<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Kehidupan</title>
	<atom:link href="http://rosit.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rosit.wordpress.com</link>
	<description>Nothing Impossible</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Sep 2011 08:23:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rosit.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumah Kehidupan</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rosit.wordpress.com/osd.xml" title="Rumah Kehidupan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rosit.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Presiden SBY dan Global Champion of Disaster Risk Reduction</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2011/06/15/presiden-sby-dan-global-champion-of-disaster-risk-reduction/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2011/06/15/presiden-sby-dan-global-champion-of-disaster-risk-reduction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 14:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL POSTS]]></category>
		<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[KEBIJAKAN PUBLIK]]></category>
		<category><![CDATA[KOMUNIKASI POLITIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 10 Mei 2011, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menerima pengharagaan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon sebagai Tokoh Dunia bidang Pengurangan Risiko Bencana atau &#8220;Global Champion for Disaster Risk Reduction&#8221;. Penerimaan penghargaan tersebut diwakili oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat menghadiri acara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=725&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 10 Mei 2011, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menerima pengharagaan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon sebagai Tokoh Dunia bidang Pengurangan Risiko Bencana atau &#8220;Global Champion for Disaster Risk Reduction&#8221;. Penerimaan penghargaan tersebut diwakili oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat menghadiri acara tersebut. Acara itu disaksikan beberapa kepala negara, menteri dan 2.500 undangan dari 160 negara</p>
<p>Arti dari penghargaan itu tidak lain ialah PBB mengakui bahwa Presiden Susilo Bambang Yudoyono berhasil dalam mengurangi kebijakan pencegahan resiko bencana di seluruh tingkatan, mendorong peningkatan investasi di bidang pencegahan resiko bencana, serta wujud nyata penghargaan dunia atas kepeloporan, komitmen dan dedikasi Presiden RI maupun Pemerintah Indonesia dalam mengatasi berbagai bencana alam, maupun berbagai upaya inovatif dalam pengurangan resiko bencana.</p>
<p>Di dalam negeri, berbagai media memberitakannya baik dari media cetak maupun elektronik,  misalnya di tempat-tempat strategis di Jakarta khususnya, dipasang spanduk yang bertuliskan “ Selamat kepada Presiden SBY atas penghargaan PBB sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction”. Nah, dari berbagai media massa yang telah memberitakan dan mensosialisasikan keberhasilan SBY dalam penanggulangan resiko bencana itu, mengapa isu pemberitaan di berbagai media massa mengenai keberhasilan SBY tidak banyak diperbincangkan di televisi? Mengapa khalayak/rakyat tidak banyak mengetahui mengenai penghargaan yang diterima SBY?</p>
<p>Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa penghargaan sepenting itu tidak banyak diperbincangkan. Pertama, ada kegagalan agenda setting media, yakni apa yang dianggap penting oleh media ternyata tidak dianggap penting oleh khalayak. Kedua, ada sebuah knowledge gap sehingga rakyat belum tentu mengetahui bahasa yang digunakan oleh media maupun pemerintah. Ketiga, masyarakat cenderung memaknai penghargaan itu kontras dengan realitas rakyat yang mayoritas masih memprihatinkan. Keempat, rakyat tidak sepakat dengan penghargaan penanggulangan resiko bencana yang diberikan Presiden SBY. Kelima, upaya pemberitaan itu tidak bisa memasuki ranah interpersonal khalayak. Keenam, rakyat mencium ada upaya propaganda dari pemerintah SBY. Ketujuh, rakyat memaknai ada sebuah pencitraan politik di dalam pemberitaan itu.</p>
<p>Apalagi pemerintah yang selama ini diamanati oleh harapan rakyat yang begitu besar belum bisa membuktikan janji-janjinya. Sepertinya menjadi suatu yang tak perlu dilakukan membicarakan penghargaan terhadap Presiden SBY secara berlebihan di tengah kemiskinan yang masih membabi buta. Penghargaan-penghargaan itu tidak ada artinya buat rakyat karena memang tak berpengaruh dalam kehidupan rakyat yang mendambakan kesejahteraan khususnya dalam masalah ekonomi.</p>
<p>Sementara menurut hasil survei yang dilakukan oleh Indo Barometer, rakyat seolah-olah merindukan pemerintahan Orde Baru Soeharto, hal ini dibuktikan bahwa mayoritas publik menganggap Orde Baru lebih baik (40,9%), daripada era Reformasi sekarang ini (22,8%). Temuan ini merupakan pukulan terhadap pemerintahan SBY agar bisa membuktikan janji-janjinya dan lebih bekerja keras, bukan mengkritisi hasil survei atau malah menyangkalnya.</p>
<p>Hemat saya, SBY tidak perlu berbesar hati dalam menerima penghargaan itu, karena secara substantif tidak ada dampak positif terhadap rakyat. Rakyat tidak membutuhkan berbagai macam bidang perhargaan yang selalu dianugerahkan terhadap Presidennya, akan tetapi yang dibutuhkan adalah bukti nyata khususnya berpengaruh dalam perubahan kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Oleh karena itu, penghargaan kepada Presiden SBY atas penghargaan PBB sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction menghasilkan fakta yang tidak sesuai kebutuhan dasar rakyat. Sehingga baik upaya media dan pemerintah dalam mensosialisasikannya tidak menghasilkan informasi yang komunikatif. Kebutuhan yang mendesak bukan sebuah penghargaan dan sanjungan  yang bagi rakyat tak bermakna, namun menurunnya harga sembako, keamanan terjaga, kemiskinan berkurang dan  terhindar dari bencana akan menjadi jauh lebih bermakna. </p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/all-posts/'>ALL POSTS</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/bahasa/'>BAHASA</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/kebijakan-publik/'>KEBIJAKAN PUBLIK</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi-politik/'>KOMUNIKASI POLITIK</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/725/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=725&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2011/06/15/presiden-sby-dan-global-champion-of-disaster-risk-reduction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KULTUR, KOMUNIKASI, KONTEKS DAN KEKUASAAN</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2011/05/25/kultur-komunikasi-konteks-dan-kekuasaan/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2011/05/25/kultur-komunikasi-konteks-dan-kekuasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 08:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah studi komunikasi interkultural melalui tiga pendekatan, dan menguraikan pendekatan dialektikal yang terintegrasi terhadap komunikasi interkultural. Akan dibahas pendekatan dialektikal dan mengidentifikasi empat komponen yang saling berhubungan atau blok-blok image dalam memahami komunikasi interkultural yaitu kultur, budaya, konteks, dan kekuasaan. Kultur dan komunikasi merupakan latardepan, sedangkan konteks dan kekuasaan membentuk latarbelakang untuk mengerti komunikasi interkultural. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=718&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>	Sejarah studi komunikasi interkultural melalui tiga  pendekatan, dan menguraikan  pendekatan dialektikal yang terintegrasi terhadap komunikasi interkultural. Akan dibahas pendekatan dialektikal dan mengidentifikasi empat komponen yang saling berhubungan atau blok-blok image dalam memahami komunikasi interkultural yaitu kultur, budaya, konteks, dan kekuasaan.  Kultur dan komunikasi merupakan latardepan, sedangkan konteks dan kekuasaan membentuk latarbelakang untuk mengerti komunikasi interkultural. Pertama, kita defisinikan dan gambarkan budaya dan komunikasi, kemudian pelajari bagaimana dua komponen ini berinteraksi dengan isu-isu  tentang konteks dan kekuasaan untuk menambah pengertian kita tentang komunikasi interkultural.</p>
<p><strong>Apakah Budaya Itu :</strong><br />
	Kultur sering dianggap sebagai konsep inti dalam komunikasi interkultural. Studi komunikasi interkultural sering fokus pada bagaimana perbedaan antara kelompok satu dengan lainnya : Muslim berbeda dengan Nasrani, orang Jepang berbeda dengan Amerika, Pria berbeda dengan wanita, environmentalis dengan konservatifis, pro-lifers dengan pro-choicers, tua dengan muda, dsb (Gudykunst, 2002).</p>
<p>	Harus dipikirkan persamaan dan perbedaan dialektik untuk memahami komunikasi interkultural yaitu dengan mencari persamaan dan perbedaannya secara simultan. Tanpa memperhatikan latarbelakang budayanya, manusia terikat aktifitas harian dan memiliki banyak keinginan dan hasrat yang sama, seperti makan, tidur, cinta, persahabatan, dan hubungan romantic, dan ingin dihormati dan disayangi dari mereka yang penting untuk kita.</p>
<p>	Ada beberapa perbedaan dalam kelompok-kelompok kultural yaitu bermacam aktifitas dari kultur ke kultur.  Pria dan wanita seringkali tidak sama dalam melihat dunia. Tua dan muda memiliki tujuan dan cita-cita yang berbeda. Muslim dan nasrani memiliki keyakinan yang berbeda, seperti kata pepatah “ When in Rome do as the Romans do”  ini menyiratkan bahwa mudah saja untuk beradaptasi dalam perbedaan, cara berpikir maupun kebiasaan, walaupun telah beradaptasi ke kultur yang baru tetapi tetap saja  “Only Romans  are Romans dan hanya mereka (Romans) yang tahu caranya menjadi orang Roma sebenarnya.  Tantangannya adalah menegosiasikan perbedaan  dan kesamaannya dengan pengertian dan ketrampilan. Pertama, kita harus ketahui apa yang disebut dengan kultur.</p>
<p>	Kultur didefinisikan secara beragam, dari persepsi-persepsi yang pengaruhi komunikasi sampai kepada kontestasi dan konflik.  Banyak definisi tentang kultur, dan karena ini konsep yang kompleks, menjadi penting untuk refleksikannya kepada sentralitas kultur dalam interaksi kita sendiri.  Menurut Raymond Williams (1993) kultur merupakan satu dari , dua  atau , tiga kata yang paling rumit dalam bahasa inggris.  Dan kompleksitas ini mengindikasikan banyak cara kultur mempengaruhi komunikasi interkultural (William, 1981).  Kultur bukan hanya satu aspek dari praktek komunikasi interkultural. Bagaimana kita berpikir tentang kultur yang membingkai ide dan persepsi kita. Misalnya, Jika  kultur didefisinikan sebagai sebuah Negara, kemudian komunikasi antara orang Jepang dan Itali akan menjadi komunikasi  interkultural karena Jepang dan Italia merupakan dua Negara yang berbeda. Jadi sesuai definisi ini, pertemuan antara seorang Asia Amerika dari North Carolina dan Afrika Amerika dari California bukan suatu interkultural karena  North Caroline dan California masih dalam satu Negara.</p>
<p>	Kita tidak dapat menentukan definisi tunggal dari kultur karena beberapa definisi terlalu terbatas (Baldwin &amp; Lindsey, 1994). Suatu pendekatan dialektikal mengatakan bahwa perbedaan definisi lebih fleksibel melalui pendekatan topik. Pendekatan terbaik untuk mengerti kompleksitas interkultural adalah melihat konsep kultur dari perspektif yang berbeda.<br />
J.N Martin dan T.K. Nakayama (1999) </p>
<p>	Periset ilmu sosial tidak berfokus ke kultur saja tetapi pengaruh kultur terhadap komunikasi.  Dengan kata lain, periset berkonsentrasi kepada perbedaan komunikasi sebagai efek dari kultur.  Mereka memberikan sedikit perhatian kepada bagaimana kultur secara konsep atau bagaimana kita melihat fungsi dari kultur. Jelasnya adalah periset interpretif lebih fokus kepada bagaimana konteks kultural pengaruhi komunikasi.  Periset kritikal sering memandang komunikasi dan kekuasaan untuk berkomunikasi sebagai instrument untuk membentuk kembali kultur.  Mereka melihat kultur sebagaimana masyarakat berpartisipasi atau menolak struktur sosialnya.</p>
<p>	Walaupun riset dan studi telah membantu kita dalam memahami aspek yang berbeda dari komunikasi interkultural,` penting untuk menginvestigasi bagaiamana kita berpikir soal kultur, tidak sebagai periset tetapi sebagai praktisi.  Karena itu kita  broaden our scope untuk pertimbangkan sudut pandang yang berbeda tentang kultur, khususnya dalam hal bagaimana kultur mempengaruhi komunikasi interkultural.</p>
<p>Definisi Ilmu Sosial : Kultur seperti yang dipelajari, Kelompok &#8211; Persepsi yang berkait<br />
	Ahli komunikasi dari paradigma ilmu sosial yang dipengaruhi riset di psikologi melihat kultur sebagai sesuatu yang dipelajari, persepsi kelompok yang berkaitan (B.Hall, 1992), Geert Hofstede (1984), sebuah catatan psikologi sosial, mendefinisikan kultur sebagai “Pikiran yang diprogram” dan menjelaskan bahwa kultur seperti program komputer :</p>
<p>Setiap orang membawa pola pikiran, perasaan, dan potensi aksi masing-masing yang dipelajari selama hidupnya. Kebanyakan pola ini didapat saat masa kanak-kanak, karena pada masa itu merupakan masa belajar dan  berasimilasi</p>
<p>Hofstade kemudian menggambarkan bagaimana pola ini terbangun melalui interaksi di lingkungan sosial dan dengan bermacam kelompok dan individu, pertama adalah di keluarga, kemudian tetangga, sekolah dan kelompok anak-anak, kuliah, dan seterusnya. kultur menjadi suatu pengalaman yang kolektif karena berbagi dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan sosial yang sama.</p>
<p>	Untuk memahami tentang program pikiran yang kolektif, Holfstede dan ilmuwan lainnya mempelajari behavior organisasi di berbagai lokasi perusahaan multinasional (didiskusikan kemudian). Ilmuwan sosial juga telah menentukan aturan tentang persepsi pada pola kultural. Mereka menganggap pola kultural dari pikiran dan  pengaruh proses persepsi kita yang berpengaruh kepada kebiasaan kita :</p>
<p>Kultur didefinisikan sebagai pola-pola yang dipelajari, persepsi kelompok yang berkaitan, termasuk bahasa verbal dan nonverbal, nilai-nilai, sistem keyakinan dan ketidakyakinan, dan kebiasaan (Singer, 1987)<br />
Definisi Interpretif : Kultural sebagai simbolik kontekstual pola-pola yang bermakna</p>
<p>	Ilmuwan interpretif yang dipengaruhi oleh studi antropologi  juga melihat kultur sebagai suatu yang dipelajari dan dibagi.  Mereka cenderung focus ke pola-pola  kontekstual dari kebiasaan komunikasi daripada kelompok yang persepsinya berkaitan. Banyak ilmuwan interpretif meminjam definisi antropolog Clifford Geertz yaitu :</p>
<p>Suatu pola makna historis yang ditransmisikan dan diwujudkan dalam bentuk simbol, sebuah sistem konsep yang diwariskan yang diekspresikan dengan bentuk simbol yang bermakna dengan komunikasi, menterjemahkan dan mengembangkan pengetahuan mereka  dan sikap terhadap kehidupan.</p>
<p>	Salah satu contoh yang paling umum adalah komunikasi etnografi; para ilmuwan ini mencari makna simbol tentang aktifitas verbal dan nonverbal untuk mengetahui pola dan aturan komunikasi. Studi tentang ini mendefinisikan kelompok kultural bukan yang lebih luas, misalnya peserta talkshow atau veteran perang Vietnam.  </p>
<p>	Ahli komunikasi etnografi Donal Carbaugh (1988) mengusulkan lebih baik mencadangkan konsep kultur untuk pola-pola aksi simbolik yang bermakna dalam, jelas secara umum dan diterima secara luas.  Pola tentang  perasaan yang dalam secara kolektif dirasakan oleh anggota kelompok kultural.  Berkumpul di sekitar mesin pembuat kopi di kantor setiap pagi, dapat menjadi pola kultural, tetapi hanya jika aktifitasnya memiliki simbol yang signifikan atau yang membangkitkan perasaan yang berkembang terus. Kemudian aktifitas lebih lengkap mencontohkan suatu pola kultura.  Misalnya berkumpul di sekitar mesin pembuat kopi setiap pagi merupakan simbol dari  teamwork atau keinginan untuk berinteraksi dengan kolega.  Agar dikatakan sebagai pola kultural, aktivitasnya harus memiliki simbol yang signifikan untuk semua anggota kelompok; mereka semua harus menemukan aktivitas yang bermakna kurang lebih dengan cara yang sama. Lalu semua yang hadir harus mempunyai akses ke pola-pola aksi. Ini bukan berarti mereka semua harus menggunakan pola tetapi memang sudah tersedia untuk mereka.</p>
<p>	Gerry Philipsen (1992) menambahkan pendapat Carbaugh’s tentang kultur dengan menekankan bahwa  pola-pola ini bertahan dari waktu ke waktu, dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain.<br />
Kultur…mengacu pada pola konstruksi sosial dan historis transmisikan simbol, makna, premis, dan aturan&#8230;Sebuah kultur berbicara kemudian mengandung konstruksi dan histori sosial yang mentransmisikan simbol dan makna yang berkaitan dengan komunikasi. Misalnya simbol “Lithuanian” atau “Komunikasi” dan definisi-definisi yang ada, percaya tentang aksi bicara (dimana seorang pria yang mencoba mendisiplinkan seorang anak bukan pria sesungguhnya), dan aturan untuk berbicara (seorang ayah tidak menginterupsi anak perempuannya saat makan malam di meja)</p>
<p>Definisi Philipsen ini dipengaruhi kerangka kerja etnografer komunikasi Dell Hymes’s (1972) dalam mempelajari berbicara yang muncul secara indepth dan konteks. Kerangka kerjanya terdiri dari delapan elemen : adegan, partisipan, akhir, rangkaian acting, kunci, instrumental, norma dan genre.  Dalam sekuens ini diakronimkan sebagai SPEAKING (Scene, Participants, End, Act, Key, Instrumentally, Norm, and Genre).  Scene adalah susunan event komunikasi. Partisipan adalah orang yang tampil atau beraksi pada event. End adalah tujuan pembicaraan partisipan.   Rangkaian Acting adalah urutan frase selama adegan. Key adalah tone selama berbicara. Saluran komunikasi adalah Instrumental. Norma adalah aturan yang harus diikuti. Sedangkan Genre adalah tipe atau kategori berbicara. Dengan menganalisa bicara pada framework ini, kita dapat memperoleh pengertian yang komprehensif tentang  aturan dan pola yang dilakukan oleh komunitas yang berbicara.</p>
<p> Walaupun gagasan kultur  seperti sharing, learning pola kelompok sebagai persepsi atau kebiasaan simbolik sepanjang masih standar dalam berbagai disiplin, semakin banyak orang yang mempertanyakan manfaatnya. Pertanyaan berapa banyak kultur betul-betul di-sharing. Misalnya, seorang kolega melaporkan dalam sebuah diskusi kelas tentang defenisi kultur dimana student memberikan defenisi yang biasa, seorang student jengkel dan ikut dalam diskusi sambil mengatakan “apakah kita benar-benar mempunyai arti kultur yang umum ?”  lalu bertanya :”Versi dan kultur umum apa yang sedang dibicarakan ?” (Collier, Hegde, Lee, Nakayama, &amp; Yap, 2002). Memang ini pertanyaan yang penting, bagian berikut akan menjelaskan sebuah pendekatan alternative untuk mendefenisikan kultur.</p>
<p><strong>Sudut Pandang Lain</strong><br />
Ahli komunikasi Wen Shu Lee mengidentifikasi penggunaan tentang kultur yang berbeda kemudian ia menjelaskan bagaiaman setiap definisi digunakan dalam hal-hal yang khusus.  Ia mendefinisikan ke dalam 6 defenisi, yaitu<br />
1.	 Kultur : Upaya manusia yang unik (berbeda dengan alam dan biologi). Misalnya, Kultur merupakan benteng dari kerusakan alam<br />
2.	Kultur : perbaikan, perangai.  Misalnya, cara seseorang mengunyah makanan, seperti tidak berbudaya sama sekali.<br />
3.	Kultur : Civilisasi, contoh : di suatu negeri pada jaman kegelapan dan rakyat menginginkan kultur, menjadi kewajiban kita untuk men-civilize jiwa-jiwa tersebut.<br />
4.	Kultur : Bahasa untuk berbagi, keyakinan, nilai-nilai.  Misalnya, “Kita dating dari kultur yang sama, kita berbicara dengan bahasa yang sama, dan kita berbagi tradisi yang sama.<br />
5.	Kultur : dominasi atau hegemoni (berbeda dengan budaya marginal). Contoh : Ini budaya mereka yang berkuasa yang menentukan yang mana moral dan mana yang menyimpang.<br />
6.	Kultur : pemindahan ketegangan antara berbagai dan tidak berbagi.  Mlsalnya, Budaya Amerika telah berubah dari Majikan/Budak, ke Kulit putih saja/Kulit hitam saja, ke antiperang dan black power, ke aksi afirmatif/multikultur dan perbaikan politik, ke aksi capital transnational dan kampanye anti-sweatshop.</p>
<p>	Definisi diatas mempunyai interes masing-masing.  Definis ke-2 mengistimewakan budaya tinggi dan mengabaikan budaya popular. Definisi ke-3 mengistimewakan Negara yang imperialis dan colonial. Definisi ke-4, mengistimewakan suatu pandangan universal dan representative, tetapi hanya representasikan kelompok kekuatan tertentu saja dan mendiamkan kelompok lain yang tidak siap untuk menerima pandangan ini. Definisi 5, mengistimewakan interaksi budaya yang  di otorisasi oleh kelompok yang dominan (sector/Negara), secara politik lebih eksplisit dibanding definisi 2, 3, 4.  Definisi 6 adalah yang paling disukai (oleh Wen). Lebih kepada meta view tentang kultur.  Fokus kepada “link” antara “yang dibagi” dan “yang sedikit dibagi.(th)</p>
<p>Defenisi Kritis: Budaya itu beraneka ragam, dinamis, dan ajang persaingan.<br />
Pendekatan kebudayaan saat ini, yang dipengaruhi oleh studi kebudayaan, menekankan pada keberagaman kelompok budaya dan konflik yang muncul dari batasan-batasan kebudayaan. contohnya, apa itu “kebudayaan Amerika Serikat”? Apakah Amerika memiliki budaya? Berapa banyak persepsi, sikap, dan kepercayaan juga tingkah laku yang berkembang di AS? Pendekatan kritis mengusulkan agar hanya melakukan penekanan pada aspek “shared culture”, dari banyaknya perbedaan kepentingan di AS. Kedepan, mereka menekankan bahwa batas budaya sering diperlombakan atau dijadikan ajang persaingan dan tidak gampang untuk diterima. Contohnya, meningkatnya pertumbuhan orang-orang seperti Tiger Woods yang memiliki banyak identitas budaya. Dia menyatakan dirinya Cablinasian- Caucasian, Kulit hitam, orang Indian, dan asia karena macam-macam latar belakang rasialnya. Dia menyatakan, bahwa banyak orang berusaha untuk mempermasalahkan latar belakang budayanya, daripada pencapaiannya dalam permainan golf.</p>
<p>Gagasan pemikiran budaya sebagai sesuatu yang beragam dan konflik, sering muncul berasal dari studi kebudayaan British pada tahun 1960-an. Pendidikan tentang budaya merupakan ilmu interdisipliner dan berdedikasi untuk memahami kekayaan, kompleksitas,dan relevansi fenomena budaya dalam kehidupan masyarakat biasa. Keinginan ini untuk membuat kinerja akademika berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Faktanya, kebanyakan orang ingin menemukan hubungan antara apa yang mereka pelajari di dalam kelas dan apa yang terjadi dalam masyarakat saat ini. Pada beberapa kasus, pergerakan ini menimbulkan konfigurasi ulang pada peraturan universitas dalam masyarakat.<br />
Studi kebudayaan cepat berkembang dari Inggris ke Australia, Amerika Latin, juga dunia bagian lain. Dikarenakan perbedaan situasi politik dan budaya, konstruksi spesifik dari studi kebudayaan berbeda-beda. Di Amerika contohnya, studi kebudayaan dikembangkan bersama dengan bidang komunikasi (Grossberg, 1993). </p>
<p>Anda mungkin mengira bahwa konsep budaya timbul dari penyelidikan yang berbeda secara nyata dari konsep yang disajikan dalam ilmu sosial atau bahkan penelitian interpretatif. Bagaimanapun, ini adalah kesepakatan dengan konsep yang ditemukan pada kinerja antropologi saat ini. banyak antropolog mengkritisi penelitian yang mengkategorikan orang dan karakteristik susunan budaya sebagaimana diatur, tidak berubah, dan tidak berhubungan dengan isu gender, kelas, juga sejarah (Keesing, 1994). Penelitian antropolog saat ini melihat proses budaya sebagai suatu yang dinamis dan berubah “organization of diversity” yang secara luas lintas Negara dan batas regional dalam konteks sejarah dan kekuasaan (Hannerz, 1996).</p>
<p>Pandangan yang menyatakan budaya merupakan ajang persaingan membantu kita untuk memahami perjuangan dari berbagai macam kelompok- orang Amerika asli, Asia-Amerika, penduduk Kepulauan Pasifik, Afrika-Amerika, latin, perempuan. Kaum homoseksual, pekerja, dan banyak lainnya sebagai sebuah usaha untuk mengatasi hubungan mereka dan menaikkan kesejahteraan sebagai warga Amerika. Dengan mempelajari komunikasi sebagai sumber atas perjuangan terus-menerus, kita dapat memahami secara lebih baik beberapa permasalahan antar budaya. </p>
<p>Memandang budaya dari sisi pertandingan membuka pemikiran baru tentang komunikasi antar budaya. Bagaimanapun, individu dalam budaya dasar tidaklah identik, dimana ditunjukkan bahwa banyak budaya dipenuhi dengan perjuangan budaya. Juga, saat kita menggunakan terminology seperti kebudayaan cina dan kebudayaan peransi, kita melihat bahwa keberagaman, perbedaan, yang ada dikebudayaan tersebut. </p>
<p>Pendekatan dialek kita, pemikiran, memungkinkan kita untuk menerima dan melihat keterkaitan perbedaan pandangan ini. budaya pada suatu saat dibagi dan dipelajari atas keyakinan dan persepsi yang dapat dimengerti dan bisa diterima secara luas. Ini juga merupakan sisi dari perjuangan dalam pengertian “contested”. Perspektif dialektif dapat membantu memfasilitasi diskusi dalam konflik budaya dalam sebuah Negara. Tugas kita adalah mengambil pendekatan dialektif bukan untuk mengatakan siapa benar siapa yang salah, tapi untutk mengetahui kebenaran dari semua sisi atas sebuah konflik dan memahami jalan atas banyaknya realita yang ada dari kebingungan akan kebudayaan (Cargile, 2005)</p>
<p><strong>Apa Itu Komunikasi?</strong><br />
Komponen lain untuk memahami komunikasi antar budaya adalah komunikasi itu sendiri, yang juga sama kompleksnya seperti budaya. Yang bisa menggambarkan karakter dari komunikasi adalah “meaning”. Komunikasi terjadi pada saat seseorang memberikan pemahaman kepada orang lain lewat kata atau perbuatan. Komunikasi bisa dimengerti sebagai “symbolic process whereby reality is produced, maintained, repaired, and transformed” (Carey, 1989). Penjelasan sederhana ini melibatkan beberapa ide. </p>
<p>Pertama, komunikasi itu simbolik. Maksudnya bahwa kata yang kita gunakan lewat lisan maupun gesture tidak mempunyai makna yang jelas tapi menambah signifikansinya dari ”agreed-upon meaning”. Saat menggunakan simbol untuk berkomunikasi, kita menganggap orang lain mengerti. Juga, pemahaman simbolik ini disampaikan secara verbal dan nonverbal. Ribuan dari perilaku nonverbal- gesture, postur, gerakan mata, ekspresi muka, dan lainnya,-melibatkan “shared meanings”. Simbol kekuatan social seperti bendera, simbol Negara, juga logo Disney, juga mempunyai makna nonverbal. </p>
<p>Untuk membuat hal ini lebih kompleks, setiap pesan harus mempunyai satu makna, dan mungkin banyak makna. Contohnya, kata saya cinta kamu, bisa bermakna “saya ingin menghabiskan malam denganmu”, atau “saya merasa bersalah atas apa yang saya lakukan kemarin malam”, atau “saya ingin menghabiskan seluruh hidup denganmu.” Saat kita berkomunikasi, kita beranggapan orang lain mengerti maksud yang ingin kita sampaikan. Permasalahan akan timbul, ketika komunikasi berlangsung antar individu yang berbeda latar belakang budaya.</p>
<p>Kedua, proses dimana kita membicarakan makna yang dinamis. Komunikasi bukanlah tunggal, tapi proses berjalan terus-menerus- ini tergantung pada proses komunikasi orang lain untuk membuatnya dapat dimengerti. Saat kita berkomunikasi dengan orang lain, kita juga akan masuk kedalam pesan yan ingin kita sampaikan. Pesan ini tidak mempunyai ciri dan bersifat linear, dia muncul tiba-tiba, dengan batasan yang kabur antara awal dan akhir. Saat kita menyampaikan makna, kita menciptakan, mengatur, memperbaiki, dan menyampaikan realitas. Secara tidak lansung orang akan melakukan proses komunikasi. Orang tidak bisa berkomunikasi sendirian.</p>
<p><strong>Hubungan Antara Budaya dan Komunikasi</strong><br />
Hubungan antara komunikasi dan budaya bersifat kompleks. Pandangan dialektis beranggapan bahwa budaya dan komunikasi saling berhubungan dan resiprokal. Oleh sebab itu, budaya mempengaruhi komunikasi, juga sebaliknya. Kelompok budaya mempengaruhi proses pembentukan persepsi atas realitas dan mengaturnya: “semua komunitas dimanapun dan kapanpun merujuk pada pandangan mereka atas realitas dalam tindakan mereka. Seluruh kebudayaan merefleksikan model kontemporer atas realitas” (Burke, 1985). Bagaimanapun, kita juga harus mengatakan bahwa komunikasi membantu membentuk budaya realitas atas komunitas. </p>
<p><strong>Bagaimana Budaya Mempengaruhi Kebudayaan</strong><br />
Ilmu Komunikasi antar budaya menggunakan sudut pandang yang luas dari antropologi dan psikologi untuk menerangkan dan mempelajari perbedaan budaya dalam komunikasi. Dua diantaranya adalah antropolog Kluckhohn dan Strodtbeck serta seorang psikolog social Hofstede (1984).</p>
<p>Kluckhohn dan Strodtbeck Value Orientation<br />
Mereka menekankan pada inti dari nilai budaya untuk memahami kelompok-kelompok budaya. Nilai adalah keyakinan yang paling dalam yang disampaikan dalam kelompok budaya, mereka menggambarkan penyampaian persepsi atas apa yang seharusnya ada, dan apa yang tidak. Keseimbangan, adalah contoh nilai yang disampaikan oleh banyak orang di Amerika. Ini mengacu pada keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, walaupun kita harus mengakui pada kenyataanya banyak ditemukan perbedaan, seperti bakat, kepintaran, atau akses pada barang materi tertentu.</p>
<p>Konflik antar budaya biasanya disebabkan perbedaan pada orientasi nilai. Contohnya beberapa orang merasa hebat dengan sangat menganggap penting apa yang telah mereka capai di masa lalu. Bagi mereka, sejarah dan tradisi merupakan petunjuk. Nilai sering menimbulkan konflik, konflik juga bisa diperburuk oleh perbedaan tingkat kekuasaan (power), dimana seseorang bisa merendahkan orang lain. Kluckholn dan Strodtbeck menyarankan agar semua anggota kelompok kebudayaan harus menjawab beberapa pertanyaan penting dibawah ini:<br />
1.	Apa itu “human nature”<br />
2.	Apa itu hubungan antara manusia dan alamnya<br />
3.	Apa itu hubungan antar manusia<br />
4.	Personality apa yang lebih disukai?<br />
5.	Apa itu orientasi pada waktu?</p>
<p>Pertanyaan dan jawaban yang diberikan dapat dijadikan kerangka berpikir untuk memahami perbedaan nilai antara kelompok-kelompok budaya.<br />
Menurut Kluckhohn dan Strodtbeck, ada tiga respon yang mungkin untuk setiap pertanyaan yang berkaitan dengan nilai-nilai bersama. (Lihat Tabel 3.2.) Kluckhohn dan Strodtbeck percaya bahwa, meskipun semua respon yang mungkin dalam semua masyarakat, masyarakat masing-masing memiliki satu, atau mungkin dua, respon yang lebih disukai dari setiap pertanyaan yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat yang dominan. Keyakinan Agama, misalnya, dapat memperkuat nilai-nilai budaya tertentu. Pertanyaan dan tanggapan mereka menjadi kerangka untuk memahami secara luas perbedaan dalam nilai-nilai di antara berbagai kelompok budaya. Meskipun kerangka awalnya diterapkan untuk kelompok etnis, kita dapat memperluas untuk kelompok budaya berdasarkan jenis kelamin, kelas, kebangsaan, dan sebagainya. </p>
<p>Sifat Human Nature yang ditunjukkan tabel, ada tiga respon yang mungkin, atau solusi, untuk pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai sifat manusia. Salah satu solusinya adalah kepercayaan pada kebaikan dasar sifat manusia. Praktek-praktek hukum dalam sebuah masyarakat yang memiliki orientasi ini akan menekankan rehabilitasi pelanggar hukum; penjara dan penjara akan dilihat sebagai tempat untuk melatih pelanggar untuk bergabung kembali dengan masyarakat sebagai kontribusi warga negara. Agama seperti Buddha dan Konghucu cenderung ke arah orientasi ini, berfokus pada peningkatan kebaikan alami manusia. </p>
<p>Solusi kedua mencerminkan persepsi dari kombinasi kebaikan dan kejahatan dalam sifat manusia. Banyak kelompok di Amerika Serikat terus menggunakan orientasi nilai ini, walaupun sudah ada pergeseran dalam pandangan banyak orang Amerika AS dalam 50 tahun terakhir. Berkenaan dengan keyakinan agama, adanya kurang penekanan pada kejahatan kemanusiaan fundamental, yang banyak pemukim Eropa tradisi Puritan anut/percaya (Kohls, 1996). Namun, saat ini lebih menekankan pada penahanan dan hukuman bagi pelanggar hukum. Sebagai contoh, perhatikan peningkatan undang-undang &#8220;tiga serangan&#8221; (three strikes) dan kurangnya minat dalam rehabilitasi dan reformasi. Mengingat orientasi ini, tidak mengherankan, Amerika Serikat saat ini memiliki proporsi tahanan (warga-dipenjara) yang lebih tinggi daripada negara industri lainnya. </p>
<p>Menurut orientasi ketiga, sifat manusia pada dasarnya jahat. Masyarakat yang memegang keyakinan ini akan kurang tertarik pada rehabilitasi penjahat daripada hukuman. Kita sering memiliki pemahaman masalah penyiksaan atau praktek memotong tangan dan anggota badan lainnya &#8211; praktek lazim di banyak masyarakat di masa lalu-tanpa memahami orientasi mereka pada sifat manusia. Saat ia tinggal di Belgia, Tom terutama terkesan dengan tampilan dari hukuman dan penyiksaan di Persidangan (Counts) Flanders Castle di Ghent. Mungkin kunci untuk memahami praktek-praktek budaya adalah pemahaman tentang pandangan Kristen, bahwa manusia pada dasarnya jahat dan lahir dalam dosa. </p>
<p><strong>POINT OF VIEW </strong><br />
Sarjana komunikasi Korea Tae-Seop Lim dan Soo-Hyang Choi menggambarkan nilai kolektivisme Korea, seperti yang diungkapkan dalam hubungan interpersonal dan komunikasi. </p>
<p>Secara tradisional, Korea memiliki hubungan sosial yang dihargai lebih dari apapun jua. Korea sering melupakan kepentingan sendiri pribadi dan kesejahteraan kelompok mereka milik demi hubungan interpersonal mereka. Karena Korea menekankan hubungan sosial, kemampuan untuk menjaga hubungan interpersonal yang baik juga dihargai. Orang dinilai berdasarkan kemampuan mereka untuk mempertahankan hubungan yang sukses. Memiliki hubungan baik dengan orang lain adalah yang dipertimbangkan untuk mencerminkan karakter seseorang serta kompetensi.<br />
Che-myon adalah apa yang memungkinkan seseorang untuk menghadapi orang lain dengan martabat. Bagian dari che-myon, seperti “konsep wajah” di Barat, merupakan pribadi dan dinegosiasikan tanpa interaksi. Aspek che-myon orang Korea benar-benar sensitif, bagaimanapun, che-myon adalah sosiologis dan normatif. Ini diperluas hingga satu dalam hubungannya dengan posisi sosial seseorang. </p>
<p>Noon-chi adalah apa yang membuat komunikasi diam-diam (tacit) terjadi. Ini adalah strategi yang memungkinkan seseorang untuk mengetahui niat, keinginan, suasana hati, dan sikap yang lainnya tanpa bertukar pesan verbal eksplisit. Hal ini mirip dengan gagasan Barat &#8220;membaca yang tersirat,&#8221; tetapi jauh lebih rumit daripada gagasan Barat. Noon-chi kadang-kadang membaca sesuatu tidak ada, artinya, membaca pikiran orang lain bahkan sebelum yang oraang lain tersebut mengetahui pikirannya sendiri. Noon-chi sering digunakan untuk melindungi masing-masing che-myon mereka. Ketika seseorang perlu melakukan tindakan wajah tertentu yang mengancam, jika orang lain memahami kebutuhan seseorang sebelum seseorang tersebut mengungkapkannya dan bereaksi dengan tepat, maka kedua belah pihak tidak perlu membahayakan che-myon mereka&#8230;. </p>
<p>Hubungan yang saling membutuhkan Jung harus solid. Jung adalah jenis ikatan emosional yang tumbuh dari waktu ke waktu sebagai orang dalam suatu hubungan yang membuat kontak berulang satu sama lain. Ini berfungsi untuk membuat suatu hubungan ikatan kuat. Sebagai hubungan yang tumbuh tua (grows-old), cinta yang sering lenyap, tapi jung biasanya tumbuh makin dalam.<br />
Sumber: Dari T.-S. Lim dan S.-H. Choi, &#8220;Hubungan interpersonal di Korea.&#8221; Dalam WB Gudykunst et Al. (Eds.) Komunikasi dalam Hubungan Pribadi Antar Budaya (Thousand Oaks, CA Sage,. 1996), hal 122-136.<br />
Hubungan Antara Manusia dan Alam </p>
<p>Pada sebagian besar masyarakat AS, manusia mendominasi alam. Sebagai contoh, para ilmuwan benih awan saat kita membutuhkan hujan, dan insinyur rute sungai dan membangun bendungan untuk memenuhi kebutuhan air, rekreasi, dan power. Kami kontrol kelahiran dengan obat-obatan dan alat kesehatan, dan kami membuat salju dan es untuk hiburan rekreasi ski dan skating. Tentu saja, tidak semua orang di Amerika Serikat setuju bahwa manusia harus selalu mendominasi alam. Konflik antara enviromentalis dan pengembang lahan sering berpusat pada perbedaan pendapat dalam orientasi nilai ini. Dan, tentu saja, ada variasi dalam cara nilai-nilai ini bermain dalam masyarakat yang berbeda. Sebagai contoh, negara seperti Kanada, yang umumnya mengemban suatu orientasi &#8220;manusia di atas alam&#8221;, tampaknya masih lebih peduli dengan masalah lingkungan daripada Amerika Serikat. Seperti dijelaskan oleh pelajar, </p>
<p>Kanada sangat konsen melindungi lingkungan mereka, dan ini sangat jelas bahkan jika Anda hanya melakukan perjalanan melalui Kanada. Mereka konsen tentang air bersih, udara bersih dan tidak melakukan terlalu banyak penebangan pohon mereka, menjaga aliran bebas dari polusi, dll.<br />
Dalam masyarakat yang percaya terutama di dominasi alam di atas manusia, keputusan dibuat berbeda. Keluarga mungkin lebih menerima jumlah anak yang lahir secara alami. Ada intervensi kurang dalam proses-proses alam, dan ada sedikit upaya untuk mengontrol apa yang orang lihat sebagai tatanan alam.<br />
Banyak penduduk asli Amerika dan Jepang percaya pada nilai manusia hidup harmonis dengan alam, bukan dari satu kekuatan mendominasi yang lain. Dalam orientasi nilai, alam dihormati dan memainkan bagian yang tidak terpisahkan dalam spiritual dan kehidupan keagamaan masyarakat. Sebagian masyarakat misalnya, kelompok Arab banyak menekankan aspek, baik harmoni maupun dominasi dengan alam. Hal ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai dimainkan dengan cara yang sangat kompleks dalam setiap kelompok budaya. </p>
<p><strong>Hubungan Antara Manusia </strong><br />
Beberapa kelompok budaya menganut nilai individualisme, sedangkan yang lain lebih berorientasi kelompok. Perbedaan budaya yang berkaitan dengan nilai-nilai ini membedakan dua jenis masyarakat. Individualisme, sering dikutip sebagai nilai yang dimiliki oleh Eropa Amerika, tempat-tempat penting pada individu bukan pada keluarga, kelompok kerja, atau kelompok lain (Bellah, Madsen, Sullivan, Swidler, &amp; Tipton, 1985). Karakteristik ini sering disebut sebagai nilai budaya Eropa Amerika yang paling penting. Sebaliknya, orang-orang dari masyarakat yang lebih collectivistic, seperti di Amerika Tengah dan Selatan, Asia, dan banyak masyarakat Arab, tempat penting ada pada keluarga besar dan loyalitas kelompok. Di Amerika Serikat, ini adalah kasus di komunitas Amish dan di beberapa Latino/a dan masyarakat penduduk asli Amerika. Seorang pengunjung ke Meksiko menjelaskan salah satu contoh dari kolektivisme dalam budaya, bahwa: </p>
<p>Aku ingat bahwa di depan umum anak-anak sepertinya selalu disertai oleh seorang yang lebih tua, biasanya anggota keluarga. Orang-orang yang pergi bersama di dalam kelompok keluarga ̶ anak dengan saudara yang lebih tua, kakek, bibi ̶ hampir tidak dengan yang se-usia, di sini di Amerika Serikat.<br />
Orientasi kolateral menekankan koneksi kolektif untuk orang lain (kebanyakan anggota keluarga) bahkan setelah kematian. Orientasi ini ditemukan dalam budaya di mana nenek moyang dilihat sebagai bagian dari keluarga dan berpengaruh dalam keputusan meskipun mereka tidak hidup. Contoh ini termasuk praktek Asia mempertahankan meja di rumah untuk menghormati nenek moyang mereka atau orang Meksiko mempraktekkan &#8220;Hari Mati&#8221; (Day of the Dead) memiliki piknik dekat makam anggota keluarga dan meninggalkan makanan untuk mereka. (Lihat Gambar 3.2.) </p>
<p>Liburan adalah cara yang signifikan memberlakukan dan mentransmisikan budaya, dan nilai-nilai budaya di seluruh generasi. Sebagai contoh, Kwanzaa merupakan hari libur penting bagi Amerika Afrika. Ini didirikan tahun 1966 oleh Ron Karenga dan berlangsung tujuh hari &#8211; 26Desember hingga 1 Januari &#8211; untuk menandai tujuh nilai-nilai budaya yang penting: kesatuan, penentuan nasib sendiri, kerja kolektif dan tanggung jawab, ekonomi koperasi, tujuan, kreativitas, dan iman. Liburan apa yang keluarga Anda rayakan? Apa nilai-nilai budaya yang sedang ditransmisikan dalam perayaan tersebut? (© Lawrence Migdale / Getty) </p>
<p>Nilai juga mungkin terkait dengan status ekonomi atau perbedaan desa-kota. Di Amerika Serikat, misalnya, orang kelas pekerja cenderung lebih kolektif daripada orang menengah atau kelas atas. (Pada orang kelas-pekerja dilaporkan menyumbang persentase yang lebih tinggi dari waktu dan uang untuk membantu orang lain.) Sejarawan Roxanne A. Dunbar (1997), yang tumbuh miskin di Oklahoma, menggambarkan perjumpaan dia dengan individualisme kelas-menengah saat di perjalanan mobilnya bersama suami barunya, Jimmy. Mereka melewati beberapa pengendara yang terdampar, para perempuan yang duduk di tempat teduh sementara laki-laki bekerja pada mobil. Dia terkejut ketika suaminya tidak berhenti untuk membantu:<br />
&#8220;Mengapa kita tidak berhenti?&#8221; Aku bertanya. Tak seorang pun di keluarga saya akan pernah melewati sebuah pengendara mobil yang terdampar &#8230;<br />
&#8220;Mereka preman, merampok Anda dengan membabi buta, bandit jalan raya,&#8221; kata Jimmy.<br />
&#8220;Bagaimana kau tahu?&#8221;<br />
&#8220;Aku tahu, mereka menggunakan anak-anak dan orang tua untuk umpan, untuk membuat Anda berhenti, kemudian merampok Anda, mereka transien, pemetik buah, sampah putih.&#8221;<br />
Aku menatap wajah-wajah sedih ketika kami melewati dan mencoba untuk melihat penipu dan kriminal di balik topeng. Tapi mereka hanya tampak akrab, seperti saudara saya sendiri. (Hal.83)<br />
Nilai-nilai budaya dapat mempengaruhi pola komunikasi. Misalnya, orang yang menganut nilai individualisme juga cenderung untuk mendukung bentuk komunikasi langsung dan mendukung bentuk-bentuk yang jelas dari resolusi konflik. Orang-orang di masyarakat kolektif dapat menggunakan komunikasi yang kurang langsung dan lebih menghindari gaya resolusi konflik. Tentu saja, kadang-kadang orang pada kelompok budaya memegang nilai-nilai yang bertentangan. Sebagai contoh, sebagian besar konteks pekerja AS memerlukan komunikasi yang sangat individualistik, yang mungkin berkonflik dengan beberapa pekerja dari keluarga collectivistic atau latar belakang etnis. Pekerja mungkin merasa sulit untuk damai dan hidup dengan nilai-nilai bersaing. Pertimbangkan pengalaman Lucia, seorang mahasiswa penduduk asli Amerika. Ketika salah satu pamannya meninggal dunia pada minggu pertama sekolah, ia diharapkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keluarga. Dia bepergian keluar dari negara bersama keluarganya ke rumahnya, membantu memasak dan memberi makan anggota keluarga lainnya, dan menghadiri (bangun dan) pemakaman. Lalu ibunya jatuh sakit, dan ia harus merawatnya. Dengan demikian, ia melewatkan dua minggu pertama sekolah. Beberapa dosen wanita itu simpatik, sedangkan yang lainnya tidak. Lucia menjelaskan, ia merasa hampir terus-menerus terpecah antara tuntutan keluarga yang collectivistic dan tuntutan dosen yang  individualistis dan administrasi. </p>
<p><strong>POINT OF VIEW </strong><br />
Dua berita di koran Belgia, Le Soir menampilkan nilai-nilai budaya yang tampaknya bertentangan. Pertama, Yves Berger, seorang penulis dan spesialis AS, diminta untuk menjelaskan urusan seksual Presiden Bill Clinton.<br />
Dalam kasus apapun, itu menunjukkan puritanisme sejauh mana tertanam dalam mentalitas Amerika. Hal ini mungkin tampak luar biasa sebagai orang Amerika, dalam keseharian kami, memberikan tampilan yang berlawanan.<br />
Artikel lain di koran yang sama menggambarkan pertumbuhan dramatis industri pornografi AS. </p>
<p>Pasar video dewasa sedang booming dan tokoh-tokoh bisnis penyewaan dan penjualan video dewasa meningkat pada 1997 sebesar 4.200.000.000 dolar, sesuai dengan panduan tahunan Berita Adult Video<br />
Sumber: Dari Y. Berger, &#8220;A bout portant,&#8221; Le Soir, 7 Januari 1998, hal 2; dari &#8220;Marche porno en ekspansi aux Etats-Unis,&#8221; Le Soir, 7 Januari 1999, hal 11.<br />
Bentuk Kegiatan yang dipilih </p>
<p>&#8220;Nilai aktivitas&#8221; yang paling umum di Amerika Serikat adalah orientasi &#8220;melakukan&#8221;, yang menekankan produktivitas.  (Ingat ungkapan &#8220;Tangan yang diam adalah workshopnya iblis&#8221; (Idle hands are the devil&#8217;s workshop)?)<br />
Pekerjaan sistem reward mencerminkan nilai ini dalam: bahwa para pekerja seringkali harus mendokumentasikan kemajuan mereka (misalnya, dalam jumlah penjualan atau jumlah klien terlihat). Secara umum, status tertinggi diberikan pada mereka yang &#8220;melakukan&#8221; (tokoh olahraga, dokter, pengacara), bukan pada mereka yang &#8220;berpikir&#8221; (filsuf, profesor, imam) (Stewart &amp; Bennett, 1991). </p>
<p>orientasi &#8220;tumbuh&#8221; menekankan aspek-aspek spiritual kehidupan. Orientasi ini tampaknya kurang lazim dibandingkan dengan dua lainnya, mungkin dilakukan hanya dalam Buddhisme Zen dan sebagai motif budaya di Amerika Serikat pada 1960-an (Stewart &amp; Bennett, 1991). Beberapa masyarakat, seperti di Jepang, menggabungkan kedua orientasinya &#8220;melakukan&#8221; dan &#8220;tumbuh&#8221;, menekankan pada tindakan (action) dan pertumbuhan rohani (spiritual). Solusi ketiga adalah untuk menekankan “menjadi”, semacam aktualisasi diri di mana individu tersebut menyatu dengan pengalaman. Beberapa masyarakat di Amerika Tengah dan Selatan, serta Yunani dan Spanyol, menunjukkan orientasi ini.<br />
<strong><br />
POINT OF VIEW</strong><br />
Dalam sebuah wawancara yang muncul di Le Nouvel Observateur, Francois Mas diminta untuk menjelaskan popularitas obat Viagra (obat untuk impotensi seksual) di Amerika Serikat. Dia berhubungan popularitas ke nilai &#8220;dapat melakukan&#8221; (“can do”) rakyat Amerika Serikat. </p>
<p>Mungkin yang paling mengungkapkan ini adalah sikap &#8220;dapat melakukan&#8221; (can do attitude). Sikap ini, diwarisi dari para pionir, adalah bagaimana masyarakat Amerika, pada umumnya, berkaitan dengan permasalahan yang ada.<br />
Berpusat pada aplikasi yang kongkrit dan praktis, dan sering dipandang naif dalam pandangan budaya yang lebih tua, pendekatan ini memiliki keunggulan dari menyebarkan semacam energi, dan menolak oposisi untuk maju.<br />
Sumber: Dari F. Mas, &#8216;vers Sexuel Renouveau un, &#8220;Le Nouvel Observateur, Mei 1998, hlm 21-27. </p>
<p><strong>Orientasi ke Waktu </strong><br />
Kebanyakan komunitas budaya AS ̶ khususnya Amerika dan Eropa kelas menengah ̶ tampaknya menekankan masa depan. Mempertimbangkan praktek menyimpan uang dalam rekening pensiun atau menyimpan buku janji (buku agenda) yang mencapai tahun ke depan. Masyarakat lainnya ̶ misalnya, di Spanyol atau Yunani ̶ tampaknya menekankan pentingnya saat ini, pengakuan dari nilai hidup sepenuhnya dan mewujudkan potensi saat ini. Salah satu teman kita menggambarkan kesan perbedaan nilai setelah kunjungan ke Meksiko:<br />
Saya punya pengalaman indah di Meksiko. Aku suka energinya  ̶  SELALU ada begitu banyak yang terjadi di jalanan, dan di Zocalo, tiap jam dalam siang dan malam. </p>
<p>Dan ketika aku kembali ke AS, jalan-jalan terasa begitu mati ̶ semua orang secara individual sendirian di rumah kecil mereka sendiri di sini. Aku tiba-tiba merasa begitu kekurangan indera! Kurasa sebagian aku juga suka itu, karena begitu berbeda secara budaya, dari cara saya dibesarkan. Penekanan untuk mengekspresikan dan berfokus pada kehidupan di masa sekarang. Saya tidak ingin menyiratkan kehidupan itu konstan dipikirkan fiesta di Meksiko, karena itu tidak. Tapi ada semacam joie de vivre dan kenikmatan hidup SEKARANG yang pasti tidak hadir pada keluarga-ku yang sangat dibatasi, gaya hidup terkendali, serius! Dan tampak sangat kontras dengan Meksiko! </p>
<p>Masyarakat Eropa dan Asia Banyak sangat menekankan masa lalu, percaya bahwa pengetahuan dan kesadaran sejarah memiliki sesuatu untuk berkontribusi pada pemahaman kehidupan kontemporer. Misalnya, Menara Miring Pisa ditutup selama 10 tahun sementara pekerja Italia memperbaiki kerusakan struktural pada bangunan bersejarah tersebut. </p>
<p><strong>Hofstede Nilai Orientasi </strong><br />
Psikolog sosial Geert Hofstede (1984) memperpanjang kerja Kluckhohn dan Strodtbeck, berdasarkan penelitian lintas-budaya yang luas pada personil yang bekerja di anak perusahaan IBM di 53 negara. Sedangkan Kluckhohn dan Strodbeck (1961) berdasarkan kerangka kerja mereka pada pola budaya masyarakat etnis di Amerika Serikat, Hofstede dan koleganya menguji perbedaan nilai di antara masyarakat nasional. Hofstede mengidentifikasikan lima bidang masalah umum. Satu masalah jenis, individualisme versus kolektivisme, muncul dalam kerangka Kluckhohn dan Strodbeck. Meskipun masalah tersebut dibagi oleh kelompok-kelompok budaya yang berbeda, solusi bervariasi dari budaya ke budaya (Hofstede &amp; Hofstede Seperti terlihat pada Tabel 3.3, jenis masalah diidentifikasi sebagai berikut:<br />
- Jarak Kekuasaan: ketimpangan sosial, termasuk hubungan dengan otoritas<br />
- Feminitas versus maskulinitas: implikasi sosial telah lahir laki-laki atau perempuan<br />
- Cara menghadapi ketidakpastian, mengendalikan agresi, dan mengekspresikan emosi<br />
- Jangka panjang versus jangka pendek orientasi hidup<br />
Hofstede kemudian diteliti bagaimana berbagai nilai-nilai budaya mempengaruhi perilaku perusahaan di berbagai negara. Mari kita periksa jenis masalah lain yang lebih dekat. (Lihat Tabel 3.3.) </p>
<p><strong>Jarak Kekuasaan</strong><br />
Jarak Kekuasaan adalah sebuah dimensi variabilitas budaya yang menyangkut sejauh mana orang menerima ketimpangan distribusi kekuasaan.<br />
Jarak kekuasaan mengacu pada sejauh mana anggota lembaga yang tidak kuat (tidak berkuasa) dan organisasi dalam suatu negara harapkan dan menerima ketimpangan distribusi kekuasaan. Denmark, Israel, dan Selandia Baru, misalnya, nilai jarak kekuasaan yang kecil. Kebanyakan orang percaya bahwa ada kurangnya hirarki adalah lebih baik dan kekuasaan yang harus digunakan hanya untuk tujuan yang sah. Oleh karena itu, para pemimpin terbaik perusahaan di negara-negara adalah mereka yang meminimalkan perbedaan-perbedaan kekuasaan. Dalam masyarakat bahwa nilai jarak kekuasaan yang besar ̶ misalnya, Meksiko, Filipina, dan India ̶ yang proses pengambilan keputusan dan hubungan antara manajer dan bawahan yang lebih formal. Selain itu, orang mungkin tidak nyaman di tempat di mana hirarki tidak jelas atau ambigu.</p>
<p>Nilai maskulinitas dan feminitas merujuk pada dua dimensi. Pertama, pada tingkatan dimana peranan berbasis spesifik gender dinilai, dan kedua dpada nilai kelompok. Nilai maskulin biasanya didakukan pada pencapaian pribadi, ambisi, penumpukan barang konsumsi. Sementara nilai feminin lebih pada kualitas hidup, melayani orang lain, mengasuh, dan memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Sebagai contoh pegawai IBM di Jepang, Austria, dan Meksiko mempunyai nilai tinggi pada orientasi maskulin terhadap pekerjaan. Pegawai gaji, misalnya, lebih baik dipegang kaum pria sementara untuk perempuan lebih cocok sebagai guru. Di sisi lain, di bagian Eropa Utara seperti Denmark, Norwegia, Swedia, dan Belanda cenderung mempunyai skor tingi dalam orientasi feminin yang ditunjukkan keinsyafan tinggi terhadap kesetaraan gender dan lebi mementingkan kualitas hidup. </p>
<p>Penghindaran ketidakpastian menelaah pada sejauh mana tingkatan respon individu ketika terancam oleh situasi tidak pasti. Apakah menghindar atau mencoba membentuk struktur baru untuk mengkompensasi ketidakpastian. Masyarakat Swedia, Hongkong, Inggris, dan Amerika Serikat yang berorientasi penghindaran resiko rendah cenderung membatasi aturan, menerima perbedaan pendapat dan berani mengambil resiko. Sementara di ujung lain masyarakat dengan orientasi penghindaran ketidakpastian tinggi seperti Yunani, Portugal dan Jepang biasanya mempunyai peraturan dalam organisasi dengan cakupan luas serta cenderung mencari konsensus dalam rangka pencapaian tujuan.<br />
Penelitian Hofstede sejatinya hanya memuat 4 kategori dan dikritik karena terlalu menganut pandangan peradaban Barat. Sekelompok peneliti China lalu mengembangkan penelitian serupa di 22 negara. Kuesioner mereka juga memuat pandangan mengenai Konfusionisme yang dianut sebagian besar perantauan China. Hasilnya, 3 kategori seperti individualism-kolektivisme, jarak kekuasan, dan feminine-maskulin berlaku umum. Sementara penghindaran ketidakpastian condong pada kebudayaan Barat. Dimensi kelima yang muncul dan berlaku universal adalah orientasi jangka panjang vs orientasi jangka pendek yang merefleksikan pencarian masyarakat akan kebajikan atau kebenaran.</p>
<p>Orienasi jangka pendek berhubungan dengan kebeneran seketika (direfleksikan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam) yang terfokus pada hasil yang bisa segera dinikmati dan menyadari mengenai pentingnya tekanan sosial untuk kompromi. Sementara orientasi jangka panjang lebih berhubungan dengan kebijaksanaan (ter-refleksi dalam Konfusianisme, Hindu, Buddha, dan Sinto) yang terfokus pada pola hidup sederhana, ketekunan, dan keuletan serta kesediaan untuk mengorbankan diri sendiri untuk tujuan kelompok yang lebih besar. </p>
<p><strong>Keterbatasan kerangka nilai</strong><br />
Perlu dicamkan bahwa tidak setiap orang dalam suatu masyarakat akan berperan sesuai dengan nilai dominan yang berlaku. Hal itu membuat kita tidak terjerembab mensterotipkan individu berdasarkan suatu orientasi nilai tertentu. Contohnya, tidak setiap orang Jepang berorientasi pada nilai kolektif. Perlu diingat bahwa budaya bersifat dinamis dan heterogen. Heterogenitas nilai lazim dijumpai dalam masyarakat yang mengalami perubahan sosial yang cepat seperti Jepang yang 50 tahun lampu luluh lantak akibat serangan militer dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat. Hasil penelitian menunjukkan preferensi mahasiswa Jepang terhadap individualisme tidak berbeda nyata dengan mahasiswa Amerika yang diidentikkan mengagungkan nilia tersebut.<br />
Kelemahan lain pendekatan ini mengkerdilkan/mereduksi seseorang dengan jalan memberikan label yang melekat terus menerus. Artinya, individu akan dianggap mempunyai karakteristik sifat suatu nilai kelompok sepanjang waktu dan di setiap konteks.  Hal ini yang dikritik Tim Ambler dan Morgen Witzel yang mengajukan perpektif dialektis untuk memahami hal ini. Menurut keduanya, orientasi nilai selalu hadir dalam setiap kebudayaan dalam bentuk rentangan, lebih sedikit atau lebih banyak. </p>
<p>Berdasarkan prinisp ini walaupun individu mempunyai pandangan orientasi nilai tertentu yang berbeda, mereka juga bisa memegang orientasi nilai lain yang secara umum berlaku di tengah suatu masyarakat. Misalnya, seseorang mempunyai perbedaan mengenai nilai individualias atau kolektivitas, namun uga percaya mengenai kebaikan manusia dan menjalankan praktek keberagamaan yang sama dengan mayoritas anggota kelompok. Dialektika statis-dinamis juga mengingatkan walau nilai suatu kelompok relatif konsisten, manusia adalah makhluk dinamis dan berperilaku sesuai konteks.<br />
<strong><br />
Bagaimana komunikasi meneguhkan budaya</strong><br />
Budaya tidak hanya mempengaruhi komunikasi, namun disalurkan dan turut dipengaruhi oleh komunikasi.  Walhasil para ilmuwan komunikasi berusaha memahami pola komunikasi yang bersifat khusus dan memberi warna terhadap identitas kultural. Terutama dalam hal bagaimana bentuk  dan kerangka kultural seperti ritual, mitos dan  drama sosial terpancar lewat norma percakapan yang terstruktur dan proses interaksi sosial. </p>
<p>Tamar Katrile, sebagai contoh, menelaah “griping” sebuah ritual komunikasi yang berlaku di kalangan kelas menengah Israel. Menggunakan kerangka SPEAKING (scene, participant, end, act, sequence, key, instrumentality, norms dan genre). Hasilnya: topik griping  (bergosip) biasanya berhubungan dengan wilayah kehidupan public.  Tujuannya bukan menyelesaikan masalah namun sarana meredakan ketegangan dan berbagi realitas dan nilai sebagai orang Israel. Instrumentalitas atau saluran menggunakan komunikasi tatap muka dan scene atau setting waktu biasanya setiap Jumat malam di rumah anggota perkumpulan. Pesertanya terbuka bagi siapa saja,  bukan hanya teman namun biasanya sudah dikenal anggota kelompok. Kunci atau tekanan perbicaraan biasanya bernada frustasi. Urutannya biasanya dimulai dengan obrolan pembuka tentang keluhan mengenai sesuatu hal, dilanjutkan komentar dari anggota lain dan mulai menukik pada masalah yang lebih spesifik. Sebelum penutupan peserta biasanya menyetujui bahwa masalah itu serius dan bukan main-main. </p>
<p>Menurut Katrile, ada perbedaan antara griping warga Isareal dengan ritual komunikasi yang kerap dilakukan warga kelas menengah Amerika. Ritual komunikasi sendiri sebentuk cara untuk mendekatkan diri dan kerap dimanfaatkan sebagai sarana menyemangati orang lain, dengan percapaan bebas untuk memevahkan masalah pribadi dan meneguhkan identitas kelompok. Dimulai dari duduk bersama, membahas permasalaha, dan mendiskusikan pemecahan.  Kesamaan keduanya berfungsi mendramatisir masalah kebudayaan secara umum, menyediakan sebuah konteks sosial untuk meredakan ketegangan dan frustasi, serta mempromosikan identitas komunitas. </p>
<p>Pendekatan lain dari studi komunikasi budaya memandang budaya sebagai sebuah perfomatig atau pertunjukan. Pendekatan ini membahas bagaimaan orang menyalurkan dan merepresentasikan pandangan dunia budaya yang dianutnya. Contohnya kaum pria Teamsville untuk meneguhkan status gendernya hanya berbicara pada sesame pria dan tidak pada wanita atau anak-anak. Pendekatan interpretatif seperti ini biasanya memanfaatkan nilai budaya sebagai sebuah pandangan untuk menjelaskan bentuk pola budaya.<br />
Contohnya penelitian sosiolinguistik Kristine Fith mengenai perintah. Penduduk Boulder, Colorado, Amerika Serikat ketika hendak memerintah seseorang dilakukan secara hati-hati supaya tidak menyerang atau dianggap mengganggu otonomi individu karena kuat mengaut faham individualisme. Sementara di Bogota, Kolombia, dimana nilai kelompok berperan, perintah dinegosiasikan dalam hubungan, seseorang yang hendak memerintah harus mempunyai confianza (pengakuan) dan status sosial lebih tinggi sehingga dapat memerintah seseorang.  Penting diingat nilai budaya bisa digunakan untuk menunjukkan tidak hanya bagaimana budaya berpengaruh terhadap komunikasi, namun juga menjelaskan bagaimana komunikasi meneguhkan nilai suatu budaya. </p>
<p>Komunikasi sebagai sebentuk perlawanan terhadap nilai dominan<br />
Perlawanan adalah metaphor atau kiasan dalam studi budaya untuk menkonseptualiasikan hubungan antara budaya dan komunikasi. Dalam hal ini bagaimana individu memanfaatkan konteks sosial yang ada untuk melawan terhadap kekuatan dominan. Contohnya protes imigran di Perancis terhadap diskriminasi rasial yang terjadi. </p>
<p><strong>Hubungan antara komunikasi dan konteks</strong><br />
Konteks merujuk pada aspek fisik atau sosial situasi dimana komunikasi terjadi. Cara orang berkomunikasi berbeda bergantung terhadap konteks. Konteks ini berwujud secara sosial, politis dan struktur historis dimana peristiwa komunikasi terjadi. </p>
<p>Konteks sosial biasanya dipengaruhi oleh tingkatan oleh lingkungan dimana suatu masyarakat berada. Contohnya iklan Calvin klein yagn memanfaatkan model  remaja putri dianggap mengarah pada kecenderungan pedofilia.  Mafhum konteks masyarakat dimana iklan itu beredar menganggap hal itu sebagai perilaku bejat atau buruk. Walaupun dalam konteks sejarah dan masyarakat lain hal itu tidak sepenuhnya dianggap buruk.</p>
<p>Konteks politis biasanya merujuk komunikasi sebagai sebentuk kekuatan yang berusaha untuk mengubah atau mempertahankan struktur atau hubungan sosial yang sudah ada atau mapan. Contohnya, demonstran yang melempari cat merah pada orang yang mengenakan pakaian dair bulu binatang sebagai wujud pembelaan terhadap hak-hak kesejahteraan hewan. Bisa pula merujuk konteks historis. Misalnya, lulusan  Universitas Harvard dianggap lebih mumpuni dan dihargai karena berhubungan dengan sejarah panjang universitas tersebut dan rekam jejak lulusannya yang menempati posisi penting dalam pemerintahan.(fy)<br />
 <strong><br />
HUBUNGAN KOMUNIKASI DENGAN KEKUASAAN</strong><br />
Power bisa menembus dalam interaksi komunikasi kita, meskipun tidak selalu nyata bagaimana power mempengaruhi proses komunikasi atau berbagai macam makna yang dikonstruksikan melalui komunikasi yang kita bangun. Kita kerapkali berfikir mengenai komunikasi antar individu sebagaimana terjadi komunikasi antar satu sama lain, namun hal ini jarang ada kasus yang terjadi (Allen, 2004), sebagaimana cendekiawan komunikasi, Mark Orbe menggambarkan sebagai berikut;</p>
<p>Di setiap masyarakat sebuah hirarki sosial hidup yang memiliki hak istimewa di atas golongan masyarakat lainnya. Golongan golongan yang memiliki fungsi hirarki sosial tinggi menentukan keleluasaan terhadap sistem komunikasi di  masyarakat luas.<br />
Orbe menggambarkan bagaimana golongan-golongan memiliki power. Secara sadar maupun tidak, menciptakan dan mempertahankan sistem komunikasi yang merefleksikan, memperkuat dan menganjurkan cara berfikir dan berkomunikasi menurut mereka. Ada dua tingkat pada group-related power yaitu;<br />
1.	The primary dimension yaitu mencakup aspek umur, etnisitas, jender, kemampuan fisik, ras dan orientasi seksual.  Yang mana semua itu lebih permanen dan alami.<br />
2.	The secondary dimension yaitu mencakup latarbelakang pendidikan, lokasi geografis, status perkawinan, status ekonomi. Yang mana semua itu lebih mudah berubah (Loden &amp; Rosener, 1991)<br />
Kedua dimensi poin di atas adalah sistem komunikasi yang dominan akhirnya merintangi siapa saja yang tidak berbagi sistem. Misalnya gaya komunikasi yang paling dihargai di ruang kelas (college) menekankan public speaking dan kompetisi (karena orang pertama yang mengangkat tangannya akan berbicara). Namun tidak semua mahasiswa cocok dengan gaya komunikasi seperti di atas, namun mereka yang berbicara secara alami kemungkinan akan berhasil.<br />
Power juga  berasal dari institusi sosial dan peran individual menempati institusi tersebut. Misalnya di ruangan kelas ada ketidaksamaan secara temporer, dengan instruktur yang lebih kuat dan berpengaruh. Setelah itu, mereka menetapkan syarat kursus, memberikan level, menentukan siapa yang berbicara dan lainnya. Pada kasus ini, power tidak meletakkan melalui instruktur individu namun melalui peran mereka yang menjadikan.</p>
<p><strong>POINT OF VIEW</strong><br />
Rose wiitz seorang cendekiawan komunikasi menggambarkan pentingnya rambut wanita untuk menarik kaum pria. Meskipun beberapa penulis mengatakan bahwa seorang wanita yang menggunakan cara “hair flip” dalam menarik kaum pria sebenarnya mereka juga tidak menyadari hanya sebuah usaha dalam mengikuti tradisi, hasil wawancara dengan para perempuan menyatakan bahwa banyak yang benar-benar sadar terhadap tradisi dan kekuatan “flip” itu. Maka yang tidak bisa berpartisipasi merasa termarjinalkan.<br />
Power itu dinamis. Tidak juga sebuah cara yang sederhana. Misalnya, para mahasiswa mungkin meninggalkan ruang kelas saat masih kelas berjalan, atau mereka mungkin berbicara satu sama lain saat professor menerangkan maka hal itu merupakan kelemahan professor terhadap mahasiswa itu. Mereka mungkin juga menolak menerima nilai dan mengajukan sebuah keluhan terhadap administrasi kampus yang mengatur seluruh perubahan nilai. Lebih jelasnya tipical power relationship antara instruktur dengan mahasiswa sering tidak kuat di luar kelas. Meskipun beberapa isu power memainkan kontek sosial yang lebih luas (Johnson 2001). misalnya, dalam masyarakat kontemporer, perusahaan kosmetik memiliki ketertarikan pribadi dalam sebagian image kecantikan wanita yang mencakup belanja dan memakai make up. Iklan merangsang wanita dan mereka merasa dipaksa berpartisipasi terhadap consensus budaya. Daya tahan bisa diekspresikan melalui penolakan bersama terhadap standar budaya kecantikan. Angela, seorang mahasiswa dari rural Michigan, menggambarkan bagaimana ia menolak budaya kecantikan di Metropolitan University :</p>
<p>“Saya pergi ke sekolah, saat saya melihat di sekeliling saya merasa tidak cocok. Saya tak memiliki satu dari dua pilihan untuk mencocokkan diri seperti para wanita yang nampak di sini atau saya menyamakan saja dengan mereka. Atau saya pilih sebagaimana persepsi saya. Saya merasa lebih percaya diri dengan cara ini. Saya masih ingat betul saat melihat gadis berambut pirang dengan fake boob dan celana panjang warna hitam yang dipakai di kampus. Empat tahun setelah itu, saya memiliki sikap yang dewasa dan menyadari bahwa budaya ini tidak cocok untuk saya.”<br />
Apa yang terjadi ketika seseorang sebagaimana Angela tidak memutuskan menggunakan ketentuan ini? Tanpa memperhatikan alasan individu setiap wanita untuk tidak ikut serta, orang lain mungkin memaknai tingkah lakunya melalui cara dengan tidak memadukan beserta alasannya.<br />
Kelompok kultur dominan berusaha menghidupkan posisi istimewa dengan berbagai cara. Meskipun kelompok subordinat bisa bertahan dari dominasi ini melalui banyak cara juga. Golongan kultural bisa menggunakan maksud legal dan politik dalam mempertahankan dominasinya. Namun tidak hanya melibatkan relasi kekuasaan. Kelompok bisa bernegosiasi beraneka relasi terhadap kultur misalnya  dengan memboikot ekonomi.  Individu dapat menganut (atau tidak  menganut) spesifik majalah, surat kabar, program TV, menulis surat kepada instansi pemerintahan atau beraksi dengan cara lain dalam merubah atau mempengaruhi power.</p>
<p>Power itu komplek, khususnya terkait dengan institusi atau struktur sosial. Beberapa ketidakadilan seperti dalam jender, kelas, atau ras mungkin lebih kaku daripada hal yang dibuat bersifat temporer seperti antara murid dengan guru. Relasi keduanya lebih komplek jika gurunya seorang wanita mendapat chalenge dari murid laki-laki. Benar-benar kita tak bisa memahami komunikasi antar budaya tanpa mengamati dinamika power dalam interaksi. Sebuah perspektif dialektika menampakan cara dinamika dan saling berkaitan dimana budaya, komunikasi, kontek dan tumpang tindih kekuatan dalam interaksi komunikasi antar budaya. </p>
<p>Dari perspektif komunikasi, mungkin tidak sama sekali jelas bahwa sebuah perjuangn antarbudaya telah mengambil alih. Sinyal konflik tradisional yang ada: tak ada suara dinaikan, tak ada kata-kata kasar, tak ada kekerasan, tentu, akan berubah menjadi sopan  santun. </p>
<p>Dari perpektif kultural, bagaimanapun melalui berbagai macam kontek dan perbedaan pandangan munculnya interaksi antar budaya. Misalnya Belgia adalah sebuah Negara yang besar dibagi dua budaya, Flemish dan Walloon meskipun ada sebuah kelompok minoritas Jerman di bagian timur. Secara resmi Belgium menggunakan tiga bahasa (Dutch, France, German) setiap bahasa memiliki wilayahnya masing-masing. Bahasa Belanda secara resmi digunakan di Flanders. Dan bahasa prancis digunakan di Wallonia, kecuali di bagian timur dimana bahasa resminya adalah Jerman. Hanya bagian Belgia yang secara resmi memiliki dua bahasa yakni Brusel dan Capital region.<br />
Ada banyak kontek sejarah yang perlu dilihat, misalnya Brussel menurut historis adalah sebuah kota Flemish, yang terletak di Flanders (namun dekat dan lebih luas dengan Wallonia) dan juga bahasa Prancis didominasi di Belgia sejak hari kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1830 samapi awal abad 20. Ada kontek sosial dan ekonomi, sejak tahun 1960an Flander lebih kuat secara ekonomi daripada Wallonia. Di bagian ibukota Brussel </p>
<p>Oleh karena itu, kita harus memahami kontek dan tegangan dialektika yang muncul dalam pengalaman komunikasi antar budaya. Dengan cara ini, kita akan lebih memahami ketidakleluasaan dalam interaksi komunikasi. Kita juga akan lebih memahami budaya pada diri kita masing-masing. Meskipun perspektif dialektika membuat investigasi budaya dan komunikasi lebih komplek, dan juga membuat lebih menyenangkan dan menarik dan mendorong  pemahaman yang lebih kaya.</p>
<p><strong>Summary</strong><br />
	Ada empat aspek dalam memahami komunikasi antar budaya, yakni budaya, komunikasi, kontek dan power.<br />
	Budaya bisa dilihat pada:<br />
	belajar pola pada grup-related perceptions.<br />
	pola makna simbol yang kontektual<br />
	heterogen, dinamis, dan tempat kontestasi<br />
	komunikasi adalah sebuah proses simbol yang mana realitas diproduksi, dipertahankan, diperbaiki dan ditransformasikan<br />
	hubungan antara komunikasi dan budaya sangat komplek: budaya mempengaruhi komunikasi dan diperkuat melalui komunikasi.<br />
	Komunikasi mungkin juga cara kontestasi dan melawan kultur dominan.<br />
	Kontek juga mempengaruhi komunikasi: baik seting secara fisik maupun sosial yang mana terjadi komunikasi atau lingkungan politik, sosial dan sejarah.<br />
	Power dapat menembus dan memainkan peranan sangat besar meskipun sering tak terlihat, peran dalam interaksi litas budaya.</p>
<p>Disusun oleh: Titin, Tony, Faiz, Yanyan dan Rosit Ska.</p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi/'>Komunikasi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/718/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=718&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2011/05/25/kultur-komunikasi-konteks-dan-kekuasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UNIVERSAL OF VERBAL AND NONVERBAL MESSAGES</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2011/03/12/universal-of-verbal-and-nonverbal-messages/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2011/03/12/universal-of-verbal-and-nonverbal-messages/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2011 05:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Interpersonal]]></category>
		<category><![CDATA[Verbal dan Non Verbal Messages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[A word is not a crystal, transparent and unchanged, it is the skin of living thought and may vary greatly in color and content according to the circumtances and the time in whict it is used. Sebuah kata bukanlah suatu kristal, transparan, dan tidak berubah. Kata adalah pembungkus dari pikiran yang terus bergerak dan sangatlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=708&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>A word is not a crystal, transparent and unchanged, it is the skin of living thought and may vary greatly in color and content according to the circumtances and the time in whict it is used.</em></p>
<p>Sebuah kata bukanlah suatu kristal, transparan, dan tidak berubah. Kata adalah pembungkus dari pikiran yang terus bergerak dan sangatlah penuh warna dan makna, yang didasarkan pada keadaan dan waktu saat kata-kata tersebut digunakan<br />
“OLIVER WENDEL HOUSE”<br />
________________________________________<br />
	Artikel berikut ini akan membahas mengenai komunikasi verbal dan non-verbal serta memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai beberapa cara interaksi suatu pesan, makna dasar akan pemahaman pesan, serta prinsip dasar dari suatu pesan.</p>
<p>I.	<strong>INTERAKSI PESAN VERBAL DAN NON VERBAL</p>
<p></strong>	Di dalam suatu komunikasi tatap muka, terdapat kegiatan menggabungkan pesan bentuk verbal dan nonverbal nonverbal yang dilakukan untuk menyampaikan makna yang terbaik. Mencampur pesan verbal dan nonverbal juga membantu untuk berpikir dan mengingat (Iverson &amp; Goldin-Meadow, 1999). Komunikasi nonverbal sering digunakan untuk aksen, untuk menekankan beberapa bagian dari pesan verbal. Komunikasi nonverbal dapat digunakan untuk melengkapi, untuk menambah nuansa makna yang tidak dikomunikasikan dengan pesan verbal. Gerakan nonverbal dapat digunakan untuk mengendalikan atau untuk menunjukkan keinginan pembicara untuk mengontrol, seperti dalam aliran pesan verbal. </p>
<p>	Seseorang membuka bibir seperti hendak berbicara, maju dari sandaran ke depan, atau membuat gerakan tangan untuk menunjukkan bahwa ia ingin berbicara. Seseorang mungkin juga mengangkat tangan atau menyuarakan jeda (misalnya, dengan &#8220;um&#8221;) untuk menunjukkan bahwa pembicaraan belum selesai dan tidak siap untuk melepaskan waktu berbicaranya ke pembicara berikutnya. Kita dapat mengulangi atau mengemukakan kembali pesan verbal secara nonverbal. Misalnya, mengikuti kalimat &#8220;Apakah itu baik-baik saja?&#8221; Dengan alis terangkat dan terlihat seperti wajah bertanya, atau gerakan kepala atau tangan untuk mengulang kalimat verbal &#8220;Ayo pergi.&#8221; Komunikasi nonverbal dapat digunakan untuk menggantikan pesan verbal, misalnya sinyal &#8220;OK&#8221; dengan isyarat tangan, menganggukan kepala untuk menunjukkan ya atau menggelengkan kepala untuk menunjukkan tidak. </p>
<p>	Perkembangan komunikasi secara elektronik, merubah penyampaian komunikasi mejadi melalui e-mail yang diketik tanpa ekspresi wajah atau gerakan yang biasanya menyertai komunikasi tatap muka dan tanpa perubahan volume yang merupakan bagian dari komunikasi telepon biasa. Untuk mengimbangi kekurangan perilaku nonverbal, emoticon diciptakan. Emoticon yang juga disebut &#8220;smiley&#8221;, adalah simbol yang diketik dalam berkomunikasi melalui keyboard, karena biasanya nuansa pesan disampaikan dengan ekspresi nonverbal dan perubahan dalam ekspresi vokal. </p>
<p>	Beberapa emoticon yang populer digunakan dalam percakapan komputer, antara lain adalah:<br />
• <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  		= Tersenyum, aku hanya bercanda<br />
• <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  		= Kerut, aku merasa sedih; ini sedih<br />
•	*		= Ciuman<br />
•	: &#8211; 		= Laki-laki<br />
•	&gt;- 	= Perempuan<br />
•	{} 		= Memeluk<br />
•	{{{***}}} = Pelukan dan ciuman<br />
• <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  		= Senyum licik<br />
•	_ini penting_ = menggarisbawahi, menambahkan penekanan<br />
•	Ini penting * = tanda bintang, menambahkan penekanan<br />
•	SEMUA HURUF KAPITAL = berteriak, menekankan<br />
•	 atau  = menyeringai<br />
	Simbol ini tidak digunakan universal (Pollack, 1996), sebagai contoh karena dianggap tidak sopan bagi seorang wanita Jepang jika menunjukkan giginya ketika ia tersenyum, maka emoticon Jepang untuk senyum wanita adalah (^ ^.) Dimana titik menandakan mulut tertutup. Senyum laki-laki ditulis (^ _ ^). emoticon lainnya yang populer di Jepang tetapi tidak digunakan di Eropa atau Amerika Serikat (^ ^;) untuk &#8220;keringat dingin,&#8221; (^ o ^ ; Q) untuk &#8220;maafkan saya,&#8221; dan (^ o ^) untuk &#8220;bahagia.&#8221; </p>
<p>II.	<strong>PRINSIP-PRINSIP DALAM MEMAHAMI PESAN<br />
</strong><br />
	Memahami pesan adalah sebuah proses aktif yang terjadi sebagi bentuk kerjasama antara sumber dan penerima, pembicara dan pendengar, penulis dan pembaca. Memahami apa arti dan bagaimana mereka melewati dari satu orang ke orang lain akan membantu memaksimalkan potensi pesan baik verbal dan nonverbal.<br />
Memahami ada pada Orang</p>
<p>	Memahami tidak hanya tergantung pada pesan-pesan (baik verbal, nonverbal, atau keduanya), tetapi juga pada interaksi dari pesan-pesan dan pikiran serta perasaan si penerima pesan. Orang akan membangun makna dari pesan yang diterima, dikombinasikan dengan perspektif yang dimiliki baik secara sosial dan budaya (misalnya: kepercayaan, sikap, dan nilai-nilai) (Berger &amp; Luckmann, 1980; Delia, 1977; Delia, O&#8217;Keefe, &amp; O&#8217;Keefe, 1982). </p>
<p>	Memahami makna dari suatu pesan dapat dilakukan dengan menguji lebih lanjut pemahaman melalui beberapa pertanyaan berikut:<br />
a.	Apakah ada perbedaan besar antara makna Anda dan orang lain?<br />
b.	Bagaimana Anda menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam hal konotasi dan denotasi?<br />
c.	Apa yang menyebabkan perbedaan makna? Artinya, faktor apa yang berkontribusi terhadap makna Anda untuk istilah tersebut? Dengan kata lain, bagaimana Anda mendapatkan arti Anda menunjukkan pada skala ini?<br />
d.	Apa hal ini menggambarkan tentang prinsip makna pada orang?<br />
Memahami Lebih dari Kata-kata dan Sikap</p>
<p>	Ketika kita ingin mengkomunikasikan pikiran atau perasaan kepada orang lain, kita melakukannya dengan penggunaan simbol yang relatif sedikit. Simbol-simbol merupakan sebagian kecil dari yang kita pikirkan atau rasakan, banyak yang tidak terucapkan, walaupun kita mencoba menggambarkan perasaan secara detail. Orang tidak pernah dapat sepenuhnya tahu apa yang dipikirkan orang lain atau perasaan. Mereka hanya dapat memperkirakan berdasarkan atas pemahaman yang diterima – yang sangat dipengaruhi oleh siapa dan apa yang dirasakan. Sebaliknya, orang lain tidak pernah dapat sepenuhnya tahu serta mendekati apa yang kita rasakan. Kegagalan untuk memahami orang lain atau untuk dipahami bukan kejadian abnormal.<br />
Memahami adalah Keunikan </p>
<p>	Memahami berasal dari pesan yang dikomunikasikan dan pikiran penerima sendiri serta yang dirasakan, tidak ada dua orang yang pernah memperoleh makna yang sama. Demikian pula, karena orang berubah terus, tidak ada satu orang dapat memperoleh arti yang sama di dua kesempatan terpisah. Pesan yang disampaikan tidak pernah bisa dipisahkan dari makna yang dibuat. </p>
<p>	Ketika seseorang berubah, maka hal tersebut mengubah makna yang keluar atau lepas dari makna pesan terakhir yang telah ditangkap sebelumnya. Jadi, meskipun pesan yang dikirim tidak mungkin berubah, makna yang dibuat kemarin dan makna yang dibuat hari ini mungkin sangat berbeda. </p>
<p><strong>Pemahaman itu Berdasarkan pada Konteks<br />
</strong>Komunikasi verbal dan nonverbal yang ada dalam konteks, sebagian besar, menentukan makna dari setiap perilaku verbal atau nonverbal. Kata-kata atau perilaku yang sama dapat memiliki arti yang berbeda ketika komunikasi yang dilakukan terjadi dalam konteks yang berbeda. Misalnya, ucapan, &#8220;Bagaimana kabarmu?&#8221; Bermakna &#8220;Halo&#8221; untuk seseorang yang Anda selalu temui di jalan, tapi bermakna &#8220;Apakah kesehatan Anda semakin baik?&#8221; Ketika berkata kepada seorang teman di rumah sakit. Hal terpenting dalam memahami pesan adalah konteks budaya. Konteks budaya akan berpengaruh tidak hanya pada memahami apa yang dibicarakan dan sikap yang ditunjukkan, tetapi juga dalam memahami suatu bentuk keramahan, ketersinggungan, rasa tidak menghormati, merendahkan, sensitif, dan sebagainya.<br />
<strong>III.	PRINSIP-PRINSIP PESAN</strong> </p>
<p><strong>Terdapat tujuh prinsip dasar pesan interpersonal :</strong> pesan interpersonal terjadi dalam kemasannya, ditentukan oleh peraturan, beragam dalam bentuk yang abstrak, kesantunan, inklusi, hubungan langsung, dan ketegasan.</p>
<p><strong>1.	Pesan adalah Bagaiman Cara Mengemasnya</strong><br />
Suara yang dikeluarkan melalui mulut atau gesture yang digerakkan melalui tangan serta memandang memperkuat perilaku verbal maupun non verbal. Semua bagian sistem pesan bekerja sama untuk mengkomunikasikan sebuah kesepakatan. </p>
<p>Ketika mengucapkan kata-kata marah, kemarahan juga berkomunikasi melalui tubuh dan wajah dengan mimik tegang, cemberut, dan mungkin asumsi sikap perkelahian. Kita sering gagal memperhatikan &#8220;kemasan&#8221; dalam pesan lain &#8216;karena mereka terlihat begitu alami. Tetapi ketika pesan non-verbal dari postur seseorang atau bertentangan dengan wajah yang tidak sesuai secara lisan, maka akan memperoleh perhatian khusus. misalnya orang yang berkata &#8220;Saya sangat senang berjumpa dengan anda,&#8221; tetapi anda menghindari kontak mata langsung dan melihat sekeliling untuk melihat siapa lagi yang hadir. </p>
<p>Sebuah karakter  kesadaran akan dikemas melalui komunikasi. Kemudian, menunjukkan peringatan terhadap penafsiran yang terlalu mudah maknanya, khususnya sebagaimana terungkap dalam perilaku non-verbal. </p>
<p><strong>2.	Pesan adalah Terkelola dengan Aturan</strong><br />
Karakter perintah pada komunikasi verbal telah diketahui secara baik. Setiap bahasa memiliki aturan (aturan tata bahasa), penutur asli yang mengikuti dalam memproduksi dan pemahaman kalimat meskipun mereka mungkin tidak dapat menyatakan aturan tersebut secara eksplisit. Komunikasi non-verbal juga diatur oleh sistem atau norma bahwa yang menyatakan tidak tepat, diharapkan dan diperbolehkan dalam situasi sosial tertentu. Aturan ini dipelajari dengan mengamati perilaku komunitas orang dewasa, contohnya adalah bagaimana mengekspresikan simpati bersama dengan aturan dalam kebudayaan yang telah ditetapkan, mempelajari pelajari sentuhan yang diperbolehkan dalam kondisi tertentu yang tidak. Aturan-aturan non-verbal sangat bervariasi dari satu budaya terhadap budaya lain. Aturan adalah lembaga budaya; mereka tidak hukum universal. Di Amerika Serikat, misalnya kontak mata langsung biasanya sinyal keterbukaan dan kejujuran, namun di antara sebagian orang Amerika Latin dan Amerika Serikat, kontak mata langsung, misalnya, seorang guru dan murid merupakan dianggap tidak pantas, mungkin perilaku siswa terlalu agresif. </p>
<p><strong>3.	Pesan Sangat Bervariasi dalam Bentuk yang Abstrak</strong><br />
Pesan yang disampaikan sangat bervariasi dan dapat bersifat abstraks. Film, adalah bentuk kongkrit dari entertainment yang meliputi dari segala bentuk hiburan, seperti tv, novel, drama, musik, komik, dll. Penyampaian pesan verbal yang efektif untuk umum adalah penyampaian pesan yang meliputi semua level abstraksi (pemisahan/macam). Sedangkan untuk penyampaian pesan personal,  yang sangat baik adalah pesan yang spesifik (fokus), sehingga dapat membuat pendengar (penerima pesan) membayangkan pesan dengan tepat.</p>
<p><strong>4.	Pesan Sangat Bervariasi dalam Bentuk Kesantunan</strong><br />
Pesan juga sangat bervariasi dalam kesopanan-santunan. Sopan santun merupakan perlakuan yang diinginkan pada sebagian besar budaya. Berbeda budaya berbeda juga norma kesopanannya, contohnya dalam memberikan pendapat/ pertimbangan atas suatu hal, orang Inggris menyampaikanya dengan penuh percaya diri, sedangkan orang Jepang menyampaikannya dengan rendah hati. Pada dunia bisnis, kesopanan merupakan bagian yang sangat penting dalam interaksi personal. Banyak perusahan internasional yang memberikan pelatihan khusus untuk pegawainya untuk berlaku sopan dalam budaya lain.<br />
Perkembangan tekhnologi yang mendorong komunikasi dilakukan via internet telah mengembangkan suatu bentuk kesopansantunan yang disebut dengan Netiquette atau etika dalam berinternet. Terdapat beberapa kerangka dalam netiquette, antara lain adalah:</p>
<p>•	Baca FAQs (frequently asked questions) pertanyaan yang sering ditanyakan, sebelum bertanya.</p>
<p>•	Jangan teriak, jangan menggunakan huruf kapital pada penulisan, karena akan memberikan kesan sebagai TERIAKAN.</p>
<p>•	Mengintai (membaca terlebih dahulu untuk mencari informasi)  sebelum berkontribusi.</p>
<p>•	Jangan berkontibusi pada jam sibuk (akan mengganggu jaringan).</p>
<p>•	Singkat, berkomunikasi hanya untuk apa yg dibutuhkan.</p>
<p>•	Perlakukan orang baru dengan ramah.</p>
<p>•	Jangan mengirim pesan komersial bagi orang yang tidak menginginkannya.</p>
<p>•	Jangan melakukan spam, yaitu mengirimkan pesan yang tidak diminta, ataupun pesan yang sama berkali-kali</p>
<p>•	Jangan memancing keributan dengan menyerang seseorang.</p>
<p>•	Jangan menggunakan kata-kata yang berkesan menyerang (SARA)</p>
<p>5.	<strong>Pesan Sangat Bervariasi dalam Inklusi </strong><br />
Beberapa pesan bersifat inclusif, dalam artian bahwa pesan yang disampaikan melibatkan orang-orang yang hadir saat itu dan adanya pemahaman yang sama antar satu dengan lainnya, namun ada juga pesan yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Dalam kondisi ini diperlukan adanya suatu upaya memberikan detail diskusi yang terlevan untuk memberikan informasi agar terdapat pemahaman yang sama antar pihak yang menerima pesan.</p>
<p>6.	<strong>Pesan Sangat Bervariasi dalam Hubungan Langsung</strong> Penyampaiannya<br />
Pertimbangan untuk melakukan komunikasi secara langsung maupun tidak langsung, tergantung dari masing-masing individu. Penyampaian pesan langsung maupun tidak langsung, dapat dilakukan dengan cara nonverbal. Seperti contoh singkatnya: kita terus menatap dan memperhatikan jam, untuk mengkomunikasikan bahwa orang tersebut dalam keadaan terburu-buru. Pesan langsung lainnya adalah dalam bentuk seperti kita bangun dan berdiri dari tempat duduk, kondisi ini menandakan percakapan berakhir.</p>
<p><strong>Keuntungan Penyampaian Pesan Secara Tidak Langsung</strong><br />
Keuntungan dari pesan tidak langsung memungkinkan untuk dapat mengekspresikan keinginan tanpa ada yang merasa menghina atau menyinggung, contohnya adalah dalam menyatakan preferensi tetapi mengatakannya secara tidak langsung untuk menghindari menyinggung seseorang. Terkadang pesan tidak langsung memungkinkan untuk meminta pujian dari orang lain dengan cara yang diterima secara sosial.</p>
<p><strong>Kerugian Penyampaian Pesan Secara Tidak Langsung </strong><br />
Pesan tidak langsung dapat menimbulkan kesalahpahaman yang pada akhirnya akan memunculkan kebencian, persaingan, dan sikap sering untuk merasa meang sendiri. </p>
<p>Dengan penyampaian pesan secara langsung, maka akan komunikan dan komunikator akan berada pada titik pijakan pemahaman yang relatif sama, sehingga memungkinkan untuk memahami dan memenuhi kebutuhan akan pesan yang disampaikan.</p>
<p>Terdapat permasalahan perbedaan gender dan budaya dalam hubungan komunikasi. Stereotip populer di Amerika menyatakan bahwa perempuan cenderung tidak langsung dalam menyampaikan permintaan maupun pesan, namun pria lebih sering menyampaikan pesan secara langsung dan berterus terang. Keterusterangan pria dalam berkomunikasi memberikan rasa kekuasaan dan kenyamanan dengan otoritas mereka sendiri.</p>
<p>Deborah tannen(1994) memberikan perspektif menarik pada stereotip ini. Wanita, lebih cenderung tidak langsung dalam memberikan perintah. mereka lebih cenderung mengatakan, contoh: “it would be great if this letters out today” dibandingkan “have these letters out by three”. memberikan perspektif menarik pada stereotip ini. Wanita, lebih tidak langsung dalam memberikan perintah. mereka lebih cenderung mengatakan. berpendapat bahwa perintah secara tidak langsung dapat menjadi hak prerogatif dari mereka yang berkuasa dan sama sekali tidak menunjukkan kekurangan atau ketidakberdayaan. Pria, terkadang berkomunikasi secara tidak langsung dalam beberapa situasi. Berdasarkan Tannen, pria lebih cenderung menggunakan ketidakpastian ketika mereka mengungkapkan kelemahan, mengungkapkan masalah, atau mengakui kesalahan. </p>
<p>Ada dua prinsip komunikasi secara tidak langsung yang  ditemukan dalam bahasa Jepang (Tannen 1994) </p>
<p>Omoiyari	:	Dekat dengan empati, dalam artian pendengar perlu memahami pembicara tanpa pembicara mengatakan yang spesifik atau langsung. Gaya ini jelas menempatkan permintaan yang banyak pada pendengar untuk mengantisipasi makna yang akan disampaikan secara langsung</p>
<p>Sassuru	:	Menyarankan pendengar untuk mengantisipasi makna pembicara dan menggunakan isyarat halus dari pembicara untuk menyimpulkan makna secara keseluruhan.</p>
<p>7.	<strong>Pesan Sangat Bervariasi dalam Ketegasannya (assertiveness) </strong><br />
Jika tidak setuju dengan pendapat rekan kerja, apakah anda akan menyampaikannya? Apakah anda membiarkan orang lain untuk mengambil keuntungan dari apa yang sudah anda kerjakan karena anda tidak berani menyampaikannya? Apakah anda tidak percaya diri dalam menyuarakan pendapat di dalam kelompok diskusi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas digunakan untuk mengukur level sikap ketegasan yang ada dalam diri.</p>
<p>Prinsip-prinsip untuk Meningkatkan Ketegasan dalam Komunikasi<br />
Sebagian besar orang bersikap non-asertif atau tidak tegas pada situasi tertentu. Jika kita termasuk di dalamnya dan berharap untuk dapat merubah perilaku, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sikap tegas (Windy &amp; Constantinou, 2005; Bower &amp; Bower 2005):</p>
<p><strong>i.	Menganalisa Bagaimana Komunikasi yang Mengandung Ketegasan</strong><br />
Langkah pertama adalah belajar memahami bagaimana komunikasi yang tegas itu terjadi. Caranya dengan mengobservasi dan menganalisa cara orang lain menyampaikan pesan. Belajar untuk membedakan antara tegas, agresif dan tidak tegas. Fokus kepada apa yang membuat perilaku seseorang tegas dan apa yang tidak tegas.<br />
Setelah melihat pada orang lain kemudian coba tempatkan pada situasi yang sama pada diri kita. Analisa diri pada situasi apa kita biasanya bisa bersikap tegas dan pada situasi apa pula kita memilih bertindak tidak tegas.</p>
<p><strong>ii.	Melatih Bagaimana Berkomunikasi dengan Tegas</strong><br />
Setelah memahami pada situasi apa kita cenderung bersikap tidak tegas maka selanjutnya kita coba menyusun tingkatan yang dimulai dengan penyampaian pesan yang menurut kita tidak punya ‘daya’ apa-apa sampai dan diakhiri dengan komunikasi ideal yang didambakan.<br />
Contohnya:<br />
Kita ingin berani menyampaikan pendapat kepada atasan.<br />
Tingkatan awal	: tidak berani menyampaikan pendapat<br />
Tingkat menengah	:	bayangkan lebih dekat pada tujuan, mulai memberanikan diri mendatangi ruangan atasan.<br />
Tingkat akhir	:	membayangkan dan melatih diri berani menyampaikan pendapat kepada atasan. </p>
<p>Semua harus dibayangkan berulang sampai pada tahap nyaman. Ini disebut latihan mental. Dalam pelaksanaannya juga perlu menambahkan dimensi suara kita dengan berakting pura-pura menyampaikan pendapat kepada atasan. Berlatih berbicara di depan teman dapat memberikan feedback atau masukan yang berguna.</p>
<p><strong>iii.	Berkomunikasilah dengan Tegas</strong><br />
Bagian ini adalah yang tersulit tetapi juga yang terpenting. Pola yang umum diikuti untuk dapat berkomunikasi dengan tegas adalah:</p>
<p>•	Menjabarkan masalahnya, jangan mengevaluasi atau menghakimi. Lebih baik menggunakan pesan dengan fokus diri sendiri dan hindari menuduh atau menyalahkan orang lain.<br />
•	Jelaskan bagaimana masalah berdampak pada diri sendiri.<br />
•	Ajukan solusi yang masuk akal dan tidak mempermalukan lawan bicara, kemudian berikan penekanan kembali pada kesepakatan. Hal yang harus diingat adalah terkadang harus ‘memilih’ untuk tidak tegas karena situasi yang dihadapi, misalnya ketika menghadapi permintaan orang yang lebih tua. Jika kita secara tegas menolak kemungkinan mereka akan sakit hati, karena itu lebih mudah bagi kita untuk mengiyakan permintaannya. </p>
<p>•	Mintalah masukan dari orang lain, mulai dari orang-orang yang mendukung kita, karena mereka akan memberikan dorongan yang diperlukan. Masukan dari mereka penting karena masukan dari orang-orang lainnya bisa sama sekali berbeda (bisa jadi negatif). Meski begitu, persepsi apa pun dari orang lain seringkali membantu kita ‘mengaca’. </p>
<p>IV.	<strong>PENUTUP </strong></p>
<p>•	Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal. Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.</p>
<p>•	Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti.</p>
<p>•	Keterbatasan dari pesan verbal adalah:<br />
a.	Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.<br />
b.	Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb.<br />
c.	Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.<br />
d.	Kata-kata mengandung bias budaya.<br />
e.	Percampuranadukkan fakta, penafsiran, dan penilaian.<br />
•	Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari</p>
<p>•	Budaya asal seseorang amat menentukan bagaimana orang tersebut berkomunikasi secara nonverbal. Perbedaan ini dapat meliputi perbedaan budaya Barat-Timur, budaya konteks tinggi dan konteks rendah, bahasa, dsb. Contohnya, orang dari budaya Oriental cenderung menghindari kontak mata langsung, sedangkan orang Timur Tengah, India dan Amerika Serikat biasanya menganggap kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya.<br />
•	Terdapat beberapa alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan, yaitu:</p>
<p>a.	Factor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatamuka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan nonverbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banya ’membaca’ pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk nonverbal.</p>
<p>b.	Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal. </p>
<p>c.	Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.</p>
<p>d.	Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.</p>
<p>e.	Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi, ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal.</p>
<p>f.	Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).</p>
<p>•	Komunikasi akan efektif apabila pesan-pesan verbal dan non-verbal saling menguatkan satu sama lain dan membentuk suatu keseluruhan yang jujur dan terpadu.  Menurut Birdwhistell menyampaikan bahwa, 30 % sampai dengan 35 % makna sosial percakapan atau interaksi dilakukan dengan kata-kata, sisanya dilakukan dengan non-verbal. Bahkan Mehrabian memperkirakan 93 % dampak pesan adalah diakibatkan oleh pesan non-verbal.</p>
<p>•	Dalam kehidupan sehari-hari kita pun dapat mengamati betapa seringnya kita memperoleh ataupun menyampaikan informasi yang disampaikan melalui komunikasi non-verbal. Misalnya tanda-tanda lalu lintas, warna baju dalam kampanye pemilu, ekspresi muka, gerakan tangan, dan sebagainya.   Begitu pentingnya peranan komunikasi non-verbal, maka sering kita dengar ungkapan seperti  “actions speach louder than words” (perbuatan lebih banyak berbicara daripada ucapan ), atau “one picture is worth a thousand words” (sebuah gambar mengandung seribu kata-kata).</p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
1.	Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.<br />
2.	http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/<br />
3.	Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.<br />
4.	Joseph A. Devito, 2007, The Interpersonal Communication, 11th Edition, Pearson International Edition<br />
5.	Indah Kusumastuti, Yatri (2009). &#8220;Chapter 2: Komunikasi dalam Organisasi&#8221;. Komunikasi Bisnis (edisi ke-edisi ke-1). IPB Press.<br />
6.	Verderber, Rudolph F. (2005). &#8220;Chapter 4: Communicating through Nonverbal Behaviour&#8221;. Communicate! (edisi ke-edisi ke-11). Wadsworth. </p>
<p>Disusun dan Dipresentasikan Oleh: Hendra, Nindyta, Dita, Hasan, Galih, Yanyan,Lury Alex, Novalina,Andi Siagian dan M. Rosit (Universitas Indonesia)<br />
<strong></strong><strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi/'>Komunikasi</a> Tagged: <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/ilmu-komunikasi/'>Ilmu Komunikasi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/komunikasi-interpersonal/'>Komunikasi Interpersonal</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/verbal-dan-non-verbal-messages/'>Verbal dan Non Verbal Messages</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/708/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=708&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2011/03/12/universal-of-verbal-and-nonverbal-messages/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Media</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2011/03/09/ekonomi-media/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2011/03/09/ekonomi-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 08:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Struktur ekonomi di dalam suatu masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain sistem politik yang dianut dan dijalankan, hukum yang diterapkan, maupun karakteristik masyarakat dan budaya. Kondisi-kondisi tersebut akan sangat mempengaruhi bentuk dan praktek bisnis di antara perusahaan. Sifat sistem politik suatu masyarakat menentukan di “lingkungan” mana suatu perusahaan media beroperasi. Banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=705&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendahuluan<br />
Struktur ekonomi di dalam suatu masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain sistem politik yang dianut dan dijalankan, hukum yang diterapkan, maupun karakteristik masyarakat dan budaya. Kondisi-kondisi tersebut akan sangat mempengaruhi bentuk dan praktek bisnis di antara perusahaan. Sifat sistem politik suatu masyarakat menentukan di “lingkungan” mana suatu perusahaan media beroperasi. Banyak jenis sistem politik yang ada, mulai dari sistem berbasis “otoriter totaliter” yang menekankan kontrol pemerintah yang ketat, hingga yang menunjukkan tidak adanya peraturan / kontrol pemerintah “laissez-faire”.</p>
<p>Di Amerika Serikat, perusahaan media beroperasi terutama dalam “sistem kapitalistik”, yaitu pasar bebas. Ekonom mereferensikan sistem ini sebagai “masyarakat kapitalis campuran”, dengan hak yang utama ada di tangan rakyat, tapi tetap ada regulasi dan batasan lain terhadap praktek bisnis (Carveth and Alexander, 1993). Dalam “masyarakat kapitalis campuran”, institusi negara dan swasta keduanya memproduksi dan mendistribusikan produk dan barang-barang. Di Amerika Serikat,  kebanyakan produksi isi media ditangani oleh perusahaan swasta dibandingkan oleh perusahaan negara/pemerintah.</p>
<p>Perusahaan media memproduksi dan mendistribusikan produk-produk ke konsumen untuk untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan dalam “masyarakat kapitalis campuran”. Sistem ini mendorong interaksi antara produsen dan konsumen, serta pengiklan dan pembeli media. Konsumen mempengaruhi jenis isi media yang mereka gunakan atau permintaan terhadapnya pada perusahaan media.</p>
<p>Disisi lain dengan banyaknya pilihan dan persaingain industri media, apakah tidak membuat suatu pertanyaan besar bagaimana semua pilihan hiburan secara efektif dapat hidup berdampingan dengan satu sama lain?</p>
<p>Perkembangan industri media cetak pun begitu luar biasa, ada banyak pilihan dalam memilih buku atau majalah untuk dibeli. Tergantung pada subjek materi, dan pilihannya mungkin “tak terbatas”. Dan pilihan akan lebih sedikit,  jika membaca surat kabar harian. Mengapa majalah dan buku-buku telah bertambah sementara koran lokal mengalami penurunan?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dengan memahami konsep-konsep dasar tentang bagaimana sistem ekonomi diatur. Sebelumnya, kita tentunya memahami bahwa bahwa sumber daya yang digunakan untuk konten media yang diproduksi dan barang-barang lainnya dianggap langka karena tidak ada sumber daya yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, “keputusan alokatif” harus dibuat tentang bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dalam masyarakat. Ekonom melihat “proses pengambilan keputusan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilakn produk/jasa yang dibutuhkan” ini sebagai masalah ekonomi masyarakat.<br />
Masalah Ekonomi (The Economic Problem)<br />
Masalah ekonomi mencakup suatu proses dalam menghadapi permasalahan penting terkait dengan produksi dan konsumsi. Termasuk dalam hal ini adalah menjawab beberapa pertanyaan terkait:  (1) berapa banyak barang yang akan diproduksi? (2) bagaimana cara memproduksinya? (3) siapa yang akan mengkonsumsi barang-barang itu? Jawaban-jawaban atas pertanyaan fundamental ini akan menjadi garis dasar suatu dasar organisasi dalam di sistem ekonomi.<br />
Dalam menentukan barang-barang yang akan diproduksi, produser hendaknya mempertimbangkan kuantitas barang-barang yang akan diproduksi dan juga bagaimana cara memproduksinya. Mengingat perbedaan antara sektor publik dan sektor swasta dalam menentukan jumlah barang yang akan diproduksi. Misalnya di sektor publik, pemerintah membuat kebijakan berapa banyak biaya yang dialokasikan untuk pertahanan Negara, saat yang sama juga menentukan alokasi program domestik seperti masalah kesehatan misalnya. Di dalam sektor publik, kebijakan sering berdasarkan terhadap pilihan sosial dan sensifitas politik (misalnya juga keamanan sosial), lebihnya, baik sebagaimana sebuah respon dari spesifikasi pertimbangan ekonomi.<br />
Di sektor swasta, keputusan produksi dipengaruhi oleh interaksi antara pembeli dan penjual, atau di dalam kasus media, provider dan konsumen. Misalnya di dalam industri buku tidak hanya harus seleksi judul yang perlu dipertimbangkan, namun juga berapa banyak kopi (copy) dari setiap buku yang akan dicetak. Selanjutnya penerbit meski memutuskan format buku, apakah dalam bentuk hardcover, softcover atau dalam bentuk audio. Untuk mempertimbangan publikasi, penerbit harus memikirkan jumlah variabel yang meliputi permintaan buku, seperti pembeli buku dan nilai kerja.</p>
<p>Dengan menghargai siapa yang akan mengkonsumsi barang-barang. Sebuah kebijakan dibuat oleh outlet media atau beberapa bentuk pemerintahan yang akan bisa mengkonsumsi kontennya. Tenaga kerja merupakan sebuah konsep penting dalam setiap keputusan yang mencakup produksi barang dan pelayanan, di dalam industri media, tenaga kerja salah satu sumber daya yang mahal  (Dunnet, 1990). Dalam industri radio, ini mungkin meliputi keputusan keberadaan, staf on air, seleksi secara otomatis, dan  pelayanan pengiriman satelit. Seorang Direktur menentukan lokasi syuting apakah di studio Holywood atau di area tropis yang asing, semakin mengelaborasi lokasi, semakin individu dibutuhkan dalam menciptakan film.</p>
<p>Dalam menetapkan siapa yang akan mengkonsumsi barang, kebijakan dibuat oleh outlet media atau beberapa bentuk pemerintah menetapkan siapa yang akan menentukan kontennya. Biaya televisi kabel merubah dari kota ke kota dan tunduk terhadap tipe regulasi. Namun signal penyiaran tersedia secara cuma-cuma. Awalnya sejarah penyiaran, regulator menegaskan siaran radio/televisi merupakan property publik. Jadi radio dan televisi penyiaran disediakan kepada publik dengan biaya yang sangat murah. Kebijakan pemerintah membuat pemisahan tingkatan pelayanan penyiaran (AM, FM, VHF, UHF) dan akhirnya menciptakan tiga sistem jaringan yang mendominasi penyiaran beberapa dekade. Dalam menjawab tiga pertanyaan ekonomi diajukan lebih awal, pemerintah (melalui komisi komunikasi federal (FCC)) memutuskan berapa banyak channel setiap komunitas akan menerima, (b) siapa yang akan diberikan lisensi channel melalui proses lisensi, dan (c), bahwa publik harus membayar receiver dalam maksud menggunakan dan mengkonsumsi kontennya.</p>
<p>Sebagaimana untuk TV kabel, situasi berbeda. Kotamadya menetapkan berapa banyak perusahaan TV kabel akan diberikan francise (berapa banyak yang akan diproduksi) dan juga memberikan spesifikasi persyaratan sistem (berapa barang yang akan diproduksi). dan pemilik akan menentukan akan dan tidaknya berlangganan TV kabel. Ketika anggota dewan dan FCC membuat regulasi baru pada tahun 1992. Regulator mencoba mendorong konsumsi kabel lebih besar memalui permintaan operator untuk biaya yang lebih ringan.</p>
<p>Dua contoh di atas tadi menggambarkan bagaimana sebuah masyarakat menyediakan jawaban yang berbeda terhadap tiga pertanyaan dalam bentuk permasalahan ekonomi. Karena tipe struktur ekonomi di dalam masyarakat mempengaruhi produksi, distribusi dan konsumsi. </p>
<p>Tipe-tipe Ekonomi<br />
Saat regulasi pemerintah ditujukan untuk memberi jawaban pada permasalahan ekonomi yang tengah dihadapi oleh masyarakat, disitulah sebuah sistem yang disebut dengan tipe “command economy” atau ekonomi terpimpin itu bekerja. Pada tipe ekonomi ini, pemerintah membuat semua keputusan yang menyangkut pada hal-hal produksi dan distribusi. Pemerintah memutuskan apa yang akan diproduksi dan berapa banyak jumlah produksinya, pemerintah menetapkan upah dan harga serta membuat perencanaan tingkat pertumbuhan ekonomi. Berbagai pilihan dari consumer goods terbatas berdasarkan dari apa yang diputuskan oleh pemerintah untuk diproduksi.</p>
<p>Dalam market economy atau tipe ekonomi pasar, sistem kompleks yang berbicara mengenai pembeli, pedagang, harga, profit, dan kerugian, memberikan jawaban-jawaban dari pertanyaan seputar produksi dan distribusi tanpa intervensi dari pemerintah. Sistem ekonomi pasar kurang lebih merupakan sebuah sistem ekonomi yang idealis dan saat ini tidak lagi terlihat secara utuh dijalankan di berbagai negara utama didunia.</p>
<p>Dalam tipe mixed economy atau sistem ekonomi campuran, terlihat kombinasi dari tipe ekonomi komando dan tipe ekonomi pasar. Di Amerika Serikat, seperti juga halnya di kebanyakan negara berkembang, media massa beroperasi dibawah struktur ekonomi campuran. Tipikal dari sistem ekonomi campuran ini yaitu diberlakukannya beberapa aturan-aturan dan regulasi pemerintah, namun juga pemilikan media secara pribadi/individual tetap dimungkinkan. Di Amerika Serikat, industri media yang dimiliki oleh individu-individu menetapkan aturan dan regulasinya sendiri dalam penetapan harga bagi produk-produknya, baik untuk harga ruang iklan maupun untuk harga yang harus dibayar langsung yang oleh konsumen/audiens.</p>
<p>Mungkin, hal yang paling menarik dalam menelaah dan mempelajari media massa di AS sebagai suatu institusi ekonomi adalah dengan melihat jumlah dari permintaan yang muncul dari elemen-elemen ekonomi pasar. Observasi yang menggambarkan bagaimana fungsi dari sistem ekonomi diatur sedemikian rupa, pertama diteorikan oleh Adam Smith dalam bukunya yang dipublikasikan tahun 1776 berjudul The Wealth of  Nations. Smith memperkenalkan sesuatu yang disebut dengan invisible hand doctrine, yang menegaskan bahwa ekonomi diatur oleh kekuatan tak terlihat untuk kepentingan produser dan konsumen. Smith mengemukakan gagasan mengenai ketidak terlibatan pemerintah (laissez-faire) dalam membiarkan kekuatan pasar untuk menang.</p>
<p>Pemikiran filosofis lain yang ditemukan adalah bahwa tidak seorangpun yang memperoleh keuntungan dari gagasan tersebut (laissez-faire), sebaliknya kecenderungan yang terjadi adalah bahwa segmen-segmen tertentu dalam masyarakat justru akan dimiskinkan serta diperbudak oleh sistem pasar. Sebagai hasilnya, campur tangan pemerintahlah yang menuntun pada terciptanya sistem ekonomi campuran. Para ahli ekonomi sejak lama telah beradu pendapat mengenai konsep dari invisible hand sebagai filosofi ekonomi lain yang muncul, namun gagasan mengenai kekuatan tak terlihat yang mengendalikan sistem ekonomi tetap memegang peranannya.</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut setiap harinya, media massa terlibat dengan proses produksi dan pendistribusian konten media, yang kemudian di konsumsi oleh audiens yang beragam dalam jumlah yang berbeda-beda.<br />
Sebagai contoh, kita lihat pada media surat kabar. Dalam proses produksinya dibutuhkan sumber daya yang terbatas, seperti tinta, air, listrik, dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi kertas. Bahan-bahan mentah ini harus bisa diperoleh dari suppliernya masing-masing dan kemudian diubah menjadi barang jadi melalui proses produksi. Pengiklan membeli “ruang” di surat kabar dalam bentuk dan format yang beragam untuk menggapai para audiens yang membaca media tersebut. “Ruang” tersebut harus dijual dengan pengaturan yang seksama agar iklan yang akan dicantumkan dapat memenuhi tujuan dari klien. Dengan demikian, sistem pembelian dan penjualan untuk ruang-ruang iklan selanjutnya dapat berlanjut sesuai dengan aturan dasar. Surat kabar yang telah siap baca kemudian menggapai pembacanya dengan berbagai cara berbeda. Beberapa diantara para pembaca merupakan pelanggan, sedangkan lainnya merupakan pembeli eceran. Pembaca lainnya mungkin saja membaca milik orang lain, dan beberapa orang lainnya bahkan mungkin menghindari membaca surat kabar. Hal-hal seperti ini pulalah yang tidak boleh luput dari pertimbangan media dalam menentukan landasan dasarnya masing-masing, lebih dari sekedar membicarakan mengenai produksi, distribusi, dan konsumsi semata.</p>
<p>Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand)<br />
Teori penawaran dan permintaan dalam ilmu ekonomi, adalah penggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang. Model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Model ini sangat penting untuk melakukan analisa ekonomi mikro terhadap perilaku serta interaksi para pembeli dan penjual. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagai model dan teori ekonomi lainnya. Model ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan atau penawaran.</p>
<p>Supply (Penawaran) secara umum dinyatakan sebagai jumlah suatu produk yang ditawarkan oleh produser dalam harga tertentu. Produser hendaknya telah dapat mengantisipasi jumlah yang harus diproduksi untuk dapat mengantisipasi kebutuhan dari konsumen.<br />
Demand didefinisikan sebagai pengukuran kuantitas produk tertentu yang dapat dikonsumsi oleh konsumen dalam suatu harga.<br />
Elastisitas Permintaan atau Price Elasticity of Demand (PED) adalah ukuran kepekaan perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Elastisitas permintaan digunakan sebagai cara untuk mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Ketika harga sebuah barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik —semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli. Elastisitas permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah permintaan dan persen perubahan harga.<br />
Price elasticity of Demand	=	Percent change in quantity<br />
		Percent change in price</p>
<p>Untuk barang-barang normal, penurunan harga akan berakibat pada peningkatan jumlah permintaan. Permintaan terhadap sebuah barang dapat dikatakan inelastis bila jumlah barang yang diminta tidak dipengaruhi oleh perubahan harga. Barang dan jasa yang tidak memiliki subtitusi biasanya tergolong inelastis. Permintaan terhadap antibiotik, misalnya, dikatakan sebagai permintaan inelastis karena tidak ada barang lain yang dapat menggantikannya. Daripada mati terinfeksi bakteri, pasien biasanya lebih memilih untuk membeli obat ini berapapun biayanya. Sementara itu, semakin banyak sebuah barang memiliki barang subtitusi, semakin elastis barang tersebut. Meskipun permintaan inelastis sering diasosiasikan dengan barang &#8220;kebutuhan,&#8221; banyak juga barang yang bersifat inelastis meskipun konsumen mungkin tidak &#8220;membutuhkannya.&#8221; Permintaan terhadap garam, misalnya, menjadi permintaan inelastis bukan karena konsumen sangat membutuhkannya, melainkan karena harganya yang sangat murah.</p>
<p>Jenis Permintaan untuk Produk Media<br />
Sangatlah penting untuk diketahui bahwa terdapat beberapa tipe permintaan yang dapat dianalisa dari beberapa jenis media masa.  Salah satunya adalah permintaan akan isi dari media yang diminta oleh pembaca/pemirsanya.  Permintaan pada tipe ini dapat diukur dari pembelian langsung yang dilakukan oleh konsumer, misalnya koran, buku, film dll.  Disaat isi dari media disajikan secara gratis (seperti didalam televisi) maka digunakan metode kepuasaan untuk mengukurnya.</p>
<p>Permintaan kedua yang sering terjadi adalah akses kepada pembaca/pemirsa yang diperlukan oleh pemasang iklan yang mencoba memasarkan produk dan jasanya kepada kustomer. Industry periklanan bekerja sama dengan media masa.  Tanpa ada keduanya, salah satunya tidak bisa berjalan sendiri.<br />
Permintaan terakhir adalah permintaan untuk jalur media.  Bukti menyatakan bahwa banyak sekali pembelian atau penggabungan di industri media.</p>
<p>Didalam memahami permintaan terhadap media, perlu diperhatikan mengenai “VALUE”. Apa yang disebut dengan Value?  Ekonom berfikir bahwa value adalah nilai dari sebuah produk atau jasa, yaitu suatu proses yang sangat subjektif yang berhubungan dengan kepuasan seseorang. Sedangkan konsumer merasakan value berdasarkan keinginan dan kebutuhan dari masing-masing individu.</p>
<p>Terdapat beberapa hasil riset mengenai upaya media dalam memenuhi permintaan konsumen, beberapa hasil riset yang dapat diungkap antara lain adalah:</p>
<p>Diskusi dan Penutup<br />
Ekonomi media adalah studi mengenai bagaimana industri menggunakan sumber daya tertentu untuk menghasilkan komoditas berharga (dalam hal ini konten) yang didistribusikan diantara konsumen dalam sebuah masyarakat untuk memuaskan berbagai keinginan dan kebutuhan.</p>
<p>Logikanya: Studi Ekonomi Media membantu kita untuk memahami hubungan ekonomi antara produsen media dengan pemirsa, pengiklan, dan masyarakat.</p>
<p>Kuncinya adalah: Recources – Production – Consumption<br />
Recources (Sumber daya), merupakan item yang digunakan untuk menghasilkan produk (barang) dan jasa.</p>
<p>Production (Produksi), merupakan suatu kreativitas aktual terhadap resources agar dapat digunakan menjadi berbagai produk dan jasa untuk dikonsumsi.</p>
<p>Consumption (Konsumsi), merupakan penggunaan produk dan sumber daya untuk memuaskan berbagai keinginan dan kebutuhan.<br />
Sistem ekonomi menentukan siapa yang akan memproduksi barang, bagaimana barang akan diproduksi dan siapa yang akan mengkonsumsi barang berdasarkan jenis struktur ekonomi yang ditemukan di masyarakat. Di sebagian besar negara maju, “ekonomi campuran” ada di dalam “operasi” media massa, yang menetapkan ekonomi pasar dengan dibatasi oleh peraturan pemerintah.</p>
<p>Ekonomi pasar dipandu/dikendalikan oleh penawaran dan permintaan yang berinteraksi di seluruh pasar untuk menjaga keseimbangan. Dalam ekonomi berbasis pasar, penawaran dan permintaan berinteraksi untuk membuat fungsi ekonomi. Media massa terus menerus terlibat dalam penawaran dan permintaan “di negara kita”, untuk memperoleh sumber daya pada setiap hari sehingga dapat memasok konsumen dengan isi media/produk yang mereka inginkan.</p>
<p>Permintaan dapat diukur pada tingkat yang berbeda dan dipengaruhi oleh banyak variabel termasuk harga, nilai, perubahan selera dan preferensi, dan pendapatan. Ketika berbagai bentuk isi media dapat disubstitusikan/digantikan satu sama lain, maka artinya “substitusi permintaan” atau “silang-pergantian” (cross-elasticity) permintaan dianggap eksis/ada.  “Silang-pergantian” (cross-elasticity) permintaan adalah alat yang berguna dalam analisis ekonomi dan sering digunakan dalam keputusan-keputusan kebijakan publik.</p>
<p>Keterbatasan buku ini yang bisa menjadi catatan adalah referensi yang cenderung terpusat pada ekonomi media di Amerika Serikat yang tentunya memiliki penerapan yang berbeda di setiap negara yang memiliki sistem ekonomi dan ideologi negara yang berbeda. Dan suatu ketika materi dalam buku ini bisa jadi tidak mencerminkan data industri terkini karena media massa bukanlah sebuah industri yang stagnan, perubahan akan terus terjadi, tidak terelakkan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/705/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=705&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2011/03/09/ekonomi-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOMERSIALISASI TELEVISI DI ERA INDUSTRI CITRA</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2011/03/07/komersialisasi-televisi-di-era-industri-citra/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2011/03/07/komersialisasi-televisi-di-era-industri-citra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2011 04:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indutri Citra]]></category>
		<category><![CDATA[Rating TV]]></category>
		<category><![CDATA[Televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M. Rosit Pendahuluan Perkembangan media khususnya televisi swasta sejak tahun 1998 sangat mempengaruhi seluruh kalangan masyarakat dan infrastruktur yang ada di negara ini, mulai dari sosial budaya, politik, keamanan maupun ekonomi. Televisi mulai bermunculan dikarenakan sejak Era Reformasi, pers mulai diberikan kebebasan untuk berpendapat, dan sistem pers yang dianut oleh Indonesia pun mulai berubah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=692&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh M. Rosit</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Perkembangan media khususnya televisi swasta sejak tahun 1998 sangat mempengaruhi seluruh kalangan masyarakat dan infrastruktur yang ada di negara ini, mulai dari sosial budaya, politik, keamanan maupun ekonomi. Televisi mulai bermunculan dikarenakan sejak Era Reformasi, pers mulai diberikan kebebasan untuk berpendapat, dan sistem pers yang dianut oleh Indonesia pun mulai berubah, akibat dari perubahan iklim politik yang semakin memperoleh ruang kebebasan maka media massa khususnya televisi semakin mengembangkan diri sesuai dengan iklim kebebasan. Media massa pun menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan, khususnya televisi. Di sudut lain dari kebebasan media, televisi menjadi sangat terbuka menerima suntikan kapital dari pihak luar demi sebuah persaingan pasar.</p>
<p>Hal yang menarik dikaji dalam pembahasan televisi sekarang ini, adalah fenomena komersialisasi yang mengintegrasikan media ke dalam sistem kapitalisme. Secara umum televisi memiliki keterkaitan dengan industri pasar. Konsekuensinya media berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal serta sensitif terhadap dinamika persaingan pasar, oleh karena itu media mengintegrasikan diri ke dalam aktivitas industri. (Albaran, 1996,5). Dari fenomena ini, semakin lama televisi menjadi lahan bisnis oleh kalangan tertentu. Hal itu nampak dengan munculnya beberapa televisi swasta yang ditopang melalui iklan komersil. </p>
<p>Konsekuensinya, televisi tidak hanya fokus sebagai media penyiaran, namun juga berkaitan dengan akumulasi modal, bisnis dan persaingan pasar. Program-program televisi yang disiarkan begitu mudah diintervensi oleh berbagai kepentingan kapitalis, yang tak lain adalah bermotif keuntungan belaka. Bagaimanapun juga, televisi juga memiliki kepentingan dengan pemilik modal untuk menopang eksistensi sebagai media penyiaran publik yang mesti menunjukkan eksistensi dan bersaing dengan media televisi lainnya. Nah, kapitalis pun juga merasa diuntungkan dengan hadirnya televisi yang efektif sebagai media bisnis.</p>
<p>Hubungan antara televisi dengan kapitalis merupakan sebuah relasi yang saling menguntungkan. Televisi sebagai media yang membutuhkan modal yang sangat besar, sementara kapitalis memandang televisi sebagai media bisnis yang efektif dalam mengiklankan produk-produknya. Sementara itu, berbagai program yang disiarkan televisi kepada publik sangat mempengaruhi bagi mereka yang menontonnya. Televisi bisa membentuk citra dan konsep publik bagaimana memandang suatu permasalahan sesuai dengan apa yang disajikan. Nah, dengan demikian, program-program televisi yang disiarkan tidak bisa dianggap remeh begitu saja, mengingat begitu besar dampaknya terhadap publik. Kalau televisi menginginkan kebebasan dalam melakukan tugasnya sebagai media penyiaran, maka harus melepaskan budaya ketergantungan terhadap iklan. mengingat media massa khususnya televisi berisikan informasi dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian apakah iklan berbahaya ada di media massa dan bagaimana dengan peran pemerintah ?</p>
<p><strong>Sekilas Perkembangan Televisi<br />
</strong>Sedikit menengok masa perkembangan televisi di Indonesia, kehadiran televisi di negeri ini dimulai sejak 1962 tahun lalu, yaitu dengan lahirnya Televisi Republik Indonesia (TVRI), merupakan satu-satunya televisi yang dijadikan media dominasi oleh pemerintahan Orde Lama. Setelah digantikan dengan Orde Baru, TVRI masih menjadi satu-satunya media penyiaran yang menjadi instrumen politik pemerintah. Nah, pada Era 90-an mulai lahirlah sebuah televisi swasta yang pertama di negeri ini yaitu Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Semula RCTI adalah sebuah televisi berbayar di daerah tertentu, namun pada perkembangannya stasiun televisi swasta ini menggebrak dengan berbagai siaran yang cukup independen, dengan jangkaun di berbagai daerah pelosok negeri. Catatan penting untuk televisi ini adalah porsi hiburan menempati posisi pertama, porsi siaran berita (news) cukup kecil, tetapi menjadi sebuah alternatif dan cukup fenomenal di jagat negeri ini.</p>
<p>Setelah RCTI, kemudian lahir Surya Citra Televisi (SCTV), yang juga menyiarkan secara independen namun tidak beda jauh dengan RCTI. Disambung munculnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), sekarang menjadi MNC TV dan selanjutnya Indosiar pada tahun 1995. Setelah itu muncul lagi ANTEVE. Layak menjadi catatan khusus dalam hal ini adalah nyaris semua izin operasional dari beberapa televisi secara nasional adalah adanya keterkaitan pemilik stasiun televisi pada penguasa saat itu. Mereka bisa berasal dari anggota keluarga, kerabat, relasi politik maupun bisnis.</p>
<p>Kehadiran berbagai stasiun televisi swasta hingga akhir 1990an itu, mampu menaruh perhatian khalayak, terutama program dari siaran mereka bisa dijadikan sebuah alternatif. Tak lama kemudian lahir lagi beberapa stasiun televisi swasta, Metro TV, LATIVI (sekarang berubah menjadi TVone), TRANS TV, TRANS 7 dan Global TV. Kemunculan 5 stasiun yang disebutkan terakhir ini, juga tidak jauh berbeda dengan kelahiran stasiun televisi swasta yang sudah dulu muncul. Artinya lahirnya stasiun televisi ini secara langsung maupun tidak langsung juga terkait dengan kepentingan penguasa waktu itu. (Sunarto, 2009).</p>
<p>Siaran televisi tidak bisa diindexs, paling tidak sampai ada teknologi yang memungkinkannya. Itu berarti semakin panjang acaranya, semakin penonton harus menyaksikannya. Untuk mencegah kebosanan, siaran berita televisi umumnya tidak lebih dari satu jam. Televisi dapat menyiarkan berita seketika, juga bisa meliput suatu peristiwa seperti pelantikan presiden mendaratnya pesawat angkasa luar, ketika peristiwa ini sedang berlangsung dan ini tidak bisa dilakukan oleh Koran. Ada implikasi yang penting. Pertama, televisi bisa menciptakan kesan atau rasa kebersamaan. Kedua, dalam siaran langsung, penonton bisa terkecoh bahwa apa yang ditayangkan itulah kenyataan sebenarnya.( William L. Rivers dkk)</p>
<p>Kehadiran televisi swasta merupakan lahan yang menarik untuk dikaji, terutama kehadirannya mengandung nilai problematik. Televisi-televisi swasta hadir tidak bisa dilepaskan berkaitan dengan pemerintah. Namun demikian, ketika sudah masuk izin pendirian dan berbagai proses awalnya televisi swasta, dapat dilihat faktor siapa yang memiliki tersebut kaitannya dengan pemerintah. Apa dan bagaimana grand design mengenai kebijakan televisi swasta tersebut terutama dikaitkan dengan perubahan politik antara awal pendiriannya (Orde Baru) sampai kepada dinamika Orde Reformasi.</p>
<p><strong>Kapitalisme Media Televisi<br />
</strong>Kaum kapitalis memandang kebebasan adalah suatu kebutuhan bagi individu untuk menciptakan keserasian antara dirinya dan masyarakat. Sebab kebebasan itu adalah suatu kekuatan pendorong bagi produksi karena ia benar-benar menjadi hak manusia yang menggambarkan kehormatan kemanusiaan. Sebagaimana gagasan Adam Smith yang paling penting ialah tentang ketergantungan peningkatan perekonomian kemajuan dan kemakmuran kepada kebebasan ekonomi yang tercermin pada Kebebasan individu dalam memberikan seseorang bebas memilih pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan dirinya. Kebebasan berdagang dimana produktivitas peredaran produksi dan distribusinya berlangsung dalam iklim persaingan bebas. </p>
<p>Pengaruh dari pandangan ekonomi liberal menciptakan sebuah pasar yang dituntut bersaing dan kompetitif. Satu sisi memang pandangan itu merupakan sebuah langkah strategis menuju kehidupan yang dinamis, namun di sisi lain, kapitalis menciptakan sebuah dunia persaingan yang bermotif keuntungan tanpa melihat aspek sosial masyarakat. Misalnya persaingan iklan di media bisa menciptakan ketidakseimbangan antara kualitas informasi dengan nilai bisnis. Kebanyakan aspek sosial dikalahkan dengan aspek bisnis, serta tidak mengindahkan dampak sosial yang akan datang terutama bagi para pemirsa televisi.<br />
Televisi dengan kapitalisme memang sulit dipisahkan, keduanya memiliki kepentingan yang nyaris tidak berbeda. Menurut Shoemaker (1991 :121), organisasi media merupakan entitas ekonomi, formal dan sosial yang menghubungkan para awak media, pemilik modal, dan pasar dengan tujuan untuk memproduksi, mendistribusi dan membuka cara konsumsisme yang ditawarkan. Sebagai capitalist venture televisi beroperasi dalam sebuah struktur industri kapitalis yang tidak selalu memfasilitasi tetapi juga mengekang. Dalam pandangan Smythe, fungsi utama media pada akhirnya menciptakan kestabilan segmen audien bagi monopoli penjualan pengiklan kapitalis (Smythe 1997).</p>
<p>Dengan demikian, media khususnya televisi terjerat dalam tiga situasi: pertama, tingginya investasi yang harus disiapkan dan yang mengakibatkan desakan untuk menjamin return of investment sesuai dengan rencana bisnis awal. Kedua, kecenderungan meningkatnya biaya overhead dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti suku bunga, peningkatan biaya produksi terutama peralatan, peningkatan biaya untuk pengisi acara dan biaya penyewaan fasilitas produksi  seperti lighting, audio, set décor, dan post production facilities. Ketiga, desakan teknologi yang menuntut dipenuhinya teknologi baru secara terus menerus untuk memungkinkan kualitas dan kreatifitas produksi agar tetap kompetitif terhadap produk dalam maupun luar negeri. Akumulasi dari ketiga permasalahan tersebut menyebabkan kompetisi ketat yang pada gilirannya menimbulkan benturan antara idealis masyarakat dan media yang bersangkutan (Ishadi S.K, 2010: 128)</p>
<p>Modus komersialisasi industri media massa mengandung berbagai kelemahan, bahkan bisa jadi kontra-produktif bagi kapitalis. Di antara kelemahan itu antara lain : pertama, para kapitalis media memang telah berusaha maksimal untuk mengurangi resiko usaha. Sebagian besar pasar yang ada, cenderung membentuk kekuatan oligopolistik, di mana beberapa industri media justru menciptakan serangkaian hambatan yang menutup peluang bagi pendatang baru. Pada sisi penekan harga produksi dan keuntungan kekuatan oligopolistik yang ada justru mengarah ke pembentukan monopoli yang sangat jauh dari mitos “pasar yang penuh dengan persaingan”. Kedua, industri media lebih berorientasi pada pemenuhan keinginan market sesuai dengan kriteria apa yang paling menguntungkan secara ekonomi dan politik bagi para pemilik modal. Oleh karena itu, pasar tidak akan mengatasi konsekuensi-konsekuensi setiap paket yang diproduksi. Memang tidak dapat diabaikan banyak produk media yang positif, namun banyak pula produk media yang bersifat dangkal dan tidak sesuai dengan konteks budaya. Dengan menggunakan proposisi yang demikian, dapat dikatakan bahwa dalam konteks kapitalisme, jurnalis dan produk media lebih merupakan ‘alat produksi’. Hidayat dalam tulisannya menegaskan, bahwa memang teks isi media beserta tindakan jurnalis dalam memproduksi media tak terlepas dari konteks proses-proses sosial memproduksi dan mengkonsumsi media, baik pada jenjang organisasi, industri dan masyarakat (Hidayat, 2000 : 431)</p>
<p><strong>Rating Televisi dan Dampaknya<br />
</strong>Mekanisme pemilihan tayangan oleh pengelola stasiun televisi nyaris semuanya didasarkan pada rating televisi. Padahal tingginya rating program televisi tidak menjamin diikuti dengan kualitas program bagi masyarakat. Malah stasiun televisi kebanyakan tidak peduli dengan kualitas program yang ditayangkan, yang terpenting bagi mereka adalah program-program televisi yang ditayangkan ditonton oleh mayoritas masyarakat serta menempati rating teratas.<br />
Dengan sistem rating, program-program unggulan (ini juga terkait dengan kualitas, melainkan kuantitas nilai jumlah pemirsa) akan menjadi rebutan para pemasang iklan. Kesalahannya lebih karena angka rating dipakai sebagai pedoman dan rujukan, bukan kontek program itu sendiri. kesalahan fatal ini mengingkari prosedur rating karena angkanya diperoleh setelah sebuah program ditayangkan, dan bukan sebaliknya. Sementara, tidak selalu formulasi dan komposisi sebuah acara yang sama persis bisa mendapatkan angka rating yang sama persis pula. Baru setelah semuanya pasti, yakni setelah angka capaian rating didapatkan,. Pemasang iklan baru akan datang. (Sunardian Wirodono, 2006: 94).</p>
<p>Ada beberapa dampak negatif dari diberlakukannya rating sebagai “berhala” oleh insan dalam industri televisi. Dampak pertama adalah seragamnya jenis tayangan dan pola siaran. Jadi, bila reality show sedang naik daun, semua stasiun televisi akan berlomba program sejenis, dan bila perlu jam tayangnya sama persis; sehingga menghasilkan pola acara yang mirip. Pola seragam acara itu membuat masyarakat yang tidak punya para bola atau TV kabel tidak punya pilihan lain. Dampak kedua adalah isi siaran yang bersifat “Jakartacentris” yaitu situasi yang membuat Indonesia seakan hendak dikerdilkan hanya menjadi Jakarta. Banyak remaja merasa ketinggalan zaman jika dirinya tidak menggunakan slogan-slogan yang sering disebut remaja Jakarta. Hal itu mengakibatkan keragaman budaya bisa menjadi raib. Dampak ketiga adalah kurang diutamakannya unsur edukatif (tanpa menggurui atau menceremahi) bagi perkembangan anak dan remaja. Kerapkali tayangan yang dianggap mendidik justru sebaliknya. Dalam tayangan misteri dan hantu misalnya, tampilan ulama seringkali hanya dimaksudkan sebagai tempelan, sekedar pembenaran apa yang ditayangkan sebelumnya. Sangat sulit menentukan apakah kelompok tayangan tersebut meningkatkan iman dan takwa kepada sang Khalik atau sebaliknya menaikan pamor kaum paranormal sebagai dewa penyelamat kita terhadap gangguan makhluk ghaib. Dampak keempat adalah tidak terlindunginya khususnya bagi anak dan remaja dari tayangan yang memuat kekerasan verbal dan visual. Kekerasan verbal yang dimaksud adalah segala macam makian, sumpah serapah dan kalimat lain yang tidak mendidik. Dalam sinetron dan telenovela yang bermotif balas dendam dan atau perselingkuhan. Kita dapat mendengar banyak kata, frasa dan kalimat yang sesungguhnya tidak sesuai dikonsumsi oleh anak dan remaja. (Heru Effendy,2008: 13-14).</p>
<p>Tingginya rating suatu program belum tentu diikuti dengan kualitas program tersebut. Jika dikatakan unggulan atau kualitas, adalah dalam kontek pendapatan iklan belaka. Oleh karena itu, semua tidak bisa dibenarkan, ketika lembaga rating menjadi faktor yang menentukan apakah program tersebut berkualitas atau malah hanya kuantitas. Bahkan program-program yang menempati rating tinggi rentan berbau sensual yang sesungguhnya tidak layak ditayangkan.</p>
<p><strong>Urgensi Regulasi Penyiaran<br />
</strong>Untuk membatasi komersialisasi televisi yang semakin membabi buta yang merugikan khalayak luas, maka media penyiaran mesti ada regulasi agar tidak kebablasan. Hal ini dipahami sebagai sebuah batasan etika dan moral agar dampaknya masih bisa dikendalikan. Mengingat perkembangan media penyiaran yang begitu pesat, media malah bisa membahayakan kepada khalayak, seandainya tidak bisa memilah-milah program yang sesuai, khususnya untuk remaja dan anak-anak.</p>
<p>Setidaknya ada tiga hal mengapa regulasi penyiaran dipandang urgent. Pertama, dalam iklim demokrasi kekinian, salah satu urgensi yang mendasari penyusunan regulasi penyiaran adalah hak asasi manusia tentang kebebasan berbicara (freedom of speech), yang menjamin kebebasan sesorang untuk memperoleh dan menyebarkan pendapatnya tanpa adanya intervensi, bahkan dari pemerintah. Kedua, demokrasi menghendaki adanya sesuatu yang menjamin keberagaman (diversity) politik dan kebudayaan, dengan menjamin kebebasan aliran ide dan posisi dari kelompok minoritas. Hal ini adalah adanya hak privasi (right to privacy) seseorang untuk tidak menerima informasi tertentu. Ketiga, terdapat alasan ekonomi mengapa regulasi media diperlukan. Tanpa regulasi akan terjadi konsentrasi, bahkan monopoli media. sinkronisasi diperlukan bagi penyusunan regulasi media agar tidak berbenturan dengan berbagai kesepakatan internasional. (M. Mufid, 2005: 67-68)</p>
<p>Adanya regulasi memiliki peran dan pengaruh yang besar khususnya terhadap komersialisasi televisi khususnya. Namun regulasi yang telah disepakati kadang tidak serta merta ditaati oleh stasiun televisi dalam menyiarkan programnya;. Misalnya acara “Empat mata” yang disiarkan di salah satu televisi swasta diprotes dan terkena pasal regulasi, karena sudah diluar batas dan etika, namun acara tersebut berubah nama manjadi “bukan empat mata” dengan maksud bisa melanjutkan program acaranya itu. Beberapa program televisi terkena regulasi namun mereka dengan berbagai cara berusaha menghidupkan program acara itu, tentu saja agar bisa disiarkan kembali. Hal itu terjadi karena program tersebut memperoleh rating tinggi dari pemirsa televisi.</p>
<p><strong>Penutup<br />
</strong>Perkembangan televisi yang semakin pesat di Era industri citra tanpa diikuti dengan regulasi yang mengaturnya, bisa jadi akan membahayakan khalayak luas. Apalagi pedoman dari program-program televisi tidak berkiblat terhadap peningkatan kualitas informasi, akan tetapi nyaris seluruh stasiun televisi memandang “tingkat rating” yang akan menentukan program-program yang akan disiarkan. Hal itu yang mendorong kapitalis memasukkan iklan-iklan komersilnya dalam program yang memperoleh rating tinggi dari pemirsa..Fungsi dari media penyiaran sebagai “sang pencerah” pun mesti dikritisi dan terus diamati gerak-geriknya agar tidak jauh keluar dari batasan etika yang telah disepakati bersama.</p>
<p>Dampak negatif dari media penyiaran khususnya televisi pun sudah banyak ditemukan faktanya. Pihak yang paling memiliki peran yang dominan adalah pemerintah. Semestinya pemerintah mampu melakukan social control terhadap media yang mencoba melewati batas etika ketimuran. Karena lemahnya kontrol akan mengakibatkan dampak yang fatal terhadap generasi mendatang khususnya. Mengingat media massa sudah dilingkari oleh berbagai macam kepentingan. Dari berbagai macam kepentingan-kepentingan itu tidak selalu berpihak kepada masyarakat luas, bahkan mereka lebih menitik beratkan keuntungan bisnis belaka tanpa harus memandang aspek yang jauh lebih penting terhadap masyarakat.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Albarran, Alan B. Media Economic : Understanding Markets, Industries and Concept, USA : State University Press, 1996.</p>
<p>Effendy Amir dkk, Potret Manajemen Media di Indonesia, Yogyakarta,Total Media, 2010</p>
<p>Heru Effendy, Industri Pertelevisian Indonesia, Jakarta, Erlangga, 2008.</p>
<p>Hidayat, Dedy. N., Pers dalam Revolusi Mei Runtuhnya sebuah Hegemoni, Jakarta : PT. Gramedia, 2000.</p>
<p>Shoemaker, Pamela J. and Stephen D. Reese, Mediating the Message : Theories of Influence on Mass Media Content, New York : Longman Publishing Group, 1991.</p>
<p>Smythe, Dallas, (1997), Communication: blindspot of Western Marxism, Canadian Journal of Political and Social Theory, Vol. I No.3.</p>
<p>Wirowidono, Sunardian, Matikan TV-Mu, Teror Media Televisi di Indonesia, Yogyakarta, Resist Book, 2006.</p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/budaya/'>BUDAYA</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi/'>Komunikasi</a> Tagged: <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/ilmu-komunikasi/'>Ilmu Komunikasi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/indutri-citra/'>Indutri Citra</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/rating-tv/'>Rating TV</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/televisi/'>Televisi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=692&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2011/03/07/komersialisasi-televisi-di-era-industri-citra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CULTIVATION ANALYSIS AND MEDIA EFFECTS</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2011/01/31/cultivation-analysis-and-media-effects/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2011/01/31/cultivation-analysis-and-media-effects/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 13:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Televisi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Kultivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Teori kultivasi (cultivation theory) pertama kali dikenalkan oleh Profesor George Gerbner pada tahun 1960 ketika ia menjadi dekan Annenberg School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat (AS). Tulisan pertama yang memperkenalkan teori ini adalah “Living with Television: The Violenceprofile”, Journal of Communication. Awalnya, ia melakukan penelitian tentang “Indikator Budaya” dipertengahan tahun 60-an untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=686&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong><br />
Teori kultivasi  (cultivation theory) pertama kali dikenalkan oleh Profesor George Gerbner pada tahun 1960 ketika ia menjadi dekan Annenberg School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat (AS). Tulisan pertama yang memperkenalkan teori ini adalah “Living with Television: The Violenceprofile”, Journal of Communication. Awalnya, ia melakukan penelitian tentang “Indikator Budaya” dipertengahan tahun 60-an untuk mempelajari pengaruh menonton televisi. Dengan kata lain, ia ingin mengetahui dunia nyata seperti apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh penonton televisi itu? Itu juga bisa dikatakan bahwa penelitian kultivasi yang dilakukannya lebih menekankan pada “dampak”.</p>
<p>Menurut cultivation theory, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak kita tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak kita dengan televisi, kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. Inti dari penelitian mengenai kultivasi adalah siapa yang menghabiskan waktu lebih banyak menonton televisi mempunyai kemungkinan untuk memandang realitas dunia dalam cara yang mencerminkan pesan yang secara umum disampaikan oleh televisi, dibandingkan dengan mereka yang lebih sedikit menonton televisi, namun sebanding dalam hal karakteristik demografis yang penting.</p>
<p>Analisa kultivasi sebenarnya merupakan salah satu bagian dari tiga strategi penelitian dari proyek Gerbner yang lebih besar lagi, yaitu penelitian mengenai Indikator Kultural. Tiga strategi penelitian yang dilakukan Gerbner adalah:</p>
<p>1.	Institutional process analysis (analisa proses kelembagaan), yaitu strategi penelitian yang menyelidiki tentang tekanan dan keterbatasan yang mempengaruhi bagaimana pesan media dipilih, dihasilkan, dan disebarkan;<br />
2.	Message system analysis (analisa sistem pesan), yaitu strategi penelitian dengan mengukur dan memantau gambaran umum dalam acara televisi.<br />
3.	Cultivation analysis (Analisa kultivasi), yaitu strategi penelitian yang mempelajari apa dan bagaimana televisi membantu menghasilkan konsepsi penonton tentang kenyataan social (Bryant, J &amp; D Zillmann. Media Effects: Advances in Theory and Research. 2002 : 45).<br />
Prespektif kultivasi pada awal perkembangannya lebih memfokuskan kajian pada studi televisi dan khalayak. Fokus utamanya pada tema-tema kekerasan di televisi</p>
<p><strong>CONCEPTUAL FRAMEWORK<br />
</strong>Dari perspektif teori, Gerbner khususnya tertarik pada peran pesan, baik pada tataran interaksi sosial sehari-hari maupun pada level sosial kultural yang lebih luas, dimana pesan dihasilkan secara massal dan disebarluaskan. Gerbner mendefinisikan komunikasi sebagai “interaksi melalui pesan”, dan dia melihat kultur atau budaya sebagai “sebuah sistem pesan dan citra yang mengatur dan menghasilkan relasi sosial” (Gerbner, 1990, p. 250). </p>
<p>Dengan kata lain, kultur adalah sebuah sistem dari cerita yang diproduksi-massal “yang menjembatani antara eksistensi dan dan kesadaran akan eksistensi, dan untuk itu berkontribusi atas keduanya”. Sebagai hasilnya, pesan dan citra yang ada di sekeliling kita merefleksikan dan menghasilkan cara berpikir kita terhadap dunia. Namun pesan-pesan tersebut tidaklah “netral”, tapi lebih merefleksikan nilai dan prioritas dari institusi yang membuatnya. Pertanyaan kuncinya kemudian adalah: Asumsi, pandangan, cara mengamati, dan pandangan umum seperti apa yang dikultivasi oleh sistem dominan?</p>
<p>Namun pertanyaannya bukan hanya itu saja, Gerbner juga melihat paradigma Indikator Kultural sebagai maksud untuk menjawab persoalan yang lebih luas lagi, seperti:<br />
•	Perspektif dan hubungan seperti apa yang ditunjukkan dalam sistem pesan yang dihasilkan untuk komunitas yang luas dan beragam?<br />
•	Bagaimana sistem ini dapat berlaku pada rentang waktu, antarkultur/budaya, dan masyarakat yang berbeda?<br />
•	Bagaimana produksi massal dan distribusi pesan diorganisasikan, dikontrol, dan diatur?<br />
•	Apa asumsi umum bahwa sistem pesan benar-benar dikultivasikan melalui dan atas sebuah pesan tunggal atau beberapa pesan terpilih, atau atas respon individu dan beberapa orang?<br />
•	Bagaimana kultivasi dari asumsi kolektif ini membentuk terarahnya urusan publik (dan tentu saja, sebaliknya)?</p>
<p>Sebagai suatu pembanding atas cultivation theory, Miller (2005:282) menyatakan bahwa cultivation theory tidak dikembangkan untuk mempelajari efek khusus atau tertentu (misalnya dengan menonton tv akan membuat anak-anak mencoba untuk terbang dengan meloncat dari jendela), tapi lebih kepada dampak kumulatif dan menyeluruh (televisi) terhadap bagaimana kita memandang dunia yang kita diami ini. Pada dasarnya cultivation theory beranggapan bahwa ekspos pada televisi yang berlebihan, secara halus menanamkan persepsi pemirsa terhadap realitas.</p>
<p>Pada dasarnya, studi Indikator Kultural oleh Gerbner dilakukan karena ia konsern pada dampak program televisi (khususnya program kekerasan) terhadap tingkah dan perilaku masyarakat Amerika (Miller, 2005, p.281).</p>
<p><strong>STORYTELLING<br />
</strong>Konsep mengenai “storytelling” merupakan pusat dari kajian mengenai cultivation theory. Gerbner berpendapat bahwa perbedaan mendasar antara manusia dan mahluk hidup lainnya adalah bahwa kita hidup dalam dunia yang terbentuk oleh cerita-cerita yang kita ciptakan. Manusia secara unik hidup dalam dunia yang dialami dan dikonstruksi secara besar-besaran melalui berbagai macam bentuk dari “penceritaan” atau “storytelling”.</p>
<p>Pada awalnya, berbagai informasi kebudayaan disampaikan secara langsung oleh figur-figur yang dianggap berpengaruh dalam sebuah komunitas dalam masyarakat tertentu, seperti para orang tua, guru-guru, bahkan para alim ulama. Namun kini, peran tersebut telah tergantikan oleh keberadaan televisi. Televisi telah merubah proses budaya dari storytelling menjadi suatu sistem yang tersentralisasi, karena mengatasi halangan historis keberaksaraan dan mobilitas. Menurut kajian ini &#8212; televisi adalah sebuah alat untuk bercerita (storytelling) yang cenderung berfungsi sebagai sistem penyampai pesan sehingga bisa dijadikan sebagai alat pembelajaran yang sama terus menerus &#8212;- TV merefleksikan dan  menciptakan opini, citra, dan kepercayaan (beliefs) yang dipengaruhi oleh budaya yang ada dalam masyarakat &#8212;- sehingga audience akan termotivasi untuk memberikan perhatian yang lebih pada isi, opini, citra atau pesan yang disampaikan oleh TV.</p>
<p>Seiring dengan hal-hal tersebut diatas, televisi telah mendorong sistem storytelling menjadi sebuah sistem yang berada dalam kendali kepentingan perdagangan global. Secara lugas dapat disebutkan bahwa bersamanya terdapat berbagai hal yang dijual kepada pasar. Dunia yang terbangun dari simbol-simbol komunikasi kini dibentuk sesuai dengan kepentingan komersil, dan pemasaran.</p>
<p>Kajian penelitian mengenai fenomena ini akan terfokus pada efek atau pengaruh televisi terhadap perilaku individu atau khalayak penonton televisi &#8212;- tapi bukan pada suatu tayangan yang khusus, episode atau genre. Cultivation theory and research lebih berfokus pada sebuah sistem penerimaan pesan, yang merupakan total dan pengulangan yang diterima secara terus menerus, baik berupa gambar, atau pesan lain pada televisi &#8212; jadi ada intensitas yang dilakukan menurut jangka waktu tertentu. Seperti dikatakan Signoreielli &amp; Morgan (p.117) bahwa “cultivation is not unidirectional flow of influence from television to audience, but a part of a continual, dynamic, ongoing process of interaction among messages and contexts”. Karena kedinamisan dan terus menerus inilah, maka cultivation theory dibagi atas 2 (dua) bagian besar:<br />
A.	Dinamika dan kontinual &#8212;- ini yang biasa disebut sebagai intensitas menonton, yaitu :<br />
1.	Heavy Viewers &#8212;- penonton berat adalah penonton atau khalayak yang menonton lebih atau sama dengan 4 jam &#8212;- pada jenis penonton ini biasanya perilaku yang ditimbulkan atau efeknya akan terlihat sama dengan pesan yang ada di televisi;<br />
2.	Light Viewers &#8212;- penonton ringan adalah penonton atau khalayak yang menonton kurang dari 4 jam &#8212;- tidak terpengaruh secara langsung atau dampak yang ditimbulkan tidak signifikan.<br />
B.	Dampak pesan &#8212;- perilaku yang timbul.<br />
Bentuk sederhana dari penelitian mengenai kajian kultivasi adalah :<br />
1.	Jika mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi, maka menerima realitas dunia sebagai refleksi dari pesan yang ada di televisi &#8212;- heavy viewers<br />
2.	Jika mereka sedikit menghabiskan waktu menonton televisi, maka mereka menerima realitas dunia tidak serupa dengan pesan yang ada di televisi &#8212;- light viewers</p>
<p><strong>CULTIVATION ANALYSIS METHODS<br />
</strong>Cultivation analysis methods dimulai dengan pola identifikasi yang paling umum dan stabil dalam konten televisi, menekankan gambar yang konsisten, penggambaran, dan nilai-nilai yang melintasi genre program dengan melakukan analisis sistem pesan atau dengan memeriksa studi konten yang ada dengan dimensi:</p>
<p>•	Eksistensi, apa yang ada di dunia simbolik?<br />
•	Prioritas, apa yang penting?<br />
•	Nilai, apa yang benar atau salah, baik atau buruk, dll?<br />
•	Hubungan, apa yang berhubungan dengan hal tersebut dan bagaimana itu berhubungan?</p>
<p>Setelah dilakukan penetapan pola dimensi, maka cultivation analysis mengembangkan suatu hipotesis tentang apa yang diharapkan dari “heavy viewer” untuk berpikir tentang beberapa topik atau masalah. Cultivation analysis menggunakan prosedur survei untuk menguji hubungan antara jumlah waktu menonton televisi dengan konsepsi realitas sosial.</p>
<p>Cultivation analysis dimulai dengan analisis sistem pesan untuk mengidentifikasi pola-pola permanen, kontinyu, dan overarching dari konten televisi. Klasifikasi light viewer, medium viewer, dan heavy viewer diukur dengan jumlah waktu responden menonton televisi rata-rata setiap hari. Yang penting adalah adanya perbedaan tingkatan menonton, bukan pada jumlah akurat menonton.</p>
<p>Bukti kultivasi yang bisa diobservasi tergolong sederhana karena light viewer sekalipun dapat menonton televisi beberapa jam sehari dan hidup dalam kultur umum yang sama dengan heavy viewer. Karena itu, penemuan pola konsisten berbeda yang kecil tapi pervasif di antara light dan heavy viewer sangat mungkin. (Bryant, J &amp; D Zillmann : 2002).</p>
<p>Secara umum, light viewer dan heavy viewer berbeda menurut umur, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, ras, waktu senggang, agama, isolasi sosial, orientasi politik, dan sejumlah variabel demografis, sosial, dan psikologis lainnya. Light viewer cenderung terkena sumber informasi yang lebih bervariasi dan beragam, sedangkan heavy viewer cenderung lebih mengandalkan televisi. Pergeseran kecil tapi pervasif dalam perspektif kultivasi dapat mengubah kondisi kultural dan membalik keseimbangan pembuatan keputusan politis dan sosial.</p>
<p><strong>EARLY RESULTS<br />
</strong>Garbner melakukan penelitian dampak televisi denganmenggunakan metode survey analisis dan menemukan bahwa heavy viewers akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Misalnya, menanggapi perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat, para heavy viewers akan mengatakan bahwa sebab utama munculnya kekerasan karena masalah sosial (karena televisi yang sering ia tonton sering menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif kekerasan). Padahal bisa jadi sebab utama itu lebih karena faktor cultural shock dari  tradisional ke modern. Dengan kata lain, penilaian, persepsi,opini penonton televisi digiring sedemikian rupa agar sesuai dengan apa yang mereka lihat di televisi. </p>
<p>Bagi heavy viewers, apa yang terjadi pada televisi itulah yang terjadi pada dunia sesungguhnya. Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton meyakininya. Televisi, sebagaimana diteliti oleh Garbner. Dianggap sebagai pendominasi “lingkungan simbolik” seseorang. Cultivation theory menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari disekitar kita, tetapi dunia itu sendiri (McQuail dan Windahl, 1993). Garbner juga berpendapat bahwa gambaran adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan aturan. Dengan kata lain perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian disekitar kita. Jika adegan kekerasan itu merefleksikan aturan hukum yang tidak bisa mengatasi situasi seperti yang digambarkan dalam adegan televisi, bisa jadi yang terjadi sebenarnya juga begitu.</p>
<p><strong>CRITIQUE AND REFINEMENTS </strong><br />
Terdapat beberapa kritik dari para ahli terhadap cultivation theory yang disampaikan oleh Gerbner, yaitu antara lain :<br />
•	Di dalam mempelajari thema kekerasan, kontrol lingkungan lebih cocok dibanding kontrol pendapatan seperti yang pernah dikemukakan oleh Gerbner (Doob dan McDonald)<br />
•	Sebuah hubungan nyata antara terpaan kekerasan televisi dan takut akan kejahatan dapat dijelaskan dengan lingkungan dimana penonton tinggal (Livingstone, 1990). Mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminilitasnya tinggi lebih percaya bahwa kemungkinan untuk diserang atau diganggu daripada mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminalitasnya rendah (Hirsch, 1980).<br />
•	 “Orang yang merupakan pecandu berat televisi seringkali mempunyai sikap stereotipe tentang peran jenis kelamin, dokter, bandit atau tokoh-tokoh lain yang biasa muncul dalam serial televisi. Dalam dunia mereka ibu rumah tangga mungkin digambarkan sebagai orang yang paling concern terhadap urusan bersih-bersih rumah. Suami adalah orang yang selalu menjadi korban dalam kisah lucu. Perwira polisi menjalani hari-hari yang  menyenangkan. Semua bandit berwajah seram”. (Frederick Wiliams 1989).</p>
<p>Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa penonton sebenarnya juga aktif di dalam usaha menekan kekuatan pengaruh televisi seperti yang tidak diasumsikan dalam cultivation theory. Cultivation theory  menganggap bahwa penonton itu pasif dan lebih memfokuskan pada kuantitas menonton televisi atau “terpaan” dan tidak menyediakan perbedaan yang mungkin muncul ketika penonton menginterpretasikan siaran-siaran televisi. Penonton mempunyai motivasi dan interpretasi yang berbeda satu sama lain.</p>
<p>Josep Dominick mengatakan bahwa ”Individu yang menonton televisi tanpa motivasi dan perencanaan sebelumnya lebih mudah untuk melupakan apa yang dilihatnya dari pada mereka yang menonton televisi dengan motivasi dan perencanaan sebelumnya (Dominic, 1990).<br />
Perlu juga dilihat lingkungan/daerah penonton yang terkena dampak kultivasi, karena penelitian yang dilakukan Gerbner dan kawan-kawan dilakukan di Amerika Serikat. Hanya sedikit bukti bahwa efek kultivasi itu terjadi di luar AS. Weber (yang di kutip Condry, 1989) misalnya tidak menemukan bukti di Inggris bahwa ada hubungan antara kecanduan televisi dengan perasaan tidak aman. Itulah kenapa televisi di Inggris sedikit menampilkan adegan kekerasan dibanding televisi AS. Condry kemudian menyarankan seharusnya ada kritik yang dilakukan sebelum adegan televisi disiarkan. Atau bisa jadi karena di Inggris lebih banyak budaya media dibanding AS</p>
<p><strong>CULTIVATION AND THE AUDIENCE</strong><br />
Cultivation banyak mendapat kritikan karena melihat penonton secara “passive” yang menganggap bahwa setiap penonton melihat semua pesan dengan cara yang sama. Sebenarnya, penonton mengintepretasikan perbedaan program dengan cara yang berbeda, perbedaan program yang ditonton dapat “mengikat” kita pada tingkat level yang berbeda, dan terkadang kita hanya menyaksiakan apa yang sedang popular saat ini, tetapi secara tidak sadar pikiran kita yang diubah oleh hal itu. Penonton yang menyaksikan bagian pesan tertentu akan menginterpretasikan pesan tersebut dengan berbagai macam cara.<br />
Dari hal-hal tersebut maka banyak peneliti yang mempelajari/ memfokuskan diri pada “system” pesan agar tersampaikan secara efektif, dengan menilai seberapa efektif, mengganggu, atau menariknya suatu pesan.<br />
Contoh: suatu pemberitaan tentang kekerasan, apabila disiarkan hanya beberapa kali dia akan menjadi berita penting, tetapi kalau terlalu sering dilihat kekerasan hanya akan menjadi hal yang umum di mata penonton.</p>
<p>Cultivation tidak mempelajari tentang aktivitas penonton, melainkan apakah penonton berat (heavy viewers) menunjukan bukti bahwa mereka telah menyerap pesan yang dominan dari televisi. Cultivition atas kesadaran yang kolektif, sekarang diinstusionalkan dan diatur secara “corporately” menjadi tingkatan yang tidak dapat diperkirakan. </p>
<p><strong>CULTIVATION IN THE NEW MEDIA ENVIRONMENT</strong><br />
Cultivation theory  dikembangkan ketika televisi di Amerika memiliki tiga jaringan siaran nasional, ditambah segelintir kecil dari pemancar independen dan pemancar publik/pendidikan. Tiga jaringan pemancar menjangkau lebih dari 90% pemirsa, malam demi malam. Berbagi program  50% tidak lazim. Sistem kabel pengganti sebagian besar memperluas jangkauan jaringan, menyediakan pemrograman yang lumayan kompetitif. Kebanyakan orang menonton acara yang sama, pada waktu yang sama pula.</p>
<p>Semakin lama, perkembangan teknologi seperti kabel digital, satelit, VCRs, DVDs, DVRs, dan internet telah secara drastis mengurangi pangsa pemirsa untuk tiga jaringan besar yang sudah ada. Saat ini,  jaringan terbaik (top network) mencapai rating yang mencerminkan apa yang nyaris minimum yang diperlukan untuk tetap berada di udara di tahun 1970-an. Tingkat pemirsa televisi secara keseluruhan terus mencapai tingkat atas, namun sekarang, pemirsa dibelah ratusan kabel atau saluran satelit dan alternatif lainnya. Di sisi lain, ada sedikit bukti bahwa proliferasi saluran telah menyebabkan setiap keragaman konten secara substansial, karena jumlah saluran telah tumbuh, kepemilikan dan kontrol produksi telah benar-benar menjadi lebih terkonsentrasi.<br />
Saluran akan terus berkembang maju melalui kabel, satelit, dan transmisi digital. Perkembangan baru seperti perekam video digital akan menyebar, memungkinkan pemirsa untuk lebih mudah memanjakan selera pemograman mereka secara pribadi (dan mungkin, untuk mengabaikan komersialisasi iklan, menyebabkan pengiklan untuk menanggapi dengan strategi seperti penempatan produk). Akan ada lebih banyak pilihan untuk langsung, pengiriman permintaan program melalui set-top box, DVRs, dan koneksi internet dengan kecepatan tinggi. Jaringan siaran pangsa pemirsa sehingga akan terus mengerut (meskipun seri blockbuster sesekali) dan dibagi antara suatu bilangan terus meningkat saluran yang bersaing. Namun, perubahan dalam modus distribusi mungkin memakan sedikit perbedaan jika pesan tidak berubah. Mengingat itu, ada sedikit bukti sampai saat ini bahwa pola budidaya yang menonjol gambar akan menunjukkan fragmentasi yang sesuai.</p>
<p><strong>THE FUTURE OF CULTIVATION RESEARCH </strong><br />
Selama ini, di dalam cultivation theory yang dijadikan penelitian adalah dampak yang disebabkan oleh televisi terhadap penerimaan oleh masyarakat. Pengembangan siaran televisi yang mempengaruhi manusia untuk menjadikannya sebagai suatu kebutuhan dalam mendapatkan informasi terkadang juga telah mengakibatkan terpengaruhnya cara berfikir manusia sebagai penonton televisi mengenai sesuatu hal yang kemudian diterapkan dalam kehidupan kesehariannya. Ke masa mendatang satu pertanyaan penting yang kiranya dapat perlu diteliti lebih lanjut dalam cultivation research adalah eksplorasi terhadap “cognitive process” yang dapat menunjukkan bagaimana pengaruh cultivation theory terhadap permasalahan atau dampak psykologi di masyarakat.</p>
<p>Di sisi lain kemajuan dari dunia industri pertelevisian akan memberikan suatu tantangan baru dalam cultivation research, khususnya di era perubahan tekhnologi pertelevisian ke era digital yang memberikan banyak kesempatan berkembangnya industri pertelevisian dan penyampaian informasi. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam industri pertelevisian ini, telah menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan karena akan merubah teori-teori dasar maupun permisif mengenai cultivation. Penelusuran kembali, analisa lanjutan, dan memahami perubahan-perubahan yang terjadi, dan lebih memberikan perhatian pada dampak kebijakan yang diambil oleh regulator, akan menjadi tugas lanjutan dalam cultivation research di masa mendatang.</p>
<p><strong>DISKUSI DAN PEMBAHASAN</strong><br />
Terlepas dari pro-kontra masalah dampak media massa terhadap penonton, dalam konteks penerapan cultivation theory di Indonesia, kita seyogyanya lebih bijaksana dalam menyikapi. Memang diperlukan penelitian lebih banyak dalam konteks Indonesia, mengingat penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan lebih banyak di Amerika Serikat dan Eropa.</p>
<p>Hal ini tidaklah menunjukkan bahwa kondisi di Indonesia berbeda, terlampau menyederhanakan permasalahan atau menafikkan faktor-faktor lain yang tidak kalah potensial dalam memicu perilaku agresif. Misalnya faktor depresi dan pengalaman traumatik. Kalaupun ditemukan adanya suatu proses peniruan modus operandi kriminalitas, hal ini dianggap berlebihan, namun efek kriminalitas di televisi tetap saja perlu diwaspadai ketika muncul dalam bentuk desensitisasi kekerasan.<br />
Desensitisasi kekerasan, atau penumpulan kepekaan terhadap kekerasan merupakan gejala yang umum terjadi ketika kekerasan tak lagi dianggap sebagai hal yang luar biasa. Tatkala masyarakat diterpa oleh informasi kekerasan, dan menganggap realitas media tak beda dengan realitas nyata (prespektif kultivasi), perilaku kekerasan pun disahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti itulah kiranya yang terjadi akhir-akhir ini pada masyarakat Indonesia, yang dapat dilihat bagaimana pengadilan jalanan begitu merajalela dimana  masyarakat ramai-ramai menghakimi pelaku kriminalitas, memukuli maling sampai mati, membakar hidup-hidup orang yang dicurigai sebagai perampas ojek (yang ternyata bukan pelaku sesungguhnya!), mengarak dan menggunduli (belum termasuk penyiksaan fisik) anggota masyarakat yang dicurigai melakukan perselingkuhan, dan sebagainya.<br />
Tampaknya apa yang dikemukakan oleh Baran dan McQuail tentang teori masyarakat massa, tengah berlangsung di Indonesia. Dimana masyarakat mudah dipengaruhi, media mempunyai kekuatan yang besar, sedangkan media banyak berperan disfungsional. News judgement banyak ditinggalkan oleh media di Indonesia saat ini demi mengejar rating dan prestise yang bermuara pada satu tujuan &#8220;keuntungan&#8221;. Media tidak lagi bijaksana dan lupa bahwa mereka adalah institusi sosial yang punya tanggung jawab menjaga tatanan sosial, mendidik masyarakat, bukan sekadar memberikan informasi tetapi tidak mendidik.</p>
<p>Jika media berkilah bahwa mereka hanya menyampaikan realitas yang ada. Mereka juga lupa bahwa apa vang mereka lakukan dengan menayangkan beragam tindak kekerasan dengan frekuensi yang sering, mereka berinteraksi dengan khalayak, dan ini dapat mengkonstruksi realitas sosial yang baru, kekerasan-kekerasan yang baru. Media mengangkat realitas kekerasan tetapi juga menciptakan realitas kekerasan. Namun yang menyedihkan adalah terdapat kecenderungan bahwa media menciptakan kekerasan yang baru, dengan kekuatan mereka melalui isi dan kemasan pesan yang ditayangkan. Apakah hal ini disadari atau tidak, tapi terkadang ini juga menjadi sebuah dilema ketika media dihadapkan pada tujuan utamnya sebagai perusahaan yang bergerak di bidang bisnis, dengan salah satu tujuannya adalah memperoleh keuntungan.<br />
&#8212;00&#8212;</p>
<p>Referensi Tambahan:<br />
1.	http://rizhacommunication.blogspot.com/2010/03/teori-media-dan-masyarakat-katherine.html<br />
2.	http://nurudin-umm.blogspot.com/2008/11/cultivation-theory-teori-kultivasi.html<br />
3.	http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/iko/article/viewFile/16673/16665</p>
<p>Disusun Oleh 1.	Eppstian Syah As’ari, Galih Noor Abdillah, Hasan Chabibie, Hendra Sukmana, Lury Alex, Nindyta Aisyah, Prani Pramudita Dan M. Rosit (Universitas Indonesia)</p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi/'>Komunikasi</a> Tagged: <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/komunikasi/'>Komunikasi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/media/'>Media</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/televisi/'>Televisi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/teori-kultivasi/'>Teori Kultivasi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=686&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2011/01/31/cultivation-analysis-and-media-effects/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku Memutuskanmu Sayang, Karena Kamu Telah Kentut Di Depan Ibuku</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2010/12/16/maafkan-ku-memutuskanmu-sayang-karena-kamu-telah-kentut-di-depan-ibuku/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2010/12/16/maafkan-ku-memutuskanmu-sayang-karena-kamu-telah-kentut-di-depan-ibuku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL POSTS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Malam minggu lalu, saya melihat pertunjukkan teater di Bulungan, Jakarta Selatan bersama dengan teman-teman. Saya duduk di barisan kursi paling belakang dari seluruh penonton. Di samping saya adalah seorang pelukis, kira-kira saya sudah setengah tahun mengenalnya, berbagai macam lukisan hasil karyanya terpampang di sudut teater Bulungan. Saya memanggilnya mas Sis, karena ia jauh lebih tua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=675&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam minggu lalu, saya melihat pertunjukkan teater di Bulungan, Jakarta Selatan bersama dengan teman-teman. Saya duduk di barisan kursi paling belakang dari seluruh penonton. Di samping saya adalah seorang pelukis, kira-kira saya sudah setengah tahun mengenalnya, berbagai macam lukisan hasil karyanya terpampang di sudut teater Bulungan. Saya memanggilnya mas Sis, karena ia jauh lebih tua daripada saya. Di sebelah kiri mas Sis, duduk seorang bapak setengah tua yang baru saja mas Sis memperkenalkannya kepada saya, ia pernah tinggal lama di Yogyakarta dan alumnus Sosiologi UGM di kota setempat, namanya Pak Argo.</p>
<p>Saat kami tengah menikmati pertunjukkan teater, secara tiba-tiba bapak setengah tua yang baru saja kenalan dengan saya, mencoba mendekatkan kepala kearah saya, kemudian berkata, “maafkan aku memutuskanmu sayang, karena kamu telah kentut di depan ibukku”, mendengar pernyataan agak aneh itu, saya terkejut, saya mulai berpikir kira-kira apa yang dimaksud Pak Argo barusan. Namun setelah itu, ia melanjutkan kata-katanya. Mas Rosit, yang saya maksud dari kata-kata saya tadi yaitu SBY sekarang sudah berani-beraninya mengutak-atik Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah berjasa besar buat bangsa ini. Saya ibaratkan dengan pernyataan saya tadi, nah dari kata-kata saya tadi yang perlu digaris bawahi yaitu kata memutuskanmu dan kentut. Pertama, SBY sudah mengeluarkan pernyataan yang membahayakan NKRI yang telah dijaga dari awal kemerdekaan sampai saat ini oleh seluruh lapisan warga bangsa ini, saya kawatir perdebatan mengenai sistem pemerintahan Yogyakarta menjadi membesar dan alhasil warga Yogyakarta diberikan hak Referendum, dan bagaimana kalau cara memaknai kata Referendum berbeda dengan maksud para kaum elit di negeri ini. Setelah itu Yogya merdeka dari NKRI, dan yang lebih membahayakan lagi, provinsi-provinsi yang lain berniat mengikuti jejak Yogyakarta.” Kata bapak Argo yang memperlihatkan wajah kecewanya”. Saya pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>&#8220;Kedua, SBY telah berani membuang kentut, bagaimana mungkin sebagai seorang Presiden yang dijadikan suri tauladan oleh rakyatnya malah mengumbar pernyataan yang tidak etis di tengah warga Yogyakarta pasca dilanda bencana gunung Merapi. Katanya binatang ternak milik para korban akan dibeli mahal oleh pemerintah, kenyataannya itu hanya omongan kentut belaka, malah ternak milik warga dijual dengan harga yang sangat murah kepada para tengkulak. Rupanya SBY ingin memperlihatkan bahwa ia adalah orang nomer satu di negeri ini di tengah warga Yogya, dengan cara memberikan janji-janji pemerintah, namun kenyataannya warga Yogyakarta semakin tidak nggubris (acuh tak acuh) terhadap SBY.” Kata Pak Argo, Sementara saya dan Mas Sis hanya menganggukkan kepala di tengah tanggapan Pak Argo yang menunjukkan perasaan sinis dan kecewa berat terhadap SBY, ibarat sepasang kekasih, ia sudah terlalu banyak dikecewakan oleh pacarnya dan berniat memutuskannya.</p>
<p><strong>Survei dan Kepentingan<br />
</strong>Menurut Bestian Nainggolan (Dosen FISIP UI), dan saya kira menjadi rujukan SBY mengeluarkan pernyataan polemik itu, dilatarbelakangi oleh hasil survei yang menunjukkan bahwa sebagian besar warga provinsi Yogyakarta 71 % menghendaki pemilihan gubernur secara langsung (Kompas, 5/12). Di sisi lain, data survei seperti yang dilakukan harian ini terhadap responden di DIY sepanjang tahun 2008-2010 menunjukkan sebaliknya. Masyarakat menginginkan penetapan dibandingkan pemilihan langsung. Proporsi kelompok responden yang memilih penetapan berkisar antara 53,5 persen hingga 79,9 persen. Survei terbaru, 1-3 Desember 2010, di saat polemik kian menghangat, responden di DIY yang mendukung penetapan melonjak hingga 88,6 persen. Sementara, Dua Paguyuban Lurah dan Perangkat Desa di DIY, yang terusik dengan survei pemerintah, menyelenggarakan survei dengan target responden lebih dari satu juta orang! Hasil sementaranya, 92,6 persen memilih penetapan (Kompas, 10/12).</p>
<p>Lagi-lagi menurut Bestian Nainggalon, bahwa survei-survei yang diselenggarakan baik oleh lembaga survei maupun pemerintah sendiri, tidak terlepas dari berbagai macam kepentingan dengan maksud menunjukkan legitimasinya. Meskipun demikian, yang paling membahayakan lagi ialah ketika survei-survei yang belum tentu independen itu sangat dipercayai oleh khalayak luas, bahkan dijadikan rujukan dalam menentukan sikap. Kalau hal itu sudah terjadi, maka opini publik pun sudah digiring oleh hasil survei yang sarat dengan kepentingan, manipulasi data dan politis.<a href="http://rosit.files.wordpress.com/2010/12/kentut4.gif"><img src="http://rosit.files.wordpress.com/2010/12/kentut4.gif?w=291&#038;h=300" alt="" title="kentut" width="291" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-683" /></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/all-posts/'>ALL POSTS</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=675&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2010/12/16/maafkan-ku-memutuskanmu-sayang-karena-kamu-telah-kentut-di-depan-ibuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rosit.files.wordpress.com/2010/12/kentut4.gif?w=291" medium="image">
			<media:title type="html">kentut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agenda Setting SBY</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2010/12/04/agenda-setting-sby/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2010/12/04/agenda-setting-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 05:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL POSTS]]></category>
		<category><![CDATA[DEMOKRASI]]></category>
		<category><![CDATA[KEBIJAKAN PUBLIK]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[KOMUNIKASI POLITIK]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda Setting. Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, Presiden SBY melempar bola panas kepada publik mengenai sistem pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. SBY mempertanyakan kembali konsistensi demokrasi Yogyakarta sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia. Padahal, sistem pemerintahan yang digunakan Yogyakarta sudah berlangsung ratusan tahun lamanya, kalau benar ada perombakan atau pemilukada di Yogyakarta, sama saja merobohkan sendi-sendi sistem pemerintahan di Yogyakarta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=662&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rosit.files.wordpress.com/2010/12/presiden-kok-mau-menggergaji-kaki-sultan.jpg"><img src="http://rosit.files.wordpress.com/2010/12/presiden-kok-mau-menggergaji-kaki-sultan.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Presiden-Kok-Mau-Menggergaji-Kaki-Sultan" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-664" /></a>Beberapa waktu lalu, Presiden SBY melempar bola panas kepada publik mengenai sistem pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. SBY mempertanyakan kembali konsistensi demokrasi Yogyakarta sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia. Padahal, sistem pemerintahan yang digunakan Yogyakarta sudah berlangsung ratusan tahun lamanya, kalau benar ada perombakan atau pemilukada di Yogyakarta, sama saja merobohkan sendi-sendi sistem pemerintahan di Yogyakarta yang sudah terbentuk selama ratusan tahun. Gubernur DIY harus dari Kasultanan dan Wakil Gubernur dari Pakualaman. </p>
<p>Yang perlu dicurigai tentang pernyataan SBY ialah kenapa bola panas itu dilemparkan pada saat berbagai macam masalah bangsa selalu menghiasi media dan opini di masyarakat. Apakah benar SBY sengaja mengalihkan isu-isu yang selama ini mencoreng nama baik bangsa dan kinerja pemerintahannya, atau memang ia benar-benar menggugat konsistensi Yogyakarta sebagai bagian dari bangsa ini. Mengingat, berbagai masalah bangsa mulai dari bencana alam seperti banjir bandang mentawai, letusan gunung  Merapi, gunung Bromo serta kasus Gayus yang mencoreng nama baik bangsa, dan masih banyak masalah-masalah lainnya.</p>
<p>Di dalam kajian media, ada sebuah agenda yang dimediasi oleh media massa sengaja menonjolkan berita tertentu untuk merubah atau menggiring opini publik, dengan maksud bisa menutupi berita-berita penting sebelumnya. Sebagaimana diperkerkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw dalam tulisan mereka yang berjudul “The Agenda Setting Function of Mass Media” yang telah diterbitkan dalam Public Opinion Quarterly pada tahun 1972. Menurut kedua pakar ini jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Pokok pemikiran teori ini berkaitan dengan fungsi belajar dari media massa. Diasumsikan bahwa publik tidak hanya mempelajari isu-isu pemberitaan, tapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberitakan pada suatu isu atau topik berdasarkan cara media massa memberikan penekanan isu atau topik tersebut. Yang mesti digaris bawahi ialah hal-hal yang dipandang penting oleh media, kemudian dipandang penting juga oleh khalayak/publik.</p>
<p>Hemat saya, pernyataan SBY mengenai Yogyakarta tidak menutup kemungkinan adalah sebuah agenda setting pemerintah yang sengaja dilontarkan ke publik agar menjadi fokus perhatian seluruh masyarakat di tengah keburaman masalah bangsa. Di sinilah kita perlu berbicara tentang agenda setting. Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan.</p>
<p>Di samping itu, media mampu mengemas sebuah isu yang tidak penting menjadi sangat penting, atau yang sangat penting menjadi tidak penting.  Dan kini, isu Yogyakarta terus saja menggelinding menjadi sebuah tema yang sangat menarik dibicarakan, bahkan diperdebatkan oleh seluruh lapisan masyarakat negeri ini khususnya warga Yogyakarta. Tak heran para pakar komunikasi sampai menyatakan, “jika kita bisa menggenggam media, maka kita sudah bisa mengendalikan dunia.”</p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/all-posts/'>ALL POSTS</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/demokrasi/'>DEMOKRASI</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/kebijakan-publik/'>KEBIJAKAN PUBLIK</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi/'>Komunikasi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi-politik/'>KOMUNIKASI POLITIK</a> Tagged: <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/agenda-setting-komunikasi/'>Agenda Setting. Komunikasi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/kebijakan-publik/'>KEBIJAKAN PUBLIK</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/media/'>Media</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/tag/politik/'>politik</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/662/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=662&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2010/12/04/agenda-setting-sby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rosit.files.wordpress.com/2010/12/presiden-kok-mau-menggergaji-kaki-sultan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Presiden-Kok-Mau-Menggergaji-Kaki-Sultan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Era Gombalisasi</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2010/11/14/era-gombalisasi/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2010/11/14/era-gombalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 09:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL POSTS]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[KOMUNIKASI POLITIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[Membaca judul di atas kita perlu menggaris bawahi kata gombalisasi, yang berasal dari kata gombal. Di masyarakat jawa khususnya, gombal merupakan semacam pakaian bekas yang tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, gombal memiliki fungsi sebagai media untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel di kaca atau lantai. Saya tidak akan panjang-lebar mengulas makna gombal sebenarnya, akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=658&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca judul di atas kita perlu menggaris bawahi kata gombalisasi, yang  berasal dari kata gombal.  Di masyarakat jawa khususnya, gombal merupakan semacam pakaian bekas yang tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, gombal memiliki fungsi sebagai media untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel di kaca atau lantai. Saya tidak akan panjang-lebar mengulas makna gombal sebenarnya, akan tetapi memahami kata gombal yang sudah mendapat tambahan akhiran sasi, yaitu gombalisasi di masa ini. Nah, kata gombalisasi memiliki makna yang begitu luas. Yaitu terdiri dari beberapa makna yang secara tidak disadari sudah membujuk, merayu, mempengaruhi dan membius khalayak. Nah, kita sekarang di era gombalisasi. </p>
<p>Seiring dengan perkembangan media informasi yang revolusioner, era gombalisasi memperoleh ruang yang begitu luas dalam melakukan upaya-upaya gombal terhadap khalayak. Tujuan gombalisasi tak lain adalah mempengaruhi khalayak melakukan apa yang diinginkan oleh para kapitalis. Mereka melakukan aksinya melalui media televisi, internet, radio, Koran dan media lainnya dengan menciptakan sebuah umpan kepada khalayak. Misalnya berapa banyak kita dipengaruhi oleh iklan-iklan di televisi yang membujuk untuk membeli produk-produk tertentu. Sehingga kita tak kuasa untuk menolaknya tanpa adanya sikap kritis sedikitpun. Kita sadar bahwa dari sejak Nabi Adam sampai Adam Malik,  tidak pernah menggunakan handphone untuk berkomunikasi, akan tetapi tetap saja mereka hidup dan bisa bersosialisasi, sebaliknya kini handphone sudah menjadi sebuah kebutuhan yang setara dengan nasi. Sederhananya handphone telah menjadi sebuah kebutuhan (need) setiap insan yang meski dikonsumsi. Nah, melalui gombalisasi media, ada sebuah perubahan makna yang dari keinginan (want) berubah menjadi kebutuhan (need).</p>
<p>Di kasus lain, misalnya mobil adalah barang sekunder, namun karena gombalisasi media tiada henti, mobil yang sebelumnya dalam wilayah want (keinginan) berubah wilayah need (kebutuhan).  Hal ini sesuai dengan penjelasan Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw dalam tulisan mereka “The Agenda Setting Function of Mass Media” (1972) yang mengatakan jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Di kasus yang hamper sama, misalnya media mengangkat isu bencana gunung merapi, piknik DPR, kasus Gayus dan isu lainnya, maka khalayak juga akan menganggap penting peristiwa-peristiwa yang diangkat media tersebut.</p>
<p><strong>Politik Gombalisasi</strong><br />
Wilayah gombalisasi tidak terbatas pada produk-produk yang diiklankan melalui media televisi, akan tetapi dalam dunia politik sangat berpotensi besar  menggombalisasi khalayak melalui retorika politik, propaganda politik dan kampanye politik. Fenomena politik gombalisasi tercermin dalam pemilu 2009 dan sebelumnya pemilu 2004 dan 1999 masih diwarnai janji-janji politik kepada masyarakat, namun realisasinya setelah berkuasa tidak kunjung tiba. Sebagai contoh, pemilu 1999 terdapat parpol yang akan mengedepankan wong cilik dalam janji kampanye politik, tetapi setelah memegang tumpuk kekuasaan, justru penggusuran rumah wong cilik semakin gencar dilakukan, harga-harga semakin melambung tinggi, dan lapangan kerja pun tak kunjung tiba. Begitu juga yang terjadi pada pemilu 2004 maupun 2009 lalu, janji-jani hanya sebatas gombalisasi dari para elit politik yang tengah memegang tumpuk kekuasaan pun belum bisa terpenuhi. </p>
<p>Hemat saya, ada tiga representasi fase era gombalisasi, pertama yaitu gombalisasi merupakan cermin sebuah realitas, misalnya produk sampo yang diiklankan televisi memang mampu membersihkan kotoran rambut. Kedua, era gombalisasi merupakan wilayah ideologi yang menyembunyikan realitas, misalnya imbuhan mencontreng partai tertentu dengan umpan janji-janji politik. Ketiga, gombalisasi menyembunyikan bahwa tidak ada realitas sama sekali, misalnya janji menciptakan lapangan kerja, harga sembako turun, namun tidak terealisasi.</p>
<p>Oleh karena itu, kita meski waspada terhadap upaya gombalisasi yang setiap waktu menerpa melalui media televisi khususnya. Hal itu bisa dicegah sebelum membeli produk tertentu meski melakukan pengecekan apakah khasiatnya sesuai dengan yang diiklankan di media. Sementara dalam dunia politik, kaum elit perlu dilihat realisasi kerja periode sebelumnya, sebelum menelan mentah-mentah seluruh upaya gombalisasi yang dijanjikan. </p>
<p>Rosit</p>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/all-posts/'>ALL POSTS</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi/'>Komunikasi</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/komunikasi-politik/'>KOMUNIKASI POLITIK</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/658/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=658&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2010/11/14/era-gombalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Video Pidato Obama di Universitas Indonesia</title>
		<link>http://rosit.wordpress.com/2010/11/10/obama-pulang-kampung/</link>
		<comments>http://rosit.wordpress.com/2010/11/10/obama-pulang-kampung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 05:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rosit</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL POSTS]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rosit.wordpress.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Filed under: ALL POSTS, Uncategorized<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=637&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://rosit.wordpress.com/2010/11/10/obama-pulang-kampung/"><img src="http://img.youtube.com/vi/Cxs_8Uq4_vY/2.jpg" alt="" /></a></span>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://rosit.wordpress.com/2010/11/10/obama-pulang-kampung/"><img src="http://img.youtube.com/vi/zmwKXXkJ5f0/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />Filed under: <a href='http://rosit.wordpress.com/category/all-posts/'>ALL POSTS</a>, <a href='http://rosit.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rosit.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rosit.wordpress.com/637/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rosit.wordpress.com&amp;blog=2213813&amp;post=637&amp;subd=rosit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rosit.wordpress.com/2010/11/10/obama-pulang-kampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a67e7f1b598591ee8eaa948bd0566001?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rosit Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
