Communication with God


slatKita hidup di dunia ini, tidak bisa lepas dengan komunikasi antara orang lain(komunication each other), baik itu sikap seorang artis yang mengatakan “no comment’ dalam merespon para wartawan saat diwawancarainya, hal itu merupakan sebuah komunikasi yang mempunyai makna tentunya bisa merespon komunikan. Baik komunikasi tersebut menghasilkan feedback positif atau negatif. Dalam kita berkomunikasi tidak hanya dalam level horisontal saja, tetapi juga pada tataran level vertikal. Untuk menjalin hubungan dengan teman, kolega perlu adanya komunikasi, supaya saling mengenal, tetapi komunikasi vertikal seperti komunikasi dengan Tuhan perlu, untuk mengetahui sang pencipta, adapun jalannya bisa melewati ritual-ritual agama, baik agama Islam, Kriten, Budha dan lainnya.
Secara lahiriyah proses komunikasi vertikal itu tampak bersifat satu arah. Namun pada hakekatnya ini adalah komunikasi dua arah. Misalnya sholat secara implisit mempunyai konotasi sebuah komunikasi vertikal antara manusia dengan Tuhannya. Namun pada hakekatnya ini adalah kumunikasi dua arah. Sebab sholat seakan-akan merupakan dialog, pujian-pujian permohonan kepada sang Kholik. Ucapan-ucapan, bacaan-bacaan dan tata cara berkomunikasi itu sendiri tentunya sudah ada aturan dari sang Kholik.
Sebenarnya makna dari komunikasi dengan Tuhan begitu penting sehingga setelah proses komunikasi ini, bisa mempunyai efek dalam kehidupan sehari-hari. Coba kita analisa, kita selalu komunikasi dengan orang lain, tentunya kita akan dikenal, bisa kerjasama, bahkan kita bisa dapat kepercayaan dari orang lain, atau orang yang sedang jatuh cinta, dia akan selalu mengingat dan menyebut nama orang yang dicintainya tanpa bosan-bosannya.
Begitu juga, ketika kita sering berkomunikasi dengan Tuhan, dengan menjalankan ritual-ritual, kita akan bermesraan dengan Tuhan serta dekat denganNya. Kita akan selalu merasa ditemani dimanapun kita berada.
Tetapi tidak sedikit orang disekeliling kita meremehkan subtansi komunikasi dengan Tuhan. Mereka hanya mementingkan komunikasi dengan sesamanya misalnya sesama teman, kolega, istrinya dan lainnya. Mereka menganggap sudah cukup dengan itu. Tetapi kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak orang kaya sudah terpenuhi kebutuhannya secara material, tetapi mereka merasa kurang, sehingga dengan segala upaya baik benar maupun salah tidak menjadi tolak ukur yang penting keinginanya tercapai. Tidak sedikit orang seperti itu, ketika ada problem dalam mencurahkan masalah tidak melalui cara-cara yang benar dan tepat, tetapi mereka pergi ke diskotik, minum-minuman keras, yang pastinya tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Baik komunikasi dengan Tuhan maupun dengan manusia akan menghasilkan effek. Kedua komunikasi ini ada nilai-nilai yang saling berkaitan yang tidak bisa dipisahkan bagaikan keterikatan kedua gambar dalam sebuah koin, jika salah satu gambar tidak tertera, tidak akan laku lagi mata uang tersebut. Sebagai mana sabda nabi Muhamad” kerjakanlah duniamu seakan-kan engkau akan hidup selamanya, dan kerjakanlah akheratmu seakan-akan engkau akan mati esok” dalam ayat tersebut mempunyai substansi keserasian antara komunikasi dengan Tuhan maupun komunikasi dengan manusia.
Kecerdasan sosial
Kemudian, dengan saling keterikatan antara komunikasi Vertikal (Vertical Communication) dengan komunikasi Horisontal (Horizontal Communikation), ternyata ini adalah implementasi dari komunikasi Vertikal (Vertical Communication). Komunikasi vertikal mempunyai nilai-nilai yang mendorong tindakan sosial (Social Acts) , sehingga kedua komunikasi ini saling beriringan untuk menciptakan kehidupan yang romantis.
Orang yang sering berkomunikasi dengan Tuhan dengan sungguh-sungguh, mereka berusaha untuk mengkonkretkan nilai-nilai yang terkandung dari substansi komunikasi dengan Tuhan. Pada bulan Ramadhan umat Islam menjalankan ibadah puasa, umat muslim tentunya menahan lapar, haus dari sahur sampai buka puasa, rutinitas ini dilakukan selama satu bulan penuh (kecuali bagi wanita). Tapi realitas yang ada, ternyata efek berpuasa di bulan Ramadhan mengakibatkan tindakan-tindakan yang mencerminkan makna pada bulan suci tersebut. Umat Islam tidak hanya sekedar menahan lapar tetapi mereka juga mengimplementasi makna dari puasa tersebut, misalnya suka bersedekah, ramah tamah, suka menolong, menjaga sikap dan tingkah laku sehari-hari padahal pada bulan-bulan biasa bisa bertolak belakang.
Dari kasus diatas, ternyata berpuasa meningkatkan kecerdasan sosial, bagaimana dengan melaksanakan ibadah puasa, umat Islam berusaha mensinergikan antara komunikasi dengan Tuhan dan komunikasi dengan manusia. Sehingga tercipta kehidupan yang romantis, dinamis, damai dan menyenangkan.

ROSIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s