Kita sebagai manusia tak bisa menghindari berkomunikasi. Tentu hal ini berlaku juga kepada jin, binatang, tumbuh-tumbuhan dll. Sikap diam, pun termasuk berkomunikasi. Tentu anda akan mengatakan bahwa Komunikasi mempunyai peran sangat penting untuk bisa bergaul dalam masyarakat, dan itu adalah sebuah tuntutan yang tak bisa dihindari, mengingat kita (manusia) merupakan makhluk sosial.

Ilmu Komunikasi bukan sekadar disiplin ilmu pengetahuan, namun sekaligus seni bergaul. Agar dapat berkomunikasi efektif, anda dituntut tidak hanya memahami prosesnya, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan secara kreatif. Menurut Kincaid dan Schram, bahwa kemampuan untuk berkomunikasi efektif bukan bawaan. Melainkan bisa dipelajari. Komunikasi efektif adalah kemampuan berkomunikasi di mana makna distimulasikan serupa dengan maksud penyampai pesan (communicator). Inilah yang dimaksud proses komunikasi hingga hubungan berjalan dengan komunikatif.

Dalam berkomunikasi dapat berbentuk verbal maupun nonverbal. Komunikasi verbal merupakan komunikasi berupa kata-kata, sedangkan komunikasi nonverbal berbentuk bukan kata-kata. Menurut Rogers ada 7 jenis komunikasi nonverbal yaitu gerakan tubuh, jarak, waktu, sentuhan, suara, artifak dan penampilan. Semua itu memberikan simbol berkomunikasi meskipun anda tak mengucapkan sepatah kata pun, atau malah diam seribu bahasa.

Komunikasi nonverbal sulit bahkan tak bisa dibohongi. Misalnya anda berbohong dengan kata-kata, namun anda tak bisa menutupi gerakan tubuh, ekspresi wajah pada diri anda. Bahkan komunikasi nonverbal bisa mengefektifkan pesan-pesan yang disampaikan karena kemampuan nonverbal bisa jadi faktor penting penyebab keberhasilan komunikasinya.

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa sangat penting di Senayan, Jakarta. Yaitu pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih di negeri tercinta ini (SBY-Budiono). Pelantikan yang dipimpin langsung oleh ketua MPR terbaru, Taufik Kiemas, kader PDI Perjuangan. Nah, dalam peristiwa penting itu, mantan presiden Megawati Soekarno Putri tidak hadir, padahal yang memimpin pelantikan adalah sang suami tercinta. Dari sikap itu Megawati mengkomunikasikan bahwa PDI Perjuangan menjadi partai oposisi (meskipun tak 100%) meskipun juga ia tak memproklamirkan diri partainya sebagai partai oposisi, maka anda jangan repot-repot mengorek keterangan apakah PDI Perjuangan termasuk partai oposisi atau koalisi.

Di lain kasus, seperti halnya anda yang tengah menyembunyikan perasaan cinta terhadap seorang pria dengan berbohong seribu kata bahwa anda tidak sedang jatuh hati (falling in love) namun setiap langkah anda selalu tersenyum ria, sering melamun, suka menyendiri, sering menyebut namanya dll. Maka jangan sekali-kali membohongi teman anda yang sedang menanyakan kondisi anda.

Begitu juga saat anda sedang jatuh cinta kepada seorang wanita, tentu anda akan melakukan usaha apapun termasuk mandi kembang tengah malam di sendang (kuburan) kalau itu memang harus dilakukan dan membuat dia senang. Upaya-upaya seperti mengirim sms kepada sang pujaan hati tapi tak dibalas, selalu tersenyum manis di depan dia tapi dibalas dengan bibir terkunci rapat, menanyakan kabar dia tapi tak direspon dan mengajak dia makan malam tapi tak mau dengan alasan macam-macam. Maka jangan sekali-kali “menembak” wanita pujaan hati anda itu, kalau tak mau menangis darah dan patah hati seumur hidup anda.

Dilihat melalui komunikasi nonverbal, anda tak bisa bersembunyi dari sebuah kebenaran. Melalui intonasi suara, gerakan tubuh, senyum, ekspresi wajah, pakaian, penampilan rambut dll akan mengatakan bahwa komunikasi nonverbal akan menunjukan siapa diri anda.

Melalui retorika bahasa anda akan mudah mengidentifikasi antara orang berpendidikan tinggi atau rendah, melalui intonasi suara anda akan mudah mengidentifikasi bahwa orang itu marah atau tidak. Melalui ekspresi wajah anda akan mudah mengidentifikasi bahwa orang itu berbohong atau jujur. Semua itu bisa anda ketahui melalui komunikasi nonverbal. Maka dengan belajar komunikasi nonverbal anda bisa menjadi penebak jitu atau peramal (kalau tak mau dikatakan dukun). Sesuatu yang sudah jelas, berarti tak perlu ditanyakan lagi apalagi dikorek-korek kebenarannya. Karena anda diam pun itu sudah berkomunikasi.

Pulang berarti kembali ke tempat asal, di mana bumi aku pijak pertama kali serta di mana tempat aku berniat pergi. Berjuta-juta manusia rela berdesak-desakan, berpanas-panasan hanya untuk melihat senyuman ibu pertiwi saat melepas  pergi. Seolah terpancar sebuah energi yang menuntun untuk pulang.

Pulang, sebuah kata yang lebih akrab dipanggil mudik di sekitar kita. Pulang sebagaimana mudik adalah kembali ke masa silam, kembali menjunjung tradisi, meninggalkan sejenak gemerlap modernitas kota. Semua perasaan bahagia dan sedih akan melebur menjadi satu jiwa tersimpan dalam segumpal daging. Sejuta kerinduan yang tertahan  menjadi ikatan batin akan melebur saat menantikan pulang. Pulang menjadi sebuah kerinduan akan hangatnya keharmonisan dalam sebuah kehidupan yang sangat bermakna.

Sebuah penantian panjang untuk satu kata “pulang”. Melepaskan individualitas, modernitas dan egosentrisme kehidupan menuju sebuah kehidupan yang mengedepankan kebersamaan.

Seribu penafsiran berterbangan di jiwa, semua keindahan melayang layang di hati yang hanya segumpal daging ini, pulang, iya kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduan akan segala yang sudah menjadi ikatan kuat batin, sesuatu yang sangat dinanti-nantikan.

Tak diharapkan, pulang adalah sebuah kata yang menyeramkan, berarti kata pulang sudah tak bermakna, kosong tanpa cahaya energi yang memancar menari-nari mengajak kita kembali dan jauh dari impian baiti jannati (rumah adalah surgaku). Maka tak ada rasa ikatan kerinduan, keindahan yang menarik untuk pulang.

Tak ada insan manusia yang tak merasakan pulang karena semua akan bakal pulang. Pulang ke rumah, pulang dari sekolah, pulang dari kerja, pulang dari tempat perantauan dan pulang ke Rahmatullah. Bahkan pergi sebenarnya untuk pulang. Tentu membawa sesuatu yang bermakna untuk kehidupan saat pulang.

Pulang menuju masa silam, membuang segala kotoran, mensucikan diri dari segala kekangan kutukan modernitas. Melepaskan senyuman terindah kepada sanak famili. Sebaliknya  ada luka, sedih, merasa bersalah ketika ada seorang anak yang tak hendak pulang. Tak bisa menikmati kebersamaan, tak bisa bergandengan tangan, tersenyum menikmati keharmonisan kehidupan yang jarang ditemukan dalam kekangan kutukan modernitas.

Sambutan selamat datang kembali ke rumah kita, lepaskan rintihan kelelahan akan segera ditiupkan ke ketelinga kita. Dan Diharapkan, selepas dari pulang semangat kehidupan memompa hati ini untuk pergi meskipun suatu saat akan kembali yaitu pulang. Karena pergi hakekatnya untuk pulang.

Di sebuah kamar sederhana, terdapat sebuah lukisan seorang laki-laki yang tak asing lagi, lukisan itu terletak di atas almari yang berisi baju dan buku. Lukisan itu dibingkai dengan apik seperti sebuah foto. Laki-laki dalam lukisan itu bukan penghuni kamar, bapaknya atau temannya melainkan ia adalah seorang pahlawan kemerdekaan yang akrab dipanggil Tan Malaka. Dilihat dari kejauhan lukisan itu mirip penghuni kamar, namun setelah didekati ada lekukan wajah yang berbeda. Lantas apa hubungan lukisan Tan Malaka dengan isi dan penghuni kamar itu?

Di sebuah kamar itu dihuni oleh seorang mahasiswa yang bernama Abi Setya Nugroho. Ternyata ia tercatat sebagai salah seorang pencari makam pahlawan Tan Malaka yang sampai saat ini belum pasti makamnya di mana. Bersama Zulfikar (ketua Panitia) yang masih ada hubungan keluarga dengan Tan Malaka, Ia beserta timnya melacak keberadaan makam Tan Malaka yang sebenarnya.

Pagi-pagi buta mereka sudah siap meluncur ke Desa Selopanggung Kediri. Tak peduli jauh, puasa, capek dan panasnya sengatan matahari. Semua dilakukan demi Tan Malaka benar-benar mendapat hak yang layak sesuai pahlawan kemerdekaan yang lainnya.

Pencarian makam sudah dipersiapkan lebih dari satu tahun lamanya. Sebenarnya mereka sudah meninjau lokasi satu bulan yang lalu dan baru sekarang mereka bisa melanjutkan pencarian makam Tan Malaka kembali. Ia sangat antusias untuk segera menemukan makam pahlawan yang selama 20 tahun dikejar-kejar Belanda itu (wong Londo). Sebagai seorang akademisi dan warga yang baik, ia akan terus berusaha untuk menemukan makam itu.

Menurut penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Harry A. Poeze (penulis buku Tan Malaka) bahwa Tan Malaka disinyalir dimakamkan di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa timur. Dengan berbagai informasi misalnya dari orang yang bernama Tolu warga Selopanggung, Tan Malaka menjadi tawanan TRI setelah itu ia hilang (tewas) di sekitar pohon petai di depan rumah bekas kakeknya Yasir yang sekarang sudah rata dengan tanah. Namun di sana ada dua makam tua yang disinyalir adalah makam mbah Selopanggung (penghuni desa pertama kali) dan satunya disinyalir makam Tan Malaka.

Para pencari makam Tan Malaka merencanakan untuk menggali makam tokoh itu yang diperkirakan, setelah itu melakukan test DNA. Mereka mempunyai beban moral untuk menemukan makam Tan Malaka sebenarnya. Serta mereka berharap Pahlawan Tan Malaka dikuburkan sesuai dengan selayaknya sebagai seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak hanya itu, kita harus mewarisi pemikiran dan perjuangan Tan Malaka. Ia rela hidup menderita, berpindah-pindah demi menegakkan kedaulatan negeri tercinta ini. serta meluruskan sejarah Tan Malaka yang selama ini kematiannya masih simpang siur. “ begitulah ungkapan Abi Setya Nugroho”. Karena sejarah bukanlah catatan final dari perjalanan hidup di masa silam. Serta bukanlah terjadi begitu saja. Namun sejarah adalah pergumulan antara struktur dan realitas yang menetap dengan daya perubahan yang senantiasa menerpa. Meminjam gagasan Taufik Abdullah sejarah adalah konstruksi manusia atas realitas, dialektika yang membentuk wahana dan berita pemikiran. Maka sebagai dari hasil konstruksi, sejarah pada dasarnya bersifat subyektif dan acak, karena ia diambil begitu saja dari sekumpulan peristiwa dan fakta di masa silam.

Upaya pengumpulan ini kemudian diteruskan lewat proses seleksi dengan menepis dan menyiangi pada hal-hal yang tak relevan. Pemilihan data adalah hal yang paling penting, karena pada tahap inilah sejarah dipisahkan dari mitos dan kepalsuan. Dan untuk menjadi bermakna, sejarah haruslah bersifat kronologis dan kausal, yakni memiliki kaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Keberangkatan Tim pencari makam Tan Malaka yang dipimpin oleh Zulfikar (keponakan Tan Malaka) Abi setya Nugroho, Dul Sutara dan lainnya. Merupakan sebuah agenda mulia, selain itu mereka juga berperan sebagai orang yang ikut membenahi sejarah kemerdekaan Indonesia yang masih banyak yang simpang siur. Selamat berpetualang sejati para pencari makam Tan Malaka!! Tuhan bersama anda sekalian.

ramadhan3Ucapan selamat menjelang datangnya Ramadhan datang silih berganti melalui media manual maupun elektronik yang menambah cahaya silaturahmi terjalin kembali. Melalui sms dan facebook serta media lainnya tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan mohon maaf lahir dan batin menjelang datangnya Ramadhan. Ternyata datangnya ramadhan memberikan waktu tepat untuk mengungkapkan segala kesalahan yang mana cenderung tak terucapkan di bulan-bulan selain Ramadhan. Atau mungkin masih melekatnya budaya malu untuk mengucapkan permintaan maaf kepada sesama di bulan-bulan selain Ramadhan. Sehingga bulan  Ramadhan menyumbangkan tradisi baru untuk bersilaturahmi dan saling maaf-memaafkan.

Datangnya Ramadhan di kampung-kampung yang jauh dari keramaian mempunyai ciri khas tersendiri, tentu menambah ramainya suasana di malam-malam bulan itu. Namun tak jarang di bulan Ramadhan masyarakat terjebak dalam budaya konsumerisme yang mana selalu diiklankan melalui media televisi kita. Berbagai macam menu disiapkan untuk acara berbuka puasa dan sahur secara berlebihan tanpa melihat bahwa momentum Ramadhan sebenarnya salah satunya melatih diri setiap insan untuk ikut merasakan apa yang dialami bagi mereka yang tak mampu. Bahkan tak sedikit momentum buka puasa sebagai ajang balas dendam karena selama puasa tak diperbolehkan makan dan minum. Hal itu tentu mengakibatkan cahaya keikhlasan dalam menjalani puasa selama satu bulan kurang memperoleh keutamaan.

Hadirnya bulan Ramadhan menjadi suatu bulan yang istimewa bagi umat islam. Sesuai dengan perintah Allah SWT di bulan ramadhan ini diwajibkan setiap orang orang yang beriman berpuasa sesuai dengan umat terdahulu. Di bulan ini juga terbuka pintu rahmat, hidayah dan pengampunan serta di salah satu dari malam ramadhan dijadikan satu malam kemuliaan yang kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan seribu bulan.

Ibadah puasa menjadi ritual wajib bagi orang-orang yang beriman selama bulan ramadhan. Meskipun begitu, setiap umat islam yang menjalankan ibadah puasa belum tentu memperoleh pahala sesuai yang dijanjikan Allah, akan tetapi mereka hanya memperoleh haus dan dahaga. Maka daripada itu, setiap insan yang berpuasa harus memperhatikan tiga aspek penting yang  dilakukan pada bulan penuh rahmat ini. Pertama; aspek jasmani (jasad) yaitu orang-orang yang berpuasa harus mampu menahan lapar dan dahaga dari mulai waktu sahur sampai waktunya berbuka puasa sesuai jadwal yang ditentukan. Kedua; aspek nafsani (jiwa) yaitu setiap umat muslim yang berpuasa harus bisa menahan nafsu amarah, dengki, mencela dan sifat-sifat buruk lainnya yang tentu mengakibatkan rusaknya puasa.Ketiga; aspek rohani (roh) yaitu tingkatan yang paling penting yang harus diraih oleh setiap muslim yang berpuasa, sekaligus inti dari puasa adalah mencapai tingkatan rohani. Di aspek ini setiap umat muslim yang berpuasa tak hanya menahan lapar, dahaga dan menahan segala sifat yang merusak citra puasa namun mensucikan roh dari segala kotoran untuk menjemput kemuliaan di dunia dan akherat. Jika Allah menciptakan jasmani dan nafsani di mana suatu saat akan mengalami hancur (mati) maka Allah meniupkan roh  sehingga tak akan hancur seperti jasmani dan rohani tentu sesuai dengan kehendaknya.

Meningkatkan Kecerdasan Sosial
Kecerdasan sosial (social intelligence) kini tampaknya kian menduduki peran yang amat penting ketika kita hendak membangun sebuah relasi yang produktif nan harmonis. Relasi kita dengan kerabat, dengan tetangga, dengan rekan kerja atau juga dengan atasan mungkin bisa berjalan dengan lebih asyik kalau saja kita mampu mendemonstrasikan sejumlah elemen penting dalam kecerdasan sosial.

Tindakan-tindakan yang tak mencerminkan etika moral beradap seperti, Kekerasan dalam rumah tangga, tawuran antarkampung, perkelahian antarpelajar atau mahasiswa, bentrok antarkelompok politik, etnik, atau agama makin sering menghiasi media. Tindakan-tindakan seperti di atas membuktikan bahwa kecerdasan sosialnya tumpul. Namun dengan bulan yang penuh berkah ini, bisa meningkatkan kecerdasan sosial kita, tentu dengan melalui kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada sensifitas sosial.

Seiring dengan keistimewaan di bulan Ramadhan Nabi Muhammad sendiri pernah menegaskan bahwa “Seandainya umatku tahu rahasia yang terkandung di dalam bulan suci ramadhan, pastilah mereka menginginkan Ramadhan itu berjalan selama satu tahun”. Di bulan ini, latihan-latihan spiritual seperti ceramah atau kultum dan tadarus Al Qur’an di setiap malamnya selalu dilaksanakan selama satu bulan penuh dan menjadi daya pikat setiap kaum muslim. Seiring dengan tradisi islami yang tak henti-hentinya selalu menghiasi nuansa Ramadhan maka setiap muslim tak hanya lebih rajin beribadah wajib namun juga kecerdasan sosial lebih sensitif (social Intellegence) di tengah-tengah ritual bulan puasa.

Hubungan horizontal antara sesama lebih harmosis dan menyenangkan melalui rangsangan nilai-nilai yang diperkuat oleh bulan ramadhan. Dan segala macam tindakan yang mengarah ketidakharmonisan menjadi tumpul dengan hadirnya kesadaran sosial yang semakin mengena terhadap setiap insan yang menjalankan ibadah puasa.

Dengan begitu, realisasi nilai-nilai islam baik melalui ibadah vertikal maupun secara horizontal menjadi seimbang. Hubungan dengan sang pencipta dan manusia tentunya akan lebih harmonis dan mesra sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam islam. Segala bentuk terorisme dan anarkhisme akan hancur seiring dengan kecerdasan sosial yang semakin dikedepankan. Maka, ramadhan tak hanya momentum untuk menjalin sikap romantisme dengan Tuhan namun juga dengan manusia sesama.

marhaban_yaa_ramadhan

benderaTak ada lagi kata teriakan serang, Allahu Akbar, hidup atau mati dan teriakan-teriakan perjuangan yang menggelora lainnya seperti saat masa kolonialisme mencengkeram negeri tercinta ini selama 350 an tahun. Tentara Belanda, Portugis dan Jepang sudah tak lagi menjajah Indonesia. Berkat para pahlawan kita yang gigih memperjuangkan Indonesia merdeka dengan ikhlas dan rela mati layak kita apresiasi seluruh pengabdiannya untuk negeri ini. Mereka menanggalkan egosentrisme golongan mengedepankan kepentingan bangsa untuk berdaulat tanpa keterkekangan dari bangsa lain.

Sekali lagi, Kemerdekaan itu telah diperjuangkan dengan pengorbanan harta, darah dan nyawa. Bukan hasil dari pemberian belas kasih sang penjajajah, tapi dari usaha para pahlawan kita dengan memohon keridhaan Allah SWT untuk bisa membebaskan negeri dari angkara murka kaum imperialis. Sungguh sebuah pengorbanan yang tiada terkira dari para pahlawan kita untuk membebaskan negeri ini dari tangan penjajah, tentu kita tak akan melupakan budi baik para pahlawan kita sampai kapanpun masanya.

Simbol kemerdekaan berupa teks proklamasi yang telah dibacakan oleh bung Karno pada tahun 1945, mulai saat itu sang bendera merah-putih berkibar setinggi-tingginya seiring dengan harga diri bangsa yang telah lama diinjak-injak oleh para imperialis.

Sudah 64 tahun negeri tercinta ini merdeka dari Belanda, Portugis dan Jepang, seluruh negeri kini telah dikuasai oleh bangsa kita baik secara de jure maupun de facto, seluruh negara didunia ini telah mengakui kemerdekaan kita serta Bendera merah-putih telah berkibar dari Sabang sampai Merauke. Namun sudahkah Indonesia benar-benar merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari korupsi, merdeka dari ketidakadilan, merdeka dari westernisasi dan merdeka dari ketergantungan terhadap bangsa asing.

Sungguh sangat ironis memang kalau melihat realitas yang terjadi di negeri yang telah lama menikmati nafas kemerdekaan. Kata “merdeka” pun perlu dikritisi dan ditanyakan kembali. Ternyata merdeka tidak untuk seluruh rakyat Indonesia, merdeka bagi mereka yang bergelimang harta di tengah-tengah terjangan ekonomi global yang menyengsarakan rakyat. Kesenjangan sosial antara si kaya dengan si miskin semakin tampak seiring dengan revolusi industrialisasi dan teknologi yang semakin pesat. Dan sampai kapan kata “merdeka” ini menjadi milik seluruh warga negara Indonesia bukan hanya segelintir orang saja.

Harus diakui bahwa mengisi kemerdekaan dengan menjadikan sejajar bersama negara-negara maju lainnya tentu tak semudah membalik telapak tangan. Namun realitas korupsi yang semakin merajalela dan ketergantungan dari negara lain tanpa bisa dibendung menandakan bahwa kemerdekaan belum bisa dijalankan secara baik. Dan yang bisa menjawab hanyalah kita sebagai warga negara khususnya pemerintah kita untuk secara terus-menerus berupaya dengan serius untuk memperjuangkan lahir dan batin untuk ibu pertiwi.

Tak hanya seremonial belaka yang selalu tampak dari permukaan namun kemerdekaan penuh sesuai dengan kata “merdeka” yang selalu kita dengung-dengungkan. Tetapi sayang seribu kali sayang kemerdekaan ini cenderung hanya semu belaka, apalagi kalau melihat bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini. Setelah komunisme runtuh , imperialisme berubah wajah dan cara untuk menaklukkan negeri-negeri lemah. Melalui politik, sosial, ekonomi dan budaya kini mereka menguasai, ini jauh lebih berbahaya dan merusak, karena kebanyakan kita tidak tersadar bahwa kita sedang dalam cengkeraman penjajah gaya baru (neo-imperialisme). Ternyata kolonialisasi masih mencengkeram negeri ini.

Mengisi hari kemerdekaan dengan upacara bendera, balap karung, balap sepeda, panjat pinang dan goyang erotis yang disertai aroma minuman keras tentu sangat mudah dan menyenangkan. Dan hal itu sebenarnya tak dibutuhkan oleh rakyat miskin, namun yang dibutuhkan adalah merdeka lahir-batin 100% tanpa terkecuali, karena seluruh warga berhak menikmati kemerdekaan. Merdeka Bung!!!!

Rosit

gedung_plaza_biiDi gedung yang berlantai 39, jaraknya 100 kaki orang dewasa dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta. Setiap hari pegawai-pegawai kantor sibuk dengan kerjaanya masing-masing dari lantai paling dasar sampai paling atas, dari Cleaning service sampai Direktur, tentu dengan hilir mudik setiap orang dengan kesibukan aktivitasnya yang bervariasi. Berbagai macam perusahaan berada di gedung itu, tentu juga beraneka aktivitas. Iringan lagu” maju tak gentar, Indonesia raya, berkibarlah benderaku dan 17 Agustus 45 menyapa setiap pegawai dan pendatang di gedung dari lantai dasar sampai lantai 39. Mengingat saat ini adalah bulan menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64.


Di tengah-tengah kesibukan setiap orang di gedung itu, namun lain yang terjadi di gedung lantai 35. Di ruangan EW 2, tiba-tiba datang seorang satpam bertubuh besar, gemuk tapi tak tinggi, kulit hitam, wajah sedikit menyeramkan dan agak berwibawa, datang dengan teriakan“ kebakaran-kebakaran, secepatnya semua penghuni tinggalkan gedung ini”!!! mendengar teriakan satpam yang tiba-tiba datang dengan berlari tergesa-gesa itu, secara otomatis di setiap penghuni di lantai 35 khususnya di EW 2 semua pada panik, aktivitas-aktivitas pegawai segera ditinggalkan, setiap orang mengurusi dirinya masing-masing, bahkan sampai berlari kocar-kacir seakan baru terjadi tsunami, gempa bumi atau bom meledak. Sementara itu bunyi sirene kebakaran menusuk telinga menandakan bahwa sedang terjadi kebakaran.


Bu Novi yang posisinya di ruangan itu sebagai menejer tak menghiraukan pagawainya lagi, pak Indra yang terkenal dengan senyum dan sapanya saat itu tiba-tiba tak tampak lagi, siska yang sedang ngobrol tentang kerjaan barunya tiba-tiba berlari menyelamatkan diri. Semua barang-barang baik milik pribadi maupun kantor segera ditinggalkan untuk mencari keamanan dirinya masing-masing. Di saat itulah, tak terdengar lagi sapa, tawa apalagi memperhatikan orang yang berada di sampingnya. Semua orang tiba-tiba sudah berubah menjadi egoistis, individualistis rasa saling tegur sapa, senyum manis antara pegawai sudah hilang sejak teriakan satpam beberapa menit lalu.


Teriakan-teriakan histeris ketakutan menghiasi di gedung lantai 35 itu, bayang-bayang setiap orang hanya ketakutan, takut akan kebakaran, takut terjebak di lantai setinggi itu, takut tak bisa lihat keluarga lagi, takut tak bisa lihat pacar lagi dan takut akan mati. Ketakutan-ketakutan itulah yang melatarbelakangi teriakan histeris dan lari pontang-panting tanpa arah yang jelas.


Di tengah-tengah orang yang sedang panik untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, Customer service tak henti-hentinya menginformasikan sedang terjadi kebakaran di salah satu lantai gedung ini dan secepatnya seluruh penghuni meninggalkan lantainya masing-masing untuk menyelamatkan diri.


Namun di tengah-tengah hiruk pikuk ketakutan semua orang, Nampak ada seorang laki-laki berusia sekitar 38 sedang asik main golf di ruangannya. Dia adalah Direktur orang-orang yang berlarian ketakutan itu, semua orang memanggilnya Bos. Dengan santainya ia main golf di saat kondisi seakan kiamat, padahal harapan hidup untuk besok belum tentu ada lagi namun pemandangan laki-laki berkulit putih yang bernama Pak Raha itu kelihatan masih santai menikmati permainan golfnya. Entah apa yang ada di dalam benak pak Raha, atau mungkin ia sudah kebal dengan panasnya api atau mungkin ia bisa menyelamatkan diri dengan ilmu terapi dan hipnotisnya yang kadang-kadang ditunjukan pada bawahannya.


Kematian merupakan suatu hal yang sangat misterius, tak ada seorangpun yang bisa meramalkan peristiwa satu itu. Kematian bisa membayangi setiap langkah seseorang, atau mungkin tanpa disadari sekalipun namun kematian pasti akan terjadi baik cepat maupun lambat, baik dalam kondisi baik maupun buruk, Kalau Tuhan sudah mengutus maklaikat maut untuk mencabut nyawa hambanya, maka hal itu tak bisa dihindari lagi apalagi diundur. Kematian tak pandang bulu, kaya dan miskin, baik dan jahat atau bawahan maupun atasan. Tak perlu menunggu datangnya hari kiamat (kiamat kubro) Justru kematian sugro yang harus diwaspadai karena tak tentu jadwalnya.


Mungkin sudah menjadi garis nasibnya para pegawai yang bekerja di gedung itu, penyesalan dalam kehidupannya sudah tak diperlukan lagi, yang ada dibenaknya masing-masing secepatnya mencari keselamatan dirinya masing-masing atau mati dilalap si jago merah. Namun di tengah-tengah ketakutan orang-orang yang takut pada bayangan kematian, dengan jelas terlihat seorang satpam yang beberapa menit yang lalu memberikan kabar “kebakaran” berada di depan lift sambil senyum sendiri dan diikuti oleh tim sekuriti dan tim pemadam kebakaran lainnya. Dengan nafas tersengal-sengal, salah satu dari pegawai yang ketakutan menanyakan kepada sekuriti itu, kenapa malah tersenyum dengan kondisi seburuk ini?. Sekuriti yang berkulit hitam itu menjawab bahwa ini hanyalah simulasi kebakaran pak, maaf ya!!


Rosit

4“Tak gendong kemana-mana…” begitulah sebait syair lagu seniman kondang mbah Surif. Dewasa ini, lagu itu selalu menghiasi nuansa blantika musik Indonesia. Mbah Surif pertama kali datang ke Jakarta beberapa puluh tahun yang lalu dengan menaiki sepeda tua selama 4 hari menandakan bahwa ia seorang yang perkasa, tangguh dan semangat untuk meraih impiannya. Di tengah namanya yang baru menggema di seluruh pelosok nusantara, seniman tua itu menghembuskan nafas terakhir dan tak akan kembali untuk selama-lamanya. Meskipun begitu, karya mbah Surif justru akan semakin menggema, bahkan royalty dari lagu nada sambung “tak gendong” di handphone mencapai 4,5 Milyar, sayangnya mbah Surif belum sepersen pun menerimanya.

Seniman nyentrik yang mempunyai tawa khas membuat kita tak akan mudah melupakannya. Meskipun sudah tua, mbah Surif merupakan sosok yang mempunyai semangat tinggi, kreatif dan tampil beda. Mbah surif bisa menampilkan warna musik yang lain dari pada yang lain, dan tentu penampilan mbah Surif dengan rambut gimbalnya membuat kombinasi lagu-lagunya menjadi menarik dan konyol.

Dengan lagu-lagunya yang sederhana (mungkin anggapan kita tak diperhitungkan) justru bisa menembus pasar dan menghipnotis khalayak . Lagu-lagunya mbah Surif sederhana namun syairnya begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Di tengah-tengah khalayak yang selalu memperbincangkan seniman nyentrik mbah Surif, seniman tua yang berambut gimbal itu sering kita jumpai di acara pagelaran budayawan Caknun, di beberapa pagelaran budaya yang diselenggarakan oleh Caknun dan kyai kanjengnya, sosok mbah Surif tak pernah ketinggalan tampil di sela-sela pagelaran budaya yang sering kita lihat di beberapa lokasi khususnya di Jakarta. Berangkat dari sana, mbah Surif akhir-akhir ini mulai merebut perhatian khalayak dengan karya musiknya, bahkan tak kalah popular dengan seniman kawakan negeri ini.

Seniman tua nyentrik dengan lagu-lagunya khas yang menghibur di semua kalangan itu sudah tutup usia. Mbah surif sudah pulang di tengah-tengah gelimangnya harta, puncak karirnya, yang tak pernah terlintas di benak kita akan cepat diambil oleh sang pencipta untuk menghadapNya. Beberapa hari sebelum kematiannya mbah Surif masih terlihat segar dan bersemangat namun takdir berkata lain.

Dunia kehilangan mbah surif, tawa-tawanya, lagu-lagunya, model penampilannya sampai kapanpun dan dimanapun menyisakan ruang di hati khalayak. Mbah Surif sosok seniman yang bersahaja, sederhana dan ora neko-neko (bahasa Mojokerto).

Tentu tak akan kita jumpai lagi seniman seperti mbah Surif yang konyol, menggelikan dan menghibur para khalayak lagi. Namun kita tetap yakin akan ada mbah Surif-mbah Surif lainnya yang akan muncul dan meriahkan blantika musik tanah air. Selamat jalan mbah Surif, I Love U Full!!!

time_bomb_alarm_clock2Peristiwa peledakan bom bunuh diri yang terjadi Jumat pagi lalu, pukul 7.47 pagi di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton telah memukul negeri ini yang telah lama membangun citra di mata pergaulan dalam kancah internasional. Setelah terjadi peledakan Bom JW Marriot 1, keduataan besar Australia dan Bom Bali I dan II ternyata para teroris masih melakukan tindakan yang tak manusiawi. Perbuatan seperti itu hanya dilakukan orang yang sudah tak mempunyai solidaritas sosial dan mati rasa terhadap sesama umat manusia. Apalagi tragedi ledakan bom dewasa ini berdekatan dengan peristiwa penting di negeri ini yaitu pasca pemilu pilpres dan menjelang kedatangan MU di Senayan.

Pelaku dan otak di balik bom sudah merancang suasana menyeramkan di negeri ini. Seandainya pelakunya adalah orang Indonesia sendiri maka mereka telah mengkhianati baik terhadap negerinya sendiri maupun sebagai seorang manusia. Apapun alasan dari peledakan bom tersebut tidak bisa dibenarkan meskipun dengan berbagai indikasi yang kuat. Tak diharapkan dengan peristiwa itu, Indonesia menjadi sebuah negara yang menakutkan bagi dunia luar dan bisa saling tuduh antara satu dengan lainnya.

Siapa pelaku dan otak di balik peledakan bom sampai saat ini belum diketahui. Hal itu merupakan tugas aparat pemerintahan untuk secepatnya mengusut siapa otak di balik peledakan bom tersebut. Tak hanya itu, Presiden SBY pun merasa tak lepas dari ancaman teror dari sebuah kelompok yang mengincar dirinya. Dari laporan Badan Intelejen Negara (BIN), capres yang memperoleh peringkat suara teratas di pemilu kali ini direncanakan akan diganjal menduduki orang nomer satu di negeri ini lagi. Rupanya SBY sudah geram dengan tingkah laku para teroris yang selalu merongrong kekuasaanya, pasca ledakan bom terjadi ia mengumumkan dengan gamblang bahwa ada sebuah kelompok yang akan melakukan perbuatan di luar hukum. Lepas dari kontroversi pidato SBY tentang ancaman terorisme yang disebarkan ke ranah publik, setidaknya negeri yang selama ini kita anggap aman dan damai, ternyata terancam oleh para teroris.

Kedatangan MU ke Senayan yang dijadwalkan yang ternyata didahului hari terjadinya peledakan bom akhirnya dibatalkan. Tentu pembatalan ini membuat para fan berat bola mania sangat kecewa mengingat tak banyak kesempatan bisa bertanding dengan tim sekelas internasional seperti MU. Tak hanya itu saja, para wisatawan asing yang menikmati keindahan negeri ini di seluruh nusantara merasa terancam dengan peristiwa itu, padahal pasca Bom Bali sudah mengurangi para wisatawan dan tentu mengembalikan secara semula (nomal) diperlukan waktu yang panjang.

Dengan terjadinya ledakan bom tentunya tak sedikit orang yang tak berdosa menjadi korban. Tak hanya orang-orang penting tapi orang biasa khususnya karyawan hotel harus menjadi korban bom bunuh diri yang tak berperikemanusiaan.

Ada beberapa indikator mengapa ledakan bom masih menghantui negeri ini, Penyebab secara umum kemungkinan besar adanya kondisi perekonomian Indonesia tidak cepat membaik, justru semakin lama harga-harga bahan pokok menjadi naik sehingga ada pihak yang kecewa dan melampiaskan dengan ledakan bom. Kedua, ada kelompok tertentu yang tak setuju dengan hasil pemilu yang diselenggarakan dewasa ini. Ketiga, ada kelompok tertentu yang sengaja ingin membuat suasana menyeramkan di negeri ini. Ke empat, lemahnya pengawasan terhadap berbagai ancaman termasuk teroris sehingga mereka tidak sulit untuk menjalankan aksi tak manusiawi di negeri ini. Ke lima, ada dukungan dari sebuah jaringan terorisme yang turun temurun dan melindungi otak di balik peledakan bom.

Meskipun apapun prediksi yang kita lontarkan untuk mengindikasikan terjadinya ledakan bom secara hukum tak bisa dibenarkan, namun kita harus tetap waspada terorisme masih menghantui di sekeliling kita khususnya bagi mereka yang tinggal di tempat-tempat yang strategis. Kewaspadaan dan penjagaan untuk mencegah gerakan nakal teroris harus tetap dilakukan sebelum mereka beraksi dengan ulah gilanya.

Tentu kita tak membiarkan mereka melakukan teror bom semaunya. Upaya-upaya pencegahan secara ketat harus dilakukan sebelum terjadi ledakan bom yang kesekian kalinya. Dan yang perlu dilakukan adalah menangkap gembong teroris yang selama ini mengancam negeri ini. Tak diharapkan, negeri yang terkenal dengan adat ketimuran yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dirusak oleh para teroris biadab.

Negeri yang sudah merdeka sejak tahun 1945 ini mengadakan pemilu untuk memilih presiden dan wakilnya. Di setiap Desa sampai Kota menyibukan diri untuk merayakan pesta demokratisasi yang jauh-jauh hari dipersiapkan. Namun ada berbagai perbedaan (dan itu wajar untuk sebuah negara yang menganut sistem demokrasi) dalam memaknai arti demokrasi khususnya yang berkaitan dengan pemilu kali ini. Dari tokoh masyarakat sampai MUI pun membujuk agar setiap warga ikut berpartisipasi atau mencontreng di pemilu pilpres kali ini, gunakan hak warga sebaik-baiknya. Sebaliknya ada segelintir tokoh nasional membujuk untuk Golput saja dalam pemilu kali ini, tentunya dengan berbagai macam alasan.

Di pagi hari saat para warga mencontreng jagoan presidennya masing-masing, saya mengoperasikan facebook, serta menulis di wall “ kita harus tanamkan di mindset kita masing-masing bahwa golput juga pilihan, orang yang menghina dan menghardik golput justru mereka yang tak demokratis dan tentu ada konskuensinya masing-masing.” Tak lama kemudian ada seorang teman memberikan komentar di wall saya bahwa “bagaimana nasib negeri ini jika pemudanya tak ada rasa kepedulian tentang kondisi negeri ini.” Melihat ada komentar saya bereaksi dengan menulis “ kita harus menghargai apapun pilihan seseorang termasuk golput, jika anda golput silahkan dan jika memilih silahkan saja dan tentu ada konskuensinya masing-masing, jangan memksakan untuk memilih karena itu bisa mengembalikan era mbah Soeharto.” tak lama kemudian saya logout dari facebook.

Di malam harinya, saya mengoperasikan facebook lagi, ternyata di komentar wall di waktu pagi, sudah ada puluhan komentar yang ternyata mayoritas sepakat dengan golput. Tentunya dengan gaya dan alasan masing-masing dalam menyuarakan golput.

Sampai saat ini golput masih menjadi wacana yang kontroversi di setiap pemilu diselenggarakan. Padahal negeri ini sudah terlanjur dan sudah mantap dengan pilihan sistem demokrasinya. Demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat dan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat bukan para politisi. Penghormatan dalam menghadapi segala perbedaan harus diutamakan karena itu konskuensi demokrasi. Demokrasi sebenarnya tak menjamin negeri ini menjadi lebih baik namun sampai saat ini masih dianggap menjadi sistem terbaik di negeri ini. Banyak negara-negara yang anti demokrasi justru mereka lebih baik dari negeri ini. Namun kita sudah menyepakati sistem ini dan siap mengimplementasikan meskipun berbagai macam tafsir dan itulah konskuensinya.

Golput dalam pemilu kali ini sudah menjadi mode dan tentu berbagai macam alasan. Golputnya wong cilik dengan tokoh nasional berbeda-beda. Tendensi golput karena sembako semakin mahal, kurang tersedianya lapangan pekerjaan, kehidupan makin sulit merupakan golput yang harus diperhatikan bagi presiden terpilih dalam pemilu kali ini. Sedangkan tendensi golput karena tak mendapat tempat atau tersingkir dalam dunia politik merupakan golput tak dibenarkan dari sudut manapun.

Keputusan golput belum tentu tak peduli kondisi negeri ini. Namun golput adalah sebuah cara untuk menyadarkan pemerintah untuk lebih serius menepati janji-janjinya saat kampanye berlangsung. Justru banyaknya golput menampilkan warga ini semakin bervariasi dan semakin cerdas dalam menghadapi realitas di depan mata. Di Amerika, negara yang dijadikan kiblat demokrasi pun tak luput dari golput. Pilihan golput bukanlah pilihan yang tak dipikir sebelumnya. Jika presiden terpilih tak bisa mengimplementasikan janji-janjinya maka suara golput akan semakin membesar pemilu berikutnya, dan itu harus kita hargai sebagaimana kita menghargai setiap pilihan warga memilih partai dan presidennya.

Pemilu yang sudah beberapa kali diselenggarakan sejak pemilu pertama 1955 sampai 2009 harus menjadi cermin untuk melakukan yang lebih baik ke depan. Disadari maupun tidak, pemilu tahun 1955 dan Reformasi saja yang dianggap demokratis. Meskipun pemilu era Reformasi suara golput semakin membesar namun itu lebih baik dibandingkan dengan pemilu era Soeharto. Tentu tak diharapkan, banyak warga berpartisipasi dan mengecilnya suara golput namun warga dipaksakan harus mencontreng. Biarkan warga merespon pemilu dengan berbagai macam variasi yang penting tak mengganggu kepentingan publik. Karena dalam kamus manapun demokrasi selamanya tak ada paksaan, menjunjung tinggi perbedaan harus diutamakan sebagai seorang yang demokratis.

Next Page »