Pers, Masyarakat dan Kekuasaan


Pers tidak memiliki kekuasaan tetapi dekat dengan kekuasaan. Secara hitam putih, orientpres-pasi pers dapat dipilah menjadi 2 kutub. Kutub pertama pers berorientasi kepada masyarakat, bila lebih banyak membela dan mengartikulasikan aspirasi kehendak dan kepentingan masyarakat, sebaliknya pers berorientasi kepada negara bila lebih banyak membela atau mengartikulasikan kemauan dan kepentingan negara. Ada beberapa ideologi pers yang mempengaruhi perjalanan pers di suatu negara yang tentunya berhubungan dengan kebijakan-kebijakan dari pihak pers maupun negara. Hal ini terjadi disebabkan ideologi dalam negara akan mempengaruhi setiap gerak pers tidak hanya dari segi fungsi penyebaran informasi tetapi juga fungsi-fungsi seperti edukasi, koreksi, rekreasi dan mediasi, misalnya dalam sebuah negara yang menganut komunisme

Perjalanan Pers di Indonesia
Pasca kolonialisasi, pers Indonesia mulai mengembangkan jati dirinya sehingga berbagai macam pers muncul untuk menyuarakan suara rakyat Indonesia tentu juga mengisi kemerdekaan. Sejak masa demokrasi terpimpim pers mempunyai perkembangan yang memburuk, hal ini disebabkan perlakuan penguasa terhadap pers telah melampaui batas-batas toleransi, karena pers pada saat itu sudah mulai merongrong kekuasaan, sehingga pemerintahan demokrasi terpimpin bertindak Represif dalam mensikapi pers Indonesia dengan menciptakan regulasi-regulasi yang harus ditaati setiap institusi pers . Bagi pers yang masih mempertahankan ideologinya terpaksa akan menghentikan aktivitasnya, dan sebaliknya pers yang tunduk dengan regulasi-regulasi yang diciptakan pemerintah akan tetap hidup. Sehingga pers yang masih hidup saat itu ,yaitu pers tidak mempunyai daya kritis terhadap pemerintahan.
Setelah sukarno jatuh dari kekuasaannya, pers,mahasiswa ikut berperan dalam peralihan dari orde lama beralih ke orde baru. Dengan bergantinya kekuasaan dunia pers yang pada masa demokrasi terpimpin pers tidak bisa mengekpresikan sebagaimana fungsinya, maka dengan lahirnya orde baru, pers, masyarakat berharap mempunyai kebebasan dalam mengekpresikan informasi-informasinya, tetapi tidak lama pers ada nafas kebebasan. pemerintahan orde baru mulai ada gejala-gejala yang tidak memihak rakyat, maka pers mengkritik kebijakan-kebijakan dan tingkah laku pejabat yang melenjeng dari apa yang telah diharapkan. Korupsi merajalela, hutang ke negara lain, pengeluaran uang negara yang tidak tepat dll. Pada saat itu juga, pemerintahan orde baru mulai melakukan tindakan-tindakan untuk melanggengkan kekuasaanya dengan bertindak represif dengan jalan mencabut institusi pers dan menagkap orang yang merongrong kekuasaan negara. Sehingga terjadilah peristiwa malapetaka 15 januari pada tahun 1974 (malaria), yang membredel beberapa pers yang dianggap mengganggu stabilitas negara.
Setelah tumbangnya Suharto pada tanggal 21 Mei 1998 dari kekuasaan selama 32 tahun, sehingga mengakhiri orde baru dan menimbulakan era reformasi.
Pers Indonesia mulai mempunyai kebebasan, sehingga timbul begitu banyak organisasi pers.Secara kuantitatif dalam 5 tahun pertama jumlah penerbitan pers Indonesia mengalami perkembangan pesat. Kecendrungan maraknya penerbitan pers sebagai dampak langsung reformasi itu, sehingga masyarakat maupun intitusi pers mulai mempunyai fungsi sebagai cek and balance terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah

ROSIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s