang dijanjikan (promised land) buat bangsa Yahudi. Sementara bagi kaum muslim dianggap Palestina adalah salah satu tempat yang disakralkan, karena di sana terdapat tempat bangunan berkubah emas yang disebut Dome of the rock. Dari batu di bawah kubah itulah yang diyakini Nabi Muhammad naik ke langit dalam perjalanan Isra’ Mi’raj.


Selain fenomena teks-teks keagamaan, agama juga bisa dijadikan sebagai topeng kekuasaan. Dalam sejarah Islam, kita juga melihat bagaimana masing-masing sekte agama slam terlibat dalam pertikaian panjang yang tiada ujung. Setiap aliran teologi, meskipun masih bernaung dalam bendera Islam, selalu tenggelam dalam konflik yang berkepanjangan. Banyak para tokoh Islam terkemuka yang mati mengenaskan dibunuh oleh saudara sesama. Ketika orang-orang mengklaim sebagai sekte mayoritas dalam Islam sedang berkuasa, maka para sekte pengikut minoritas seperti Mu’tazilah, Syi’ah dan Khawarij menjadi tumbal kekuasaan. Begitupun sebaliknya, ketika sekte-sekte belakangan ini berkuasa, maka sekte lain juga menjadi sasaran pembantaian. Atas nama pemurnian ajaran Islam, masing-masing kubu saling serang, saling hujat dan saling bunuh.


Di Irak, terutama era rezim Sadam Husein, kita menyaksikan terutama bagi kaum yang tidak berkuasa mengalami nasib tragis karena terus menerus di pinggiran dari konstelasi politik. Begitupun sebaliknya, Iran, di mana Syiah pemegang otoritas politik, minoritas Sunni dan Baha’I dijadikan obyek onani kekuasaan.


Kekerasan atas nama agama juga terjadi di Indonesia dewasa ini, ketika Ahmadiyahsebagai kelompok minoritas selalu diintimidasi, diskriminasi, disesatkan dan lain sebagainya, dengan dasar membela Tuhan dengan otoritasnya sebagai manusia yang lemah dengan segala kecongkakannya serta kesombongannya, seolah-olah Tuhan tidak mempunyai kekuatan serta dianggap pantas dibela. Hal ini merupakan komedi+sandiwara anak-anak. Jika Islam dianggap memang agama perdamaian, Seharusnya penganut sekte mayoritas melindungi kelompok minoritas, bukan malah sebaliknya melakukan kekerasan dengan memakai baju agama


ISLAM DAN DEMOKRASI

Agama dan demokrasi adalah dua persoalan klasik, tetapi tetap menarik untuk diperdebatkan. Dalam konteks Islam, tema ini telah menyita energi para intelektual muslim di seluruh penjuru dunia, tidak hanya dibelahan Arab dan Timur Tengah saja. Dari intelektual fundamentalis-konservatif sampai intelektual liberal-progresif terlibat soal ini. Dari sayap Fundamentalis berpendapat bahwa Islam adalah paket illahi yang sakral harus dipisahkan dengan ketat dengan ide demokrasi produk barat yang profan dan sekuler. Sementara bagi sayap liberal progresif, berpandangan bahwa Islam adalah produk sejarah yang tentunya terbatas dengan ruang dan waktu, dan karena itu harus ada ijtihad sesuai dengan problem yang dihadapi pada masanya.


Dari sinilah mereka berpendapat,Islam harus ditafsir ulang, dikonstruk ulang agar selaras dengan cita-cita demokrasi. Penafsiran teks-teks itu bukan dimaksudkan sebagai penundukan teks di bawah nalar demokrasi modern, akan tetapi didasarkan pada sejumlah premis bahwa teks apalagi Al Qur’an merupakan “korpus terbuka” yang memungkinkan kepada siapa saja bisa mengkaji dan menafsir ulang sesuai bidangnya.


Jadi jika kita cermati, perbedaan yang tajam antara sayap liberal-progresif dan fundamental-konservatif merupakan yang mana, sayap liberal menganggap Islam bercita-cita ideal normatif yang perlu disusun terus menerus berdasarkan kontek sosial, dan ruang dan waktu. Sedangkan bagi sayap fundamental, Islam diibaratkan kapsul yang berisi berbagai ramuan yang siap ditelan. Bagi kelompok ini, Islam adalah agama yang lengkap (kamil), universal (alami), serba mencakup (syamil) bisa diterapkan pada sebuah ruang dan waktu kapanpun (shalih li kulli zaman wa makan) dan sebagainya. Pandangan ini yang menyebabkan kelompok ini menolak secara tegas produk demokrasi dan modernitas, menurut mereka adalah produk kebudayaan setan dan tidak sesuai dengan Islam itu sendiri.


Freedom House, lembaga Riset terkemuka di Amerika yang mengadakan survey di akhir tahun, menunjukan bahwa skor kebebasan dan demokrasi di negara-negara muslim sangat rendah. Berdasarkan survey tahun 2001 dari 47 negara yang berpenduduk mayoritas muslim, hanya 11 negara pemimpinnya dipilih secara demokratis. Sementara di Negara-negara non-muslim (katolik) dari 145 negara, 110 di antaranya mengikuti sistem demokratis electoral. Dari survey ini, merupakan masukan untuk negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim, untuk bisa mengimplementasikan atau mendemokratisasikan sesuai azas-azas Islam.


M. ROSIT

2 thoughts on “Lubang Hitam Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s