Adakah Perubahan?


Selama ini kita berpedoman bahwa revolusi adalah sebuah perubahan masyarakat atau negara yang akan mengganti dari tatanan yang telah ada diganti dengan tatanan baru. Tidak hanya perubahan struktur yang ada tetapi juga perubahan sampai ke akar-akarnya. Masyarakat menyambut revolusi dengan penuh harapan akan ada perubahan yang lebih baik. Biasanya revolusi di warnai dengan kerusuhan atau konflik sosial yang mendekonstruksi tatanan sebelumnya. Kemudian masyarakat me-rekonstrusi tatanan baru.
Sedangkan menurut Velfredo Paretto, masyarakat sebenarnya tidak berevolusi dan tidak maju, hanya individu-individu yang mengadakan relasi-relasi lahiriah dan mereka tidak berubah. Masyarakat hanya melakukan pergeseran-pergeseran saja. Jika memang ada, kadang-kadang terjadi penyusunan kembali atau Resuffle dalam masyarakat, seolah-olah mengadakan sebuah perubahan pada masyarakat itu sendiri. Menurut velfredo paretto sebenarnya kata revolusi adalah instrument elit politik untuk menaiki posisi kekuasaan, sedangkan masyarakat dan mahasiswa hanya dijadikan alat bagi tim sukses elit saja.
Peristiwa ini, hamat saya selama ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di negari ini. Sejak para pahlawan berhasil mengusir penjajahan di negeri tercinta ini, sehinga Indonesia mendapatkan kemerdekaan yang selama ini diimpikan oleh seluruh rakyat yang sudah selama 3 setengah abad dijajah oleh negeri asing. kemudian terbentuklah struktur pemerintahan untuk mengisi kemerdekaan dengan harapan menjadikan bangsa dan negara lebih baik kondisinya. Setelah berjalan pemerintahan (Orde lama) ternyata kondisi masyarakat tidak jauh berubah dari semula, bahkan masyarakat hanya dijadikan legitimaasi kekuasaan. Melihat kondisi seperti ini, rakyat, mahasiswa, pers dan elemen-elemen masyarakat lainnya bergerak untuk me-revolusi kekuasaan yang telah ada, sehingga timbulah pemerintahan era Orde Baru. Dari hasil revolusi ini, tercipta tatanaan baru, masyarakat berharap akan ada perubahan-perubahan dalam segala bidang. Ternyata tidak lama berjalannya pemerintahan baru, mulai terjadi lagi penyelewengan-penyelewengan seperti korupsi merajalela, budaya boros para pejabat, pemerintahan otoriter, tidak aspiratif dll, Sehingga menggerakkan masyarakat, mahasiswa, LSM-LSM kembali bergerak untuk melakukan Reformasi seperti yang terjadi pada masa sebelumnya.
Reformasi di negara kita sudah berjalan dari sejak 1998 sampai detik ini ternyata juga tidak menghasilkan perubahan-perubahan yang telah dijanjikan oleh kata “reformasi” itu sendiri.  Rakyat hanya dijadikan instrument para elit untuk melakukan pergeseran-pergeseran kedudukan dari presiden lama berganti ke presiden yang baru. Revolusi yang di maksud Vilfredo paretto hanya sebatas itu saja. Para elit politik mengkampanyekan sebuah negara ideal yang akan merubah masyarakat menjadi baik itu hanyalah retorika belaka, sedangkan buktinya perubahan tidak terjadi. Bahkan masyarakat dininabobokan akan datang ratu adil yang akan membenahi segala tatanan-tatanan yang akan menjadikan lebih baik, itu hanyalah mitos yang kebenarannya samar-samar dan kemungkinan besar tidak akan terjadi.
Yang jadi pertanyaan, apakah memang Indonesia akan terus melakukan perubahan-perubahan seperti apa yang di maksud oleh Velfredo Paretto ? Kalau memang kondisinya seperti itu, kita termasuk bangsa yang bodoh, yang tidak pernah belajar dari sejarah masa lalu. Tugas menggerakkan perubahan, tidak hanya tanggung jawab pemerintahan atau mahasiswa tetapi seluruh warga negara wajib menjunjung tanah air kesatuan Republik Indonesia. Dengan melakukan kerja keras untuk menjemput perubahan. Seluruh warga masyarakat bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara, tetapi peran kepala negara yang mempunyai otoritas dan berperan penting dalam mengambil kebijakan-kebijakan 5 tahun ke depan harus bisa dipertanggung jawabkan. Apakah sampai saat ini, kebijakan-kebijakan presiden telah sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat atau sebaliknya menyengsarakan rakyat kecil?. Hal ini perlu dikoreksi bersama, kalau memang selama ini kebijakan tidak memihak rakyat, dengan segala upaya kritik wajib dilontarkan oleh presiden maupun struktur pemerintahannya untuk membangun dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lampau.Sedangkan sebagai presiden harus berlapang dada untuk menerima segala kritikan yang dilontarkan mensikapi secara bijaksana.
Menurut Budiman sujadmiko, untuk melakukan perubahan, kita perlu belajar dari bangsa-bangsa miskin atau berkembang yang telah menjadi negara maju. Misalnya Malaysia, Singapura, India. Sepertinya lebih relevan sesuai latar belakang bangsa kita dibandingkan belajar dari bangsa yang memang sudah maju, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman dll tentunya kondisinya dari latar belakang maupun geografinya kurang tepat. Tetapi apapun kondisinya, optimis dalam membangun bangsa yang lebih baik harus selalu ada, agar kita tidak seperti apa yang dimaksud  Vilfredo paretto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s