Hidup di tengah-tengah sistem demokrasi memang semestinya dibutuhkan sikap yang berjiwa besar. Saran dan kritik akan selalu menghiasi warna-warni demokratisasi yang selalu dikedepankan serta menjadi sebuah legitimasi mutlak dalam penyampaian pesan. Berbagai macam kritik memalui simbol-simbol yang diangkat dari panggung demonstrasi massa, dan demokrasi pun menuntut hal itu. Perbedaan cara memaknai hal yang sangat wajar meskipun ada muatan politik yang menungganginya.

Hadirnya kerbau SiBuYa di tengah-tengah demonstrasi massa yang menuntut pertanggungjawaban kinerja 100 hari pemerintahan SBY-Budiono─mengundang simbol yang bisa dimaknai berbagai multi tafsir. SBY mengeluh dan kecewa terhadap para demonstran kenapa kerbau dibawa-bawa ke arena unjuk rasa. Tersinggung keberadaan kerbau yang bernama SiBuYa memberikan makna khusus untuknya─ bahwa SBY disimbolkan seperti kerbau, SBY bodoh, SBY lamban dan citra-citra negatif yang kontras dengan citra yang membuat ia jadi seorang Presiden. Sederhananya, SBY menuntut moral mereka.

Seandainya hal itu terjadi di era sebelumnya, tentu tak akan diekspos media, serta dituntut pelakunya dijerat pasal yang menyatakan tindakan makar bahkan pelakunya tak akan bisa menghirup udara segar di pagi hari lagi.

Namun sekarang bukan era sebelumnya, Era Reformasi yang dikumandanglan oleh para Reformis 12 tahun yang lalu begitu merubah konsep dan cara memaknai demokrasi di negeri ini. Binatang kerbau pun ikut terlibat memeriahkan demokratisasi, menuntut kegagalan kinerja 100 hari pemerintahan SBY-Budiono.

Tak hanya itu saja, setelah SiBuYa sukses mengundang perhatian publik, unjuk rasa berikutnya melibatkan 2 ekor kambing bertopeng pejabat negara yang dituntut dan dicurigai bertanggung jawab terhadap skandal Bank Century. Nampaknya 2 ekor kambing itu juga tak mendengarkan keluhan Presiden sebelumnya. Unjuk rasa tetap berjalan.

SiBuYa dan 2 ekor kambing itu ikut menyuarakan jeritan rakyat kelaparan, kemiskinan, kesenjangan yang sampai saat ini masih terjadi. Mereka seolah tidak bisa menerima keadaan carut-marut di negerinya yang penuh dengan kebohongan para maling uang rakyat. Nah, di sinilah demokrasi menghadirkan warna-warni simbol pesan yang selama era sebelumnya dikubur dalam-dalam.

Rakyat begitu berharap akan adanya perubahan yang selalu dijanjikan oleh SBY saat pemilu-pemilu yang lalu. Mereka mengeluhkan SBY kenapa selalu memamerkan angka-angka keberhasilannya, padahal realitas masih berbicara tak ada perubahan sama sekali, rakyat masih menjerit, anak jalanan semakin bertambah, pengemis tak lelah-lelahnya meminta, BBM semakin lama semakin naik saja dan kesenjangan sosial semakin kentara.

Sedangkan keberhasilan angka-angka yang selalu dipamerkan hanya sebuah artifisial belaka, dan itu untuk apa? Kalau SBY saja sering mengeluh, lantas kita mengeluh pada siapa?

Keluhan-keluhan itu akan selalu disuarakan selagi masih belum ada perubahan sampai ke akar-akarnya. Dan mungkin sepanjang sejarah unjuk rasa di negeri ini, baru kali ini seekor kerbau mengeluh dan terlibat menuntut kinerja pemerintahan. SiBuYa menjadi pemicu dan bisa mengundang teman-temannya yang lain turun ke arena panggung demokrasi.

Komunikasi mempunyai fungsi vital untuk mengekspresikan segala sesuatu yang berhubungan dengan dinamika kehidupan ini. Berbagai macam cara dan tindakan dilakukan untuk memberikan gagasan, statement, dan kritik terhadap segala sesuatu yang masih mengganjal atau hanya sekedar menyampaikan informasi. Tentu berbagai macam media dimanfaatkan untuk menyalurkan pesan-pesan yang disampaikan kepada komunikan atau khalayak umum, dengan maksud proses komunikasi berjalan secara komunikatif.

Apalagi seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang revolusioner, berbagai media menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan sesuai dengan kehendaknya. Ada berbagai media yang acapkali digunakan dalam penyampaian komunikasi misalnya televisi, radio, koran, internet, spanduk, pamflet dan lain sebagainya. Meskipun demikian, dalam sebuah komunikasi dengan sarana media apapun tentu harus disertai dengan etika komunikasi. “Menurut Habermas bahwa etika dalam berkomunikasi itu sangat penting, maka dari itu, filsuf Jerman ini menekankan perlunya dibangun kembali etika komunikasi, yakni suatu kondisi komunikasi yang menjamin sifat umum norma-norma yang dapat diterima dan menjamin otonomi warga melalui kemampuan emansipatoris, sehingga menghasilkan proses pembentukan kehendak bersama lewat perbincangan.”

Nah, belakangan ini, media televisi kita menyajikan sudut yang berbeda dari sebuah demokrasi. Sidang Pansus yang telah dimulai dari akhir tahun 2009 telah mencetak sejarah demokrasi yang selama ini eksklusif untuk disajikan di tengah-tengah publik. Bahkan sidang pansus century diwarnai berbagai macam tingkah polah yang semestinya tak layak dilihat oleh publik. seperti perdebatan sesama anggota Pansus Century antara Ruhut Sitompul dengan Gayus, di mana keduanya memberikan contoh komunikasi yang kurang beretika, mengingat mereka ialah anggota Dewan yang terhormat, seharusnya menjunjung tinggi dalam berkomunikasi apalagi dalam sidang pansus Century, semua mestinya diselesaikan dengan kepala dingin. Bahkan Ruhut Sitompul salah satu dari anggota pansus itu menggunakan kata “bangsat” dalam adu perdebatan dengan Gayus. Tentu saja tak layak kata-kata itu dilontarkan di tengah-tengah sidang Pansus Century yang terhormat.

Tingkah polah anggota pansus itu tentu saja memberikan tauladan buruk dan kontribusi dalam sebuah komunikasi yang jauh dari nilai-nilai etika terhadap publik. Mengingat sidang pansus secara langsung disiarkan oleh beberapa televisi swasta kita dan tentunya rakyat akan menilainya.

Tidak hanya itu saja, sebelum digelar rapat pansus juga sudah disambut sebuah demonstrasi besar-besaran di seluruh pelosok Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Makasar dan lainnya. Para demonstran terdiri dari mahasiswa dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) mengecam kepada pihak-pihak yang dianggap terkait dengan kasus Bank Century agar diadili pelakunya dan dijerat hukum seberat-beratnya. Terlepas dari itu semua, pada dasarnya mereka melakukan tindakan sesuai dengan asas demokrasi, yaitu menegakkan keadilan dan menuntut tersangka yang terlibat terhadap penggelapan dana sebesar 6,7 triliun, akan tetapi, sayangnya tidak menggunakan etika komunikasi yang santun, bahkan dalam demonstrasi itu mereka mempertotonkan Budiono dan Sri Mulyani digambar mirip dengan drakula bertaring bak haus darah serta membakar gambar Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Di sudut lain, memang demokrasi mengajarkan kepada siapapn tanpa kecuali menyampaikan gagasan dan kritik terutama kepada penguasa saat membelok dari arah sesungguhnya. Tanpa terkecuali, dalam demokrasi mempunyai kedudukan dan posisi sederajat sebagai warga negara. Namun gagasan dan kritik tak mestinya disampaikan dengan meninggalkan etika komunikasi yang baik. Dan demokrasi mempunyai batas yang jelas bagaimana mestinya bersikap dan bertindak sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan melalui Undang-undang.

Budaya Ketimuran
Sunguh ironis, kita yang selalu menjunjung budaya ketimuran seperti sopan santun dan beretika dalam segala bicara dan tindakan ternyata tak sadar kalau sudah melampaui batas. Lebih ironis lagi, tingkah polah itu dilakukan oleh anggota dewan yang terhormat. Berbagai macam tingkah polah yang tak seharusnya dilakukan di tengah-tengah kesengsaraan rakyat mestinya tak terjadi lagi. Namun tradisi wakil rakyat yang cenderung arogansi terus saja dilestarikan sampai Era Reformasi tanpa ada koreksi internal sedikitpun.

Dalam budaya ketimuran mengajarkan bagaimana memberikan informasi, kritik dan menginvestigasi pun tak bisa dilepaskan dengan menjunjung etika komunikasi. Nampaknya anggota Pansus lebih cenderung menghardik saksi atau terdakwa Bank Century dengan penekanan kata-kata yang agak kasar tanpa terlalu mempertimbangkan substansi pertanyaan yang disampaikannya dalam Sidang Pansus Century akhir-akhir ini. Dengan tingkah polah anggota Pansus seperti itu, justru akan mengurangi kepercayaan rakyat terhadap integritas dan etika anggota dewan.

Oleh karena itu, mestinya anggota Pansus setidaknya bisa meminimalisir tindakan-tindakan yang tak etis dilakukan sebagai anggota dewan yang terhormat, dan sidang selanjutnya tak mengulangi sikap yang kurang mencerminkan sebagai wakil rakyat. Hal itu sangat penting dikoreksi mengingat mereka adalah representasi terhadap seluruh rakyat Indonesia. Serta etika komunikasi perlu dijunjung tinggi sesuai ajaran budaya ketimuran.

Demokrasi merupakan suatu sistem yang sampai kini masih diidolakan oleh mayoritas negara-negara di pelosok dunia. Kata “demokrasi”pun menjadi mantra sakti bagi siapapun dari politisi, negarawan, kandidat sampai orang biasa. Bahkan bagi seorang kepala negara pantang menghindari kata demokrasi, meskipun dalam setiap kebijakan yang diambil cenderung totaliter

Tak hanya diidolakan, ternyata harga sebuah demokrasi itu tak murah. Hal itu terbukti dalam setiap penyelenggarakan pemilu di suatu negara menghabiskan milyaran bahkan triliunan rupiah, hanya untuk menjalankan demokrasi secara prosedural semata.

Menurut prof Dr. Hafied Cangara, MSc dalam bukunya Komunkasi Politik, bahwa di Amerika Serikat untuk menjadi anggota kongres (DPR) pada tahun 1984, seorang kandidat yang menang rata-rata telah membelanjakan uangnya sebesar US$ 325.000 atau setara dengan Rp. 3.055. 000.000.00 (kurs Rp 9.400 th 2008) bahkan ada 10 anggota kongres pernah mengaku menghabiskan uang lebih dari US$ 1.075.495 atau setara dengan Rp 10.109.653.000,00 akan tetapi Senator Jesse Helms nominasi partai Republik dari North Carolina misalnya mengeluarkan uang sebanyak US$ 7,5 juta atau setara dengan Rp 75.500.000.000,00 dan Senator John Tower dari Texas menghabiskan US$ 4,3 juta atau setara dengan Rp. 40.420.000.000,00, untuk menjadi Gubernur, Jay Rockefeller, salah satu anggota terkaya di Amerika yang memiliki minyak standar oil menghabiskan US$ 12 juta atau setara Rp 112.800.000.000,00 sedangkan pemilu presiden AS tahun 2008, dana kampanye yang digunakan mencapai US$ 1,2 milliar setara dengan Rp 12,6 triliun.

Di Indonesia, pada pemilu 2004, PDI perjuangan di bawah kepemimpinanya Megawati yang saat itu menjabat sebagai Presiden, menyiapkan dana untuk kampanye sebesar Rp. 100 Miliar. Jika biaya kampanye yang dikeluarkan dikalkulasi dengan jumlah kursi yang diperoleh, PDI Perjuangan yang mengeluarkan dana sebesar Rp 89,2 miliar dengan perolehan 109 kursi, berarti nilai tiap kursi adalah Rp 477 juta. Partai Golkar dengan dana Rp 56 miliar memperoleh 128 kursi, nilai satu kursi ialah Rp 281 juta, sementara Partai Demokrat dengan dana sebesar Rp 9,5 miliar berhasil memperoleh 57 kursi, dengan demikian nilai satu kursi ialah Rp 140 juta. Dari gambaran ini bisa dianalisis bahwa PDI Perjuangan telah membelanjakan uang dengan sangat besar untuk satu buah kursi legislatif sementara Partai Demokrat membelanjakan harga yang lebih murah. Akan tetapi, strategi untuk mendapat kursi tidak selamanya dengan pengeluaran uang yang banyak meskipun rata-rata pengeluaran memang sangat fantastis.

Dana kampanye di atas, sebagian besar digunakan untuk sosialisasi partai politik khususnya untuk media televisi yang paling membutuhkan dana yang sangat fantastis. Mengingat jangkauan media itu sangat luas dan efektif dalam meyampaikan pesan-pesan politik kandidat. Selain itu juga melalui media radio, Koran, spanduk dan lainnya.

Nyaris tak bisa diterima logika, manakala seorang kandidat untuk menduduki anggota dewan tidak membutuhkan uang sepeserpun. Hemat saya, minimal ada dua syarat bagi seorang kandidat untuk menduduki kursi kekuasaan dalam sebuah Negara demokrasi, yaitu, uang dan popularitas. Ada uang tanpa punya popularitas akan sulit begitu juga sebaliknya. Tentu saja uang dan popularitas tak bisa menjamin 100% sukses menjadi anggota dewan, mengingat jumlah kandidat dibanding kursi yang disediakan tak sebanding.

Ternyata demokrasi yang diidolakan di seluruh pelosok dunia, cenderung elitis. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi kandidat. Padahal demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat serta dalam demokrasi menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) termasuk mencalonlan diri sebagai kandidat. Lantas bagaimana dengan orang yang punya potensi dan kapabilitas kepemimpinan namun mereka tak punya uang dan popularitas? Oleh karena itu, demokrasi belum tentu menghasilkan pemimpin yang mempunyai kapabilitas daripada yang lain, akan tetapi, hanya sebuah jabatan politis. Meskipun demikian, kita tetap bertanggung jawab untuk memilih seorang pemimpin yang terbaik. Bagaimanapun juga, demokrasi masih menjadi sistem yang terbaik daripada sistem lain

Dalam kehidupan ini, berbagai macam warna menghiasi kisah perjalanan makhluk Tuhan khususnya manusia. Ada hitam dan putih, baik dan buruk, atas dan bawah, rakyat dan pejabat, pahala dan dosa dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu memberikan simbol bahwa Tuhanlah yang maha kuasa untuk mengatur sesuai dengan kehendakNya. Tentu tak etis manakala kita memaksakan perbedaan menjadi persamaan karena hal itu mengurangi estetika kehidupan yang seharusnya dinikmati dan dijunjung bersama-sama.

Berapa banyak tindakan intoleransi terjadi di muka bumi ini alih-alih hanya ingin menciptakan persamaan atau menolak perbedaan. Mereka mengira bahwa persamaan itu indah dan damai, Kemudian apa arti kehidupan ini seandainya semua yang ada sama. Agama, gagasan, baju, negara, ideologi sama semua, tentu tak menarik lagi hidup ini.

Suatu ketika, Ustadz Yusuf Mansyur memberikan ceramah agama di Majlis Taklim yang dihadiri mayoritas oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Pengajian itu disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Ia memberikan nasehat kepada para perempuan terutama bagi mereka wanita karir bahwa tak sepantasnya seorang wanita berkorban membuka aurat (tak berjilbab) demi sebuah pekerjaan menjadi teller di sebuah Bank yang hanya memperoleh gaji 1,200.000,00. Daripada mereka bekerja dengan berkorban meninggalkan Syariat Islam, lebih baik duduk di rumah saja.” Demikian nasehat Ustad Yusuf Mansyur terhadap para wanita karir (teller), padahal ia tanpa mengetahui mengapa dan kenapa mereka bekerja, dan seberapa besar beban hidup untuk ditanggulanginya, mungkin saja suaminya telah tiada sehingga beban keluaga dipikul oleh seorang ibu, tentu hal itu tak terlintas manakala ia selalu mengedepankan etika tanpa memahami kronologis kehidupan seseorang di dunia ini.

Tentu kita akan mengatakan bahwa berjilbab bagi seorang wanita muslimah ialah mulia, meskipun demikian, tak seharusnya kita merendahan wanita yang tak berjilbab. Terkait dengan moralitas tergantung kepribadiannya masing-masing. Bahkan tak sedikit dari wanita yang berjilbab, justru lebih memprihatinkan kondisi moralitasnya. Nah, ada hal-hal yang tak kita sadari kenapa mereka rela berkorban demi sebuah pekerjaan yang kadang-kadang bertolak belakang dari nilai-nilai Islami. Terkait soal gaji tentu sangat relatif bagi setiap orang. Saya sempat membaca tulisan Gunawan Muhammad, yang mengangkat kisah real seorang ibu (ditinggal suaminya) yang membanting tulang siang dan malam demi memberikan makan, biaya sekolah, beli baju, beli mainan untuk anak-anaknya dengan mengorbankan harga diri sebagai seorang wanita. Semua itu ia rela lakukan demi anak-anaknya tercinta. Meskipun demikian, tentu tak mengurangi kita untuk menghargai pengorbanan ibu tersebut, bahkan ia ikhlas berlumuran dosa, demi sesuap nasi dan anak-anaknya agar tetap bisa meneruskan sekolahnya. Hemat saya, tentu tak etis manakala kita menghina dan merendahkan martabatnya, sementara kita tak bisa berbuat apapun untuk meringankan beban ibu tersebut.

Tak hanya fenomena di atas, kita yang selalu mengatakan termasuk golongan orang-orang yang beriman dan menjalankan syariat sesuai dengan ketentuanNya, namun dalam prakteknya tak sedikit dari kita justru merusak tatanan alam ini, misalnya dengan menebang hutan sembarangan, membuang sampah semaunya, membuat pencemaran udara dan air di sepanjang hari dll, sehingga mengakibatkan banjir, kebakaran, polusi udara dan air dan bencana-bencana lainnya. Sungguh paradoks mengingat bencana-bencana itu adalah ulah manusia yang merasa berintelektual, beriman, beradap dan mempunyai harga diri. Sedangkan kita sering mengklaim kepada golongan ekslusif yang hidup di tengah hutan, tanpa pakaian kecuali menutupi alat vitalnya, primitif, aneh dan tak menjalankan undang-undang atau syariat, namun dalam prakteknya mereka tak pernah menebang hutan, mencemari lingkungan, membakar hutan bahkan mereka yang selama ini menjaga lingkungan agar tetap hijau sehingga tak berpotensi terjadinya bencana alam. “Kata Tuhan bahwa kerusakan di muka bumi ini tak lain disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.” Nah, siapa lagi kalau bukan kita, orang yang mengaku beriman, intelektual dan modern.

Sebagi umat beragama, kita diwajibkan untuk menjalankan syariat sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Tuhanpun tidak akan memberikan ujian kepada makhluknya di luar kapasitas dan kemampuan hamba-hambanya. Meskipun sholat, berjilbab, membaca kitab suci itu dianjurkan oleh Tuhan, namun tak etis seandainya kita memaksakan agar semua orang melaksanakan sesuai dengan perintah Tuhan. Sedangkan Tuhanpun tak pernah memaksakan kehendaknya, tentu semua itu mempunyai konsekuensinya masing-masing. Lantas, salahkah seorang Teller bank yang tak berjilbab, seorang ibu rela berlumuran dosa dengan bekerja siang dan malam demi sesuap nasi agar anak-anaknya bisa sekolah, dan golongan manusia primitif yang tak pernah menjalankan syariat Islam?. Bukankah nanti akan ada seorang pelacur dan anjing yang akan masuk surga sesuai cerita dalam kitab suci? Pantaskah bagi orang yang merasa beriman namun selalu membuat ulah dimasukan ke Surga?. Atau layakkah golongan manusia primitif yang selalu menjaga keseimbangan lingkungan dimasukkan ke Neraka?. Wallahu a’lam bissowab.

Dalam kehiduan ini, berbagai macam warna menghiasi kisah perjalanan makhluk Tuhan khususnya manusia. Ada hitam dan putih, baik dan buruk, atas dan bawah, rakyat dan pejabat, pahala dan dosa dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu memberikan simbol bahwa Tuhanlah yang maha kuasa untuk mengatur sesuai dengan kehendakNya. Tentu tak etis manakala kita memaksakan perbedaan menjadi persamaan karena hal itu mengurangi estetika kehidupan yang seharusnya dinikmati dan dijunjung bersama-sama.

Berapa banyak tindakan intoleransi terjadi di muka bumi ini alih-alih hanya ingin menciptakan persamaan atau menolak perbedaan. Mereka mengira bahwa persamaan itu indah dan damai, Kemudian apa arti kehidupan ini seandainya semua yang ada sama. Agama, gagasan, baju, negara, ideologi sama semua, tentu tak menarik lagi hidup ini.

Suatu ketika, Ustadz Yusuf Mansyur memberikan ceramah agama di Majlis Taklim yang dihadiri mayoritas oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Pengajian itu disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Ia memberikan nasehat kepada para perempuan terutama bagi mereka wanita karir bahwa tak sepantasnya seorang wanita berkorban membuka aurat (tak berjilbab) demi sebuah pekerjaan menjadi teller di sebuah Bank yang hanya memperoleh gaji 1,200.000,00. Daripada mereka bekerja dengan berkorban meninggalkan Syariat Islam, lebih baik duduk di rumah saja.” Demikian nasehat Ustad Yusuf Mansyur terhadap para wanita karir (teller), sedangkan ia tanpa mengetahui mengapa dan kenapa mereka bekerja, dan seberapa besar beban hidup untuk ditanggulanginya, mungkin saja suaminya telah tiada sehingga beban keluaga dipikul oleh seorang ibu, tentu hal itu tak terlintas manakala ia selalu mengedepankan etika tanpa memahami kronologis kehidupan seseorang di dunia ini.

Tentu kita akan mengatakan bahwa berjilbab bagi seorang wanita muslimah ialah mulia, meskipun demikian, tak seharusnya kita merendahan wanita yang tak berjilbab. Terkait dengan moralitas tergantung kepribadiannya masing-masing. Bahkan tak sedikit dari wanita yang berjilbab, justru lebih memprihatinkan kondisi moralitasnya. Nah, ada hal-hal yang tak kita sadari kenapa mereka rela berkorban demi sebuah pekerjaan yang kadang-kadang bertolak belakang dari nilai-nilai Islami. Terkait soal gaji tentu sangat relatif bagi setiap orang. Saya sempat membaca tulisan Gunawan Muhammad yang mengangkat kisah real seorang ibu (ditinggal suaminya) yang membanting tulang siang dan malam demi memberikan makan, biaya sekolah, beli baju, beli mainan untuk anak-anaknya dengan mengorbankan harga diri sebagai seorang wanita. Semua itu ia rela lakukan demi anak-anaknya tercinta. Meskipun demikian, tentu tak mengurangi kita untuk menghargai pengorbanan ibu tersebut, bahkan ia ikhlas berlumuran dosa, demi sesuap nasi dan anak-anaknya agar tetap bisa meneruskan sekolahnya. Hemat saya, tentu tak etis manakala kita menghina dan merendahkan martabatnya, sementara kita tak bisa berbuat apapun untuk meringankan beban ibu tersebut.

Tak hanya fenomena di atas, kita yang selalu mengatakan termasuk golongan orang-orang yang beriman dan menjalankan syariat sesuai dengan ketentuanNya, namun dalam prakteknya tak sedikit dari kita justru merusak tatanan alam ini, misalnya dengan menebang hutan sembarangan, membuang sampah semaunya, membuat pencemaran udara dan air di sepanjang hari dll, sehingga mengakibatkan banjir, kebakaran, polusi udara dan air dan bencana-bencana lainnya. Sungguh paradoks mengingat bencana-bencana itu adalah ulah manusia yang merasa berintelektual, beriman, beradap dan mempunyai harga diri. Sedangkan kita sering mengklaim kepada golongan ekslusif yang hidup di tengah hutan, tanpa pakaian kecuali menutupi alat vitalnya, primitif, aneh dan tak menjalankan undang-undang atau syariat, namun dalam prakteknya mereka tak pernah menebang hutan, mencemari lingkungan, membakar hutan bahkan mereka yang selama ini menjaga lingkungan agar tetap hijau sehingga tak berpotensi terjadinya bencana alam. “Kata Tuhan bahwa kerusakan di muka bumi ini tak lain disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.” Nah, siapa lagi kalau bukan kita, orang yang mengaku beriman, intelektual dan modern.

Sebagi umat beragama, kita diwajibkan untuk menjalankan syariat sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Tuhanpun tidak akan memberikan ujian kepada makhluknya di luar kapasitas dan kemampuan hamba-hambanya. Meskipun sholat, berjilbab, membaca kitab suci itu dianjurkan oleh Tuhan, namun tak etis seandainya kita memaksakan agar semua orang melaksanakan sesuai dengan perintah Tuhan. Sedangkan Tuhanpun tak pernah memaksakan kehendaknya, tentu semua itu mempunyai konsekuensinya masing-masing. Lantas, salahkah seorang Teller bank yang tak berjilbab, seorang ibu rela berlumuran dosa dengan bekerja siang dan malam demi sesuap nasi agar anak-anaknya bisa sekolah, dan golongan manusia primitif yang tak pernah menjalankan syariat Islam?. Bukankah nanti akan ada seorang pelacur dan anjing yang akan masuk surga sesuai cerita dalam kitab suci? Pantaskah bagi orang yang merasa beriman namun selalu membuat ulah dimasukan ke Surga?. Atau layakkah golongan manusia primitif yang selalu menjaga keseimbangan lingkungan dimasukkan ke Neraka?. Wallahu a’lam bissowab.

Belakangan ini, kita dikejutkan oleh berita seorang artis cantik Ayu Azhari yang berniat untuk mendaftarkan diri (pilkada) sebagai wakil bupati Dr. Heriyanto di Sukabumi Jawa Barat yang akan digelar pada Mei 2010. Bagaimanapun juga, kita masih terkenang oleh penampilan-penampilan Ayu Azhari dengan film sensual, seksi dan label-label dari masyarakat lainnya. Meskipun ia hanya menjalani sesuai dengan peran yang dimainkan di film serta tuntutan profesionalisme seorang selebriti.

Sebelum artis cantik itu berniat terjun dalam panggung dunia politik, tentu kita masih ingat beberapa artis yang telah sukses memasuki dunia politik seperti Marisa Haque, Reny Jayusman, Nurul Arifin, Dede Yussf, Nurul Qomar, Adji Masaid, Angelina Sondakh, Eko Patria dan artis-artis lainnya. Tak menutup kemungkinan dari artis-artis yang telah sukses memasuki panggung politik maka menggiring artis-artis yang lain berondong-bondong hijrah ke dunia politik termasuk Ayu Azhari.

Gejala selebriti masih menjadi fenomena baru dalam dunia politik, mengingat sosok artis di mata khalayak masih kental dengan dunia entertainment yang cenderung glomor. Namun mengapa khalayak sampai terbius juga oleh kehadiran selebriti, fenomena ini menurut Erving Goffman dan Kenneth Burke, bahwa dunia ini seperti layaknya panggung sandiwara, di mana setiap orang memiliki lakon dan alur cerita yang jelas. Berarti bahwa dunia politik memang berperan sebagai layaknya panggung sandiwara yang diperankan oleh seorang artis. Tentu sang artis akan menjalankan peran yang karakter tokoh yang dimainkannya dalam film atau panggung sandiwara. Oleh karena itu, tak aneh lagi ketika seorang Ayu Azhari sejak disorot media dengan berganti label sebagai seorang politisi, maka semua behavior dan perkatakaannya bak seorang politisi ulung yang mulutnya selalu bicara mengenai nasib rakyat.

Selain itu seorang selebrti karena kemampuanya dalam bidang tertentu misalnya akting dan musik, mereka memiliki wajah yang telegenic atau camera face dalam televisi, meskiun wajah camera facenya dalam kenyataanya tak seindah dengan tampilan di layar kaca. Oleh karena itu, seorang selebriti selain kemampuan di bidang tertentu, juga dibesarkan oleh citra yang dibentuk oleh media.

Bagaimanapun juga, hadirnya selebriti di panggung politik memberikan warna baru dalam sistem demokratisasi dan tentunya popularitas seorang selebriti sudah tak diragukan lagibahkan mereka bisa menembus dari level bawah sampai atas di masyarakat.

Dalam sorotan media, Ayu Azhari selalu mengatakan ke publik bahwa pencalonan dirinya karena ia ingin memperjuangkan nasib rakyat dan menjadikan mereka hidup layak dan sejahtera. Menurut Artis yang berdarah Pakistan itu bahwa ia ingin memperjuangkan kaum perempuan Sukabumi agar bisa hidup mandiri tanpa menggantungkan kehidupannya kepada seorang laki-laki, sehinngga tercipta kehidupan yang egaliter dan bahagia. Tentu niat baik Ayu Azhari perlu diapresiasi setinggi-tingginya. Namun kita perlu waspada bahwa ada motif-motif tertentu, misalnya ayu azhari hanya dijadikan umpan untuk memancing rakyat agar memilihnya, dengan target kemenangan semata, sedangkan kualitas dan integritas politiknya belum bisa kita nilai sama sekali dan inilah yang selalu menjadi pertanyaan oleh publik selama ini.

Tentu juga, tak etis manakala kita selalu memberikan label buruk terhadap artis bahwa mereka tak memiliki pengetahuan di bidang politik dan pemerintahan. Dengan demikian, maka khalayak harus bisa selektif dalam menentukan pemimpinnya sebagai pengayom rakyat. Jangan sampai terperdaya oleh popularitas kandidat semata, seandainya Ayu Azhari toh, menjadi calon Wakil Bupati Sukabumi dan memenangkan pemilu mendatang, semoga mimpi-mimpinya dalam memperjuangkan nasib rakyat sejahtera menjadi realitas.

SELAMAT JALAN GURU BANGSA

Gus Dur dan Humor

KH. Abdurrahman Wahid yang lebih akrab dipanggil Gus Dur telah wafat pada hari Rabu ukul 18.45 di RSCM Jakarta. Selain sebagai mantan Presiden RI yang ke 4, Gus Dur bagi masyarakat ialah seorang guru bangsa, budayawan, politisi, aktivis sosial, intelektual Islam dan humoris sejati. Berbagai macam gelar sosial diberikan keadanya sesuai dengan perjuangan Gus Dur  melawan ketidakadilan dan anti-diskriminasi.

Terlepas dari penghormatan dari masyarakat, sosok Gus Dur sebagaimana kita ketahui mempunyai selera humor yang tinggi dan sudah menjadi seni humor tersendiri. Di buku biografi Gus Dur yang ditulis oleh Greg Berton bahwa saat menjadi mahasiswa di Baghdad, suatu ketika Gusdur pergi ke sebuah warung, di sana Gus Dur berniat untuk membeli Jeroan. Perlu diketahui bahwa jeroan bagi orang luar negeri maupun orang Baghdad sendiri ialah makanan khusus buat Anjing.Daripada dibuang atau dimakan anjing maka Gus Dur membelinya. Si pemilik jeroan tak bersedia manakala jeroannya dibeli, Namun ia memberikan dengan cuma-cuma jeroan-jeroan itu. Sebelum jeroan diberikan keada Gus Dur, ia bertanya buat apa sebenarnya jeroan sebanyak itu dan apakah anda punya anjing banyak? Kemudian Gus Dur menjawab bahwa bahwa saya punya anjing sebanyak 20 ekor. Setelah sampai asrama, Gusdur mengajak teman-teman se-asrama untuk memasak jeroan-jeroan itu. Tak begitu lama mereka makan jeroan dengan nikmatnya.

Beberapa hari kemudian salah satu dari teman Gus Dur yang ikut menyantap jeroan itu dengan tiba-tiba mendekati Gus Dur dengan wajah yang agak memerah seperti orang yang baru saja terkena tamparan dari kekasihnya. Ia berkata bahwa GusDur keterlaluan, bagaimana mungkin anda (Gus Dur) menyamakan kepada teman-teman di asrama ini dengan Anjing. Ternyata saat makan di warung itu ia dikasih tahu dari si pemilik warung bahwa Gus Dur minta jeroan buat dimakan anjing-anjingnya  sebanyak 20 ekor.

Bukan itu saja, saat masa orde baru, Gus Dur bisa dikatakan selalu mengkritisi segala kebijakan Soeharto yang tak pro rakyat kecil. Meskipun begitu, Gus Dur juga sempat bercanda kepada mantan orang nomer satu di era Orde Baru itu. Di bulan Ramadhan Gus Dur berbincang-bincang dengan dengan Presiden Soeharto, Gus Dur sebelum pulang ditanya oleh Presiden bahwa Gus Dur mau sholat tarawih di mana, Gus Dur menjawab bahwa sholat tarawih di manapun tak masalah, bagi saya sholat tarawihnya ikut yang NU klasik atau Modern. Nah, ternyata jawaban Gus Dur malah membuat Presiden terheran-heran, akhirnya Gus Dur menjelaskan bahwa kalau kita ikut NU klasik maka jumlah  tarawihnya sebanyak 20 rakaat sedangkan kalau kita ikut NU Modern tarawihnya didiskon 60 % jadi 8 rakaat. Setelah mendengar penjelasan Gus Dur seketika mereka pada tertawa ria.

Sosok Gus Dur kadang memang sulit ditebak. Bagi sekelompok orang malah membingungkan kalau tak mengenal Gus Dur secara baik, Bahkan mereka menganggap bahwa Gus Dur seorang tokoh yang kontroversial. Tak sedikit pula orang yang mengamati Gus Dur hanya dari mata politiknya saja, tanpa pernah mengamati bahwa Gus Dur adalah seorang humoris sejati. Selamat jalan Gus, semoga engkau masih bercanda di akherat sana…

Emak, begitulah Daoed Joesoef dan kakak-kakaknya memanggil ibunya setiap harinya. Mereka begitu bangga dengan emak yang selalu memberikan kasih sayang, motivasi, filosofi kehidupan dan suri tauladan kepada anak-anaknya. Di tengah-tengah suasana kolonialisasi pemerintahan Hindia Belanda mayoritas penduduk pada umumnya pada terbakar kebencian tehadap imperialis, mengakibatkan penduduk pribumi tadak mau bersekolah milik orang-orang Belanda bahkan meniru-niru kebiasaan kaum imperialis pun diharamkan oleh mayoritas penduduk pribumi pada umumnya.

Meskipun demikian, emak tidak terjebak ke dalam gerbong fanatisme buta yang dialami oleh yang lainnya. Emak, sosok ibu yang sangat dinamis, dan mengerti apa yang harus diperbuat di tengah-tengah kesulitan imperialisasi terutama dalam memberikan petunjuk pada anak-anaknya. Hal itu terbukti misalnya emak dengan percaya diri mau belajar menaiki “kereta angin” di mana pada saat itu kendaraan yang beroda dua itu diharamkan oleh penduduk pribumi pada umumnya. Mengingat kereta angin merupakan kendaraan untuk nona-nona Belanda. Meskipun emak mendapat gunjingan dan gosip di sekitar warga kampung, namun usaha agar bisa menaiki kereta angin tetap dijalankan dengan tekun tanpa peduli sedikitpun segala gunjingan warga sekitar rumah,  alhasil emak adalah orang pertama kali yang bisa menaiki kereta angin di kampung itu.

Di lain kasus, emak juga sosok perempuan yang sangat peduli terhadap pendidikan khususnya buat anak-anaknya. Emak berpendapat bahwa kalau ingin keluar dari imperialisasi maka penddikan harus dicapai setinggi tingginya tanpa membedakan warna kulit bahkan kita harus belajar dari mereka. Bahkan emak dengan tegas membantah persepsi masyarakat pada umumnya yang mengharamkan melanjutkan pendidikannya ke sekolah Belanda. Kata emak, “ bukankah saat Rosullullah mau membebaskan para tawanan perang badar dengan syarat mereka harus mengajari baca tulis kepada kaum muslimin pada saat itu. Padahal pembebasan tawanan yang berlaku ketika itu di antara kelompok-kelompok yang berperang adalah tebusan berupa 100 ekor Unta atau uang sebanyak 400 Dirham, yaitu sepadan untuk biaya makan seorang selama 30 tahun.” Begitulah argumen emak.

Tak hanya seorang ibu yang keras usaha dan menjunjung pendidikan. Daeod Joesoef juga memaparkan bahwa emak ternyata memahami ide-ede kemerdekaan dan kenegaraan di tengah-tengah kebodohan masyarakat. Hal itu dibuktikan dalam sebuah diskusi dengan sosok pemuda yang indekos di rumahnya yang akrab dipanggil dengan mas Singgih. Mas Singgih merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan Jawa yang berpetualang di pulau Sumatera untuk berjuang menyebarkan ide-ide kemerdekaan di tengah-tengah ketidaksadaran dan ketidakberdayaan masyarakat pribumi. Di setiap diskusi bersama dengan mas singgih, emak selalu memperhatikan baik-baik dan tak mau ketinggalan dengan yang lainnya dari setiap gagasan perjuangan yang dipaparkan oleh mas singgih. Emak begitu larut dalam suasana diskusi dan ia sesekali bertanya kritis gagasan-gagasan kebangsaan dan kemerdekaan baik dari mas singgih sendiri maupun dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan lainnya melalui penjelasannya. Misalnya dalam sebuah diskusi tentang peran agama dalam perjuangan. Emak berpendapat bahwa semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan yang serba baik bagi kehiduan ini. Bahkan tidak hanya terbatas pada hubungan antara sesama manusia, tetapi meliputi perlakuan khalifah Tuhan ini terhadap makhluk binatang  dan sikapnya terhadap alam sebagai keseluruhan. Maka alih-alih saling berebut menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masing, saling menyombongkan kelebihan agama masing-masing, saling memamerkan bentuk-bentuk keimanan  masing-masing, para penganut agama lebh baik membuat agamanya seperti garam saja, lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan manfaatnya  serta ketepatan pemerataannya tanpa kelihatan sedikitpun kehadirannya. Bukankah setiap agama seharusnya menjadi rahmat bagi kita semua. Jadi kalau Islam mau dibuat maslahat bagi manusia, janganlah ia disendirikan bagai garam dalam botol Arab yang pantang disentuh, namun dibiarkan lebur menyatu dengan semua bahan yang membuat makanan sempurna lezat. Begitulah gagasan emak tentang peran agama memaknai sebuah perjuangan.

Perempuan mewarnai rumah tangga

Sekali lagi, Daoed Joesoef mengangkat keperkasaan seorang perempuan (emaknya) yang digambarkannya. Begitu ikut andil khususnya dalam mewarnai kehidupan keluarga. Apalagi untuk kontek kekinian, dalam kehidupan rumah tangga sosok ibu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan rumah tangga. Realitas mengatakan, bahwa seorang ibu jauh lebih dekat dengan anak-anaknya, dari lahir anak diasuh, dididik dan dibesarkan di atas pangkuan ibu. Oleh karena itu, ibulah yang membentuk kepribadian seorang anak.  Ibu juga mempunyai peran yang besar untuk mengarahkan anaknya sesuai dengan kehendaknya. Maka untuk sepanjang zaman, dibutuhkan seorang ibu yang cerdas, dinamis, dan komunikatif dalam mewarnai kehidupan sebuah keluarga khususnya membentuk anaknya menjadi generasi yang unggul. Salah besar kalau menjadi ibu rumah tangga mudah dan tak harus berpendidikan.

Untuk kontek kekinian, nyatanya mayoritas seorang perempuan mengabaikan nilai-nilai yang harus dipenuhi sebagai seorang ibu rumah tangga. Bahkan ibu rumah tangga itu identik kurang cerdas, tak bisa bersaing di luar rumah dan malas bekerja.  Sedangkan mereka lebih dominan untuk berkarir di luar rumah tanpa peduli kehidupan rumah tangganya.

Meskipun tampak terdengar sederhana menjadi seorang ibu rumah tangga yang siaga,  namun untuk mencapai tingkat kepuasan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik diperlukan pengalaman, kecerdasan, dan bertanggung jawab. Saya begitu kagum saat membaca tulisan-tulisan Ade (seorang mahasiswi) yang penuh imajinasi dan hikmah dari setiap coretan di blog pribadinya (www.rinduku.wordpress.com) bahkan setiap tulisan yang dimuat di blog pribadinya berbagai kalangan merespon dan berkomentar tak kurang dari ratusan komentar. Lantas apa keterkaitannya dengan Ade, seorang perempuan yang lihai menulis itu? Ternyata impiannya bukan menjadi wanita karir atau artis ngetop namun ia menginginkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan melahirkan anak-anak yang cerdas, tangkas dan unggul.

Begitu juga dengan emak, ia telah sukses mendidik anak-anaknya “Daoed Joesoef telah berhasil meraih gelar doktor di Sorbonne dan menjadi seorang menteri pendidikan di era pembangunan VIII di pemerintahan Orde Baru. Ia pun selalu mengingat nasehat-nasehat maupun petuah petuah bijak emak dalam setiap langkahnya.  Karena didikan emaklah ia menjadi orang yang sukses.

Seiring era Reformasi yang dikumandangkan dari Sabang sampai Merauke oleh para Reformis, menggantikan era totaliterisme Soeharto, maka dunia jurnalisme kita mendapatkan angin segar dalam menyampaikan informasi kepada khalayak umum tanpa takut adanya ancaman pembredelan.

Tak kurang dari 32 tahun dunia jurnalisme kita mandul dan harus berfungsi sebagai corong pemerintahan Orde Baru yang jauh dari idealisme pers sebagai kontrol sosial. Bahkan sejak akhir masa kekuasaan Soekarno (orde lama), pun dunia jurnalisme kita telah diarahkan menjadi corong pemerintahan. Di era orde lama, institusionalisme pers yang berkembang adalah bagaimana sebuah lembaga penerbit pers dapat melibatkan diri dalam pertentangan antar partai. Masing-masing media cetak berfungsi sebagai corong perjuangan partai-partai peserta pemilu 1955. Beberapa partai seperti PNI mempunyai Suluh Indonesia, Masyumi mempunyai Abadi, NU mempunyai Duta Masyarakat, PSI mempunyai Pedoman dan PKI mempunyai Harian Rakyat. Jadi fungsi media di era Orde Lama tak lain sebagai media perjuangan partainya masing-masing.

Sejak pencabutan pengaturan mengenai SIUPP dan kebebasan penyajian berita serta informasi di berbagai bentuk pada tahun 1999 disahkan UU Pers No 40/1999. Mulai saat itu dunia jurnalisme kita lepas dari pemasungan yang selama akhir masa Orde lama dan orde baru menjerat demokratisasi pers kita. Tak lama kemudian dalam merayakan kemenangan sistem demokrasi muncul berbagai macam ribuan media massa baik cetak maupun elektronik yang tak terbendung lagi memberikan warna kebebasan dalam dunia jurnalisme kita.

Namun gagasan otonomi pers selama ini disalahtafsirkan menjadi kebebasan pers yang tanpa batas etika. Bahkan hemat saya, kebebasan pers di era Reformasi telah jauh meninggalkan kode etik jurnalistik dan lebih liberal dari pers Amerika yang menganut paham leberalisme pers sekalipun. Hal itu terlihat dari beberapa media pers kita yang menyebarkan berita mengarah ke dunia pornografi, kriminal, kekerasan serta mengabaikan nilai-nilai perjuangan kemanusiaan. Mengingat sesuai dengan UU No 40 Tahun 1999 tentang pers secara tegas sebagai kedaulatan rakyat, dan berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Posisi Jurnalis
Tantangan idealisme pers masa kini bukan menentang atau harus berkiblat kepada kekuasaan namun justru bagi para jurnalis dihadapkan dengan institusionalisme pers yang cenderung komersil dan tantangan dari para kapitalisme yang mencoba mengarahkan media sesuai dengan keinginannya. Mengingat antara institusionalisme pers dan kapitalisme tentu mereka mempunyai interest untuk mengarahkan media sesuai dengan kehendaknya. Namun yang jadi pokok permasalahannya ialah ketika media menempatkan sebagai penyampai informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial tidak diprioritaskan.

Dengan demikian ungkapan yang selama ini populis dengan jurnalisme berjuang melalui pena dalam kaitan dengan tanggung jawab etis para jurnalis tidak sekedar berkaitan dengan dunia teknis tulis-menulis jurnalistik, namun justru merupakan simbol di dalam proses interaksi yang sangat rumit di antara faktor-faktor eksternal dan internal media pers, yakni Jurnalis sebagai kuli tinta harus tegas memperjuangkan kebenaran sejati di atas institusionalisme pers dan kapitalisme yang cenderung lebih menampakan komersialisasi dibandingkan dengan media sebagai penyampai informasi secara akurat dan terpercaya. Menurut Hoheberg berpendapat bahwa terdapat empat unsur penopang tipe ideal seoang jurnalis, yaitu, a) Tidak pernah berhenti dalam mencari kebenaran, b) Mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman, c) Mampu melaksanakan tugas-tugas yang berguna bagi masyyarakat, d) Mampu menjaga dan memelihara kebebasannya. Mengingat peran wartawan dalam mengkonstruksi berita sangat penting terhadap keselarasan informasi kepada khalayak umum.

Sebagai Media Perjuangan
Di tengah-tengah arus informasi yang tak terbendung lagi maka media mempunyai peran yang sangat vital dalam menyampaikan berita yang dibutuhkan oleh khalayak umum. Meskipun di era Reformasi tantangan jurnalisme kita masih menghadapi institusionalisme pers yang cenderung kkomersial dan godaan syahwat kapitalisme. Belakangan ini Setidaknya media baik cetak maupun elektronik telah merambah memperjuangkan keadilan terhadap orang kecil. Misalnya belakangan ini, beberapa televisi swasta kita telah berpartisipasi dengan menggalang “koin untuk Prita” sebagai gerakan sosial anti-diskriminasi hukum yang dibebankan terhadap Prita Mulyasari, alih-alih dianggap telah mencemarkan nama baik RS. Omni Internasional dengan denda 204 juta. Bahkan gerakan sosial “koin untuk Prita” merambah ke berbagai elemen sosial dari pengamen sampai pejabat negara.

Oleh karena itu, pers tak hanya sekedar berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial namun juga berperan sebagai media perjuangan. Tentu bukan memperjuangkan sebuah partai dalam memenangkan Pemilu seperti yang terjadi di era Orde Lama atau sebagai corong pemerintahan seperti yang terjadi di era Orde Baru. Namun pers secara etis mempunyai beban moral untuk memperjuangkan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan di muka bumi ini

Pendahuluan

Media dalam sebuah komunikasi politik mempunyai peranan yang sangat penting karena merupakan sebagai publisitas politik terhadap masyarakat luas. Tentunya dengan tujuan khalayak mengetahui agenda politik setelah itu simpati dan menjatuhkan pilihannya kepada partai tersebut. Siapapun komunikator atau aktivis politik akan berusaha untuk menguasai media. Tak heran, barang siapa yang telah menguasai media, maka dia hampir memenangi pertarungan politik. Semenjak kemajuan teknologi dan informasi yang revolusioner, media cetak maupun elektronik mengantarkan informasi kepada khalayak sangat efektif. Pemanfaatan media untuk mendongkrak popularitas sebenarnya telah mulai marak dan bebas sejak Pemilu 1999 dan semakin menguat di Pemilu 2004 hingga Pemilu 2009. Segala kegiatan yang ada nuansa politik diangkat media bertujuan tak hanya sebagai sarana publisitas namun juga mempengaruhi khalayak untuk memilihnya.

Oleh sementara pihak media, media massa sering disebut sebagai the fouth estate dalam kehidupan sosial ekonomi. Hal ini terutama disebabkan oleh peran suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media massa dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial ekonomi dan poitik masyarakat. Sebagai suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik. Antara lain karena itu, media massa juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu idea atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam kontek kehidupan yang lebih empiris.

Saluran Komunikasi politik

Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Pesan di sini bisa dalam bentuk lambang-lambang pembicaraan seperti kata, gambar, maupun tindakan. Atau bisa pula dengan melakukan kombinasi lambang hingga menghasilkan cerita, foto (still picture atau motion picture), juga pementasan drama. Alat yang dimaksud di sini tidak hanya berbicara sebatas pada media mekanis, teknik, dan sarana untuk saling bertukar lambang, namun manusia pun sesungguhnya bisa dijadikan sebagai saluran komunikasi. Jadi, lebih tepatnya saluran komunikasi itu adalah pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam keadaan bagaimana, sejauh mana dapat dipercaya. Komunikator politik, siapapun ia dan apapun jabatannya, menjalani proses komunikasinya dengan mengalirkan pesan dari struktur formal dan non-formal menuju sasaran (komunikan) yang berada dalam berbagai lapisan masyarakat.

Sedangkan, politik seperti komunikasi adalah proses dan seperti komunikasi politik melibatkan pembicaraan. Ini bukan pembicaraan dalam arti sempit seperti kata yang diucapkan, melainkan pembicaraan yang lebih inklusif, yang berarti segala cara orang bertukar symbol, kata-kata yang dituliskan dan diucapkan, gambar, gerakan, sikap tubuh, perangai dan pakaian. Ilmuwan politik Mark Roelofs menyatakan dengan cara sederhana, “ Politik adalah pembicaraan, atau lebih tepat kegiatan politik (berpolitik) adalah berbicara. “ ia menekankan bahwa politik tidak hanya pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan adalah politik. Akan tetapi hakekat pengalaman politik dan bukan kondisi dasarnya, ialah bahwa kegiatan berkomunikasi antara orang-orang.[1]

Maka dengan hadirnya media massa sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan terutama mengenai politik akan mempermudahkan kepada setiap komunikator politik dalam menyampaikan dan memperkenalkan siapa dirinya kepada  khalayak.

Begitu berkuasanya media dalam mempengaruhhi pikiran, peranan, dan perilaku penduduk, sehingga Kevin Philips dalam buku responsibility in mass Communication mengtakan, bahwa era sekarang lebih merupakan mediacracy, yakni peemerintahan media, daripada demokrasi pemerintahan rakyat.[2]

Kekuatan media massa (powerful media) sebagai saluran untuk mempengaruhi khalayak, telah banyak memberikan andil dalam pembentukan opini publik. Kemampuan melipatgandakan pesan-pesan politik di media massa mempunyai dampak terhadap berubahnya perilaku pemilih. Maka dari itu, bagi para elit politik yang ingin bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, akan berusaha memanfaatkan media massa untuk tujuan publikasi dan pembentukan citra. Media dalam bentuk apapun adalah saluran komunikasi seorang kandidat kepada khalayak yang dikatakan efektif dan efisien pada masa kampanye modern saat ini. Ada beberapa media yang sangat penting dalam mempublikasikan agenda politik:

Media telepon; merupakan alat komunikasi lisan satu-kepada-satu yang memiliki beberapa kegunaan bagi kampanye kontemporer. Media ini kerap digunakan bagi hubungan pribadi jika organisasi kampanye ingin mengumpulkan dana, mengarahkan pemilih untuk datang ke tempat kampanye. Atau terkadang media telepon juga biasa digunakan untuk memperkenalkan kandidat melalui rekaman suara yang dapat diputar berulang kali. Telepon pun hingga saat ini masih digunakan sebagai media survey tentang opini para pemilih; polling telepon, dengan menggunakan sistem pemutaran nomor secara acak disertai kuesioner pendek yang mudah dipahami; prosedur utama survey.

Media radio, Menurut McLuhan, terdapat resonansi antara radio dan telinga serta pikiran manusia, resonansi yang menyajikan peluang besar bagi kampanye radio. Di samping itu, radio juga merupakan saluran massa bagi kaum minoritas walaupun dalam perkembangannya kaum mayoritas pun masih belum bisa meninggalkannya. Meskipun radio tidak menampilkan visual/gambar hidup, namun media satu ini bisa merambah ke lokasi di mana media lain susah bahkan tak bisa menjangkaunya.

Media Televisi, Di Amerika, penggunaan televisi sebagai media kampanye sudah sejak dasawarsa 1950-an dan 1960-an dimulai. Penekanan dalam kampanyenya pun beragam, mulai dari pembuatan citra; di mana penggunaan media ini untuk memproyeksikan atribut-atribut terpilih dari kandidat. Hingga penekanan berkembang pada tahun 1970-an menjadi pengaturan dan pembahasan pokok masalah kampanye. Teknik untuk membangun citra sang kandidat pun beragam dari melalui publisitas gratis hingga pada beriklan di televisi yang mesti bayar. Sebenarnya sudah ada pengaturan tentang tata cara beriklan di media massa, terutama di televisi. Namun tetap saja banyak terjadi kecurangan di sana-sini, hingga terjadi ketidakadilan dalam peliputan berita kampanye pada Pilpres 2009 yang lalu. Peliputan berita kampanye pasangan kandidat tertentu mendapat durasi yang relatif lebih panjang dibanding pasangan kandidat yang lainnya. Hal ini dikarenakan pemilik stasiun televisi tersebut adalah “orang dekat” dari pasangan tersebut. Atau bisa juga karena pasangan kandidat tersebut memiliki dana kampanye yang cukup banyak untuk dapat memasang iklan berlebih pada media tersebut.[3]

Media Cetak, Meskipun media elektronik ditambah dengan media inovasi sudah semakin maju, tetap saja media cetak belum akan ditinggalkan khalayak massa. Terdapat dua tipe media cetak yang kerap dijadikan sebagai media kampanye, yakni melalui surat langsung dan surat kabar atau majalah. Surat Langsung. Pada tahun 1974, Robin dan Miller memeriksa pengaruh pengiriman surat umum kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa, surat langsung tidak memiliki cukup pengaruh terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memberikan suara dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat.

Surat Kabar. Tiga tipe isi surat kabar yang bertindak sebagai sarana bagi komunikasi kampanye, yakni ihwal berita, editorial, dan iklan. Semuanya membantu pembinaan citra dan penyajian masalah. Namun, pembuatan citra adalah yang paling utama. Setelah dilakukan penelitian terhadap ketiga tipe isi surat kabar dalam hal kampanye politik, maka didapatkan sebuah kesimpulan bahwa materi yang disajikan lebih kepada citra sang kandidat ketimbang masalah yang dihadapi. Dalam pemilu 2009, media surat kabar menjadi ruang publisitas politik di antara partai-partai peserta pemilu, mengingat salah satu media yang cukup representatif untuk mensosialisaikan agenda-agenda partainya masing-masing.

Di tengah-tengah segitiga persaingan memperebutkan uang pengiklan dan perhatian publik, media telah mengembangkan dalam berbagai peran. Sebagai media informasi, radio dan televisi unggul dalam penyampaian berita yang dilengkapi dengan ulasan penjelas. Kalau media siaran memberi perhatian pada suatu peristiwa lain berkurang.  Celah inilah yang kemudian diisi dengan koran. Seringkali koran memberikan banyak hal sehingga kedalamannya pun terbatas. Celah ini lalu diisi oleh majalah. Majalah acapkali meliput suatu yang diberikan oleh media siaran secara lebih panjang dan lebar. Seseorang yang tertarik untuk mengetahui yang lebih banyak tentang suatu yang diberitakan di televisi akan mencarinya di majalah. Jika ia akan lebih mendalaminya, ia akan mencari buku atau film dokumenter. Hal ini juga menandakan bahwa peran media sebagai penafsir informasi serta pentingnya sebagai penyampai informasi.[4] Maka dari berbagai media di atas mempunyai peran yang saling melengkapi dan itu sangat efektif dalam menyampaikan pesan-pesan politik.

Pencitraan Media

Untuk pencitraan itu, media massa sering terlibat dengan pemberian julukan (label) kepada para aktor dan atau kekuatan politik. Dalam konteks ini, para komunikator massa dalam rutinitas serupa dengan lembaga stempel yang member persetujuan (pembenaran) dan ketidaksetujuan dalam tindakan-tindakan politik. Bagi suatu kekuatan politik, sikap sebuah media, entah neral partisan adalah menentukan terutama untuk pencitraan opini publik. Sebab, di satu pihak dari ujung komunikasi politik adalah mengenai citra ini, yang banyak bergantung pada cara mengkonstruksi pada kekuatan politik itu. Sedangkan media massa mempunyai kekuatan yang signifikan dalam komunikasi pollitik untuk mempengaruhi khalayak. Walhasil pencitraan yang dilakukan media akan memberikan dampak besar dalam menjangkau khalayak yang banyak.[5]

Media massa adalah faktor penting dalam mengkonstruksi publik. Figur politik mempengaruhi media dan media mempengaruhi representasi pemerintahan.[6] Hal itu bisa dilihat dari popularitas Susilo Bambang Yudoyono tak bisa dihindari karena keterlibatan media dalam mengemas citra sehingga menjadi seperti sekarang ini. Dengan frekuensi diangkat dan diperlihatkan ke publik, media bisa menyihir berjuta-juta manusia untuk mengaguminya. Di kasus lain, juga dialami oleh Prabowo Subiyanto dengan partai Gerindra nya, saat menjelang pemilu 2009 lalu, sosok Prabowo selalu tampil di media televisi kita bak seorang tokoh yang akan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi. Tak lama durasi yang dibutuhkan, Prabowo saat itu menjadi populis yang dikenal hampir seluruh bangsa Indonesia.

J. Baudrillard menjelaskan empat fase citra (1981: 17): pertama, representasi dimana citra merupakan cermin suatu realitas; kedua, ideologi di mana citra menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas; ketiga, citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas, lalu citra bermain menjadi penampakannya; keempat, citra tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apapun, ia hanya menjadi yang menyerupai dengan dirinya.[7]

Berbagai kepustakaan ilmun komunikasi massa menjelaskan bahwa pesan politik yang disampaikan oleh media massa bukanlah realitas yang sesungguhnya, melainkan adalah realitas media, yaitu realitas buatan atau realitas tangan kedua (second hand reality) yaitu realitas yang dibuat oleh wartawan dan redaktur yang mengolah peristiwa politik menjadi berita politik, melalui proses dan penyaringan seleksi.[8] Para pemberi suara tidak hanya menjadi sadar akan isu, merumuskan citra atribut politik dan gaya pribadi para kandidat, dan membentuk citra tentang partai politik dengan hidup sebagai pertapa yang terasing. Juga perspektif yang dibawa oleh mereka ke dalam kampanye tidak menetapkan lebih dulu persepsi mereka tentang isu, kandidat dan partai. Akan tetapi, dalam waktu di antara pemilihan dan selama kampanye tertentu mereka diterpa berbagai media politik internasional, organisasi dan massa.[9]

Penutup

Tak diragukan lagi, media menempati peran yang sangat strategis dalam menyampaikan pesan-pesan politik terhadap khalayak. Karena tak membutuhkan waktu yang panjang untuk sekedar memperkenalkan agenda-agendanya bahkan bisa merubah pilihan sebelumnya tentu dengan strategi yang dimiliki media secara terus-menerus mempengaruhi khalayak. Dari berbagai media yang digunakan, tentu ada kelebihan dan kelemahannya, begitu juga mengandung pengaruh positif dan negatif terhadap khalyak. Maka upaya penyaringan dan control terhadap segala berita yang dimuat di media perlu dilakukan agar tidak salah pilih.

Melalui media para komunikator maupun aktivis politik mudah menghipnotis khalayak dengan citra yang ditampilkan setiap saat melalui media. Berbagai isu dikemas dengan apik untuk mendapatkan tempat di ruang publik sehingga khalayak yang dijadikan sasaran oleh mereka bisa mengenal dan setelah itu memilihnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Arifin, Anwar, Pencitraan Dalam Politik, Strategi Pemenangan Pemilu Dalam Perspektif Komunikasi Politik( Jakarta, Pustaka Indonesia, 2006)
  • Hamad, Ibnu, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media,( Jakarta, Granit, 2004).
  • Haryatmoko, Etika Komunikasi, manipulasi Media Kekerasan dan Pornografi. (Yogyakarta, Kanisius, 2007),
  • Nimmo, Dan, Komunikasi Politik, komunikator, Pesan dan Media (Bandung, PT Rosda Karya, 1999)
  • Uchyana Efendi, Onong, Dinamika Komunikasi (Bandung, PT. Rosda Karya,1986)
  • W Jeffers, Leo, Mass Media Effects( United States of America, Waveland Press, 1997)
  • William L. Rivers-Jay W. Jensen Theodore Peterson, Komunikasi  massa, Jakarta, Prenada Media, 2004

 

 

 

 


[1] Dan Nimmo, Komunikasi Politik, komunikator, Pesan dan Media (Bandung, PT Rosda Karya, 1999) Cet ke-3 hal-8

[2] Onong Uchyana Efendi, Dinamika Komunikasi(Bandung, PT. Rosda Karya,1986) hal 206

[3] Iklan politik melalui televisi pada pemilu 2009 terjadi kesenjangan sosial, dalam iklan-iklan politik tersebut hanya ada beberapa partai yang selalu menampilkan agenda partainya kepada public seperti Partai Gerindra, PDI-P, Golkar, Partai Demokrat, PKS, PBB, PKB dan PAN. Tentu saja hanya partai yang paling kuat pendanaannya, sedangkan bagi partai kecil dan baru yang lemah pendanaan untuk beriklan tidak bisa mempublikasikan secara terus menerus di media ini, mengingat media televise adalah saluran komunikasi politik yang sangat efisien.

[4] William L. Rivers-Jay W. Jensen Theodore Peterson, Komunikasi  massa, Jakarta, Prenada Media, 2004) Cet ke-2

[5] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media,( Jakarta, Granit, 2004) Cet ke-1 hal-29-30

[6] Leo W Jeffers, Mass Media Effects( United States of America, Waveland Press, 1997) Second Edition, h. 124

[7] Haryatmoko, Etika Komunikasi, manipulasi Media Kekerasan dan Pornografi. (Yogyakarta, Kanisius, 2007), cet ke-5, h. 32

[8] Anwar Arifin, Pencitraan Dalam Politik, Strategi Pemenangan Pemilu Dalam Perspektif Komunikasi Politik( Jakarta, Pustaka Indonesia, 2006) h. 5

[9] Dan Nimmo, Komunikasi Politik, Khalayak dan Efek( Bandung, PT Remaja Rosda Karya2006) Cet ke-4 h.187

Kita sebagai manusia tak bisa menghindari berkomunikasi. Tentu hal ini berlaku juga kepada jin, binatang, tumbuh-tumbuhan dll. Sikap diam, pun termasuk berkomunikasi. Tentu anda akan mengatakan bahwa Komunikasi mempunyai peran sangat penting untuk bisa bergaul dalam masyarakat, dan itu adalah sebuah tuntutan yang tak bisa dihindari, mengingat kita (manusia) merupakan makhluk sosial.

Ilmu Komunikasi bukan sekadar disiplin ilmu pengetahuan, namun sekaligus seni bergaul. Agar dapat berkomunikasi efektif, anda dituntut tidak hanya memahami prosesnya, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan secara kreatif. Menurut Kincaid dan Schram, bahwa kemampuan untuk berkomunikasi efektif bukan bawaan. Melainkan bisa dipelajari. Komunikasi efektif adalah kemampuan berkomunikasi di mana makna distimulasikan serupa dengan maksud penyampai pesan (communicator). Inilah yang dimaksud proses komunikasi hingga hubungan berjalan dengan komunikatif.

Dalam berkomunikasi dapat berbentuk verbal maupun nonverbal. Komunikasi verbal merupakan komunikasi berupa kata-kata, sedangkan komunikasi nonverbal berbentuk bukan kata-kata. Menurut Rogers ada 7 jenis komunikasi nonverbal yaitu gerakan tubuh, jarak, waktu, sentuhan, suara, artifak dan penampilan. Semua itu memberikan simbol berkomunikasi meskipun anda tak mengucapkan sepatah kata pun, atau malah diam seribu bahasa.

Komunikasi nonverbal sulit bahkan tak bisa dibohongi. Misalnya anda berbohong dengan kata-kata, namun anda tak bisa menutupi gerakan tubuh, ekspresi wajah pada diri anda. Bahkan komunikasi nonverbal bisa mengefektifkan pesan-pesan yang disampaikan karena kemampuan nonverbal bisa jadi faktor penting penyebab keberhasilan komunikasinya.

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa sangat penting di Senayan, Jakarta. Yaitu pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih di negeri tercinta ini (SBY-Budiono). Pelantikan yang dipimpin langsung oleh ketua MPR terbaru, Taufik Kiemas, kader PDI Perjuangan. Nah, dalam peristiwa penting itu, mantan presiden Megawati Soekarno Putri tidak hadir, padahal yang memimpin pelantikan adalah sang suami tercinta. Dari sikap itu Megawati mengkomunikasikan bahwa PDI Perjuangan menjadi partai oposisi (meskipun tak 100%) meskipun juga ia tak memproklamirkan diri partainya sebagai partai oposisi, maka anda jangan repot-repot mengorek keterangan apakah PDI Perjuangan termasuk partai oposisi atau koalisi.

Di lain kasus, seperti halnya anda yang tengah menyembunyikan perasaan cinta terhadap seorang pria dengan berbohong seribu kata bahwa anda tidak sedang jatuh hati (falling in love) namun setiap langkah anda selalu tersenyum ria, sering melamun, suka menyendiri, sering menyebut namanya dll. Maka jangan sekali-kali membohongi teman anda yang sedang menanyakan kondisi anda.

Begitu juga saat anda sedang jatuh cinta kepada seorang wanita, tentu anda akan melakukan usaha apapun termasuk mandi kembang tengah malam di sendang (kuburan) kalau itu memang harus dilakukan dan membuat dia senang. Upaya-upaya seperti mengirim sms kepada sang pujaan hati tapi tak dibalas, selalu tersenyum manis di depan dia tapi dibalas dengan bibir terkunci rapat, menanyakan kabar dia tapi tak direspon dan mengajak dia makan malam tapi tak mau dengan alasan macam-macam. Maka jangan sekali-kali “menembak” wanita pujaan hati anda itu, kalau tak mau menangis darah dan patah hati seumur hidup anda.

Dilihat melalui komunikasi nonverbal, anda tak bisa bersembunyi dari sebuah kebenaran. Melalui intonasi suara, gerakan tubuh, senyum, ekspresi wajah, pakaian, penampilan rambut dll akan mengatakan bahwa komunikasi nonverbal akan menunjukan siapa diri anda.

Melalui retorika bahasa anda akan mudah mengidentifikasi antara orang berpendidikan tinggi atau rendah, melalui intonasi suara anda akan mudah mengidentifikasi bahwa orang itu marah atau tidak. Melalui ekspresi wajah anda akan mudah mengidentifikasi bahwa orang itu berbohong atau jujur. Semua itu bisa anda ketahui melalui komunikasi nonverbal. Maka dengan belajar komunikasi nonverbal anda bisa menjadi penebak jitu atau peramal (kalau tak mau dikatakan dukun). Sesuatu yang sudah jelas, berarti tak perlu ditanyakan lagi apalagi dikorek-korek kebenarannya. Karena anda diam pun itu sudah berkomunikasi.

Next Page »